Batasan Toleransi

penulisĀ Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari
Syariah Kajian Utama 09 - November - 2004 22:41:36

Perbedaan dan perselisihan adl perkara yg tercela dlm Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِي الْكِتَابِ لَفِيْ شِقَاقٍ بَعِيْدٍ
“Yang demikian itu adl krn Allah telah menurunkan Al Kitab dgn membawa kebenaran dan sesungguh orang2 yg berselisih tentang Al Kitab itu benar-benar dlm penyimpangan yg jauh.”
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ إِلاَّ الَّذِيْنَ أُوْتُوْهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
“Manusia itu umat yg satu mk Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dgn benar utk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yg mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yg telah didatangkan kepada mereka Kitab yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yg nyata krn dengki antara mereka sendiri. mk Allah memberi petunjuk orang2 yg beriman kepada kebenaran tentang hal yg mereka perselisihkan itu dgn kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yg dikehendaki-Nya kepada jalan yg lurus.”
وَآتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الأَمْرِ فَمَا اخْتَلَفُوْا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِيْ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
“Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yg nyata tentang urusan . mk tidaklah mereka berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan krn kedengkian di antara mereka. Sesungguh Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yg mereka selalu berselisih padanya.”
Dan ayat-ayat lain teramat banyak utk disebutkan.
Meski demikian perbedaan dan perselisihan adl tabiat manusia di samping kedua adl perkara yg telah ditaqdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلاَ يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ
“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang2 yg diberi rahmat oleh Tuhanmu.”
Ha saja kaum muslimin dibebani secara syar’i utk meluruskan dan menghilangkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلاَّ لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِيْ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Dan Kami tdk menurunkan kepadamu Al-Kitab ini melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yg mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yg beriman.”
Menghadapi kenyataan demikian ini manusia berbeda-beda di dlm menyikapinya. Ada yg tdk menaruh respek sedikit pun serta ada yg tdk peduli sama sekali dgn anggapan bahwa “perbedaan dan perselisihan itu adl rahmat.” Anggapan ini jelas salah krn di antara perbedaan dan perselisihan itu ada yg menyebabkan pelaku tercela dan mendapat murka Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti perbedaan dan perselisihan dlm hal aqidah manhaj bahkan agama – wal ‘iyadzubillah - dan pokok-pokok Islam lainnya.
Ada pula yg berusaha utk menyembunyikan perbedaan dan perselisihan internal di tengah-tengah kaum muslimin dgn dalih “itu hanya akan memperkuat posisi musuh”. tdk heran bila kemudian didapati orang2 sangat gemar menyerukan agar saling menghormati saling memberikan toleransi mendiamkan penyimpangan-penyimpangan demi mencapai sebuah persatuan dan kesatuan sampai-sampai muncul pernyataan bahwa “madzhab-madzhab itu adl partai dlm fiqih sedang partai-partai itu adl madzhab dlm politik.”
Propaganda semacam ini sangat berbahaya sebab menyembunyikan perbedaan dan perselisihan dgn menampakkan wajah persatuan dan kesatuan adl cara-cara yg ditempuh kaum al-maghdhubi ‘alaihim wadh dhalliin di mana Allah telah mensifati mereka dlm firman-Nya:
تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَقُلُوْبُهُمْ شَتَّى
“Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah-belah.”
Propaganda ini jelas-jelas ajakan utk menempuh jalan mereka yg padahal Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita agar menyelisihi tdk menyerupai dan tdk mengikuti jejak-jejaknya.
Para pembaca tdk diragukan lagi bahwa persatuan adl hal yg terpuji bahkan banyak ayat yg memerintahkan bersatu dan melarang berselisih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِْيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا
“Dan berpeganglah kamu semua kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
“Dan janganlah kamu menyerupai orang2 yg bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yg jelas kepada mereka. Mereka itulah orang2 yg mendapat siksa yg berat.”
إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍ
“Sesungguh orang2 yg memecah-belah agama dan mereka menjadi beberapa golongan tdk ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka.”
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَالَّذِيْ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama dan apa yg telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yg telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yg telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim Musa dan ‘Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya.”
Perlu utk diperhatikan tidaklah Allah memerintahkan kaum muslimin agar bersatu dgn perintah yg mutlak. Bukanlah maksud bersatu itu memperbanyak jumlah muslimin namun maksud adl berpegang teguh kepada tali Allah yg kokoh.
Jumlah yg banyak tidaklah bermanfaat bila tdk berpegang teguh kepada tali Allah yg kokoh bahkan keberadaan hanya akan memudharatkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللَّهِ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang2 yg di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ
“Dan sebahagian besar manusia tdk akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.”
Perbedaan dan perselisihan memang hal yg tdk bisa kita hindari. Namun bukan berarti kemudian kita meninggalkan sikap saling menasehati memerintah kepada yg ma’ruf dan mencegah dari yg mungkar. Karena kaum muslimin dibebani secara syariat utk mengusahakan segala hal yg menjadi ketetapan atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ
“Sesungguh ini adl agama kamu semua agama yg satu dan Aku adl Tuhanmu mk bertakwalah kepada-Ku.”
إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ
“Sesungguh ini adl agama kamu semua agama yg satu dan Aku adl Tuhanmu mk sembahlah Aku.”
Bahkan perbedaan dan perselisihan yg timbul akibat dari menegakkan nasehat menegakkan amar ma’ruf nahi munkar membela Al-Kitab dan As-Sunnah penyelisihan terhadap ahlil bid’ah serta orang2 yg sesat dan menyesatkan merupakan perbedaan dan perselisihan yg terpuji tdk tercela sedikitpun krn Allah dan Rasul-Nya memerintahkan utk memisahkan diri dari mereka itu.
Sebalik adl kedzaliman yg besar serta pelanggaran yg fatal terhadap agama bila menyerukan persatuan dlm keadaan berbeda-beda manhaj dan aqidah di mana tiap orang dituntut saling menghormati mentolerir dan membiarkan kebid’ahan serta penyimpangan-penyimpangan dgn cara menutup mata dan berpura-pura tdk tahu. Wallahul musta’an.
Inilah sebenar yg akan melenyapkan agama dan menghapus kemuliaan serta kedudukannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ كَانُوْا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوْهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ
“orang2 kafir Bani Israil telah dilaknati dgn lisan Dawud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tdk melarang tindakan munkar yg mereka perbuat. Sesungguh amat buruklah apa yg selalu mereka perbuat itu.”
Maka perbedaan dan perselisihan adl dua hal yg tercela dlm agama secara umum namun tdk secara mutlak. Dengan demikian sangatlah penting bagi kita utk mengetahui batasan-batasan perbedaan dan perselisihan yg boleh dan yg tdk serta batasan-batasan toleransi di dalamnya.
Perbedaan dan perselisihan ada beberapa macam di antaranya:
Pertama perbedaan dan perselisihan dlm pokok-pokok agama seperti dlm ibadah dan aqidah. Perkara aqidah adl tauqifiyyah bukan tempat ijtihad di mana kita wajib berpegang kepada perkara aqidah yg telah Allah syariatkan tdk boleh mengikutsertakan ra’yu dan ijtihad-ijtihad kita.
Begitupun ibadah adl perkara tauqifiyyah. Perkara ibadah yg terdapat dalil mk kita amalkan dan yg tdk ada dalil mk ia adl bid’ah yg wajib utk kita meninggalkan berdasarkan hadits:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengadakan suatu yg baru dlm urusan kami yg bukan berasal dari mk tertolak.” .
Juga hadits:
إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru krn tiap perkara baru itu adl bid’ah dan tiap-tiap bid’ah itu adl sesat dan tiap kesesatan di neraka.”
Maka perkara aqidah ibadah dan perkara agama secara umum tdk ada tempat utk berbeda dan berselisih di dlm selama-lama akan tetapi mesti mengikuti nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah serta apa yg ada pada salaful ummah generasi terbaik umat ini.
Perbedaan dan perselisihan dlm hal ini tercela dan diharamkan tdk boleh saling menghormati dan memberikan toleransi krn pokok-pokok agama bukan tempat berijtihad bukan pula tempat utk memunculkan ra’yu.
Kedua perbedaan dan perselisihan dlm perkara yg mendapat kelapangan utk berijtihad dari masalah-masalah fiqih dan mengambil kesimpulan hukum dari suatu dalil. dlm hal ini perbedaan dan perselisihan terjadi dlm hal ijtihad dan bukan dlm hal aqidah tdk ada pengingkaran di dlm dgn syarat tiap orang menjauhi ta’ashshub dan menjauhkan diri mengikuti hwa nfsu (**) . Namun jika telah nampak suatu dalil mk wajib utk mengikuti dan meninggalkan apa-apa yg tdk dibangun di atas dalil.
Ketiga perbedaan dan perselisihan sebagian fuqaha dlm hal furu’ yg telah dijelaskan dan didatangkan semua oleh syariat. Perbedaan dan perselisihan dlm hal ini tidaklah membahayakan bahkan merupakan bagian dari agama seperti perbedaan dlm sifat adzan jenis-jenis doa istiftah dan yg lainnya.
Perbedaan dan perselisihan inilah yg tdk tercela. dlm perbedaan ini tiap orang mendapat kelapangan dan dapat saling memberikan toleransi kepada yg lainnya.
Wal ‘ilmu ‘indallah.

Sumber bacaan:
- Syarh Al-Ushul As-Sittah
- Syarh Masail Al-Jahiliyyah
- Sumber-sumber lainnya

Sumber: www.asysyariah.com


dalil tentang toleransi beragama batas toleransi islam