Berbuka Puasa 1/2
BERBUKA PUASAOleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
Bagian Pertam
Kapan Orang Yang Puasa Berbuka ?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Arti : Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam” [Al-Baqarah : 187]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan dgn datang malam dan pergi siang serta sembunyi bundaran matahari. Kami telah membawakan (penjelasan ini pada pembasahan yg telah lalu,-ed) agar menjadi tenang hati seorang muslim yg mengikuti sunnatul huda.
Wahai hamba Allah, inilah perkataan-perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di hadapanmu dptlah engkau membacanya, dan keadaan yg sudah jelas dan telah engkau ketahui, serta peruntukan para sahabatnya, Radhiyallahu ‘anhum telah kau lihat, mereka telah mengikuti apa yg dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikh Abdur Razaq telah meriwayatkan dalam Mushannaf 7591 dgn sanad yg dishahihkan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari 4/199 dan al-Haitsami dalam Majma’ Zawaid 3/154 dari Amr bin Maimun Al Audi.
“Para sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah orang-orang yg paling bersegera dalam berbuka dan paling akhir dalam sahur”
Menyegerakan Berbuka
Wahai saudaraku seiman, wajib atasmu berbuka ketika matahari telah terbenam, janganlah dihiraukan oleh rona merah yg masih terlihat di ufuk, dgn ini berarti engkau telah mengikuti sunnah Rasuullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyelisihi Yahudi dan Nasrani, krn mereka mengakhirkan berbuka. Pengakhiran mereka itu sampai pada waktu tertentu yakni hingga terbit bintang. Maka dgn mengikuti jalan dan manhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti engkau menampakkan syiar-syiar agama, memperkokoh petunjuk yg kita jalani, yg kita harapkan jin dan manusia berkumpul diatasnya. Hal-hal tersebut dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pargraf-paragraf yg akan datang.
Menyegerakan Buka Berarti Menghasilkan Kebaikan.
Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Arti : Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan bebuka” [Hadits Riwayat Bukhari 4/173 dan Muslim 1093]
Menyegerakan Berbuka Adalah Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Jika umat Islamiyah menyegerakan berbuka berarti mereka tetap di atas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan manhaj Salafus Shalih, dgn izin Allah mereka tdk akan tersesat selama “berpegang dgn Rasul mereka (dan) menolak semua yg merubah sunnah”.
Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Arti : Umatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tdk menunggu bintang ketika berbuka (puasa)” [1].
Menyegerakan Buka Berarti Menyelisihi Yahudi dan Nashrani
Tatkala manusia senantiasa berada di atas kebaikan dikrnkan mengikuti manhaj Rasul mereka, memelihara sunnahnya, krn sesungguh Islam (senantiasa) tetap tampak dan menang, tdk akan memudharatkan orang yg menyelisihinya, ketika itu umat Islam akan menjadi singa pemberani di lautan kegelapan, tauladan yg baik untuk diikuti, krn mereka tdk menjadi pengekor orang Timur dan Barat, (yaitu) pengikut semua yg berteriak, dan condong bersama angin kemana saja angin bertiup.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Arti : Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka [2], krn orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya” [Hadits Riwayat Abu Dawud 2/305, Ibnu Hibban 223, sanad Hasan]
Kami katakan :
Hadits-hadits di atas mempunyai banyak faedah dan catatan-catatan penting, sebagai berikut.
Kemenangan agama ini dan berkibar bendera akan tercapai dgn syarat menyelisihi orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab, ini sebagai penjelasan bagi umat Islam, bahwa mereka akan mendptkan kebaikan yg banyak, jika membedakan diri dan tdk condong ke Barat ataupun ke Timur, menolak untuk mengekor Kremlin atau mencari makan di Gedung Putih -mudah-mudahan Allah merobohkannya-, jika umat ini beruntuk demikian mereka akan menjadi perhiasan diantara umat manusia, jadi pusat perhatian, disenangi oleh semua hati. Hal ini tdk akan terwujud, kecuali dgn kembali kpd Islam, berpegang dgn Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam masalah Aqidah dan Manhaj.
Berpegang dgn Islam baik secara global maupun rinci, berdasarkan firman Allah : “Arti : Hai orang-orang yg beriman, masuklah kamu dalam Islam secara kaffah” [Al-Baqarah : 208] Atas dasar inilah, maka ada yg membagi Islam menjadi inti dan kulit, (ini ialah pembagian) bid’ah jahiliyah modern yg bertujuan mengotori fikrah kaum muslimin dan memasukkan mereka ke dalam lingkaran kekhawatiran. (Hal ini) tdk ada asal dalam agama Allah, bahkan akhir akan merembet kpd peruntukan orang-orang yg dimurkai Allah, (yaitu) mereka yg mengimani sebagian kitab dan mendustakan sebagian yg lain ; Kita diperintah untuk menyelisihi mereka secara global maupun terperinci, dan sungguh ! kita mengetahui buah dari menyelisihi Yahudi dan Nasrani ialah tetap (tegak) agama lahir dan batin.
Dakwah ke jalan Allah dan memberi peringatan kpd mukminin tdk akan terputus, perkara-perkara baru yg menimpa umat Islam tdk menyebabkan kita memilah syiar-syiar Allah, jangan sampai kita mengatakan seperti perkataan kebanyak mereka : “Ini perkara-perkara kecil, furu’. khilafiyah dan hawasyiyah, kita wajib meninggalkannya, kita pusatkan kesungguhan kita untuk perkara besar yg memecah belah shaf kita dan mencerai beraikan barisan kita.
Perhatikan wahai kaum muslimin, da’i ke jalan Allah di atas basyirah, engkau telah tahu dari hadits-hadits yg mulia bahwa jaya agama ini bergantung pada disegerakan berbuka puasa yg dilakukan tatkala lingkaran matahari telah terbenam, Maka bertaqwalah kpd Allah (wahai) setiap orang yg menygka berbuka ketika terbenam matahari ialah fitnah, dan seruan untuk menghidupkan sunnah ini ialah dakwah yg sesat dan bodoh, menjauhkan umat Islam dari agama atau menygka (hal tersebut) sebagai dakwah yg tdk ada nilainya, (yg) tdk mungkin seluruh muslimin berdiri di atasnya, krn hal itu ialah perkara furu’, khilafiyah atau masalah kulit!! Walaa haula walaa quwwata illa billah.
Berbuka Sebelum Shalat Maghrib
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka sebelum shalat Maghrib[3] krn menyegerakan berbuka termasuk akhlak para nabi. Dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu.
“Tiga perkara yg mrpk akhlak para nabi : menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam shalat” [4]
[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]
Foote Note.
[1]. Hadits Riwayat Ibnu Hibban (891) dgn sanad Shahih, asal -telah lewat dalam shahihain- Kami katakan : Syia’h Rafidhoh telah mencocoki Yahudi dan Nasrani dalam mengakhirkan buka hingga terbit bintang. Mudah-mudahan Allah melindungi kita semua dari kesesatan.
[2]. Hal ini bukan berarti, jika manusia telah terlena dgn dunia hingga mereka mengakhirkan buka mengikuti Yahudi dan Nasrani, kemudian agama ini menjadi kalah, tdk demikian keadaannya, Islam senantiasa akan menang kapanpun juga, dan dimanapun tempatnya. Wallahu a’lam, -ed
[3]. Hadits Riwayat Ahmad (3/164), Abu Dawud (2356) dari Anas dgn sanad Hasan.
[4]. Hadits Riwayat Thabrani dalam Al-Kabir sebagaimana dalam Al-Majma (2/105) dia berkata : “….. marfu’ dan mauquf shahih adapaun yg marfu’ ada perawi yg tdk aku ketahui biografinya”. Aku katakan Mauquf -sebagaimana telah jelas- mempunyai hukum marfu’
Sumber Berbuka Puasa 1/2 : http://alsofwah.or.id
definisi malam dalam islam hadits tentang termasuk aklak nabi yang menyegerakan berbuka
