Berkhidmat Pada Suami
Berkhidmat Pada Suami
penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah
Sakinah Mengayuh Biduk 15 - April - 2005 15:45:45
Pulang dari bekerja semesti adl waktu utk beristrirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dgn segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di rumah tetangga. Bagaimana istri shalihah menyikapi hal ini?
Salah satu sifat istri shalihah yg menandakan bagus interaksi kepada suami adl berkhidmat kepada sang suami dan membantu pekerjaan sebatas yg ia mampu. Ia tdk akan membiarkan sang suami melayani diri sendiri sementara ia duduk berpangku tangan menyaksikan apa yg dilakukan suaminya. Ia merasa enggan bila suami sampai tersibukkan dgn pekerjaan-pekerjaan rumah memasak mencuci merapikan tempat tidur dan semisal sementara ia masih mampu utk menanganinya. Sehingga tdk mengherankan bila kita mendapati seorang istri shalihah menyibukkan hari dgn memberikan pelayanan kepada suami mulai dari menyiapkan tempat tidur makan dan minum pakaian dan kebutuhan suami lainnya. Semua dilakukan dgn penuh kerelaan dan kelapangan hati disertai niat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sungguh ini merupakan bentuk perbuatan ihsan kepada suami yg diharapkan dari ia akan beroleh kebaikan.
Berkhidmat kepada suami ini telah dilakukan oleh wanita-wanita utama lagi mulia dari kalangan shahabiyyah seperti yg dilakukan Asma’ bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma yg berkhidmat kepada Az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu ‘anhu suaminya. Ia mengurusi hewan tunggangan suami memberi makan dan minum kuda menjahit dan menambal ember serta mengadon tepung utk membuat kue. Ia yg memikul biji-bijian dari tanah milik suami sementara jarak tempat tinggal dgn tanah tersebut sekitar 2/3 farsakh1.”
Demikian pula khidmat Fathimah bintu Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah suami Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sampai-sampai kedua tangan lecet krn menggiling gandum. Ketika Fathimah datang ke tempat ayah utk meminta seorang pembantu sang ayah yg mulia memberikan bimbingan kepada yg lbh baik:
أَلاَ أَدُلُّكُماَ عَلَى ماَ هُوَ خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتُماَ إِلَى فِرَاشِكُماَ أَوْ أَخَذْتُماَ مَضاَجِعَكُماَ فَكَبَّرَا أًَرْبَعاً وَثَلاَثِيْنَ وَسَبَّحاَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِّدَا ثَلاَثاً وَثَلاثِيْنَ، فَهَذَا خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua apa yg lbh baik bagi kalian daripada seorang pembantu? Apabila kalian mendatangi tempat tidur kalian atau ingin berbaring bacalah Allahu Akbar 34 kali Subhanallah 33 kali dan Alhamdulillah 33 kali. Ini lbh baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”
Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu menikahi seorang janda utk berkhidmat pada dgn mengurusi saudara-saudara perempuan yg masih kecil. Jabir berkisah: “Ayahku meninggal dan ia meninggalkan 7 atau 9 anak perempuan. mk aku pun menikahi seorang janda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berta padaku:
تَزَوَّجْتَ ياَ جاَبِر؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقاَلَ: بِكْرًا أَمْ ثَيِّباً؟ قُلْتُ: بَلْ ثَيِّباً. قاَلَ: فَهَلاَّ جاَرِيَةً تُلاَعِبُهاَ وَتُلاَعِبُكَ، وَتُضاَحِكُهاَ وَتُضاَحِكُكَ؟ قاَلَ فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ وَ تَرَكَ بَناَتٍ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَجِيْئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُوْمُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ. فَقاَلَ: باَرَكَ اللهُ لَكَ، أَوْ قاَلَ: خَيْرًا
“Apakah engkau sudah menikah wahai Jabir?”
“Sudah” jawabku.
“Dengan gadis atau janda?” ta beliau.
“Dengan janda” jawabku.
“Mengapa engkau tdk menikah dgn gadis sehingga engkau bisa bermain-main dengan dan ia bermain-main denganmu. Dan engkau bisa tertawa bersama dan ia bisa tertawa bersamamu?” ta beliau.
“Ayahku Abdullah meninggal dan ia meninggalkan anak-anak perempuan dan aku tdk suka mendatangkan di tengah-tengah mereka wanita yg sama dgn mereka. mk aku pun menikahi seorang wanita yg bisa mengurusi dan merawat mereka” jawabku.
Beliau berkata: “Semoga Allah memberkahimu” atau beliau berkata: “Semoga kebaikan bagimu.”
Hushain bin Mihshan berkata: “Bibiku berkisah padaku ia berkata: “Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam krn suatu kebutuhan beliaupun bertanya:
أَيْ هذِهِ! أَذَاتُ بَعْلٍ؟ قُلْتُ: نَعَم. قاَلَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قُلْتُ: ماَ آلُوْهُ إِلاَّ ماَ عَجَزْتُ عَنْهُ. قاَلَ: فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّماَ هُوَ جَنَّتُكَ وَناَرُكَ
“Wahai wanita apakah engkau telah bersuami?”
“Iya” jawabku.
“Bagaimana engkau terhadap suamimu?” ta beliau.
“Aku tdk mengurang-ngurangi dlm mentaati dan berkhidmat pada kecuali apa yg aku tdk mampu menunaikannya” jawabku.
“Lihatlah di mana keberadaanmu terhadap suamimu krn dia adl surga dan nerakamu” sabda beliau.
Namun di sisi lain suami yg baik tentu tdk membebani istri dgn pekerjaan yg tdk mampu dipikulnya. Bahkan ia melihat dan memperhatikan keberadaan istri kapan sekira ia butuh bantuan.
Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam gambaran suami yg terbaik. Di tengah kesibukan mengurusi umat dan dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala beliau menyempatkan membantu keluarga dan mengerjakan apa yg bisa beliau kerjakan utk diri sendiri tanpa membebankan kepada istri sebagaimana diberitakan istri beliau Aisyah radhiallahu ‘anha ketika Al-Aswad bin Yazid berta kepadanya:
ماَ كاَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي الْبَيْتِ؟ قاَلَتْ: كاَنَ يَكُوْنُ فِيْ مِهْنَةِ أَهْلِهِ –تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ- فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ
“Apa yg biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dlm rumah?”
Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab: “Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat beliau pun keluar utk mengerjakan shalat.”
Dalam riwayat lain Aisyah radhiallahu ‘anha menyebutkan pekerjaan yg Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan di rumahnya:
ماَ يَصْنَعُ أَحَدُكُمْ فِيْ بَيْتِهِ، يَخْصِفُ النَّعْلَ وَيَرْقَعُ الثَّوْبَ وَيُخِيْطُ
“Beliau mengerjakan apa yg biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandal menambal baju dan menjahitnya.”
كاَنَ بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ، يَفْلِي ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شاَتَهُ
“Beliau manusia biasa. Beliau menambal pakaian dan memeras susu kambingnya”.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
1 1 farsakh kurang lbh 8 km atau 35 mil
Sumber: www.asysyariah.com
Related Post:Tag : Alaihi Wa Sallam, Az Zubair, Fenomena, Hati, Hewan, Kuda, Lainnya, Lecet, Makan, Mampu, Menjahit, Minum, Mulai, Namun, Niat, Pakaian, Subhanahu Wa, Tempat Tidur, Wanita, Yg akhlak-istri-terhadap-suami htm Aswad bin Yazid membantu Beliau juga pernah berkhidmat kebutuhan suami Pelayanan kepada suami sakinah mengayuh biduk suami berkhidmat pada keluarga
You can leave a response, or trackback from your own site.
