Di dalam kajian beberapa edisi berikut ini dijelaskan beberapa istilah-istilah penting yg berhubungan dgn pemahaman akidah Ahli Sunnah wal Jamaah seperti as-Sunnah al-Jamaah Ahli Hadis Salaf Golongan yg Mendapat Pertolongan dan Sikap Seorang Muslim dalam Menjalankan Perintah Syar’i dan Hukum Alam. Definisi As-Sunnah As-Sunnah menurut bahasa Arab adl ath-thariqah yg berarti metode kebiasaan perjalanan hidup atau perilaku baik terpuji maupun tercela. Kata tersebut berasal dari kata as-sunan yg bersinonim dgn ath-thariq . Dalam sebuah hadits disebutkan “Barangsiapa melakukan sunnah yg baik dalam Islam maka selain memperoleh pahala bagi dirinya juga mendapat tambahan pahala dari orang yg mengamalkan sesudahnya dgn tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barang siapa melakukan sunnah yg jelek dalam Islam maka selain memperoleh dosa bagi dirinya juga mendapat tambahan dosa dari orang yg melakukan sesudahnya dgn tanpa mengurangi sedkitpun dosa mereka.” . Al-Qadli lyadl berkata bahwa Nabi saw pernah bersabda “Sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah orang sebelum kamu.” Tulisan dalam kalimat hadits tersebut jika dibaca sananun berarti “jalan” atau “metode.” Adapun jika dibaca sununun atau sanunun keduanya merupakan bentuk jamak dari sunnah maka artinya “perjalanan hidup.” Menurut lbnul Atsir “Kata sunnah dgn segala variasinya disebutkan berulang-ulang dalam hadits yg arti asalnya adl “perjalanan hidup” dan “perilaku’.” . Adapun pengertian sunnah dalam istilah syara’ menurut para Ahli Hadits adl segala sesuatu yg diriwayatkan dari Nabi saw yg berupa perkataan perbuatan ketetapan karakter akhlak ataupun perilaku baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi nabi. Dalam hal ini pengertian sunnah menurut sebagian mereka sama dgn hadits. Menurut Ahli Ushul “Sunnah ialah sesuatu yg dinukil dari Nabi SAW secara khusus. la tidak ada nashnya dalam Alquran tetapi dinyatakan oleh Nabi SAW dan sekaligus merupakan penjelasan awal dari isi Alquran.” . Adapun menurut Fuqaha “Sunnah itu berarti ketetapan dari Nabi saw yg bukan fardhu dan bukan wajib.” Setelah timbulnya perpecahan dan menyebarnya berbagai bid’ah serta aliran nafsu maka sunnah digunakan sebagai lambang pembeda antara Ahli Sunnah dan ahli bid’ah. Jika dikatakan si Fulan Ahli Sunnah atau mengikuti sunnah maka ia adl kebalikan dari ahli bid’ah. Disebutkan si Fulan itu “mengikuti sunnah” apabila ia beramal sesuai dgn yg diamalkan Nabi saw Pengertian sunnah tersebut didasarkan atas dalil syar’i baik yg terdapat dalam Alquran maupun berasal dari Nabi saw atau merupakan ijtihad para sahabat ra seperti mengumpulkan mushhaf dan menyuruh orang-orang membaca Alquran dgn satu bahasa. serta membukukannya. Adapun menurut ta’rif kebanyakan Ulama Hadits muta’akhirin kata sunnah adl ibarat yg dapat menyelamatkan dari keragu-raguan tentang aqidah khususnya dalam perkara iman kepada Allah para malaikat-Nya kitab-kitab-Nya Rasul-rasul-Nya hari akhir takdir dan masalah keutamaan para sahabat. Istilah sunnah menurut Ulama Hadits muta’akhirin tersebut lbh ditekankan pada aspek aqidah sebab aspek ini dianggap begitu penting termasuk bahaya penyelewengannya. Namun jika diperhatikan dgn seksama lafazh ini lbh mengacu kepada pengertian jalan hidup Nabi saw dan para sahabatnya ra baik ilmu amal akhlak ataupun segi kehidupan lainnya. Istilah sunnah menurut ulama Hadis mutaakhirin tersebut lbh ditekankan pada aspek akidah sebab aspek ini dianggap begitu penting termasuk bahaya penyelewengannya. Namun jika diperhatikan dgn seksama lafaz ini lbh mengacu kepada pengertian jalan hidup Nabi saw dan para sahabatnya ra baik ilmu amal akhlak ataupun segi kehidupan lainnya. Untuk membahas ilmu ini para ulama hadis menyusun beberapa tulisan yg dinamakan Kitab-kitab Sunnah. Mereka mengkhususkan ilmu ini dgn nama Sunnah krn bahayanya besar sedangkan orang yg menentangnya berada di jurang kebinasaan. Menurut lbnu Rajab Sufyan ats-Tsauri mengatakan “Perlakukanlah Ahli Sunnah dgn baik krn mereka adl orang-orang asing.” Yang dimaksud sunnah oleh imam-imam itu ialah perjalanan hidup Nabi saw dan para sahabatnya yg bersih dari syubhat dan syhwt (**) . Karena itu al-Fudhail bin lyadh mengatakan “Ahli Sunnah ialah orang yg terkenal hanya mau memakan makanan yg halal. Dan memakan makanan yg halal merupakan perilaku paling penting dalam Sunnah yg dilakukan oleh Nabi saw dan para sahabatnya ra.”

Definisi al-Jamaah Menurut bahasa kata jamaah berasal dan al-ijtima’ yg lawan katanya al-firqah . lbnuTaimiyah menjelaskan “Al-Jamaah berarti persatuan sedangkan lawan katanya adl perpecahan. Dan lafazh al-jamaah telah menjadi nama bagi kaum yg bersatu.” Namun jika lafazh jama’ah dirangkaikan dgn as-sunnah menjadi Ahli Sunnah Waljamaah maka yg dimaksud ialah pendahulu umat ini. Mereka adl para sahabat dan tabi’in yg bersatu mengikuti kebenaran yg jelas dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya saw. Demikianlah apa yg dilakukan Nabi saw dan para sahabatnya ra menimpakan kebenaran yg wajib diteladani dan diikuti. Setiap orang yg datang sesudah mereka dgn menempuh jalan mereka dan mengikuti jejak mereka maka dia itulah “al-Jamaah” baik secara individu maupun kelompok. Abu Syamah berkata “Manakala datang perintah utk beriltizam kepada jamaah maka yg dimaksud iltizam di sini adl komitmen terhadap kebenaran dan mengikutinya sekalipun jumlah pengikut kebenaran itu lbh sedikit daripada penentangnya. Sebab kebenaran itulah yg menjadi pijakan jama’ah generasi pertama dari Nabi Saw dan para sahabatnya Ra dgn tidak melihat banyaknya ahli kebatilan sesudah mereka.” Ketika Abdullah bin Mubarak ditanya tentang al-jama’ah beliau menjawab “Abu Bakar dan Umar.” Ketika dikatakan kepada beliau bahwa Abu Bakar dan Umar telah wafat beliau menjawab “Fulan dan Fulan.” Ketika dikatakan kepada beliau bahwa si Fulan dan Fulan telah wafat beliau menjawab “Abu hamzah as-Sukri adl jama’ah Istilah jamaah menurut penafsiran lbnu Mubarak tersebut adl orang yg memiliki sifat-sifat teladan yg sempurna berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi. Karena itu beliau membuat perumpamaan dgn orang-orang yg menjadi teladan. Maka disebutlah nama ulama sejamannya Abu Hamzah as-Sukri dan bukan ulama lainnya. Alasan beliau Abu Hamzah termasuk ahli ilmu yg memiliki keutamaan dan berlaku zuhud. Sebagian ulama berbeda pendapat mengenai penjelasan hadis-hadis Nabi yg mewajibkan beriltizam kepada jamaah dan melarang keluar daripadanya. Menurut pengamatan kami hadits-hadits tersebut sama sekali tidak bertentangan. Namun utk melengkapi pembahasan ini kami akan menyebutkan pendapat-pendapat tersebut sebagai berikut

    Sebagian ulama berpendapat bahwa yg dimaksud al-jamaah ialah para sahabat saja dan bukan orang-orang sesudah generasi mereka. Sebab para sahabat itulah yg sesungguhnya telah menegakkan tonggak-tonggak ad-dien. dan menancapkan paku-pakunya. Dan mereka tidak berhimpun di atas kesesatan. . Pendapat ini diriwayatkan dan Umar bin Abdul Aziz ra.

    Menurut pendapat ini lafazh al-jamaah sesuai dgn riwayat lain dalam sebuah hadis Nabi “..yakni jalan yg aku tempuh dan para sahabatku.” Kalimat hadits ini menunjuk kepada perkataan perilaku dan ijtihad mereka. Dengan demikian lafazh tersebut menjadi hujjah secara nuitlak dgn kesaksian Rasulullah saw khususnya dgn sabda beliau “Hendaklah kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khalifah ar-Rasyidin..”

    Ada sementara ulama yg mengartikan al-jamaah itu adl Ahli Ilmu Ahli Fikih dan Ahli Hadis dari kalangan Imam Mujtahidin. Sebab Allah telah menjadikan mereka hujjah atas manusia dan mereka menjadi panutan dalam urusan ad-dien. . Pendapat ini dari al-Bukhari dalam kitabnya bab Wa Kazalika Jaalnakum Ummatan Wasathan dan perintah Nabi saw utk beriltizam kepada al-jamaah beliau mengatakan bahwa mereka itu adl Ahli llmu.

    Menurut Turmudzi para ahli ilmu menafsirkan al-jamaah dgn ahli fikih ahli ilmu ahli hadis. Kemudian beliau membawakan riwayat dari lbnul Mubarak yg memberikan jawaban “Abu Bakar dan Umar” sewaktu ia ditanya mengenai al-jamaah. Ibnu Sinan berpendapat “Mereka adl Ahli ilmu dan orang-orang yg punya atsar. . Berdasarkan pendapat ini maka al-jamaah adl Ahli Sunnah yg alim arif dan mujtahid. Maka tidaklah termasuk al-jamaah mereka yg ahli bid’ah dan orang-orang awam yg taklid. Sebab mereka tidak bisa diteladani dan biasanya kaum -yang disebut terakhir ini- hanya mengikuti ulama.

    Ada ulama yg mengatakan bahwa al-jamaah ialah jamaah Ahlul Islam yg bersepakat dalam masalah syara’. Mereka tidak lain adl Ahli ljma yg senantiasa bersepakat dalam suatu masalah atau hukum baik syara’ maupunaqidah. Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi yg artinya “Umatku tidak bersepakat dalam kesesatan.”

    Ibnu Hajar mengomentari pendapat Bukhari yg mengatakan bahwa mereka adl Ahli ilmu sebagai berikut “Yang dimaksud al-jama’ah ialah Ahlul Hal wal ‘Aqdi yakni mereka yg mempunyai keahlian menetapkan dan memutuskan suatu masalah pada tiap jaman.” Adapun menurut al-Karmani “Yang dimaksud perintah utk beriltizam kepada jamaah ialah beriltizamnya seorang mukallaf dgn mengikuti kesepakatan para mujtahidin. Dan inilah yg dimaksud Bukhari bahwa ‘mereka adl Ahli llmu’.” Ayat yg diterjemahkan Bukhari dijadikan hujjah oleh Ahli Ushul krn ijma’ adl hujjah. Sebab mereka dinilai adil sebagaimana firman Allah ; “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu umat yg adil..” Pernyataan ayat ini menunjukkan bahwa mereka terpelihara dari kesalahan mengenai apa yg telah mereka sepakati baik perkataan maupun perbuatan. . Pendapat ini merujuk kepada pendapat kedua.

    Ada ulama yg mengatakan jama’ah adl as-Sawadul A’zham . Dalam kitab An-Nihayah disebutkan; “Hendaklah kamu mengikuti as-Sawadul A’zham yaitu mayoritas manusia yg bersepakat dalam mentaati penguasa dan menempuh jalan yg lurus. . Pendapat tersebut diriwayatkaA dari Abi Ghalib yg mengatakan sesungguhnya as-Sawadul A’zham ialah orang-orang yg selamat dari perpecahan. Maka urusan agama yg mereka sepakati itulah kebenaran. Barangsiapa menentang mereka baik dalam masalah syari’at maupun keimanan maka ia menentang kebenaran; dan kalau mati ia mati jahiliah. . Di antara orang lain yg berpendapat demikian ialah Abu Mas’ud al-Anshari dan lbnu Mas’ud ra. Asy-Syathibi berkomentar “Berdasarkan pendapat ini maka yg temasuk al-jamaah ialah para mujtahid ulama dan ahli syariah yg mengamalkannya. Adapun orang-orang di luar mereka maka termasuk ke dalam hukum mereka sebab orang-orang tersebut mengikuti dan meneladani mereka. Maka tiap orang yg keluar dari jamaah mereka berarti ia telah menyimpang dan menjadi tawanan setan. Yang termasuk kelompok ini ialah semua ahli bid’ah krn mereka telah menentang para pendahulu umat ini. Sebab itu mereka sama sekali tidak termasuk as-Sawadul A’zaham.”

    Ada ulama yg mengatakan bahwa al-jamaah ialah jamaah kaum muslimin yg sepakat atas seorang amir . Ini adl pendapat ath-Thabari yg menyebutkan pendapat-pendapat terdahulu. Kemudian ia mengatakan “Ya benar pengertian tentang beriltizam kepada jama’ah ialah taat dan bersepakat atas amirnya. Maka barang siapa melanggar bai’atnya ia telah keluar dari al-jama’ah.” . Rasulullah SAW telah menyuruh umatnya agar beriltizam kepada pemimpinnya dan melarang umat mengingkari kesepakatan tentang pemimpin yg lelah diangkatnya. . Menurut Thabari jika jama’ah itu telah sepakat dgn ridla utk mengangkat seorang pemimpin sedangkan orang yg menentangnya mati dalam keadaan jahiliah maka itu al-jama’ah yg digambarkan Abu Mas’ud al-Anshari. Mereka adl mayoritas dari ahli ilmu dan agama serta pengikutnya. Mereka itulah as-Sawadul A?zham . Dengan demikian al-jama’ah menurut pendapat ini- ialah kesepakatan atas pemimpin yg sesuai dgn Alquran dan Sunnah. Adapun kesepakatan yg memyalahi Sunnah berarti telah keluar dari makna al-jamaah yg disebutkan dalam hadis-hadis Rasul. . Dalil yg semacam ini dipakai oleh kelompok-kelompok sempalan sesat seperti LDII dan lain-lain sebagai senjata utk mengklaim bahwa kelompoknyalah yg merupakan jama’ah. Sehingga ia menamakan kelompok Islam Jamaah. Padahal para pendiri kelompok ini adl orang-orang yg latar belakangnya jauh dari kehidupan teladan yg dicontohkan Rasulullah saw. Ini salah satu ragam bentuk-bentuk tipuan syaitan kepada manusia. Yang tertipu dgn kelompok semacam ini akan selalu tunduk kepada jama’ahnya meskipun dirasakan banyak kejanggalan di dalamnya.

    Itulah pendapat-pendapat penting mengenai makna aljamaah sehingga kita diperintahkan utk beriltizam kepadanya. Dari pendapat-pendapat tersebut akhirnya kita dapat menarik dua kesimpulan

    Ia disebut jama’ah apabila bersepakat dalam hal memilih dan mentaati seorang pemimpin yg sesuai dgn ketentuan syara’. Kita wajib berijtizam kepadanya dan haram keluar daripadanya.
    Jama’ah adl jalan yg ditempuh oleh Ahli Sunnah yg meninggalkan segala macam bid’ah. inilah yg disebut madzbab al-haq. Pengertian jama’ah di sini merujuk kepada para sahabat Nabi ahli Ilmu ahli ijma’ atau as-Sawadul A’zham. Semua itu kembali kepada satu makna yaitu “Orang yg mengikuti jalan hidup Rasulullah Saw dan para sahabatnya r.a. baik sedikit maupun banyak sesuai dgn keadaan umat serta perbedaan jaman dan tempat.” Karena itu Ibnu Mas’ud berkata “Al-Jama’ah ialah Orang yg menyesuaikan diri dgn kebenaran walaupun engkau seorang diri.” Dalam lafazh lain disebutkan “Sesungguhnya al-jamaah itu ialah menaati Allah walaupun engkau seorang diri.” . Bersambung..! Sumber Ahlus Sunnah wal Jamaah Ma’alimul Inthilaqah al-Kubra Muhammad Abdul Hadi al-Mishri Al-Islam - Pusat Informasi dan Komiunikasi Islam Indonesia

    sumber file al_islam.chm


Hadist Rasul tentang Istihad lambang ahli sunah waljamaah