Adab Membuang Hajat

penulis Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari
new Seputar Hukum Islam 14 - Agustus - 2003 06:30:48

Bagian kedua ini masih menjelaskan kelanjutan adab-adab membuang hajat di antaranya:

Berhati-hati dari Percikan Najis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan mk beliau mengabarkan:
“Dua penghuni kuburan ini sedang diadzab. Tidaklah mereka diadzab krn perkara yg besar. Kemudian Rasulullah mengatakan: Bahkan ya. Adapun salah satu ia diadzab krn tdk berhati-hati/ tdk menjaga diri dari kencing”.

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah mengatakan: “Kedua penghuni kuburan itu tidaklah diadzab krn perkara yg sulit utk menghilangkan atau utk mencegah serta berhati-hati darinya. Yakni perkara itu sebenar mudah gampang bagi orang yg menjaga diri darinya.” Beliau juga berkata: “Dua perkara ini termasuk dosa besar.”

Tidak berhati-hati dari kencing sehingga menajisi tubuh merupakan penyebab adzab kubur sebagaimana diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dlm hadits di atas padahal mungkin perkara ini dianggap sepele oleh kebanyakan orang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan dgn merenggangkan/menjauhkan kedua kaki ketika duduk utk buang hajat guna menghindari percikan air kencing. Al-Hasan berkata: “Telah menceritakan kepadaku orang yg melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau kencing dlm keadaan jongkok dgn merenggangkan kedua kaki beliau selebar-lebar sehingga kami menduga pangkal paha beliau akan terlepas.”

Tidak Berbicara

Tidak sepantas seseorang berbicara dgn jenis pembicaraan apapun ketika sedang buang hajat kecuali bila memang terpaksa sebagaimana dikatakan oleh para fuqaha. Keadaan terpaksa itu seperti ia melihat seorang buta berjalan menuju sumur dan dikhawatirkan akan terjerembab ke dlm atau ada orang yg mengajak bicara dan mau tdk mau harus menjawab atau ia punya keperluan kepada seseorang dan khawatir orang itu akan berlalu atau ia meminta air atau ada binatang berbisa yg hendak menggigit seseorang sementara orang itu tdk melihat dan semisal mk dlm keadaan seperti ini dibolehkan bicara.

Termasuk pembicaraan yg dilarang di sini adl menjawab salam dan ucapan dzikir lainnya. Berkata Al-Baghawi rahimahullah dlm Syarhus Sunnah: “Bila seseorang bersin dlm keadaan ia sedang buang hajat mk ia mengucapkan tahmid di dlm hati”. Demikian pula yg dikatakan oleh Al-Hasan Asy-Sya`bi An-Nakha`i dan Ibnul Mubarak. Larangan berdzikir di sini merupakan larangan makruh dgn kesepakatan yg ada. Ibnul Mundzir menghikayatkan makruh hal ini dari Ibnu Abbas ‘Atha Ikrimah An-Nakha`i dan Ibnu Sirin. Ibnul Mundzir juga mengatakan: “Meninggalkan dzikir ketika buang hajat lbh aku sukai namun aku tdk menganggap berdosa orang yg melakukannya.”

Larangan Istinja’ dgn Tangan Kanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita utk menyentuh kemaluan dgn tangan kanan ketika kencing dan ketika istinja’ sebagaimana sabdanya:
“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian memegang kemaluan dgn tangan kanan ketika sedang kencing dan jangan pula cebok dengan setelah buang hajat”.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Larangan istinja’ dgn tangan kanan termasuk salah satu adab dlm istinja’. Dan ulama sepakat dilarang perkara ini. Jumhur ulama berpendapat larangan di sini menunjukkan makruh bukan haram”. Kemudian beliau berkata: “Memegang kemaluan dgn tangan kanan hukum makruh”.
Larangan Bersuci dgn Tulang dan Kotoran Hewan yg telah Mengering/Membatu
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meminta kepada Abu Hurairah radiallahuanhu utk mencari batu guna keperluan bersuci beliau dan beliau bersabda:
“Jangan engkau datangkan untukku tulang dan jangan pula rautsah.”

Di waktu yg lain Abdullah bin Mas‘ud radiallahuanhu pernah diminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar mencari tiga batu utk bersuci namun ia hanya mendapatkan dua batu hingga ia mengambil rautsah lalu diserahkan kepada Nabi. mk beliau mengambil dua batu tersebut dan membuang rautsah seraya berkata: “Ini adl kotoran”.

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah: “Tidak boleh bersuci dgn menggunakan rauts ataupun tulang. Dan bersuci dgn kedua tidaklah mencukupi demikian pendapat mayoritas ahli ilmu dan hal ini merupakan pendapat Ats-Tsauri Asy- Syafi’i dan Ishaq.”

Doa Keluar dari Tempat Buang Hajat

“Aku memohon pengampunan-Mu”

Doa di atas diucapkan ketika seseorang keluar dari tempat buang hajat. Kecocokan doa ini dgn keadaan tersebut adl setelah seseorang diringankan dan dilindungi dari gangguan fisik dia akan teringat gangguan berupa dosa mk dia meminta kepada Allah agar meringankan dosa dan mengampuni sebagaimana Allah telah menganugerahkan perlindungan kepada dari gangguan fisik.

Di samping itu kekuatan manusia itu amatlah terbatas utk mensyukuri ni’mat yg dicurahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berupa makanan minuman dan pengaturan zat makanan di dlm tubuh sesuai dgn kepentingan sampai akhir dikeluarkan sisa dari tubuh. Oleh krn itu sepantas seorang hamba memohon ampun kepada Allah sebagai pengakuan akan kekurangan tersebut dari apa yg sepatutnya.

Tempat Terlarang utk Buang Hajat
 Air yg tdk mengalir

“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di air yg diam yg tdk mengalir”.

Yang rajih dari larangan di sini adl menunjukkan keharamannya. Sama saja air yg tdk mengalir itu banyak ataupun sedikit kencing ataupun buang air besar krn buang air besar ini lbh jelek daripada kencing. Dan juga perkara yg terlarang dlm permasalahan ini apabila seseorang kencing di dlm bejana kemudian dia buang air kencing tersebut ke air yg tdk mengalir tersebut. Sementara itu tidaklah terlarang membuang hajat pada air yg mengalir namun lbh baik dijauhi terlebih lagi bila air yg mengalir itu sedikit.

 Lubang
“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di lubang ”.

Qatadah rahimahullah salah seorang rawi hadits ini dita oleh murid-murid tentang alasan pelarangan di atas. Qatadah pun menjawab: “Lubang-lubang itu adl tempat tinggal jin”1.

 Jalan yg dilewati manusia dan tempat mereka bernaung
“Berhati-hatilah kalian dari dua hal yg dilaknat ”. Para shahabat bertanya: “Apa yg dimaksud dgn dua orang yg dilaknat?”. Beliau menjawab: “Orang yg buang hajat di jalan yg biasa dilalui manusia2 atau di tempat yg biasa mereka bernaung”.

Al-Khaththabi rahimahullah dan selain dari kalangan ulama berkata: “Yang dimaukan dgn tempat naungan adl tempat yg dijadikan oleh manusia utk bernaung mereka singgah dan duduk di situ”.

Buang hajat di tempat demikian dilarang krn hal itu mengganggu kaum muslimin dgn menajisi dan mengotori tempat lalu lalang mereka. . Sementara memberikan gangguan kepada kaum muslimin itu diharamkan.

Ada lagi tempat-tempat terlarang yg lain utk buang hajat seperti di mata air atau sungai yg digunakan oleh manusia utk air minum dan wudhu di bawah pohon yg sedang berbuah walaupun tdk digunakan utk bernaung dan di sisi sungai yg mengalir serta di pintu-pintu masjid. Namun hadits yg menyebutkan tempat-tempat tersebut semua lemah hanya saja yg menjadi patokan kita adl tdk boleh memberikan gangguan kepada manusia sehingga kita harus menghindar dari buang hajat di tempat-tempat mana saja yg biasa dimanfaatkan oleh mereka.

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab. 

1} Sehingga dikhawatirkan orang yg kencing tersebut akan ditimpa oleh kemudharatan ataupun perbuatan tersebut dilarang krn mengganggu/ menyakiti hewan-hewan yg ada dlm lubang tersebut.

2} Jalan yg biasa dilalui bukan jalan yg ditinggalkan oleh manusia ataupun jarang dilewati

Sumber: www.asysyariah.com

Related Post:
  • Jangan Terlalu Membenci Istri
  • Puasa Tidak Sekedar Menahan Makan dan Minum
  • Jihad Harus Didasari Ilmu
  • Kebenaran Hanya Datang dari Allah U
  • Hukum Ringkas Puasa Ramadhan
  • Shalat Jenazah
  • Bekerja dan Beramal
  • Mengusap Khuf
  • Perhiasan Wanita di Hadapan Mahram
  • Keutamaan Ilmu dan Ulama
  • Pembatal-Pembatal Wudhu
  • NIFAQ
  • Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya
  • Perpecahan Umat Antara Kemestian dan Adzab
  • PERKARA BARU dlm SOROTAN SYARIAH

  • Tag : , , , , , , , , , , , , , , , , , , , adab air kencing adab kencing rasulullah adzab kubur air kencing Apabila salah satu dari kalian kencing maka janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan bagaimana rasul mencontohkan kencing cara buang hajat hadis larangan menjawab salam ketika wudu hadist hajat di bawah pohon yang sedang berbuah hadist melarang buang hajat di bawah pohon yang sedang berbuah hadits air tempat tinggal jin
    You can leave a response, or trackback from your own site.