Bekal utk Jamaah Haji

penulis Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah
Syariah Akidah 22 - Desember - 2006 18:37:35

Kasih Sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap Hamba
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yg lima dan diwajibkan bagi orang yg mampu. Ibadah ini dikaitkan dgn kemampuan krn haji merupakan sebuah perjalanan ibadah yg butuh pengorbanan besar berupa kemampuan materi dan kekuatan fisik. Bila sebuah ibadah dikaitkan langsung dgn kemampuan berarti menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm meletakkan ibadah tersebut. Orang yg beriman akan menerima ketentuan ibadah tersebut tanpa berat hati. Karena mereka mengetahui bahwa tdk ada satupun bentuk syariat yg diletakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan maslahat kembali bagi hamba. Tidak terkait sedikitpun dgn kebutuhan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap mereka. Di sisi lain dikaitkan ibadah haji ini dgn kemampuan hamba menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala yg tinggi terhadap mereka. Semua ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan di dlm firman-Nya:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tdk membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya.”

مَا يُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ

“Allah tdk menginginkan bagi kalian sesuatu yg memberatkan kalian.”

يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menginginkan kemudahan buat kalian dan tdk menginginkan kesulitan.”

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Allah tdk menjadikan atas kalian dlm agama ini kesukaran.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا. فَقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ. ثُمَّ قَالَ: ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami beliau berkata: “Wahai sekalian manusia sungguh Allah telah mewajibkan bagi kalian haji mk berhajilah kalian!” Seseorang berkata: “Apakah tiap tahun ya Rasulullah?” Beliau terdiam sehingga orang tersebut mengulangi ucapan tiga kali. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau aku katakan ya niscaya akan wajib bagi kalian dan kalian tdk akan sanggup.” Kemudian beliau berkata: “Biarkanlah apa yg aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguh orang sebelum kalian telah binasa krn mereka banyak berta yg tdk diperlukan dan menyelisihi nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian mk lakukanlah sesuai dgn kesanggupan kalian. Dan bila aku melarang kalian dari sesuatu mk tinggalkanlah.”1
Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِيْنُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Sesungguh agama ini mudah dan tdk ada seorangpun yg memberatkan diri pada melainkan dia tdk akan sanggup. Berusahalah utk tepat mendekatlah dan bergembiralah. Dan gunakanwaktu pagi dan petang serta sebagian dari waktu malam.”2
Ibnul Munayyir berkata: “Di dlm hadits ini terdapat salah satu tanda kenabian. Dan kita telah menyaksikan juga telah disaksikan pula oleh orang2 sebelum kita bahwa tiap orang yg berdalam-dalam menyelami agama akan tdk sanggup. Dan bukan berarti tdk boleh mencari yg lbh sempurna dlm ibadah krn ini termasuk perkara yg terpuji. Yang dilarang adl berlebih-lebihan yg akan menyebabkan kebosanan atau berlebih-lebihan dlm menjalankan amalan sunnah sehingga meninggalkan yg lbh utama atau mengeluarkan kewajiban dari waktu seperti seseorang yg semalam suntuk utk qiyamul lail sehingga dia terlalaikan dari Shalat Subuh secara berjamaah atau sampai keluar dari waktu yg dipilih atau sampai terbit matahari yg akhir keluar dari waktu yg diwajibkan.”

Sikap Terpuji Orang yg Beriman
Orang berimanlah yg paling bergembira dgn semua bentuk ibadah yg diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Merekalah yg memiliki kesiapan utk menjalankannya. Mereka juga memiliki keberanian utk menghadapi segala kemungkinan yg akan terjadi dlm ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tetap tegar dan bersemangat sekalipun anjuran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya itu dianggap kecil dan sepele oleh kebanyakan orang. Sikap inilah yg telah digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm firman-Nya:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُوْلُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Sesungguh ucapan orang2 yg beriman bila mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya utk menghukumi di antara mereka mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami taat’.”

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah patut bagi laki2 yg mukmin dan tdk bagi perempuan yg mukmin apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka.”

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

“Maka demi Rabbmu mereka tdk akan beriman sehingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dlm apa yg mereka perselisihkan kemudian mereka tdk mendapatkan rasa berat pada diri-diri mereka apa yg kamu putuskan dan mereka menerima dgn sebenar-benarnya.”

Bingkisan Berharga bagi para Hujjaj
Salah satu perintah syariat adl menunaikan ibadah haji. Pelaksanaan ibadah ini memiliki amalan-amalan yg berbeda dgn ibadah-ibadah lainnya. Amalan yg sangat membutuhkan keikhlasan niat yg tinggi kejujuran iman ketabahan jiwa dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yg sempurna kekuatan material dan spiritual. Hal ini terbukti dari awal perintah memakai pakaian ihram sampai akhir pelaksanaan ibadah tersebut.
Ada beberapa bingkisan berharga utk saudaraku yg hendak menunaikan ibadah haji.
Pertama Memperbaiki niat dan menjaga keikhlasan dlm pelaksanaan ibadah haji.
Keikhlasan adl sebuah amalan hati yg sangat erat hubungan dgn kemurniaan aqidah dan tauhid seseorang. Ketauhidan yg benar akan membuahkan keikhlasan yg murni dan hakiki. Keikhlasan yg murni merupakan perwujudan ketulusan persaksian hamba terhadap kalimat Laa ilaha illallah tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seseorang harus membangun semua ibadah di atas aqidah yg benar. Karena aqidah yg benar merupakan penentu diterima amalan seseorang. Berdasarkan hal inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan aqidah dan tauhid sebagai rukun Islam pertama melalui lisan Rasul-Nya. dlm hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam itu dibangun di atas lima dasar yaitu mempersaksikan bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah dan Muhammad adl utusan-Nya mendirikan shalat menunaikan zakat haji dan puasa pada bulan Ramadhan.”3
Jibril berkata dlm hadits ‘Umar radhiyallahu ‘anhu:

يَا مُحَمَّدُ، أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اْلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

“Wahai Muhammad beritahukan kepadaku tentang Islam!” Beliau menjawab: “Engkau mempersaksikan bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah dan bahwa Muhammad adl utusan Allah mendirikan shalat menunaikan zakat puasa dan haji ke Baitullah bila engkau mampu menempuh perjalanan ke sana.”4
Bila aqidah seseorang menyelisihi aqidah yg diajarkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah tentu akan merusak niatnya. Atau niat akan tercampuri dgn niatan yg lain. Bahkan tdk menutup kemungkinan dia berangkat menunaikan ibadah haji dibarengi dgn niat-niat yg mengandung kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti niat meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di makam beliau atau di sisi kuburan-kuburan yg menurut penilaian banyak pihak bahwa tempat tersebut berbarakah dan keramat. Atau berniat meminta keberkahan hidup kekayaan naik pangkat laris dlm berniaga lulus dlm ujian meminta harta benda dan segala yg berbau keuntungan duniawi kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Membangun ibadah haji di atas kemurnian aqidah akan berbuah nilai positif di dunia setelah melakukan ibadah tersebut dan di akhirat krn mendapatkan haji mabrur yg diterima. Berbeda dgn orang yg membangun ibadah haji di atas kerusakan aqidah seperti:
a. Aqidah Sufiyyah yg pada ujung adl kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana ucapan seorang pentolan Sufiyyah Ibnu ‘Arabi:
Ar-Rabb adl hamba dan hamba adl Rabb
Aduhai kalau demikian siapa yg akan melaksanakan beban
Dalam kesempatan lain dia mengucapkan:
Tiadalah anjing dan babi melainkan tuhan kita
b. Aqidah Syi’ah dgn berbagai sempalan yg mengaku memuliakan ahlu bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal mereka jauh dari hal itu dan justru mencaci maki para shahabat beliau.
c. Aqidah Jahmiyyah yg mengingkari nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
d. Aqidah Mu’tazilah yg menuhankan akal dan mengingkari sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
e. Aqidah Asy’ariyyah yg menafikan sebahagian sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
dan berbagai bentuk aqidah rusak lainnya.
Niat merupakan asas pertama dan utama diterima amal. Sehingga bila niat telah rusak mk akan merusak yg lain. Yang paling berbahaya sebagai perusak niat adl riya` dan sum’ah yaitu memperdengarkan amalan-amalan atau perjalanan yg penuh kenangan dan peristiwa aneh dgn tujuan mendapatkan pujian. Betapa banyak orang yg tdk mendapatkan haji yg mabrur krn memiliki niat yg rusak. Misal ingin menjadi orang terhormat krn bergelar haji di depan nama disanjung dipuji disebut pak haji dan sebagainya.
Kewajiban mengikhlaskan niat ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka beribadah kepada Allah dgn mengikhlaskan bagi agama.”

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguh amalan itu sah dgn niat. Dan tiap orang akan mendapatkan apa yg dia niatkan. mk barangsiapa yg hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya mk dia telah hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yg hijrah utk dunia yg ingin diperoleh atau wanita yg ingin dinikahi mk dia telah berhijrah kepada apa yg dia telah niatkan.”5
Setiap amalan tergantung niatnya. Dan niat tersebut kembali kepada keikhlasan yaitu niat yg satu utk Dzat yg satu yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadits di atas menjelaskan tentang kedudukan niat sebagai landasan diterima amal seseorang. Oleh krn itu banyak komentar para ulama tentang kedudukan hadits niat ini. Contoh Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Hadits ini masuk dlm 70 bab dlm bidang ilmu.”
Abu Abdillah mengatakan: “Tidak ada hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg lbh padat lbh kaya dan lbh banyak faedah daripada hadits ini .”
Ibnu Mahdi mengatakan: “Hadits ini masuk pada 30 bab dlm bidang ilmu.”
Beliau rahimahullah juga mengatakan: “Sepantas hadits ini diletakkan dlm tiap bab ilmu.”

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا

“Allah telah mensyariatkan bagi kalian agama yg telah Dia wasiatkan kepada Nuh.”
Abul ‘Aliyah rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewasiatkan kepada mereka agar ikhlas dlm beribadah kepada-Nya.”
Ibnu Rajab menjelaskan: “Setiap amalan yg tdk diniatkan utk Allah Subhanahu wa Ta’ala mk amalan tersebut adl batil tdk memiliki buah di dunia dan di akhirat.”

Kedua Mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm tiap pelaksanaan ibadah haji
Mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm pelaksanaan ibadah haji merupakan syarat kedua diterima amalan haji seseorang setelah syarat ikhlas. Mulai awal pelaksanaan haji sampai akhir tdk diperbolehkan mengada-adakan sesuatu sedikitpun. Bila ada amalan yg tdk sesuai dgn tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya tdk akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ -وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ- مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yg mengada-ada dlm urusan kami yg tdk ada ajaran dari kami mk amalan tersebut tertolak.”
Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Barangsiapa yg melakukan amalan yg tdk ada tuntunan dari kami mk amalan tersebut tertolak.”6
Sekecil dan seringan apapun amalan ibadah haji tersebut harus sesuai dgn tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. dlm hal ini segenap kaum muslimin tdk boleh berpedoman dgn pengajaran dan bimbingan orang tua dahulu atau guru-guru kita namun harus berpedoman dgn dalil-dalil.
Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan: “Semua amalan yg dilakukan harus di bawah ketentuan hukum-hukum syariat. Hukum syariat menjadi hakim terhadap semua amalan baik dlm hal perintah maupun larangan. Sehingga barangsiapa yg amalan berjalan di bawah ketentuan syariat dan sesuai dengan mk diterima. Dan bila keluar dari hukum syariat mk amalan tersebut tertolak.”

Haji Mabrur Diraih dgn Kedua Syarat di Atas
Dengan kedua syarat di atas seseorang akan bisa meraih keutamaan haji mabrur yaitu haji yg diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut salah satu pendapat ulama. Tanda diterima ibadah haji adl dia pulang dlm keadaan lbh baik dari sebelum dan tdk kembali kepada perbuatan maksiat. Ada yg berpendapat bahwa yg dimaksud adl haji yg tdk dijangkiti penyakit riya`. Dan ada pula yg berpendapat maksud yaitu haji yg tdk diiringi kemaksiatan setelahnya.
Imam An-Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat ini. Dan yg paling masyhur adl pendapat bahwa haji mabrur adl haji yg tdk dicampuri dgn kemaksiatan.
Para hujjaj sangat mengidamkan keutamaan ini. Namun di antara mereka ada yg tdk memerhatikan kiat yg akan mengantarkan diri utk mendapatkannya. Bila seseorang tdk membangun ibadah haji di atas kedua landasan di atas mk dia tdk akan mendapatkannya. Hal itu merupakan sesuatu yg pasti berdasarkan dalil-dalil di atas. Tentang haji mabrur telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm banyak sabdanya. Di antaranya:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: إِيْمَانٌ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

Bahwasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dita tentang amalan yg paling utama lalu beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan kepada beliau: “Kemudian apa?” Beliau berkata: “Berjihad di jalan Allah.” Ditanyakan lagi kepada beliau: “Kemudian apa?” Beliau berkata: “Haji yg mabrur.”7
Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha ia berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ؟ قَالَ: لاَ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

“Ya Rasulullah kami berpendapat bahwa jihad adl amalan yg paling utama. Tidakkah kami ikut berjihad?” Beliau berkata: “Tidak. Akan tetapi jihad yg paling utama adl haji mabrur.”
Dalam riwayat Al-Imam An-Nasa`i disebutkan dgn lafadz:

قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَلاَ نَخْرُجُ فَنُجَاهِدَ مَعَكَ فَإِنِّي لاَ أَرَى عَمَلاً فِي الْقُرْآنِ أَفْضَلَ مِنَ الْجِهَادِ. قَالَ: لاَ، وَلَكِنَّ أَحْسَنَ الْجِهَادِ وَأَجْمَلَهُ حَجُّ الْبَيْتِ حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

Aku berkata: “Ya Rasulullah tidakkah kami keluar ikut berjihad bersamamu krn aku tdk melihat di dlm Al-Qur`an ada amalan yg paling utama daripada jihad?” Beliau bersabda: “Tidak. Akan tetapi sebaik-baik jihad dan yg paling indah adl haji ke Baitullah yaitu haji yg mabrur.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Umrah yg satu ke umrah berikut merupakan penghapus dosa di antara kedua dan haji yg mabrur tdk ada balasan melainkan surga.”8
Demikianlah beberapa dalil yg menunjukkan keutamaan haji yg mabrur dan tdk ada balasan bagi haji yg mabrur melainkan surga. Al-Imam An-Nawawi menjelaskan: “Pelaku haji tersebut tdk hanya terhapus dosa-dosa bahkan dia mesti masuk ke dlm surga.”
Demikianlah kedudukan dua syarat diterima tiap amalan hamba yaitu ikhlas dan mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga yg dituntut dari seorang hamba dlm ibadah adl bagaimana dia memperbaiki ibadah bukan hanya bagaimana memperbanyaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Allah yg telah menciptakan mati dan hidup utk menguji kalian siapa yg paling baik amalannya.”
Ibnu Katsir menjelaskan: “Makna ayat ini adl Dialah yg telah menjadikan makhluk dari tdk ada menjadi ada utk menguji mereka siapa yg paling baik amalnya.” Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk mengatakan yg paling banyak amalannya.”

Ketiga Iman yg benar kepada Allah
Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu rukun iman yg enam dan merupakan intisari keimanan terhadap rukun iman yg lain. Bila keimanan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk benar mk akan menjadi barometer kepincangan iman terhadap rukun iman yg lain.
Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mencakup banyak perkara di antaranya:
1. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adl Dzat yg berhak utk disembah dan segala bentuk penyembahan serta pengagungan terhadap selain-Nya adl batil.

ذلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ

“Demikianlah bahwa Allah adl Al-Haq dan apa yg mereka sembah selain adl batil dan Allah Maha Kaya dan Maha Besar.”
Pengagungan terhadap selain Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak bentuknya. Di antara mengagungkan kuburan-kuburan tertentu orang2 tertentu tempat-tempat yg dikeramatkan pohon-pohon batu-batu jimat-jimat jin-jin dan sebagainya. Semua akan merusak keimanan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan mengarah kepada tercabut keimanan dari diri mereka.
2. Mengimani segala apa yg diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya berupa pelaksanaan rukun Islam yg lima secara lahiriah dan kewajiban lain yg telah dibebankan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada tiap hamba. Di antara lima rukun Islam yg paling besar dan paling utama adl persaksian terhadap dua kalimat syahadat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

“Maka ketahuilah bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Dan Allah telah bersaksi bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Dia dan para malaikat serta orang2 yg berilmu ikut mempersaksikan dgn penuh keadilan bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah dan Dia Maha Mulia dan Maha Bijaksana.”
3. Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yg menciptakan dan mengatur segala urusan alam ini dan memantau mereka dgn ilmu serta kebijaksanaan. Dia yg memiliki dunia dan akhirat. Tidak ada pencipta selain-Nya dan tdk ada yg sanggup mengatur urusan makhluk ini kecuali Dia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para nabi dan menurunkan kitab-kitab utk kemaslahatan hamba dan utk menyeru mereka kepada jalan menuju keberhasilan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Dan termasuk tanda-tanda kebesaran Allah adl ada malam dan siang matahari dan bulan. janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan namun sujudlah kalian kepada Allah yg telah menciptakan jika kalian hanya beribadah kepada-Nya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيْثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ

“Sesungguh Allah telah menciptakan langit-langit dan bumi dlm enam hari kemudian Dia beristiwa` di atas ‘Arsy. Allah menutup siang dgn malam yg terjadi dgn cepat matahari bulan dan bintang-bintang yg semua tunduk di bawah perintah-Nya ketahuilah hak Allah utk mencipta dan memerintah dan Maha suci Allah Rabb semesta alam.”
4. Mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yg baik dan tinggi yg dijelaskan dlm Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa memalingkan dan menyelewengkan makna sedikitpun dari apa yg dimaukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta tanpa menyerupakan-Nya dgn sifat-sifat makhluk.

وَلِلّهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُوْنَ

“Dan Allah memiliki nama-nama yg baik mk berdoalah kalian dengan dan biarkanlah orang2 yg menyeleweng dari nama-nama Allah dan mereka pasti akan dibalas atas apa yg telah mereka perbuat.”

وَلَهُ الْمَثَلُ اْلأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Dan bagi Allah perumpamaan yg tinggi di langit-langit dan di bumi dan Dia Maha Mulia dan Maha Bijaksana.”

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Dan tdk ada sesuatupun yg serupa dgn Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Larangan berbicara tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ilmu telah diperingatkan oleh-Nya di dlm firman-Nya:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً

“Dan janganlah kamu mengatakan apa yg kamu tdk memiliki ilmu padanya. Sesungguh pendengaran penglihatan dan hati semua akan dimintai pertanggungjawaban.”

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُوْلُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Katakan: ‘Sesungguh Rabbku telah mengharamkan kekejian yg nampak maupun yg tdk nampak mengharamkan dosa perbuatan dzalim tanpa alasan yg benar dan mengharamkan kalian menyekutu-kan Allah dgn sesuatu yg tdk pernah Allah turunkan keterangan tentang dan mengharamkan berkata tentang Allah tanpa dasar ilmu.”
Demikianlah beberapa kiat utk memperbaiki keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar semua amal yg kita kerjakan dibangun di atas keimanan kepada-Nya. Bila ibadah haji seseorang dibangun di atas keimanan kepada-Nya tentu semua niatan akan diarahkan kepada-Nya. Dia tentu tdk akan keluar dari tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dlm pelaksanaan haji tersebut sehingga bisa mendapatkan haji mabrur di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikianlah buah keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu a‘lam.

1 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 6744 dan Al-Imam Muslim no. 2380
2 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 38
3 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 7 dan Al-Imam Muslim no. 19 20 21 22.
4 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 9
5 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 1 dan Al-Imam Muslim no. 3530
6 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 2499 dan Al-Muslim no. 3242
7 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 25
8 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Buhari no. 1650 dan Al-Imam Muslim no. 2403

Sumber: www.asysyariah.com


dalil dalil tentang haji dalil perintah haji