Awas Dukun dan Tukang Ramal Penciduk Agama dan Harta!

penulis Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
headline Akidah 16 - Juli - 2005 09:27:54

Bahaya Kejahilan
Kejahilan terhadap syariat terkadang menjadikan seseorang bersifat gegabah serampangan dan tergesa-gesa dlm berbuat. Ia dgn mudah melakukan sesuatu padahal akan memudharatkan dirinya. Betapa sering krn kejahilan seseorang terjatuh ke dlm perbuatan kufur dan kesyirikan bid’ah pengingkaran terhadap sesuatu yg sudah jelas ada nash dlm syariat dan terjatuh dlm berbagai bentuk kemaksiatan.
Kita saksikan sekeliling kita. Ada orang yg hanya bermodal bisa memimpin dzikir dan membaca doa ia posisikan diri sebagai orang yg terpandang walaupun buta terhadap ilmu agama. Ada pula orang yg gemar berceloteh di panggung-panggung dan di mimbar-mimbar merasa diri seakan da’i yg tdk tertandingi padahal dia tdk memiliki ilmu agama kecuali hanya sedikit saja.
Allah k
telah banyak menjelaskan di dlm ayat-Nya tentang bahaya kejahilan di antaranya:
1. Allah k
menceritakan tentang kaum Nabi Musa p
:


قَالُوا يَامُوْسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًاكَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ

“Mereka mengatakan: ‘Hai Musa buatlah utk kami sebuah sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.’ Musa menjawab: ‘Sesungguh kalian adl kaum yg tdk mengetahui.”
Al-Imam Asy-Syaukani t
mengatakan: “Allah mensifati Bani Israil dgn kejahilan krn mereka mengetahui bukti-bukti kekuasaan Allah yg mesti hal itu tdk menjadi penghalang bagi mereka utk meminta kepada selain Allah. Akan tetapi mereka terkenal sangat keras penentangan tinggi kejahilan dan orang2 yg tdk memiliki pendirian.”
2. Allah k
berfirman:


أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسآءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ

“Mengapa kamu mendatangi laki2 utk memenuhi nafsu kalian bukan wanita sesungguh kalian adl kaum yg tdk mengetahui .”
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t
berkata: “Bagaimana kalian sampai melakukan demikian terhadap syahwat kalian. Kalian melampiaskan kepada kaum pria melalui dubur mereka padahal itu tempat keluar kotoran. Dan kalian meninggalkan apa yg Allah ciptakan buat kalian dari wanita-wanita yaitu tempat-tempat yg baik di mana tiap manusia telah difitrahi utk condong kepadanya. Demikianlah bila urusan telah terbalik kalian menganggap yg jelek itu baik dan yg baik itu jelek akan tetapi kalian tdk mengetahui artinya. Kalian melanggar batasan-batasan Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya.”
3. Allah k
berfirman:


قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوْسُفَ وَأَخِيْهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُوْنَ

“Yusuf berkata: ‘Apakah kalian mengetahui apa yg kalian telah lakukan terhadap Yusuf dan saudara ketika kalian tdk mengetahui akibat perbuatan kalian itu.”
Ayat ini menjelaskan satu bentuk alasan yg mengakibatkan saudara-saudara Nabi Yusuf terjatuh dlm perbuatan yg tdk sepantas terjadi atau ayat ini merupakan sebuah cercaan terhadap saudara-saudara Nabi Yusuf krn mereka melakukan perbuatan-perbuatan orang jahil.
4. Allah k
berfirman:


قُلْ أَفَغَيْرَ اللهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُوْنَ

“Katakanlah: Apakah kalian menyuruh aku utk menyembah selain Allah hai orang2 yg tdk berpengetahuan.”
Di dlm ayat ini Allah k
memerintahkan kepada Rasulullah n
utk mengatakan kepada oang-orang jahil . Perintah orang2 kafir kepada Rasulullah n
utk menyembah selain Allah k
itu didasari oleh kejahilan. Jika mereka berilmu tentang Allah k
yg Maha Sempurna dari semua sisi niscaya mereka tdk akan memerintahkan Rasulullah n
melakukan hal itu.
Masih banyak lagi ayat semakna yg menjelaskan bahwa kejahilan merupakan sumber malapetaka.
Al-Imam Ibnul Qayyim t
mengatakan: “Rukun kekufuran ada empat yaitu sombong hasad marah dan syahwat. Sifat sombong akan mencegah seseorang utk tunduk hasad menghalangi utk menerima nasihat marah akan menghalangi utk berbuat adil dan syahwat akan menghalangi utk konsentrasi dlm beribadah. Apabila hancur pondasi kesombongan akan mudah bagi utk tunduk; apabila pondasi hasad runtuh mk akan mudah bagi menerima nasihat dan melaksanakannya. Bila pondasi marah runtuh mk akan mudah bagi utk berbuat adil dan tawadhu’; dan bila pondasi syahwat itu hancur mk akan mudah bagi utk bersabar menahan diri dari maksiat serta istiqamah dlm beribadah. Memindahkan sebuah gunung dari tempat lbh ringan gampang dan mudah dibanding menghilangkan keempat perkara ini bagi orang yg telah terkena. Terlebih bila semua telah menjadi perilaku dan tabiat yg mendarah daging. Bersamaan dgn itu tdk akan lurus amalan apapun yg dibangun di atas dan amalan-amalan tersebut tdk akan dapat membersihkan dirinya. Setiap kali dia membangun sebuah amalan mk akan diruntuhkan oleh keempat perkara tersebut dan segala macam penyakit bermuara darinya. Bila keempat perkara tersebut menancap di dlm hati mk akan menampilkan kebatilan sebagai kebenaran kebenaran sebagai kebatilan ma’ruf dlm bentuk mungkar dan mungkar dlm bentuk ma’ruf dan dunia akan mendekati sedangkan akhirat akan menjauh darinya. Bila kamu meneliti kekufuran umat terdahulu semua bermuara dari keempat perkara tersebut. Dan besar kecil sebuah adzab tergantung dari besar dan kecil keempat sifat tersebut. Barangsiapa membiarkan keempat rukun kekufuran tersebut pada diri mk dia telah membuka pintu kejahatan pada dirinya. Dan barangsiapa menutup mk akan tertutup pintu-pintu kejahatan pada dirinya. Keempat perkara di atas akan menyebabkan seseorang terhalang utk tunduk ikhlas bertaubat menerima kebenaran menerima nasihat dari saudara dan tawadhu’ di hadapan Allah k
dan di hadapan makhluk. Keempat sifat tersebut disebabkan kejahilan tentang Rabb dan kejahilan tentang dirinya. Jika dia mengetahui Allah k
dgn sifat-sifat-Nya yg Maha Sempurna dan Agung serta dia mengetahui tentang diri yg penuh kelemahan dan serba kekurangan niscaya dia tdk akan menyombongkan diri tdk akan marah dan tdk akan iri hati kepada siapapun yg telah mendapatkan anugerah dari Allah k
.”
Al-Imam Mujahid t
dan selain beliau mengatakan: “Setiap orang yg bermaksiat kepada Allah k
baik sengaja atau tdk dia adl orang jahil sampai dia bertaubat.”
Al-Imam Qatadah t
meriwayatkan dari Abu ‘Aliyah ia mengatakan tentang para shahabat Rasulullah n
bahwa mereka berkata: “Setiap dosa yg dilakukan oleh seorang hamba asas adl kejahilan.”
Abdur Razzaq t
berkata: Ma’mar telah menyampaikan kepada kami dari Qatadah bahwa ia berkata: “ Para shahabat telah ijma’ bahwa segala kemaksiatan dasar adl kejahilan baik disengaja ataupun tidak.”
Ibnu Juraij t
berkata: Abdullah bin Katsir menyampaikan kepadaku dari Mujahid bahwa ia berkata: “Setiap pelaku kemaksiatan kepada Allah k
adl dlm keadaan jahil ketika melakukannya.”
Ibnu Juraij t
juga berkata: ‘Atha bin Abi Rabbah telah menyampaikan kepadaku ucapan yg sejenis.
Abu Shalih t
berkata dari Ibnu ‘Abbas c
: “Kejahilan seseorang akan menyebabkan dia melakukan kejahatan.”
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t
berkata di dlm Tafsir beliau bahwa kejahilan yg dimaksud adalah: “Kejahilan tentang akibat perbuatan itu kejahilan tentang sebuah amalan yg akan mengundang murka Allah dan adzab-Nya kejahilan diri tentang pantauan Allah dan penglihatan-Nya kejahilan tentang amalan yg akan merugikan iman atau menghilangkannya. Berdasarkan tinjauan ini mk tiap orang yg bermaksiat kepada Allah k
dia adl orang jahil walaupun dia berilmu tentang keharaman.”

Berhati-hati dari Orang Jahil
Allah k
dan Rasul-Nya telah memperingatkan kita agar berhati-hati dari orang jahil dan sepak terjang krn bahaya berteman dgn mereka sangat besar. Dia akan menjerumuskan dirimu ke lubang kemaksiatan walaupun kamu mengetahui hukumnya. Orang jahil lbh dekat kepada Iblis dan tentara-tentara daripada kepada Allah k
dan tentara-tentara-Nya dan mereka sendiri adl tentara Iblis. Bila kamu mendekati mereka pasukan Iblis akan bergerak utk menciduk dirimu agama dan hartamu.
Dalam kehidupan kaum muslimin sekarang ini sangat terlihat berbagai praktek kehidupan yg didasari oleh kejahilan. Bahkan mayoritas praktek kehidupan yg merupakan perilaku jahiliyah menjadi kebanggaan. Prinsip mereka adl apa yg di jelaskan oleh Allah k
di dlm firman-Nya:


قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُوْنَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُوْنَ

“Mereka berkata: ‘ kami hanya mengikuti apa yg kami telah dapati dari perbuatan nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tdk mengetahui sesuatu apapun dan tdk mendapat petunjuk.”
Pertanyaan ini telah dijawab oleh kenyataan yg ada bahwa walaupun nenek moyang mereka dlm keadaan tdk mengetahui tdk mendapatkan petunjuk dan berada dlm kesesatan toh nenek moyang itu tetap diikuti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Demikianlah bahaya kebodohan yaitu akan membutakan sehingga tdk bisa melihat cahaya Allah k
yg telah menerangi alam ini malam bagaikan siang.
Prinsip “mati urip” membela ajaran nenek moyang dijadikan sebagai senjata utk menolak kebenaran berpaling dari dan membencinya. Dengan prinsip di atas mereka berani membela kebatilan dan melindungi pelakunya.
1. Allah k
telah memperingatkan di dlm firman-Nya:


فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ

“Maka janganlah kalian termasuk orang2 yg jahil.”
Ayat ini menjelaskan agar kita jangan sampai menjadi orang jahil yg tdk mengetahui hakikat permasalahan dan meletakkan permasalahan tdk pada tempatnya.
2. Allah k
membimbing agar Nabi Musa p
berlindung dari sifat kejahilan:


قَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ أَنْ أَكُوْن َمِنَ الْجَاهِلِيْنَ

“Musa berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah agar tdk menjadi salah seorang dari orang orang yg bodoh.’”
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t
berkata: “Karena sesungguh orang jahil itu adl orang yg berbicara dgn sebuah ucapan yg tdk berfaidah dan orang2 yg suka menghina orang lain.”
Beliau juga mensifati orang2 jahil dan tolol dengan: “Kejahilan tentang maslahat diri dan dia melakukan segala apa yg memudharatkannya.”
3. Allah k
menceritakan tentang Nabi Ibrahim p
agar menyingkir dan meninggalkan orang2 jahiliyah dlm firman-Nya:


وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَنْ لاَ أَكُوْنَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

“Dan aku akan menyingkir dari kalian dan apa-apa yg kalian sembah selain Allah dan aku hanya berdoa kepada Rabbku semoga aku dgn itu tdk termasuk orang2 yg celaka.”
4. Allah k
bercerita tentang sikap Nabi Musa p
terhadap kaum dlm firman-Nya:


وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُوْنِ. فَإِنَّ لَمْ تُؤْمِنُوا لِي فَاعْتَزِلُوْنِ

“Sesungguh aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian dari keinginan kalian merajamku dan jika kamu tdk beriman kepadaku mk biarkanlah aku menyingkir dari kalian .”
5. Allah k
bercerita tentang Ashabul Kahfi dlm firman-Nya:


وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوْهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يِنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

“Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yg mereka sembah selain Allah mk carilah tempat berlindung ke dlm gua itu niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yg berguna buat kalian dlm urusan kalian.”
6. Rasulullah n
telah memperingatkan di dlm sabdanya:


إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا

“Sesungguh Allah tdk akan mencabut ilmu dgn mencabut dari tiap hamba namun Allah mencabut dgn mematikan orang2 alim. Sehingga di saat Allah tdk menyisakan seorangpun dari mereka manusia mengangkat orang2 jahil sebagai pemimpin mereka. Mereka dita merekapun berfatwa tanpa dasar ilmu sehingga sesat dan menyesatkan.”
7. Al-Imam Malik t
mengatakan: “Tidak boleh mengambil ilmu dari empat orang Orang yg memproklamirkan kejahilan Orang yg selalu mengikuti hawa nafsu Orang yg terkenal pendusta dlm ucapan walaupun dia tdk berdusta atas nama Rasulullah n
Orang memiliki keutamaan dan kebaikan namun dia tdk mengetahui apa yg sedang diucapkannya.”
Dalil-dalil di atas menjelaskan kepada kita sikap yg selamat dan menyelamatkan yaitu menyingkir dari orang2 jahil yg tdk mau menerima kebenaran. Dan termasuk dari sederetan orang2 jahil adl para dukun dan tukang ramal.

Dukun adl Orang Jahil
Dukun adl orang yg menyatakan kepada manusia perkara-perkara ghaib yg belum terjadi dan perkara yg ada di dlm hati seseorang.
Ibnul Atsir t
mengatakan: “Dukun adl seseorang yg selalu memberikan berita tentang perkara-perkara yg belum terjadi pada waktu mendatang dan mengaku mengetahui segala bentuk rahasia. Memang dulu di negeri Arab banyak terdapat dukun seperti syiqq sathih dan selainnya. Di antara mereka ada yg menyangka bahwa dukun itu adl para pemilik jin yg akan menyampaikan berita-berita kepada mereka. Di antara mereka ada pula yg menyangka bahwa dukun adl orang yg mengetahui perkara-perkara yg akan terjadi dgn melihat kepada tanda-tandanya. Tanda-tanda itulah yg akan dipakai utk menghukumi kejadian-kejadian seperti melalui pembicaraan orang yg diajak bicara atau perbuatan atau keadaan dan ini mereka khususkan istilah dgn tukang ramal Seperti seseorang mengetahui sesuatu yg dicuri dan tempat barang yg hilang dan sebagainya.”
Al-Lajnah Ad-Da`imah mengatakan: “Dukun adl orang yg mengaku mengetahui perkara-perkara ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Mayoritas dukun adl orang2 yg mempelajari bintang-bintang utk mengetahui kejadian-kejadian atau mereka mempergunakan bantuan jin-jin utk mencuri berita-berita. Dan yg semisal mereka adl orang2 yg mempergunakan garis di tanah melihat di cangkir atau di telapak tangan atau melihat buku utk mengetahui perkara-perkara ghaib tersebut.”
Mayoritas yg terjadi di tengah umat ini adl pemberitaan yg dilakukan oleh jin-jin terhadap para wali mereka dari kalangan manusia yaitu berita-berita tentang perkara ghaib yg akan terjadi di muka bumi. orang2 jahil menyangka bahwa itu adl sebuah kasyaf dan sebuah karamah. Dengan itu banyak orang tertipu dan menyangka bahwa yg memberitahukan perkara tadi adl seorang wali Allah k
padahal dia adl wali setan.

Hukum Perdukunan
Dari penjelasan di atas mk tdk ada keraguan lagi tentang hukum perdukunan itu adl haram.
Ibnu Abil ‘Izzi t
mengatakan: “Bukan satu orang dari ulama telah menukilkan ijma’ tentang keharaman seperti Al-Imam Al-Baghawi Al-Qadhi ‘Iyadh dan selain mereka.”
Perdukunan adl sebuah kesyirikan kepada Allah k
dan pelaku adl kafir keluar dari agama krn mereka meyakini tahu perkara-perkara ghaib sedangkan permasalahan ghaib merupakan kekhususan ilmu Allah k
. Tindakan menyekutukan Allah k
dalam salah satu sifat-Nya termasuk dari kesyirikan disamping juga merupakan pendustaan terhadap firman Allah k
yg berbunyi:


قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَا يَشْعُرُوْنَ أَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ

“Katakan bahwa tdk ada seorangpun yg ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tdk mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.”
Rasulullah n
bersabda:


مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فِيْمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلىَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu dia membenarkan apa yg dikatakan mk sungguh dia telah kufur kepada apa yg diturunkan kepada Muhammad n
.”
Hadits ini di keluarkan oleh Al-Hakim dan beliau menshahihkan disepakati oleh Al-Imam Adz-Dzahabi dan dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani t
di dlm Al-Irwa` no. 2006 Shahih Sunan Abu Dawud no. 3304 Shahih Sunan Ibni Majah no. 522 Al-Misykat no. 551 dan di dlm kitab Adab Az-Zafaf hal. 105-106. Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud no. 3904 Ahmad Ibnu Majah no. 639 Al-Baihaqi Ibnu Jarud no. 107 Ad-Darimi no. 1141 dan Ath-Thahawi dlm Musykilul Atsar .
Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi t
mengatakan: “Kalau demikian keadaan orang yg mendatangi lalu bagaimana tentang orang yg ditanya/didatangi ?”

Sumber: www.asysyariah.com

Related Post:
  • Keutamaan Ilmu dan Ulama
  • Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya
  • Bolehkah Menikahi Wanita Ahlul Kitab?
  • Bersatu dan Berpisah Karena Allah
  • Sahur dan Berbuka
  • Kisah Khidhr Bersama Nabi Musa
  • Sosok Pembaharu Bukanlah Pengacau Agama, Politikus atau Pemberontak
  • Tawadhu’
  • Tinggalkan Segala Kebimbanganmu
  • Bekerja dan Beramal
  • Bentuk-Bentuk Tasyabbuh
  • Berlindung Dari Kebinasaan Ahlul Kitab (Bagian kedua)
  • NIFAQ
  • Lemahnya Hujjah Taqlid
  • Kisah Nabi Dawud dan Sulaiman

  • Tag : , , , , , , , , , , , , , , , , , , , definisi dukun definisi ramal definisi sombong Hukum Dukun dan Tukang Ramal pegertian dukun pengertian dukun
    You can leave a response, or trackback from your own site.