Ahli Waris Hasan Al-Banna
Ahli Waris Hasan Al-Banna
penulis Al-Ustadz Qomar ZA Lc.
Syariah Kajian Utama 04 - Januari - 2006 18:26:59
Umar At-Tilmisani
Dia adl pimpinan umum ketiga dari gerakan Ikhwanul Muslimin setelah Hasan Al-Banna. Ia telah membuka lebar-lebar pintu menuju kepada kesyirikan dgn mengatakan:
“Sebagian mereka mengatakan bahwa Rasul n
memintakan ampun utk orang2 bila mereka mendatangi beliau n
ketika masih hidup saja. Sementara bagi saya tdk jelas mengapa dikaitkan ayat1 dgn permintaan ampun tersebut saat Rasul n
hidup saja. Sementara dlm ayat tersebut tdk ada pembatasan semacam itu Oleh karena saya mendapati diri saya cenderung utk mengambil pendapat yg mengatakan bahwa Rasul n
memintakan ampun utk siapa saja yg datang kepada beliau menuju ke hadapan baik semasa hidup beliau atau setelah kematiannya. Sehingga tdk ada alasan utk bersikap keras dlm mengingkari orang yg meyakini karamah para wali berlindung kepada mereka di kubur mereka yg suci dan berdoa kepada saat kesempitan. Dan karamah para wali adl termasuk dalil-dalil atas mukjizat para Nabi.”
Anda lihat bagaimana ia membuka peluang utk mereka yg ingin berdoa kepada Nabi n
. Lebih parah dari itu bahkan yg berdoa kepada para wali atau bertawassul dgn kubur mereka. Sementara pembaca tentu tahu bahwa berdoa adl ibadah besar yg tdk pantas diperuntukkan kecuali hanya utk Allah. Allah k
berfirman:
وَلاَ تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَا لاَ يَنْفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِيْنَ
“Dan janganlah kamu menyembah selain Allah yg tdk memberi manfaat dan tdk memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat itu mk sesungguh kamu kalau begitu termasuk orang2 yg dzalim.”
Tapi justru At-Tilmisani mengatakan: “Tidak ada alasan utk bersikap keras dlm mengingkari orang yg berlindung kepada para wali di kuburan mereka.”
Musthafa As-Siba’i
Dia adl Pimpinan Umum Ikhwanul Muslimin di Syria. Ia menulis sebuah qashidah di Raudhah dekat mimbar Nabi n
di Masjid Nabawi setelah Ashar pada tanggal 10 Muharram 1284 H lalu membaca di depan kubur Nabi n
sebelum dan setelah haji:
Wahai pemandu orang yg berjalan menuju Ka’bah dan tanah Al-Haram
Dan menuju Thayyibah tuk mencari pimpinan seluruh umat
Jika upayamu utk menuju Al-Mukhtar hanya sunnah
Maka upaya orang semacamku adl wajib menurut orang yg memiliki keinginan tinggi
Wahai tuanku wahai kekasih Allah aku datang
Ke hadapan pintumu tuk mengadukan rasa sakit dari penyakitku
Wahai tuanku terus menerus penyakit itu berada di tubuhku
Karena begitu sakit aku tdk pernah lalai dan tdk pernah tidur
Pembaca anda lihat bagaimana ia mengadukan sakit kepada Nabi n
dalam keadaan Nabi n
telah wafat. Inikah tauhid? Bahkan inilah syirik akbar yg ditentang oleh Nabi n
. Mengapa tdk ia adukan kepada Allah yg Maha Kuasa atas segala sesuatu dan minta kesembuhan dari-Nya? Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim p
:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ
“Dan apabila aku sakit Dialah Yang menyembuhkan aku.”
Dalam bait-bait syair ini juga banyak terdapat penyelewengan.
Hasan At-Turabi
Dia adl pimpinan Ikhwanul Muslimin di Sudan. Yang bersangkutan juga meremehkan masalah syirik. Dia menga-takan kepada jamaah Ansharus Sunnah di Sudan: “Sesungguh mereka memperhatikan masalah aqidah dan syirik terhadap kuburan tapi mereka tdk memperhatikan syirik dlm hal polilik. Hendak kita biarkan para pemuja kuburan itu thawaf di sekitar kuburan mereka sampai kita mencapai kubah parlemen.”
Pembaca sepanjang hayat Nabi n
beliau memerangi para pemuja kuburan baik dgn lisan dan tangan beliau yg mulia lalu At-Turabi mengatakan demikian? Apakah kamu pengikut Nabi n
wahai Turabi?
Thawaf itu hanya di Ka’bah wahai Turabi. Demikianlah menurut kitab Rabbi firman-Nya:
ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ
“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yg ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yg tua itu .”
Hasan At-Turabi juga merendahkan Nabi n
. Ia mengatakan tentang Nabi Muhammad n
: “Dia ini adl sosok yg tinggi tapi jangan kalian katakan bahwa beliau itu ma’shum tdk melakukan kesalahan.”
Wahai Turabi umat telah sepakat tentang kema’shuman Nabi n
sebagai-mana kata Adz-Dzahabi: “Sesungguh mereka berse-pakat bahwa para nabi ma’shum dlm menyampaikan risalah dan taat kepada mereka adl wajib –kecuali menurut Khawarij–. Dan jumhur juga berpandangan bahwa bisa jadi mereka jatuh dlm dosa kecil namun mereka tdk dibiarkan oleh Allah k
pada dosa tersebut.”
Barangkali krn keyakinan di atas ia mengatakan dlm ceramah di hadapan para mahasiswi di Diyum timur tentang hadits lalat yg masuk ke air2: “Ini urusan kedokteran. dlm hal ini yg diambil adl ucapan dokter kafir dan ucapan Rasul tdk diambil krn ini bukan bidangnya.”
At-Turabi juga merendahkan para shahabat Nabi n
. Ia mengatakan: “Semua shahabat itu adil? Kenapa?”
Padahal Ahlus Sunnah meyakini keadilan yakni keshalihan mereka dgn persaksian Allah k
. Betapa banyak Allah k
mengatakan dlm ayat Al-Qur‘an:
رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap Allah.”
Al-Khatib Al-Baghdadi mengatakan: “Keadilan/ keshalihan para shahabat telah pasti dan telah diketahui yaitu dgn persaksian Allah k
terhadap keadilan/ keshalihan mereka berita-Nya tentang kesucian mereka serta pilihan Allah terhadap mereka dlm nash Al-Qur`an.”
At-Turabi menjunjung tinggi bendera persatuan antar agama. Ia mengatakan: “Sesungguh persatuan kebangsaan merupakan salah satu cita-cita kita dan kami dlm partai Islam. Dengan partai tersebut akan menuju kepada Islam atas dasar prinsip-prinsip agama Ibrahim yg mengumpulkan kami dgn orang2 Kristen krn ada peninggalan sejarah keagamaan yg sama”
Padahal Allah k
mengatakan:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam mk sekali-kali tidaklah akan diterima dari dan dia di akhirat termasuk orang2 yg rugi.”
Abdullah Azzam
Dia menganggap remeh masalah syirik yaitu peribadatan kepada berhala atau benda-benda yg dikeramatkan. Penulis buku Al-Jama’atul Umm mengisahkan: “Sebagai contoh atas masalah ini apa yg dinukilkan oleh Dr. Basyir atau Barman dari Asy-Syaikh Abdullah Azzam –rahimahullah– ketika dia berdiri di kemah Hai`ah Kibar Ulama di musim haji dan mengatakan kepada mereka: “Sesungguh masalah memerangi syirik yg diserukan oleh ulama terdahulu semisal Muhammad bin Abdul Wahhab dlm hal peribadatan kepada patung-patung dan mengusap-usap kuburan telah selesai. Yang menggantikan adl syirik dlm bentuk lain yaitu syirik dlm hal berhukum dgn syariat manusia dan meninggalkan syariat Allah.”
Bagaimana dikatakan telah selesai? Tidakkah engkau melihat syirik semacam itu merekah di negeri pujaanmu Afghanistan dan sekitarnya? Tolong jangan menutup mata.
Sayyid Quthub
Demikian pula dgn Sayyid Quthub dia katakan: “Sesungguh peribadatan kepada berhala yg Nabi Ibrahim berdoa kepada Rabb-Nya utk menjauhkan diri dan anak-anak dari perbuatan tersebut tdk hanya terwujud dlm gambaran sederhana yg dulu dilakukan oleh orang2 Arab saat Jahiliyyah mereka atau yg dilakukan oleh banyak orang2 animisme pada benda-benda yg berwujud batu atau pohon Sesungguh gambaran sederhana ini semua tdk mencakup menghabiskan bentuk syirik kepada Allah”
Memang syirik bukan hanya dlm bentuk ibadah kepada berhala tapi mengapa engkau sebut itu ‘sederhana’ padahal itu termasuk bentuk syirik terbesar di umat ini baik dulu maupun sekarang? Yang menguatkan bahwa ia meremehkan syirik dlm hal ini adl bahwa dia banyak membesar-besarkan syirik dlm hal hukum dan salah dlm menafsirkan Laa ilaha illallah.
Sayyid Quthub juga mencela Nabi Musa p
di mana ia mengatakan: “Anggaplah Musa sesungguh dia merupakan contoh seorang tokoh yg emosional dan temperamen.”
Kaum muslimin tentu tahu kedudukan para nabi yg begitu tinggi. Kehormatan tdk boleh disentuh bahkan harus dihargai. Terlebih secara khusus Allah k
mengatakan tentang Nabi Musa p
:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللهِ وَجِيْهًا
“Hai orang2 yg beriman janganlah kamu menjadi seperti orang2 yg menyakiti Musa; mk Allah membersihkan dari tuduhan-tuduhan yg mereka katakan. Dan adl dia seorang yg mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”
Hal yg senada dgn ucapan Sayyid Quthub diucapkan pula oleh Abul A’la Al-Maududi. Dia adl orang yg sejalan dgn Ikhwanul Muslimin dlm dakwahnya. Dia mengatakan: “Telah lewat 1300 tahun dan Dajjal belum juga keluar. Ini menunjukkan bahwa perkiraan Nabi n
tak benar.”
Semoga Allah melindungi kita dari ucapan-ucapan semacam itu.
Sayyid Quthub juga menikam para shahabat. Ia mengatakan: “Sesungguh Mu’awiyah dan ‘Amr teman kedua tidaklah mengalahkan ‘Ali krn kedua lbh mengerti sesuatu yg dirahasiakan jiwa daripada ‘Ali atau krn lbh paham atas tindakan yg bermanfaat pada keadaan yg tepat. Akan tetapi krn kedua bebas menggunakan segala senjata sementara ‘Ali terikat dgn akhlak dlm hal memilih perangkat pertempuran. Dan ketika Mu’awiyah dan teman cenderung kepada kedustaan kecurangan penipuan kemunafikan suapan dan menjual janji ‘Ali tdk bisa hanyut kepada tingkatan yg sangat rendah ini. mk tdk heran jika kedua berhasil sementara ‘Ali gagal dan sungguh itu adl kegagalan yg lbh mulia dari segala keberhasilan.”
Pembaca sangat tdk pantas ia ucapkan demikian kepada kedua shahabat tersebut. Dan sangat tdk pantas ia ikut campur dlm urusan mereka.
Ketahuilah bahwa aqidah Ahlus Sunnah tentang para shahabat adl seperti kata Ibnu Taimiyyah t
dalam Al-Wasithiyyah:
“Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adl bersih qalbu dan lisan mereka terhadap para shahabat Rasulullah n
sebagaimana Allah n
sifatkan dlm firman-Nya:
وَالَّذِيْنَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ
“Dan orang2 yg datang sesudah mereka mereka berdoa: “Ya Rabb kami beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yg telah beriman lbh dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dlm hati kami terhadap orang2 yg beriman; Ya Rabb kami sesungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.”
Senada dgn ucapan Sayyid adl ucapan:
Muhammad Al-Ghazali : “Sesungguh Abu Dzar adl seorang sosialis dan ia mengambil paham sosialisme ini dari Nabi n
.”
Sayyid Quthub juga beranggapan bahwa masyarakat muslimin telah murtad ia katakan: “Sesungguh manusia telah kembali kepada jahiliyyah dan murtad dari la ilaha illallah. Sehingga mereka memberikan kekhususan ketuhanan kepada manusia dan belum kembali mentauhidkan Allah k
dan memurnikan loyalitas kepada-Nya Manusia secara keseluruhan termasuk di dlm adl mereka yg mengulang-ulang di atas tempat adzan di belahan bumi timur maupun barat kalimat laa ilaha illallah tanpa ada makna dan realita Mereka itu lbh berat dosa dan adzab di hari kiamat krn mereka murtad menuju peribadatan kepada para hamba setelah jelas bagi petunjuk dan setelah sebelum mereka dlm agama Allah k
.
Demikian ia memvonis murtad masyarakat muslim di belahan timur bumi maupun barat hanya krn anggapan bahwa mereka tdk berhukum dgn hukum Allah k
. Sungguh batil apa yg ia ucapkan. Ucapan itu timbul krn dia melenceng dari aqidah Ahlus Sunnah dlm masalah ini.
Sa’id Hawwa
Sa’id Hawwa adl salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin. Ia begitu memuji aliran sufi tarekat Rifa’iyyah dan begitu terheran-heran dgn akrobat syaithaniyyah yg ada pada mereka. Ia mengatakan: “Suatu ketika seorang Nashrani memberitakan kepadaku tentang sebuah kejadian yg dialami sendiri. Dan itu sebuah kejadian yg masyhur dan telah sangat diketahui. Allah k
pertemukan aku dengan setelah berita tentang kejadian itu sampai kepadaku melalui jalan lain. Ia memberitahuku bahwa ia menghadiri sebuah majelis dzikir. Salah satu peserta dzikir itu menusukkan pedang kepada yg lain di punggung sampai pedang tersebut tembus dan sampai ia memegang lalu pedang itu ditarik lagi. Tapi tdk berbekas sama sekali dan tdk mencelakakannya. Sungguh hal ini yg terjadi pada para pengikut tarekat . Dan terus melekat hal itu pada mereka merupakan keutamaan Allah k
yg terbesar atas umat ini”
Dia katakan juga: “Dan saya tulis buku saya Tarbiyatuna Ar-Ruhiyyah dgn tujuan menjelaskan salah satu dari dua macam tema fiqih yg besar dan yg terbesar yaitu tema tasawwuf yg tertata. Supaya saya bisa meletakkan perkara-perkara pada tempat dlm masalah hakekat sufi yg hal itu merupakan salah satu ciri pokok dakwah Al-Ustadz Hasan Al-Banna rahimahullah.”
Duhai tema sufi dan kisah-kisah sufi semacam kisah di atas yg amat bertentangan dgn aqidah yg shahih dianggap ‘fiqih yg besar dan yg terbesar’!
Ia pun sangat memuji para ahli bid’ah ia mengatakan: “Sesungguh kaum muslimin di sela-sela zaman memiliki para imam dlm hal aqidah fiqih tasawwuf dan jalan kepada Allah. mk imam mereka dlm hal aqidah adl Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Manshur Al-Maturidi.”
Tahukan pembaca siapa kedua tokoh yg dia anggap sebagai imam dlm hal aqidah? Kedua adl pencetus aliran Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yg bertolak belakang dgn aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tapi Abu Hasan akhir bertaubat dan kembali kepada Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Ucapan senada dgn ucapan Sa’id Hawwa diungkapkan Abdul Fattah Abu Ghuddah yg mengatakan tentang Zahid Al-Kautsari: “Ini sebagai hadiah kepada arwah ustadz para ahli tahqiq Al-Hujjah Al-Muhaddits Ahli ushul fiqh peneliti ahli sejarah Al-Imam Zahid Al-Kautsari.”
Tahukah pembaca siapakah Zahid Al-Kautsari itu? Dia adl pembawa bendera aliran Jahmiyyah di masa belakangan ini dan sangat membenci Ahlus Sunnah wal Jamaah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Dia adl salah satu hasil didikan Hasan Al-Banna dan sangat terkesan dgn sosok Al-Banna. Sehingga tdk heran bila ia mengajak utk mengubur permusuhan dgn Yahudi dan Nashrani. Ia mengatakan: “Di antara manusia ada yg bersandar kepada sebagian nash dari ayat Al-Qur`an dan hadits Nabi ia memahami dgn pemahaman yg dangkal terburu-buru berdalil dengan utk berfanatik terhadap Islam dlm menghadapi musuh dari kalangan Yahudi dan Nashrani dan selain mereka. Contoh-contoh nyata dari nash dan ayat yg melarang utk berloyal kepada selain mukminin di antaranya
لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوْبِهِمُ الإِيْمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Kamu tdk akan mendapati sesuatu kaum yg beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dgn orang2 yg menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang2 itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang2 yg Allah telah menanamkan keimanan dlm hati mereka dan menguatkan mereka dgn pertolongan yg datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dlm surga yg mengalir di bawah sungai-sungai mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguh golongan Allah itulah golongan yg beruntung.”
Ternyata itu bukan hanya ucapan bahkan ia buktikan dgn kehadiran dlm muktamar pendekatan antar agama. Ungkapnya: “Pada tahun ini bulan Mei yg lalu saya menghadiri sebuah muktamar di Moskow. Muktamar itu membahas tentang Islam dan bagaimana saling memahami antar agama dan masyarakat-masyarakat lain. Yang mengikuti adl orang2 Nashrani dan Yahudi serta agama-agama selain mereka. Dan di akhir musim panas saya menghadiri pesta penghormatan utk pertemuan orang2 Kristen dgn sebagian muslimin yg diprakarsai oleh Majelis Gereja utk Timur Tengah.”
Buah dari pernyataan dan perbuatan itu ia menyatakan siap utk mengadakan pendekatan antar agama. Yang disayangkan ia memposisikan diri sebagai juru bicara muslimin. Ia pun mencari titik temu antar agama dan mengatakan tdk ada jihad dlm Islam kecuali jihad utk membela diri. Bahkan menyatakan peperangan dgn Yahudi bukan krn agama tapi krn tanah katanya: “Kami tdk memerangi Yahudi krn aqidah. Kami hanyalah memerangi mereka krn tanah. Kami tdk memerangi orang2 kafir krn mereka kafir tapi krn mereka merampas tanah dan rumah kami serta mengambil tanpa hak.” (kutipan-kutipan ucapan ada dlm dalam buku Raf’ul Litsam dan lainnya)
Demikianlah kesesatan demi kesesatan saling melengkapi na’udzubillah min dzalik.
Iapun berpandangan bahwa antara demokrasi dan syura adl serupa padahal kedua seperti timur dan barat tdk akan pernah ketemu.
Mengadakan Pendekatan antara Sunnah dgn Syi’ah
Asy-Syatti dari Kuwait mengatakan: “Syi’ah Imamiyyah termasuk umat Muhammad. Sedangkan Syah mengangkat bendera Majusi sehingga tdk termasuk kebenaran bila kita mendukung bendera Majusi dan meninggalkan bendera umat Muhammad.”
Al-Ghanusyi menukilkan ucapan Al-Banna: “Sesungguh kami ingin berhukum dgn Islam sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad n
. Tidak ada perbedaan antara Sunnah dgn Syi’ah krn madzhab-madzhab itu belum ada di jaman Rasulullah n
.”
Demikianlah keadaan aqidah para tokoh gerakan ini. Pantaskah mereka ditokohkan sementara berbagai macam kesesatan ada pada mereka?!
Sumber Bacaan:
Al-Maurid Al-’Adzb Az-Zulal karya Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi
Haqiqatud Da’wah Ilallah karya Sa’d Al-Hushayyin
Nadharat fi Manhaj Al-Ikhwanil Muslimin karya A. Salam
dll
1 Ayat yg dimaksud adl surat An-Nisa ayat 64:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَحِيْمًا
“Dan kami tdk mengutus seseorang rasul pun melainkan utk ditaati dgn seizin Allah. Sesungguh jikalau mereka ketika menganiaya diri datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memohonkan ampun utk mereka tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
As-Sa’di menyebutkan dlm Tafsir- hal. 185 bahwa ini berlaku ketika hidup Nabi n
.
2 Yaitu hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْه يَقُوْلُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَاْلأُخْرَى شِفَاءً
Dari Abu Hurairah z
ia berkata bahwa Nabi n
bersabda: “Apabila seekor lalat masuk ke minuman salah seorang di antara kalian mk hendak ia mencelupkan lalu membuang krn pada salah satu sayap ada penyakit dan pada sayap yg lain ada obatnya.”
Sumber: www.asysyariah.com
Related Post:Tag : Allah Allah, Berdoa, Dgn, Diri Saya, Dlm, Gerakan, Hanya, Jelas, Karena, Kubur, Masih, Nabi, Pantas, Parah, Pintu, Rasul, Saja, Umar, Utk, Yg aliran jahmiyyah contoh surat keterangan ahli waris contoh surat pernyataan ahli waris DALIL MUKJIZAT PARA WALI dzahabi memuji sufi ebook fiqih penulis a hasan Fiqih Demokratis hasan at turabi hasan at turabi hasan turabi hassan al turabi
You can leave a response, or trackback from your own site.
