Antara Ahlus Sunnah Dan Salafiyah 2/2″ ketegori Muslim.

 

Antara Ahlus Sunnah Dan Salafiyah 2/2

Kategori Manhaj

Senin, 4 Juli 2005 06:41:39 WIB

ANTARA AHLUS SUNNAH DAN SALAFIYAH

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari
Bagian Terkahir dari Dua Tulisan 2/2

ANTARA AHLUS SUNNAH DAL SALAFIYAH

Di sini juga perlu dijelaskan antara istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dgn Salafiyah. Suatu hal yg perlu dicermati dari tingkah laku sebagian da’i ialah mereka tdk mau menyebut dakwah mereka dgn dakwah salafiyah, walapun secara tegas mereka menyatakan bahwa aqidah mereka ialah salafi. Mereka ha mau mempopulerkan dakwah mereka dgn nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka mengulang-ulang nama tersebut di berbagai kesempatan, ketika menyampaikan pidato atau ketika menulis buletin. Ini mrpk ketetapan Allah yg agung. Supaya dakwah yg haq nampak beda dgn dakwah-dakwah yg menyerupainya. Agar dakwah yg haq tdk tercampur dari segala hal yg mengaburkannya.

Penjelasan tentang hal itu sebagai berikut: Sesungguh istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah muncul ketika timbul bid’ah-bid’ah yg meyesatkan sebagian manusia. Maka perlu nama untuk membedakan umat islam yg komitmen dgn sunnah. Nama itu ialah Ahlus Sunnah sebagai lawan Ahlu Bid’ah. Ahlus Sunnah juga disebut Al-Jama’ah, krn mereka ialah kelompok asal (asli). Sedangkan orang-orang yg terpecah dari ahlus sunnah dikrnkan bid’ah dan hwa nfsu (**) ialah orang-orang yg menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sedangkan saat ini, istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah menjadi rebutan berbagai kaum dan jama’ah yg beraneka ragam. Bisa kita saksikan sendiri, banyak kaum hizbi yg menyebut jama’ah dan organisasi mereka dgn istilah ini. Bahkan beberapa tharekat Sufi melakukan tindakan yg sama. Sampai-sampai Asy’ariyah, Maturidiyah, Barilawiyah dan lain-lain mengatakan ‘Kami ialah Ahlus Sunnah wal Jama’ah’.

Namun mereka semua menolak untuk menamakan diri mereka dgn Salafiyah. Mereka menjauhkan diri untuk menisbatkan kpd manhaj salaf, terlebih lagi kenyataan dan hakikat mereka (yakni mereka jauh dari mengikuti Salafush Shalih).

Ini ialah suatu yg biasa bagi kita, krn termasuk perkara yg sudah maklum di kalangan para dai yg mengajak kpd Al Quran dan as Sunnah dgn pemahaman ulama salaf, bahwa slogan/prinsip para ahli bid’ah ialah tdk menganut prinsip mengikuti salaf. Karena ittiba’ (mengikuti) sesungguh mengikuti pemahaman salaf mrpk kata pemutus terhadap perselisihan pemahaman-pemahaman orang-orang di masa kini. Karena sebagian orang menghukumi dgn akalnya, yg lain menghukumi dgn dasar pengalamannya, yg lain lagi menghukumi dgn emosi.

Demikianlah pemahaman mereka, tanpa memperhatikan jalan orang-orang yg beriman (yaitu jalan para sahabat) yg wajib diikuti dan didakwahkan. Jalan orang-orang yg beriman itu pada hakikat ialah jalan Salafush Shalih, yg kita menisbatkan diri kpd dan kita mengambil petnjuk cahayanya. Karena itu slogan Ahlus sunnah ialah mengikuti salafush shalih dan meninggalkan segala sesuatu yg bid’ah dan baru dalam agama.

Barangsiapa mengingkari penisbatan kpd salaf dan mencelanya, maka perkataan terbantah dan tertolak ‘krn tdk ada aib untuk orang-orang yg menampakkan madzab salaf dan bernisbat kpd bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, krn mazhab salaf itu pasti benar [Majmu Fatawa 4/149]

Pada zaman ini banyak pengakuan-pengakuan sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah (memang pada hakekat Ahlus Sunnah wal Jama’ah mrpk sifat di antara sifat-sifat salafiyah), Maka ada kehrsan untuk membedakan diri dari orang-orang yg mengaku-aku Ahlus Sunnah wal Jama’ah (namun mereka menyelisihi sunnah, baik dalam aspek aqidah maupun manhaj) dgn menisbatkan diri dgn manhaj yg mereka ketakutan untuk terang-terangan menyatakan dan tdk merasa terhormat dgn bernisbat kpdnya. Karena hal itu akan mengadili mereka apakah mereka mencocoki atau menyelisihi manhaj itu yaitu manhaj salaf dalam metode dan tujuan dakwah, atau dalam aqidah, fiqih, persepsi tentang Islam dan perilaku.

Juga perlu dikatakan kpd orang yg mengikngkari penisbatan kpd Salafiyah. Sesungguh menisbatkan diri kpd salaf dan terus terang berbangga terhadap setiap orang yg menyelisihi kebenaran, baik menyelisihi dalam perilaku maupun pemuntukan teori-teori, dan terang-terangan menyatakan bahwa satu-satu dakwah yg benar ialah dakwah salafiyah, itu semua bukanlah aib. Tidak ada bahaya bagi pelakunya. Karena salafiyah ialah nisbat kpd salaf. Penisbatan ini tdk pernah terpisah meski dalam sekejap mata dari umat Islam sejak terbentuk minhaj kenabian. Salafiyah itu mencakup semua umat Islam yg menempuh metode generasi pertama dan orang-orang yg mengikuti mereka, dalam metode mendptkan ilmu, memahami ilmu dan mendakwahkannya. Jadi Salafiyah tdk lagi terbatas pada fase sejarah tertentu, bahkan hrs dipahami bahwa makna salaf terus berjalan sepanjang kehidupan dunia.

Hal ini makin dikuatkan bahwa Salafiyah mencakup setiap bagian dari Islam yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi Salafiyah bukanlah suatu corak beragama yg menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, baik dgn menambah ataupun dgn menguranginya.

Termasuk perkara yg perlu diperhatikan, seandai umat ini telah berada di dalam bentuk Islam yg benar, tanpa tercampur dgn bid’ah dan hwa nfsu (**) , sebagaimana yg terjadi di masa awal Islam terutama masa salafus shalih, niscaya lenyaplah berbagai sebutan yg berfungsi sebagai pembeda krn tdk ada penentang.

Karena hal itu maka ikatan wala’ (kecintaan) dan bara’(berlepas diri), pembelaan dan permusuhan menurut orang-orang yg menisbatkan diri kpd salaf ialah berdasarkan Islam. Bukan yg lain. Tidak dgn corak tertentu selain Islam. Wala’ dan bara’ itu hanyalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah saja.

Dengan ini semua, benar-benar jelas bahwa makna Salafiyah dan hakikat penisbatan kpd salaf ialah nisbat kpd salaf shalih, yaitu semua sahabat dan orang-orang yg mengikuti mereka dgn baik. Bukan orang-orang setelah sahabat yg dibelokkan oleh hwa nfsu (**) , yg mereka ialah generasi yg buruk. Generasi yg menyimpang dari salaf shaleh dgn nama atau corak tertentu. Dari sinilah mereka dinamai khalaf (orang yg datang kemudian) dan penisbatan ialah khalafi.

Jadi Salafiyah tdk memiliki corak yg keluar dari Kitab dan Sunnah. Salafiyah ialah nisbat yg tdk pernah terpisah sekejappun dari generasi pertama. Bahkan Salafiyah ialah bagian dari mereka dan merujk kpd mereka.

Sedangkan orang-orang yg menyelisihi salaf shalih dgn nama atau corak tertentu, bukanlah bagian dari mereka, meski hidup di tengah-tengah mereka atau senantiasa dgn mereka. Karena itulah para sahabat berlepas diri dari Qadariyah, Murjiah dan lain-lain.

Jika demikian maka asas-asas dan kaedah-kaedah untuk mengikuti salaf hrs nampak jelas dan tegar. Sehingga tdk merancukan orang-orang yg ingin mengikuti salafus shaleh.

Karena itulah hrs ada pembeda antara Ahlus Sunnah dgn para pengaku Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Yaitu dgn sebuah nisbat yg mereka tdk berani menggnkannya. Karena penisbatan itu akan membongkar penyimpangan dan cacat jika dicek/dibandingkan dgn jalan orang-orang yg beriman (yaitu sahabat) dan metode salafus shalih. Pembeda itu ialah Salafiyah. Jalan salaf shalih itulah jalan yg jelas tanpa perlu diragukan. Yakni jalan para sahabat dan tabi’in. Inilah jalan petunjuk dan jalan untuk mendptkan petunjuk.

“Arti : Maka janganlah orang-orang yg tdk mau beriman dan mengikuti hawa menghalangimu dari sehingga engkau akan binasa’ [Thaha :16]

[Disalin dari terjemahan Mukadimah Kitab Ru’yah Waqi’iyah karya Syaikh Ali bin Hasan al Halabi oleh Ibnu Ahmad al Lambunji dari majalah As Sunnah Edisi 02/Tahun VI/1423H/2002M]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1474&bagian=0

Sumber Antara Ahlus Sunnah Dan Salafiyah 2/2 : http://alsofwah.or.id


bidah menurut khalaf perbedaan alussunnah dan salafi