Beberapa Kesalahan dlm Bulan Ramadhan

penulis Al-Ustadz Qomar ZA Lc.
Syariah Kajian Utama 03 - Oktober - 2006 02:31:23

Islam dlm banyak ayat dan hadits senantiasa mengumandangkan penting ilmu sebagai landasan berucap dan beramal. mk bisa dibayangkan amal tanpa ilmu hanya akan berbuah penyimpangan. Kajian berikut berupaya menguraikan beberapa kesalahan berkait amalan di bulan Ramadhan. Kesalahan yg dipaparkan di sini memang cukup ‘fatal’. Jika didiamkan terlebih ditumbuhsuburkan sangat mungkin akan mencabik-cabik kemurnian Islam lebih-lebih jika itu kemudian disirami semangat fanatisme golongan.

Penggunaan Hisab dlm Menentukan Awal Hijriyyah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan bimbingan dlm menentukan awal bulan Hijriyyah dlm hadits-hadits di antaranya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ: لاَ تَصُوْمُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan Ramadhan mk beliau mengatakan: ‘Janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihatnya. Bila kalian tertutup oleh awan mk hitunglah’.”
Dan hadits yg semacam ini cukup banyak baik dlm Shahih Al-Bukhari dan Muslim maupun yg lain.
Kata-kata فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ menurut mayoritas ulama bermadzhab Hanbali ini dimaksudkan utk membedakan antara kondisi cerah dgn berawan. Sehingga didasarkan hukum pada penglihatan hilal adl ketika cuaca cerah adapun mendung mk memiliki hukum yg lain.
Menurut jumhur ulama artinya: “Lihatlah awal bulan dan genapkanlah menjadi 30 .”
Adapun yg menguatkan penafsiran semacam ini adl riwayat lain yg menegaskan apa yg sesungguh dimaksud. Yaitu sabda Nabi yg telah lalu dan riwayat yg semakna. Yang paling utama utk menafsirkan hadits adl dgn hadits juga. Bahkan Ad-Daruquthni meriwayatkan serta menshahihkan juga Ibnu Khuzaimah dlm Shahih- dari hadits Aisyah:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ شَعْبَانَ مَا لاَ يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ ثُمَّ يَصُوْمُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ

“Dahulu Rasulullah sangat menjaga Sya’ban tdk sebagaimana pada bulan lainnya. Kemudian beliau puasa krn ru`yah bulan Ramadhan. Jika tertutup awan beliau menghitung 30 hari utk selanjut berpuasa.”
Oleh karena penggunaan hisab bertentangan dgn Sunnah Nabi dan bertolak belakang dgn kemudahan yg diberikan oleh Islam.

أَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

“Maukah kalian mengambil sesuatu yg rendah sebagai pengganti yg lbh baik?”

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِيْنُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata: ‘Sesungguh agama ini adl mudah. Dan tdk seorangpun memberat-beratkan dlm agama ini kecuali ia yg akan terkalahkan olehnya. mk berusahalah utk benar mendekatlah gembiralah dan gunakanlah pagi dan petang serta sedikit dari waktu malam’.”
Sebuah pertanyaan diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah atau Dewan Fatwa dan Riset Ilmiah Saudi Arabia:
Apakah boleh bagi seorang muslim utk mendasarkan penentuan awal dan akhir puasa pada hisab ilmu falak ataukah harus dgn ru`yah hilal?
Jawab: …Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk membebani kita dlm menentukan awal bulan Qomariyah dgn sesuatu yg hanya diketahui segelintir orang yaitu ilmu perbintangan atau hisab falak. Padahal nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah yg ada telah menjelaskan yaitu menjadikan ru`yah hilal dan menyaksikan sebagai tanda awal puasa kaum muslimin di bulan Ramadhan dan berbuka dgn melihat hilal Syawwal. Demikian juga dlm menetapkan Iedul Adha dan hari Arafah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“…Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan hendak berpuasa.”
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قٌلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka berta tentang hilal-hilal. Katakanlah itu adl waktu-waktu utk manusia dan utk haji.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ

“Jika kalian melihat mk puasalah kalian. Jika kalian melihat mk berbukalah kalian. Namun jika kalian terhalangi awan sempurnakanlah menjadi 30.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tetap puasa dgn melihat hilal bulan Ramadhan dan berbuka dgn melihat hilal Syawwal. Sama sekali Nabi tdk mengaitkan dgn hisab bintang-bintang dan orbit . Yang demikian ini diamalkan sejak zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam para Khulafa` Ar-Rasyidin empat imam dan tiga kurun yg Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam persaksikan keutamaan dan kebaikannya.
Oleh krn itu menetapkan bulan-bulan Qomariyyah dgn merujuk ilmu bintang dlm memulai awal dan akhir ibadah tanpa ru`yah adl bid’ah yg tdk mengandung kebaikan serta tdk ada landasan dlm syariat….”
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Tentang hisab tdk boleh beramal dengan dan bersandar padanya.”
Tanya: Sebagian kaum muslimin di sejumlah negara sengaja berpuasa tanpa menyandarkan pada ru`yah hilal dan merasa cukup dgn kalender. Apa hukumnya?
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab: “Sesungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin utk -Muttafaqun alaihi-
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Kami adl umat yg ummi tdk menulis dan tdk menghitung. Bulan itu adl demikian demikian dan demikian.” –beliau menggenggam ibu jari pada ketiga kali dan mengatakan–: “Bulan itu begini begini dan begini –serta mengisyaratkan dgn seluruh jemarinya–.”
Beliau maksudkan dgn itu bahwa bulan itu bisa 29 atau 30 . Dan telah disebutkan pula dlm Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Puasalah kalian krn melihat dan berbukalah krn melihatnya. Jika kalian tertutupi awan hendak menyempurnakan Sya’ban menjadi 30 .”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
“Jangan kalian berpuasa sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah. Dan jangan kalian berbuka sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah.”
Masih banyak hadits-hadits dlm bab ini. Semua menunjukkan wajib beramal dgn ru`yah atau menggenapkan jika tdk memungkinkan ru`yah. Ini sekaligus menjelaskan tdk boleh bertumpu pada hisab dlm masalah tersebut.
Ibnu Taimiyyah1 telah menyebutkan ijma’ para ulama tentang larangan bersandar pada hisab dlm menentukan hilal-hilal. Dan inilah yg benar tdk diragukan lagi. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yg memberi taufiq.
Pembahasan lbh rinci tentang hisab bisa dilihat kembali dlm Asy-Syariah edisi khusus Ramadhan tahun 2004.

Imsak sebelum Waktunya
Imsak arti menahan. Yang dimaksud di sini adl berhenti dari makan dan minum dan segala pembatal saat sahur. Kapankah sebetul disyariatkan berhenti ketika adzan tanda masuk subuh atau sebelum yakni adzan pertama sebelum masuk subuh? Karena dlm banyak hadits menunjukkan bahwa subuh memiliki dua adzan beberapa saat sebelum masuk dan setelahnya.
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: “Masalah ini di mana banyak orang bahwa makan di malam hari pada saat puasa diharamkan sejak adzan pertama2 yg adzan ini mereka sebut dgn adzan imsak tdk ada dasar dlm Al-Qur`an As-Sunnah dan dlm satu madzhabpun dari madzhab para imam yg empat. Mereka semua justru sepakat bahwa adzan utk imsak adl adzan yg kedua yakni adzan yg dengan masuk waktu subuh. Dengan adzan inilah diharamkan makan dan minum serta melakukan segala hal yg membatalkan puasa. Adapun adzan pertama yg kemudian disebut adzan imsak pengistilahan semacam ini bertentangan dgn dalil Al-Qur`an dan Hadits. Adapun Al-Qur`an mk Rabb kita berfirman –dan kalian telah dengar ayat tersebut berulang-ulang–…

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مَنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar.”
Ini merupakan nash yg tegas di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan bagi orang2 yg berpuasa yg bangun di malam hari utk melakukan sahur. Arti Rabb kita membolehkan utk makan dan mengakhirkan hingga ada adzan yg secara syar’i dijadikan pijakan utk bersiap-siap krn masuk waktu fajar shadiq . Demikian Rabb kita menerangkan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan makna ayat yg jelas ini dgn hadits yg diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi mengatakan:

لاَ يَغُرَّنَّكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ فَإِنَّمَا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ

“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal krn Bilal adzan di waktu malam.”3
Dalam hadits yg lain selain riwayat Al-Bukhari dan Muslim:

لاَ يَغُرَّنَّكُمْ أَذَانُ بِلاَلٍ فَإِنَّمَا يُؤَذِّنُ لِيَقُوْمَ النَّائِمُ وَيَتَسَحَّرُ الْمَتَسَحِّرُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ

“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal krn Bilal adzan utk membangunkan yg tidur dan utk menunaikan sahur bagi yg sahur. mk makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum melantunkan adzan4….”
Ibnu Hajar dlm Fathul Bari syarah Shahih Al-Bukhari juga mengingkari perbuatan semacam ini. Bahkan beliau menganggap termasuk bid’ah yg mungkar.
Oleh karena wahai kaum muslimin mari kita bersihkan amalan kita selaraskan dgn ajaran Nabi kita kapan lagi kita memulai ?
Di sisi lain adapula yg melakukan sahur di tengah malam. Ini juga tdk sesuai dgn Sunnah Nabi sekaligus bertentangan dgn maksud dari sahur itu sendiri yaitu utk membantu orang yg berpuasa dlm menunaikannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَكِّرُوا بِاْلإِفْطَارِ، وَأَخِّرُوا السَّحُوْرَ

“Segeralah berbuka dan akhirkan sahur.”

عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ: قُلْتُ لِعَائِشَةَ: فِيْنَا رَجُلاَنِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ اْلإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السُّحُوْرَ، وَاْلآخَرُ يُؤَخِّرُ اْلإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ السُّحُوْرَ. قَالَتْ: أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ اْلإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السُّحُوْرَ؟ قُلْتُ: عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ. قَالَتْ: هَكَذَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ

Dari Abu ‘Athiyyah ia mengatakan: Aku katakan kepada ‘Aisyah: Ada dua orang di antara kami salah satu menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur sedangkan yg lain menunda berbuka dan mempercepat sahur. ‘Aisyah mengatakan: “Siapa yg menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur?” Aku menjawab: “Abdullah bin Mas’ud.” ‘Aisyah lalu mengatakan: “Demikianlah dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.”
At-Tirmidzi mengatakan: Hadits Zaid bin Tsabit derajat hasan shahih. Asy-Syafi’i Ahmad dan Ishaq berpendapat dengannya. Mereka menyunnahkan utk mengakhirkan sahur.”
Di antara kesalahan yg lain adalah:
Mengakhirkan adzan Maghrib dgn alasan kehati-hatian/ihtiyath
Membunyikan meriam utk memberitahukan masuk waktu shalat sahur atau berbuka. Al-Imam Asy-Syathibi menganggap bid’ah.
Bersedekah atas nama roh dari orang yg telah meninggal pada bulan Rajab Sya’ban dan Ramadhan.
Dan masih banyak lagi kesalahan lain yg Insya Allah akan dibahas pada kesempatan yg lain.
Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Lihat pula Majmu’ Fatawa
2 Bila di masyarakat kita tanda adl dgn selain adzan seperti sirine petasan atau yg lain yg tdk ada dasar syar’i sama sekali.
3 Yakni sebelum masuk waktu subuh.
4 Karena Ibnu Ummi Maktum adzan setelah masuk waktu subuh.

Sumber: www.asysyariah.com


meninggal di bulan syawal hadist tentang imsak