Beberapa hari yg lalu Pemerintah melalui Polri mengadakan suatu gerakan anti-madat yg dilaksanakan di taman Monas. Dengan acara itu Polri ingin mempertegas kebulatan tekad dan keseriusan mereka memberantas narkoba yg sudah menjadi penyakit masyarakat yg sulit utk diberantas. Tentu saja dgn harapan agar semua pihak turut serta memberikan andil dalam memerangi narkoba baik langsung maupun tidak langsung. Narkoba di negeri ini memang sudah menembus batas usia geografis dan sosial. Maka wajar saja kalau kita menemukan anak-anak di bawah umur ketagihan narkoba atau orang desa yg sudah biasa madat bahkan ada yg dari kalangan tidak mampu memaksakan diri utk beli narkoba krn sudah ketagihan dan masih banyak lagi. Ironisnya kalangan mayoritas yg terkena adl para generasi muda yg merupakan kader-kader penerus bangsa ini. Tak hanya kalangan awam kalangan terpelajar pun seolah tak mau ketinggalan. Bahkan sekolah pun ada yg dijadikan tempat transaksi dan madat. Sementara itu hukum yg berlaku bagi pengedar dan pemakai di negeri ini tidak membuat jera. Hal itu krn hukum itu tidak tegas dan terlalu ringan. Apalagi ditambah dgn lambannya para perancang hukum kita menyusun undang-undang khusus tentang narkoba. Seolah-olah menjamurnya narkoba saat ini kurang mampu menyedot perhatian mereka sehingga diabaikan begitu saja. Ada satu hal yg harus kita antisipasi dari acara anti madat di Monas tersebut. Yaitu apakah acara yg memakan dana yg cukup banyak tersebut hanya merupakan simbol dan pelampiasan kebiasaan bangsa kita utk selalu mengadakan perayaan kumpul-kumpul dan sebagainya. Jangan hanya hari itu kita anti madat tetapi seharusnya tiap hari menjadi anti madat. Seperti yg beberapa saat yg lalu tiap kelurahan bahkan RW di Jakarta memajang spanduk anti narkoba di tiap sudut wilayahnya. Saat itu kita mungkin sangat gembira melihat kekompakan dan kebersamaan dalam memerangi narkkoba. Namun itu hanya slogan tanpa kenyataan. Dari hari ke hari pemakai narkoba justru semakin meningkat drastis. Keadaan ini sangat memilukan. Kita tidak mencari siapa yg salah dalam hal ini. Tetapi marilah kita sama-sama mulai mengfungsikan kembali keluarga sebagai lembaga terkecil di masyarakat utk menjadi ujung tombak membangun generasi bangsa yg bersih narkoba kuat iman dan takwa baik amal perbuatannya. Keluarga seolah dilupakan perannya dalam membentuk generasi masa depan. Keluarga hanya menjadi tempat melempar kesalahan dari rusaknya seorang anak. Ada yg terlibat narkoba krn stress melihat keluarga berantakan ibu bapak cerai dan lain sebagainya. Dengan berfungsinya keluarga sebagai mana mestinya maka tugas Polri tentu semakin ringan. Dengan demikian Polri bisa memfokuskan diri pada hal-hal lain yg perlu ditangani. Keinginan utk bebas dari narkoba adl suatu cita-cita yg harus kita tanamkan pada tiap anak bangsa. Apa jadinya bangsa ini kalau generasi penerusnya adl generasi madat dan teler? “Mencegah lbh baik daripada mengobati.”

sumber file al_islam.chm


hari anti madat se dunia kiatgenerasi muda islam yang baik