Hukum Ikhtilath dlm Belajar

penulis Tim Sakinah
Sakinah Muslimah Berta 04 - Februari - 2005 18:57:07

Bolehkah dlm belajar berikhtilath dgn laki2 yg bukan mahram?

Jawab :
Di dlm syariat yg mulia ini laki2 dan perempuan yg bukan mahram diharamkan bercampur baur dlm satu tempat tanpa ada hijab/ pemisah antara kedua . Sama saja apakah ikhtilath itu terjadi di pasar kantor tempat pesta ataupun di tempat pengajaran ilmu seperti sekolah madrasah dan semisalnya. Karena dlm agama ini disyariatkan hijab1 antara laki2 dan perempuan dan diperintahkan kepada masing-masing utk menundukkan pandangan mata dari melihat hal-hal yg dapat menjerumuskan ke dlm fitnah2 seperti lelaki memandang wanita yg bukan mahramnya. Sementara ikhtilath merupakan penghalang terbesar utk melaksanakan ketentuan agama tersebut. Dengan sering bersama-sama di bangku sekolah sering bertemu saling melempar pandangan dan ucapan terjadilah apa yg terjadi dari fitnah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan fitnah ini dlm sabda yg agung:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yg lbh berbahaya bagi laki2 daripada fitnah wanita.”

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنّ اللهَ مُسْتَخْلِفَكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فاَتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguh dunia itu manis lagi hijau. Dan sungguh Allah menjadikan kalian berketurunan di atas lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. mk berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita krn awal fitnah yg menimpa Bani Israil dari wanitanya.”
Demikian bahaya akibat yg ditimbulkan ikhtilath ini berupa kerusakan moral dan akhlak sepantas kita tdk meremehkan dgn alasan darurat dan semisalnya. Tapi sikap yg semesti kita ambil adl berhati-hati dan menjaga diri dari ikhtilath ini.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah ketika memberikan fatwa dlm permasalahan di atas beliau menyatakan: “Duduk siswa dan siswi secara bersama-sama di bangku sekolah termasuk sebab terbesar terjadi fitnah dan sebab ditinggalkan hijab yg Allah syariatkan kepada kaum mukminat. Serta merupakan sebab dilanggar larangan-Nya kepada kaum mukminat utk menampakkan perhiasan mereka di hadapan selain pihak-pihak yg disebutkan dlm surat An-Nur.”
Beliau rahimahullah juga menyatakan: “Para wanita di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk pernah ikhtilath dgn lelaki baik di masjid ataupun di pasar sebagaimana ikhtilath yg diperingatkan oleh orang2 yg ingin mengadakan perbaikan di hari ini dan Al-Qur’an As-Sunnah serta ulama umat ini telah memberikan bimbingan utk menjauhi krn khawatir dari fitnahnya.
Dulu para wanita biasa ikut shalat di masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun mereka berada di belakang laki2 pada shaf-shaf yg terakhir yg dinyatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf laki2 adl yg paling awal dan sejelek-jelek adl yg paling akhir. Sementara shaf wanita yg terbaik adl yg paling akhir dan shaf yg paling jelek adl yg paling depan.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan demikian krn khawatir laki2 yg ada di shaf paling belakang terfitnah dgn wanita yg berada di shaf terdepan mereka.
Kaum lelaki di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah utk tdk bersegera bangkit dari tempat shalat sampai para wanita berlalu dan keluar dari masjid hal ini dilakukan agar lelaki tdk bercampur dgn para wanita di pintu-pintu masjid padahal kita tahu keberadaan keimanan dan ketakwaan para shahabat dan shahabiyyah mk bagaimana dgn keadaan orang2 setelah mereka.
Kaum wanita dilarang oleh Rasulullah utk berjalan di tengah jalan bahkan mereka diperintah utk selalu berjalan di pinggir jalan krn dikhawatirkan akan bersenggolan dgn lelaki dan timbul fitnah dgn saling bersentuhan sebagian mereka terhadap sebagian yg lain ketika berjalan di jalanan.
Terhadap ucapan orang yg mengatakan: “Kenyataan yg ada kaum muslimin sejak masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka menunaikan shalat di satu masjid laki2 dan wanita krn itulah pengajaran ilmu harus pula dilakukan di satu tempat.”
Maka dijawab bahwa hal itu benar ada akan tetapi kaum wanita berada di belakang dgn berhijab menjaga diri dari sebab-sebab yg dapat mengantarkan kepada fitnah sementara laki2 berada di bagian depan. Kaum wanita ini mendengarkan nasehat khuthbah dan ikut shalat berjamaah serta mempelajari hukum-hukum agama dari apa yg mereka dengar dan saksikan. Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Id mendatangi tempat mereka utk memberikan nasehat dan peringatan setelah beliau menasehati kaum lelaki dikarenakan tempat mereka jauh dari tempat laki2 sehingga mereka tdk dapat mendengar nasehat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu bagaimana bisa disamakan pengajaran di masa kita ini dgn shalat laki2 dan wanita dlm satu masjid di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Karena itulah orang2 yg mengadakan perbaikan menyerukan agar kaum wanita dipisah dgn kaum lelaki dlm pendidikan/sekolah-sekolah laki2 di satu tempat wanita di tempat lain. Sehingga memungkinkan bagi kaum wanita ini utk mempelajari ilmu dari pengajar/ guru wanita dgn nyaman tanpa mereka harus berhijab dan tanpa kesulitan krn waktu ta‘lim itu panjang berbeda dgn waktu mengerjakan shalat. Dan juga wanita belajar ilmu dari pengajar wanita di tempat yg khusus lbh menjaga bagi semua pihak dan lbh menjauhkan dari sebab-sebab yg mengantarkan kepada fitnah dan lbh menyelamatkan bagi para pemuda dari fitnah. Selain itu memisahkan pemuda dan pemudi dlm pengajaran/ sekolah lbh memusatkan perhatian pemuda kepada pelajaran mereka dan menyibukkan diri dengan serta mendengarkan penjelasan guru/pengajar dgn baik. Mereka dijauhkan dari memperhatikan para pemudi menyibukkan diri dgn mereka saling pandang memandang dgn pandangan beracun dan saling mengucapkan kata-kata yg mengajak kepada kefajiran.”
Dari penjelasan ini dapat kita simpulkan bahwa ikhtilath merupakan perkara yg dilarang dlm agama ini sehingga seorang lelaki tdk boleh berikhtilath dgn seorang wanita dan nama ikhtilath tetap dilarang meskipun utk kepentingan belajar.
Wallahu a‘lam bish-shawab.

1 Lihat pembahasan hijab dlm Asy Syariah Vol. I /No. 08/1425 H/ Juli 2004 hal. 68-71
2 Lihat pembahasan fitnah laki2 dan perempuan dlm Asy Syariah Vol I/No. 02/Mei 2003/Rabiul Awwal 1424 hal. 46-49.

Sumber: www.asysyariah.com


hukum ikhtilat pejabat kuliah ikhtilath asy syariah