"Asal Dan Hikmah Pensyariatan Kurban Serta Hukum Kurban" ketegori Muslim.

Asal Dan Hikmah Pensyariatan Kurban Serta Hukum Kurban

Kategori Kurban Dan Aqiqah

Jumat, 9 Desember 2005 07:01:12 WIB

ASAL PENSYARI’ATAN KURBAN

Oleh
Dr Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar

Kurban disyariatkan berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’

Dari Al-Qur’an ialah firman Allah Ta’ala

“Arti : Maka dirikanlah shalat krn Rabb-mu, dan berkurbanlah” [Al-Kautsar : 2]

Ibnu Katsir Rahimahullah dan selain berkata, “Yang benar bahwa yg dimaksud dgn an-nadr ialah menyembelih kurban, yaitu menyembelih unta dan sejenisnya” [1]

Sedangkan dari sunnah ialah peruntukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg diriwayatkan oleh Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Arti : Beliau menyembelih dua ekor kambing bertanduk dan gemuk dan beliau membaca basmalah dan bertakbir” [2]

Demikian juga hadits dari Al-Barra bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

“Arti : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kpd kami di hari raya kurban, lalu beliau berkata, ‘Janganlah seorang pun (dari kalian) menyembelih sampai di selesai shalat’. Seseorang berkata, ‘Aku memiliki inaq laban, ia lebih baik dari dua ekor kambing pedaging’. Beliau berkata, ‘Silahkan disembelih dan tidk sah jadz’ah dari seorang setelahmu” [3]

Dan dari ijma’ ialah apa yg telah menjadi ketetapn ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin dari zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang tentang pensyari’atan kurban, dan tdk ada satu nukilan dari seorang pun yg menyelisihi hal itu. Dan sandaran ijma’ tersebut ialah Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan dalam Al-Mughni, ‘Kaum muslimin telah sepakat tentang pensyariatan kurban [4]. Sedangkan Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan, “Dan tdk ada perselisihan pendpt bahwa kurban itu termasuk syi’ar-syi’ar agama [5].

HIKMAH PENSYARIATAN KURBAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kurban untuk mewujudkan hikmah-hikmah berikut.

[1]. Mencontoh bapak kita Nabi Ibrahim “Alaihis Salam yg diperintahkan agar menyembelih buah hati (anaknya), lalau ia meyakini kebenaran mimpi dan melaksanakan serta membaringkan anak di atas pelipisnya, maka Allah memanggilnmya dan menggantikan dgn sembelihan yg besar. Mahabenar Allah Yang Mahaagung, ketika berfirman.

“Arti : Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguh aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendptmu!’ Ia menjawab, ‘Hai ayahku, kerjakanlah apa yg diperintahkan kpdmu, insya Allah kamu akan mendptiku termasuk orang-orang yg sabar’. Tatkala kedua telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anak di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguh kamu telah mebenarkan mimpi itu’, sesungguh demikianlah Kami memberi balasan kpd orang-orang yg beruntuk baik. Sesungguh ini benar-benar suatu ujian yg nyata. Dan Kami tebus anak itu dgn seekor sembelihan yg besar” [Ash-Shaaffaat : 102-107]

Dalam penyembelihan kurban terdpt upaya menghidupkan sunnah ini dan menyembelih sesuatu dari pemberian Allah kpd manusia sebagai ungkapan rasa syukur kpd Pemilik dan Pemberi kenikmatan. Syukur yg tertinggi ialah kemurnian ketaatan dgn mengerjakan seluruh perintahNya.

[2]. Mencukupkan orang lain di hari ‘Id, krn ketika seorang muslim menyembelih kurbannya, maka ia telah mencukupi diri dan keluarganya, dan ketika ia menghadiahkan sebagian untuk teman dan tetangga dan kerabatnya, maka dia telah mencukupi mereka, serta ketika ia bershadaqah dgn sebagian kpd para fakir miskin dan orang yg membtuhkannya, maka ia telah mencukupi mereka dari meminta-minta pada hari yg menjadi hari bahagia dan senang tersebut.

HUKUM BERKURBAN

Para ulama berbeda pendpt tentang hukum kurban menjadi beberapa pendpt, yg paling masyhur ada dua pendpt, yaitu.

Pendpt Pertama
Hukum kurban ialah sunnah mu’akkadah, pelaku mendpt pahala dan yg meninggalkan tdk berdosa. Inilah pendpt mayoritas ulama salaf dan yg setelah mereka.

Pendpt Kedua
Hukum kurban ialah wajib secara syar’i atas muslim yg mampu dan tdk musafir, dan berdosa jika tdk berkurban. Inilah pendpt Abu Hanifah dan selain dari para ulama.

Setiap pendpt ini berdalil dgn dalil yg telah dipaparkan dalam kitab-kitab madzhab. Pendpt yg menenangkan jiwa dan didukung dgn dalil-dalil kuat dalam pandangan saya bahwa hukum kurban ialah sunnah mu’akkadah, tdk wajib.

Ibnu Hazm Rahimahullah berkata, “Kurban hukum sunnah hasanah, tdk wajib. Barangsiapa meninggalkan tanpa kebencian terhadapnya, maka tdklah berdosa [6]

Sedangkan Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan, “Para ulama berbeda pendpt tentang kewajiban kurban atas orang yg mampu. Sebagian besar ulama berpendpt bahwa kurban itu sunnah bagi orang yg mampu, jika tdk melakukan tanpa udzur, maka ia tdk berdosa dan tdk hrs mengqadha’nya. Ada juga pendpt yg mengatakan bahwa kurban itu wajib atas orang yg mampu. [7]

[Disalin dari kitab Ahkaamul Iidain wa Asyri Dzil Hijjah, Edisi Indonesia Lebaran Menurut Sunnah Yang Shahih, Penulis Dr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar, Penerjemah Kholid Syamhudi Lc, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_________
Foote Note
[1]. Tafsir Ibni Katsir (IV/558), Zaadul Masiir, karya Ibnul Jauzi (I/249) dan Tafsiir Al-Qurthubi (XI/218]
[2]. Hadits Riwayat Bukhari dan Musim lihat Fathul Baari (X/9) dan Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi (XIII/120).
[3]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim lihat Fathul Baari (X/6) dan Shahihh Muslim bi Syarh An-Nawawi (XIII/113)
[4]. Al-Mughni (VIII/617)
[5]. Fathul Baari (/3)
[6]. Al-Muhalla (VIII/3)
[7]. Shahiih Muslim bi Syarh An-Nawawi (XIII/110) dan lihat dalil dua pendpt ini dan perdebatan dalam Fathul Baari (X/3), Bidaayatul Mujtahid (I/448), Mughniyul Mubtaaj (IV/282) Majmu Al-Fatawaa (XXVI/304), Al-Mughni dan Syarhhul Kabiir (XI/94) dan Al-Mughni (VIII/617) dan setelahnya.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1692&bagian=0

Sumber Asal Dan Hikmah Pensyariatan Kurban Serta Hukum Kurban : http://alsofwah.or.id


kurban dan hikmanya hikmah aqiqah