“Barangsiapa yg bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yg tiada disangka-sangkanya.” . Termasuk di antara sebab diturunkannya rezeki adl bertawakal kepada Allah dan hanya kepada-Nya tempat bergantung. Yang Dimaksud Bertawakkal kepada Allah Para ulama ?semoga Allah membalas mereka dgn sebaik-baik balasan? telah menjelaskan makna tawakal. Di antaranya adl Imam al-Ghazali beliau berkata “Tawakkal adl penyandaran hati hanya kepada wakil semata.” Al-Allamah al-Manawi berkata “Tawakal adl menampakkan kelemahan serta penyandaran kepada yg di tawakali.” Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dgn sebenar-benar tawakkal al-Mulla Ali al-Qori berkata “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yg berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah dan bahwa tiap yg ada baik makhluk maupun rezeki pemberian atau pelarangan bahaya atau manfaat kemiskinan atau kekayaan sakit atau sehat hidup atau mati dan segala hal yg disebut sebagai sesuatu yg maujud semuanya itu adl dari Allah.” Dalil Syar’i bahwa Bertawakkal kepada Allah Termasuk Kunci Rizki Imam Ahmad at-Tirmidzi Ibnu Majah Ibnu al-Mubarak Ibnu Hibban al-Hakim al-Qhudha’i dan al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah bersabda “Sungguh seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” Dalam hadis yg mulia ini Rasulullah yg berbicara dgn wahyu menjelaskan orang yg bertawakal kepada Allah dgn sebenar-benar tawakkal niscaya dia akan diberi rezeki oleh Allah sebagaimana burung-burung diberi-Nya rizki. Betapa tidak demikian krn dia telah bertawakal kepada Dzat Yang Maha Hidup yg tidak pernah mati. Karena itu barangsiapa bertawakal kepada-Nya niscaya Allah akan mencukupinya. “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan -Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” . Menafsirkan ayat tersebut ar-Rabi’ bin Khutsaim mengatakan ” diri tiap yg membuat sempit manusia.” Apakah Tawakkal itu Berarti Meninggalkan Usaha? Sebagian orang mukmin ada yg berkata “Jika orang yg bertawakal kepada Allah itu akan diberi rezeki mengapa kita harus lelah berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalasan-malasan lalu rezeki kita datang dari langit?” Perkataan ini sungguh menunjukkan kebodohan orang yg mengucapkan tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yg mulia telah menyerupakan orang yg bertawakal dan diberi rezeki itu dgn burung yg pergi di pagi hari dan pulang pada sore hari padahal burung itu tidak memiliki sandaran apa pun baik perdagangan pertanian pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakal kepada Allah Yang Maha Esa dan yg kepadanya tempat bergantung. Para ulama ?semoga Allah membalas mereka dgn sebaik-baik kebaikan? telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adl Imam Ahmad beliau berkata “Dalam hadis tersebut tidak ada isyarat yg membolehkan utk meninggalkan usaha sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yg menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut bahwa seandainya mereka bertawakal kepada Allah dalam kepergian kedatangan dan usaha mereka dan mereka mengetahui kebaikan itu di tangan-Nya tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dgn selamat sebagaimana burung-burung tersebut.” Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yg hanya duduk di rumah atau masjid seraya berkata “Aku tidak mau bekerja sedikit pun sampai rezekiku datang sendiri.” Maka beliau berkata Ia adl laki-laki yg tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi bersabda “Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui panahku.” Dan beliau bersabda “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dgn sebenar-benar tawakal niscaya Allah memberimu rezeki sebagaimana yg diberikan-Nya kepada burung-burung berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” Dalam hadis tersebut dikatakan bahwa burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rezeki. Selanjutnya Imam Ahmad berkata “Para Sahabat berdagang dan bekerja dgn pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.” Syekh Abu Hamid berkata “Barangkali ada yg mengira bahwa makna tawakal adl meninggalkan pekerjaan secara fisik meninggalkan perencanaan dgn akal serta menjatuhkan diri di atas tanah seperti sobekan kain yg dilemparkan atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adl sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adl haram menurut hukum syariat. Sedangkan syariat memuji orang yg bertawakkal. Lalu bagaimana mungkin sesuatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dgn hal-hal yg dilarang oleh agama pula?” Hakikat yg sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan “Sesungguhnya pengaruh bertawakal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja utk mencapai tujuan-tujuannya.” Imam Abul Qosim al-Qusyairi berkata “Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah hal itu tidak bertentangan dgn tawakal yg ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahwa rezeki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan maka hal itu adl krn takdir-Nya dan jika terdapat kemudahan maka hal itu krn kemudahan dari-Nya.” Di antara yg menunjukkan bahwa tawakal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adl apa yg diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya ia berkata “Seseorang berkata kepada Nabi Aku lepaskan untaku dan aku bertawakal?’ Nabi bersabda ‘Ikatlah kemudian bertawakallah’.” Dalam riwayat al-Qudha’i disebutkan “Amr bin Umayah berkata ‘Aku bertanya’Wahai Rasulullah apakah aku ikat dahulu ku lalu aku bertawakal kepada Allah atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakal?’ Beliau menjawab ‘Ikatlah kendaran mu lalu bertawakallah’.” Kesimpulan dari pembahasan ini adl bahwa tawakal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Setiap muslim harus berikhtiar secara lahir dgn bersungguh-sungguh mendapatkan penghidupan akan tetapi ia tidak boleh menyandarkan diri pada kerja keras dan usahanya tetapi ia harus meyakini bahwa rezeki itu hanyalah dari Dia semata dgn segala pengaturan-Nya. Sumber Diadaptasi dari Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah Dr.Fadhl Ilahi Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

sumber file al_islam.chm


Maksud redha kepada allah dalil dalil allah mengenai tawakal