Pemikiran Aliran al-Washliyyah adl termasuk golongan besar aliran Mu’tazilah. Mereka adl pengikut Abu Hudzaifah Washil bin ‘Atha` al-Ghazzal. Washil ini adl murid Hasan al-Bashri yg ia banyak belajar dari beliau tentang sejarah dan berbagai cabang ilmu lainnya semasa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan dan Hisyam bin Abdul Malik. Sejumlah pengikut Washil masih dapat ditemui di negara Maghribi di suatu distrik wilayah Idris bin Abdullah al-Hasani memimpin pemberontakan semasa kekuasaan Ja’far al-Manshur. Sub-aliran Mu’tazilah ini kemudian dikenal dgn nama al-Washiliyyah yg merupakan nisbat kepada pendirinya. Doktrin pokok mereka ada empat yaitu

    Penolakan Sifat-Sifat Allah seperti Ilmu Qudrat Iradat dan Hayat

    Pada mulanya doktrin ini tak begitu berkembang dan hanya diterangkan oleh Washil secara simpel saja sebagai berikut secara umum telah sepakat bahwa eksistensi dua tuhan yg sama-sama kekal adl mustahil maka kalaulah bersitegang mempertahankan pendapat bahwa ada kesatuan sifat Allah yg kekal itu berarti ada dua Allah dan ini mustahil. Para pengikut Washiliyyah lbh kuat lagi memegang doktrin ini setelah mereka mengkaji buku-buku filsafat karya para filosof. Sifat-sifat Allah mereka simpulkan dgn “ilmu dan qudrat” saja yg menurut pandangan mereka merupakan dua sifat yg esensial. Menurut al-Jubba’i kedua sifat ini merupakan aspek-aspek dari esensi Allah yg kekal . Menurut Abu Hasyim kedua sifat ini merupakan mode-mode Allah. Abu Husain al-Bishri di lain pihak cenderung menyimpulkan bahwa sifat-sifat Allah itu dgn “ilmu” saja. Ini pun merupakan pandangan dari para filosof. Akan tetapi kaum Salaf menolak pendapat kaum Washiliyyah ini dgn alasan bahwa sifat-sifat Allah terdapat dalam Alquran.

      Beriman kepada Qadar Allah Dalam hal ini mereka mengikuti pendapat Ma’bad al-Juhani dan Ghailan ad-Dimasyqi. Washil bin ‘Atha’ sendiri mempertahankan pendapatnya tentang qadar ini dgn sengit dan mendalam ketimbang sifat-sifat Allah. Menurutnya Allah itu adil dan bijaksana sifat jahat dan tak adil tak layak bagi Allah. Allah kata Washil tidak menghendaki sesuatu dari makhluk-Nya yg bertentangan dgn perintahnya . Hal ini tentu saja ditentang oleh kaum Salaf dgn berdasarkan nash-nash Alquran dan as-sunnah krn mustahil sesuatu terjadi dan ada tanpa dikehendaki oleh Allah. Perbuatan buruk terjadi krn ada hikmah yg lbh besar di balik itu semua.

        Antara Dua Posisi Asal mula timbulnya doktrin ini ialah Suatu hari ada seorang datang kepada Hasan al-Bashri seraya bertanya “Wahai Imam kini ada beberapa orang yg mengatakan bahwa orang yg mati dalam keadaan berdosa itu dianggap kafir. Akibatnya banyak orang yg disingkirkan dari masyarakatnya. Kelompok yg berpendapat seperti itu adl kelompok Wa’iidiyyah dari aliran Khawarij. Di lain pihak kata orang ada lagi kelompok yg mengatakan bahwa orang yg mati berdosa tidaklah kafir sebab dosa tidaklah mempengaruhi iman seseorang selama iman itu masih ada. Segala amal kata mereka tidaklah membentuk suatu bagian integral dari iman. Dosa dan ketaatan juga tidak mempengaruhi iman seseorang. Dan ketaatan seseorang juga memang tidak berarti tanpa keimanan. Mereka adl kaum Murji’ah. Coba bagaimana pendapat Imam dalam hal ini yg sekiranya layak aku yakini?” Sementara Hasan al-Bashri memikirkan jawaban pertanyaan orang itu Washil bin ‘Atha’ mengganggunya dgn berkata “Saya tidak setuju kalau dikatakan bahwa yg mati beriman tetapi berdosa itu kafir mutlak dan tidak pula menganggapnya mu’min mutlak dia menurut saya ada dalam posisi tengah dalam artian tidak mu’min tidak pula kafir.” Setelah berkata demikian Washil bangkit dari tempat duduknya dan pindah tempat ke dekat tiang masjid yg lainnya di mana dia terus menerangkan tentang apa yg dia katakan tadi kepada sekelompok pengikut Hasan al-Bashri yg berada di sekitarnya. Hasan al-Bashri dalam hal ini kemudian menyahut “Washil telah beri’tizal dari kita.” Sejak saat itulah Washil dan pengikutnya disebut kaum Mu’tazilah . Pendapat Washil ini kemudian diikuti oleh ‘Amr bin ‘Ubaid.
          Mengenai Kelompok-Kelompok yg Bertikai pada Perang Jamal dan Perang Shiffin

          Menurut washil salah satu kelompok yg terlibat dalam peperangan ini berada dalam posisi yg salah tetapi ia tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka begitu juga tentang pembunuhan ‘Utsman bin ‘Affan. Orang yg telah membunuhnya dan orang yg meninggalkannya salah satu kelompok tersebut terlibat dalam pembunuhan ‘Utsman kata Washil dan sudah pasti bersalah dan berdosa. Hanya saja tidak dapat dipastikan kelompok mana yg dimaksudnya itu. Dan kesaksian mereka yg terlibat dalam pertikaian ini menurut Washil tidak bisa diterima. ‘Amr bin ‘Ubaid sepakat dgn Washil hanya saja ia menerima kesaksian orang-orang dari kelompok yg bertikai yg ditolak oleh Washil. Demikianlah beberapa pandangan Washil pemimpin Mu’tazilah tentang beberapa figur sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

          Sumber Disarikan dari Sekte-Sekte Islam Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrastani Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

          sumber file al_islam.chm


          sejarah murjiah ilmu qudrat