“Membaca qunut dalam shalat adl sunnah dan meninggalkannya pun juga sunnah.” Itulah komentar Ibnul Qoyyim tentang perbedaan pendapat para ulama tentang qunut. Sebab memang di sana ada riwayat yg menyatakan bahwa Rasulullah SAW membacanya dalam shalat namun ada juga hadits yg meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW meninggalkannya.

Tapi kenyataan di masyarakat kita berbeda. Berseteru gara-gara qunut bahkan sampai saling mencaki-maki adl peristiwa yg sering kita dengar. Ironis memang hanya gara-gara qunut yg sunnah lantas meninggalkan yg wajib; menjaga persatuan umat dan berbuat baik terhadap sesama muslim.

Perbedaan adl Fithrah

Tak ada sesuatu yg persis sama di dunia ini. Meski ada hanyalah terbatas pada beberapa hal kecil saja. Itulah sunnatullah. Bukti kekuasaan Allah SWT yg tak terhingga. Dengan perbedaan dunia menjadi penuh warna dimana manusia dapat saling melengkapi satu-sama lain dan bahkan saling tolong-menolong.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dgn kemampuan yg berbeda-beda. Ada yg berotak brilian dan ada yg biasa. Karena itu perbedaan pendapat adl hal yg lumrah bukan hal tercela.

Hal seperti ini juga terjadi pada para ulama. Pengetahuan dan kemampuan yg berbeda-beda akhirnya menghasilkan ijtihad yg berbeda pula. Bagi yg sering mengkaji kitab-kitab perbandingan madzhab selisih pendapat di antara mereka bukanlah hal asing krn berbeda pendapat dalam menghukumi sesuatu telah ada sejak zaman shababat ra. Contohnya saja keputusan Khalifah Abu Bakar utk memerangi orang-orang yg menolak membayar zakat disepakati setelah melalui musyawarah yg diwarnai silih beda pendapat. Atau antara Umar ra. dan Utsman ra. dalam masalah pembukuan Al-Qur’an serta banyak lagi.

Ikhtilaf Dalam Hukum Fiqih

Ikhtilaf atau perbedaan pendapat dalam hukum fiqih disebabkan oleh banyak hal antara lain

    Perbedaan para ulama dalam memahami teks Al-Qur’an dan Hadits Teks Al-Qu’ran dan Hadits kadang membuka peluang utk dipahami secara berbeda misalnya dgn adanya kata yg mempunyai lbh dari satu makna. Perbedaan pemahaman itu melahirkan perbedaan penghukuman. Contohnya kata “la mastum” dalam surah Al-Maidah ayat 6. Kata itu bisa berarti “bersentuhan” dan bisa berarti “kegiatan pribadi suami dan istri”. Yang mengartikannya sebagai kegiatan pribadi suami dan istri akan mengeluarkan pendapat bahwa bersentuhan saja dgn wanita tidak membatalkan wudlu tapi yg mengartikannya sebagai bersentuhan akan menghukumi batal wudlu bila kulit wanita dan pria bersinggungan.
    Perbedaan pengetahuan mereka tentang HaditsOrang yg paling tahu dan mengerti Hadits-Hadits Rasulullah SAW adl para shahabat. Sepeninggalan Nabi para shahabat menyebar ke berbagai daerah utk mensyiarkan Islam antara lain Irak Kufah Mesir dll. Kendati begitu sebagian besar mereka tetap berdomisili di Madinah. Wal hasil kota yg banyak didiami oleh banyak shahabat lbh menguasai hadits dibanding kota yg hanya memiliki sedikit shahabat dan ini berdampak pada pengambilan hukum. Ulama-ulama Irak misalnya lbh cenderung menggunakan ra’yu yg tetap sejalan dgn Al-Qur’an krn sedikitnya perbendaharaan hadits mereka dan ditambah pula dgn banyak beredarnya hadits-hadits palsu ketimbang ulama-ulama Madinah yg kaya perbendaharaan haditsnya. Akibat pengetahuan terhadap hadits yg berbeda-beda inilah akhirnya terlahir ijtihad yg berbeda pula.
    Perbedaan mereka dalam menilai Hadits Para ulama kadang berbeda pendapat dalam menilai sebuah hadtis. Imam Malik menyatakan bahwa hadits a itu shahih namun setelah mengadakan penelitian lbh lanjut Imam Syafi’i mengatakan bahwa hadits tersebut dhaif lemah sehingga tidak dapat dijadikan sandaran hukum.

    Salah satu penyebab ikhtilaf tadi adl perbedaan mereka dalam memverifikasi para perawi hadits. Menurut A si anu itu bisa dipercaya namun B mengatakan ia kurang kredibel.

    Di samping perbedaan dalam menilai keshahihan hadits kadang mereka juga berbeda pendapat tentang status hadits tertentu. Apakah ia bisa dijadikan hujjah atau tidak. Misalnya hadits mursal tabi’i Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menerimanya utk dijadikan hujjah sementara Imam Syafi’i menolak.

      Perbedaan waktu tempat dan kondisiPara ulama hidup pada kurun waktu dan tempat yg berbeda-beda yg akhirnya melahirkan tabiat dan karakter yg berbeda pula. Dan ini berdampak pada pengambilan hukum. Contohnya Umar bin Abdul Aziz sewaktu menjadi Gubernur Madinah ia menerima klaim seseorang hanya dgn satu saksi laki-laki dan sumpah. Tapi ketika ia menjadi khalifah dan tinggal di Syam tidak menerima klaim seseorang kecuali dgn dua saksi laki-laki atau satu laki-laki dan dua perempuan. Ketika ditanya tentang hal itu ia menjawab “Kami sungguh mendapati penduduk Syam berada dalam kondisi dan tradisi yg berbeda dgn Madinah.”
      Perbedaan mereka dalam mensikapi dalil-dalil yg kelihatan kontradiktifContohnya hadits-hadits berikut
      La sholata illa bifatihatil kitab .
      Idza qara’al imamu fa anshitu .
      Man kana lahu imam faqira’atahu lahu qira’ah .

      Berdasarkan ketiga hadits ini para ulama berbeda pendapat tentang apakah makmum wajib membaca al-Fatihah atau tidak. Imam Syafi’i berpendapat bahwa makmum wajib membaca al-Fatihah berdasarkan hadits pertama. Imam Hanbali berkata bahwa jika imam membaca keras makmum tidak perlu membaca al-Fatihah tapi jika imam tidak membaca keras makmum wajib membacanya. Dalam hal ini Imam Hanbali mengkompromikan hadits pertama dan kedua. Sedang menurut Imam Hanafi seorang makmum tidak wajib membaca apapun berdasarkan hadits yg ketiga.

        Perbedaan mereka dalam menggunakan dalil-dalil mukhtalaf {yang diperselisihkan. Sebagian besar ulama sepakat dalam menggunakan Al-Qur;an al-Hadits Ijma’ dan Qiyas sebagai dalil atau sandara hukum. Namun selain empat unsur tadi masih ada dalil-dalil yg diperselisihkan oleh para ulama dalam kaitannya sebagai sumber hukum. Dalil-dalil mukhtalaf itu antara lain
        Perkataan atau pendapat Shahabat.
        Ijma’ penduduk Madinah
        Istihsan
        Istishab
        Mashalih Mursalah
        Tradisi. dsb.

        Itulah hal-hal yg menyebabkan para ulama berbeda pendapat. Sebuah perbedaan yg timbul krn hal-hal yg sangat manusiawi. Karenanya perbedaan seperti itu tidak tercela. Bahkan Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa berijtihad dan ia benar baginya dua pahala. Dan jika salah baginya satu pahala”

        Maka tidak sepatutnya perbedaan pendapat dan madzhab menjadi perpecahan pertikaian dan fanatismu . Allah berfirman “Wa’tashimu bihablillah jami’an wa la tafarraqu ” . Artinya Berpeganglah kamu semua pada tali Allah dan janganlah berpecah belah. Wallahu ‘alam bish-showab.

        Ahmad Ulil Amin

        sumber file al_islam.chm


pendapat para ulama tentang hadis iman islam dan ihsan karya tulis perselisihan qunut