Hukum Membuka Hijab di Hadapan Waria

penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah
Sakinah Wanita dlm Sorotan 15 - April - 2005 15:59:01

Keberadaan pria setengah wanita adl fenomena yg tdk terelakkan dlm kehidupan masyarakat kita saat ini. Lepas dari sifat pembawaan mereka sesungguh juga tumbuh dari lingkungan pergaulan yg memang jauh dari nilai-nilai Islam. Oleh krn itu tuntunan agama menjadi modal penting bagi kita utk dapat menghadapi deras arus penyesatan. Lalu bagaimana tuntunan berhijab bagi wanita di hadapan waria?

Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn kekuasaan-Nya yg maha sempurna menciptakan dua jenis manusia laki2 dan wanita di mana masing-masing memiliki tabiat berbeda. Secara keumuman dan kewajaran laki2 memang diciptakan memiliki kecenderungan senang dan tertarik terhadap wanita. Demikian pula sebaliknya. Namun ada di antara laki2 yg memiliki kelainan sehingga tdk tertarik dan tdk memiliki syhwt (**) terhadap wanita. Mereka inilah yg Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dlm firman-Nya:

أَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ أُوْلِي اْلإِرْبَةِ مِنَ الرِّجاَلِ

“Atau laki2 yg mengikuti kalian yg tdk punya syhwt (**) terhadap wanita.”
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Manusia berbeda pendapat tentang makna firman Allah: . Ada yg berpendapat: orang itu adl laki2 yg pandir/ dungu yg tdk berhajat terhadap wanita. Ada yg berpendapat: orang yg lemah akalnya. Ada pula yg berpendapat: laki2 yg mengikuti suatu kaum makan bersama mereka dan menggantungkan hidup pada mereka sementara dia punya kelemahan sehingga tdk menaruh perhatian terhadap wanita dan tdk berselera dgn wanita. Ada pula yg berpendapat: dia adl laki2 yg lemah dzakar1. Yang lain mengatakan: laki2 yg dikebiri. Ada yg berkata: dia mukhannats 2. Namun ada juga yg berpendapat: laki2 yg tua renta dan anak kecil yg belum baligh. Perbedaan pendapat ini sebenar menunjukkan makna yg berdekatan yg inti laki2 yg dimaksud dlm ayat tersebut adl yg tdk paham dan tdk ada keinginan yg membangkitkan kepada soal wanita.”
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dlm tafsirnya: yaitu laki2 yg mengikuti kalian dan bergantung kepada kalian sementara mereka tdk memiliki syhwt (**) terhadap wanita seperti orang yg kurang waras yg tdk tahu tentang keindahan wanita atau seperti laki2 yg lemah dzakar sehingga tdk memiliki syhwt (**) sedikitpun baik pada kemaluan maupun dlm hatinya. laki2 yg seperti ini keadaan tidaklah ada kekhawatiran pada diri bila memandang .”
Dalam ayat disebutkan lafadz dari sini muncul perbedaan pendapat di kalangan ulama apakah pengikutan itu merupakan syarat atau tidak? Di antara mereka ada yg menganggap sebagai syarat sama saja apakah laki2 itu merupakan khadim pelayan atau orang yg menggantungkan hidup pada suatu kaum. Sehingga dlm hal kebolehan memandang ini harus terkumpul dua syarat; laki2 itu tdk punya syhwt (**) terhadap wanita dan dia merupakan tabi’ . Demikian ditunjukkan oleh dzahir ayat: .
Ulama yg lain tdk menganggap pengikutan sebagai syarat yg menjadi pegangan hanyalah ketidakadaan syhwt (**) pada diri seorang laki-laki. Wallahu ta’ala a’lam.

Mukhannats
Mukhannats adl laki2 yg menyerupai wanita dlm tingkah laku ucapan dan gerakan . Karena mukhannats ini terhitung laki2 yg tdk memiliki syhwt (**) terhadap wanita mk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal tdk melarang masuk menemui istri-istri beliau ummahatul mukminin.
Aisyah radhiallahu ‘anha berkisah:

كاَنَ يَدْخُلُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُخَنَّثٌ. فَكاَنُوْا يَعُدَّوْنَهُ مِنْ غَيْرِ أُولىِ اْلإِرْبَةِ. فََدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً وَهُوَ عِنْدَ بَعْضِ نِساَئِهِ. وَهُوَ يَنْعَتُ امْرَأَةً. قاَلَ: إِذَا أَقْبَلَتْ أقْبَلَتْ بِأَرْبَعٍ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ أَدْبَرَتْ بِثَماَنٍ. فَقاَلَ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ: أَلاَ أَرَى هَذَا يَعْرِفُ ماَ هاَهُناَ، لاَ يَدْخُلَنَّ عَلَيْكُنَّ. قاَلَتْ: فَحَجَبُوْهُ

“Dulu ada seorang mukhannats biasa masuk menemui istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam krn mereka menduga termasuk laki2 yg tdk memiliki syhwt (**) terhadap wanita. mk suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah sementara mukhannats ini berada di sisi sebagian istri beliau dlm keadaan ia sedang mensifatkan seorang wanita. “Wanita itu bila menghadap menghadap dgn empat3 dan bila membelakang membelakang dgn delapan4” katanya. Mendengar ucapan yg demikian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku semula tdk berpandangan orang ini tahu perkara wanita sampai seperti itu. Sama sekali ia tdk boleh lagi masuk menemui kalian”. Kata Aisyah radhiallahu ‘anha: “Mereka pun berhijab darinya.”
Ummu Salamah radhiallahu ‘anha bertutur: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku sementara di sisiku ada seorang mukhannats. Aku mendengar mukhannats itu berkata kepada Abdullah bin Abi Umayyah : “Wahai Abdullah! Jika besok Allah membukakan/ memenangkan Thaif5 utk kalian mk hendaklah engkau berupaya dgn sungguh-sungguh utk mendapatkan putri Ghailan6 krn dia menghadap dgn empat dan membelakangi dgn delapan”. Ucapan yg demikian didengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mk beliau pun menetapkan:

لاَ يَدْخُلَنَّ هَؤُلاَءِ عَلَيْكُنَّ

“Mereka itu sama sekali tdk boleh masuk menemui kalian lagi.”
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Masuk mukhannats ini pada awal menemui ummahatul mukminin telah diterangkan sebab di dlm hadits yaitu mereka meyakini mukhannats ini termasuk lelaki yg tdk memiliki syhwt (**) terhadap wanita sehingga ia boleh masuk menemui mereka. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ucapan yg demikian dari tahulah beliau mukhannats ini ternyata punya syhwt (**) terhadap wanita8 beliau pun melarang masuk ke tempat istri-istri beliau. Hadits ini menunjukkan dilarang mukhannats masuk ke tempat para wanita dan para wanita dilarang menampakkan perhiasan mereka di hadapannya. Hadits ini pun menerangkan mukhannats hukum sama dgn laki2 yg senang dan berselera terhadap wanita demikian pula hukum lelaki yg dikebiri dan dipotong dzakar wallahu a’lam.”
Al-Muhallab rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghalangi mukhannats ini utk masuk menemui para wanita ketika beliau mendengar ia menggambarkan ciri-ciri seorang wanita dgn penggambaran yg dapat membangkitkan gejolak dan gelora di dlm hati laki-laki. mk beliau pun melarang masuk menemui istri-istri beliau agar jangan sampai si mukhannats ini menceritakan tentang mereka kepada manusia sehingga gugurlah makna hijab
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Diambil faedah dari hadits ini agar para wanita berhijab dari orang2 yg memahami keindahan-keindahan mereka.”

Hukum Berpenampilan dan Berperilaku seperti Lawan Jenis
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجاَلِ بِالنِّساَءِ، وَالْمُتَشَبِّهاَتِ مِنَ النِّساَءِ بِالرِّجاَلِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki2 yg menyerupai wanita dan wanita yg menyerupai laki-laki.”
Ath-Thabari rahimahullah memaknai sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dgn ucapan: “Tidak boleh laki2 menyerupai wanita dlm hal pakaian dan perhiasan yg khusus bagi wanita. Dan tdk boleh pula sebalik .” Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan: “Demikian pula meniru cara bicara dan berjalan. Adapun dlm penampilan/ bentuk pakaian mk ini berbeda-beda dgn ada perbedaan adat kebiasaan pada tiap negeri. Karena terkadang suatu kaum tdk membedakan model pakaian laki2 dgn model pakaian wanita akan tetapi utk wanita ditambah dgn hijab. Pencelaan terhadap laki2 atau wanita yg menyerupai lawan jenis dlm berbicara dan berjalan ini khusus bagi yg sengaja. Sementara bila hal itu merupakan asal penciptaan mk ia diperintahkan utk memaksa diri agar meninggalkan hal tersebut secara berangsur-angsur. Bila hal ini tdk ia lakukan bahkan ia terus tasyabbuh dgn lawan jenis mk ia masuk dlm celaan terlebih lagi bila tampak pada diri perkara yg menunjukkan ia ridla dgn keadaan yg demikian.” Al-Hafidz rahimahullah mengomentari pendapat Al-Imam An-Nawawi rahimahullah yg menyatakan mukhannats yg memang tabiat/ asal penciptaan demikian mk celaan tdk ditujukan terhadap mk kata Al-Hafidz rahimahullah hal ini ditujukan kepada mukhannats yg tdk mampu lagi meninggalkan sikap kewanita-wanitaan dlm berjalan dan berbicara setelah ia berusaha menyembuhkan kelainan tersebut dan berupaya meninggalkannya. Namun bila memungkinkan bagi utk meninggalkan sifat tersebut walaupun secara berangsur-angsur tapi ia memang enggan utk meninggalkan tanpa ada udzur mk ia terkena celaan.”
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah memang menyatakan: “Ulama berkata mukhannats itu ada dua macam.
Pertama: hal itu memang sifat asal/ pembawaan bukan ia bersengaja lagi memberat-beratkan diri utk bertabiat dgn tabiat wanita bersengaja memakai pakaian wanita berbicara seperti wanita serta melakukan gerak-gerik wanita. Namun hal itu merupakan pembawaan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menciptakan seperti itu. Mukhannats yg seperti ini tidaklah dicela dan dicerca bahkan tdk ada dosa serta hukuman bagi krn ia diberi udzur disebabkan hal itu bukan kesengajaannya. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal tdk mengingkari masuk mukhannats menemui para wanita dan tdk pula mengingkari sifat yg memang asal penciptaan/ pembawaan demikian. Yang beliau ingkari setelah itu hanyalah krn mukhannats ini ternyata mengetahui sifat-sifat wanita dan beliau tdk mengingkari sifat pembawaan serta keberadaan sebagai mukhannats.
Kedua: mukhannats yg sifat kewanita-wanitaan bukan asal penciptaan bahkan ia menjadikan diri seperti wanita mengikuti gerak-gerik dan penampilan wanita seperti berbicara seperti mereka dan berpakaian dgn pakaian mereka. Mukhannats seperti inilah yg tercela di mana disebutkan laknat terhadap mereka di dlm hadits-hadits yg shahih.
Adapun mukhannats jenis pertama tidaklah terlaknat krn seandai ia terlaknat niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk membiarkan pada kali yg pertama wallahu a’lam.”
Namun seperti yg dikatakan Al-Hafidz rahimahullah mukhannats jenis pertama tidaklah masuk dlm celaan dan laknat apabila ia telah berusaha meninggalkan sifat kewanita-wanitaan dan tdk menyengaja utk terus membiarkan sifat itu ada pada dirinya.
Dalam Sunan Abu Dawud dibawakan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةُ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki2 yg memakai pakaian wanita dan wanita yg memakai pakaian laki-laki.” .
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dlm kitab Al-Jami’ush Shahih menempatkan hadits ini dlm kitab An-Nikah wath Thalaq bab Tahrimu Tasyabbuhin Nisa’ bir Rijal dan beliau membawakan kembali dlm kitab Al-Libas bab Tahrimu Tasyabbuhir Rijal bin Nisa’ wa Tasyabbuhin Nisa’ bir Rijal .
Dalam masalah laki2 menyerupai wanita ini Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan laki2 dan perempuan di mana masing-masing Dia berikan keistimewaan. laki2 berbeda dgn wanita dlm penciptaan watak kekuatan agama dan selainnya. Wanita demikian pula berbeda dgn laki-laki. Siapa yg berusaha menjadikan laki2 seperti wanita atau wanita seperti laki2 berarti ia telah menentang Allah dlm qudrah dan syariat-Nya krn Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki hikmah dlm apa yg diciptakan dan disyariatkan-Nya. Karena inilah terdapat nash-nash yg berisi ancaman keras berupa laknat yg berarti diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah bagi laki2 yg menyerupai dgn wanita atau wanita yg tasyabbuh dgn laki-laki. mk siapa di antara laki2 yg tasyabbuh dgn wanita berarti ia terlaknat melalui lisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula sebaliknya.”
Dan hikmah dilaknat laki2 yg tasyabbuh dgn wanita dan sebalik wanita tasyabbuh dgn laki2 adl krn mereka keluar/menyimpang dari sifat yg telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan utk mereka.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Apabila seorang laki2 tasyabbuh dgn wanita dlm berpakaian terlebih lagi bila pakaian itu diharamkan seperti sutera dan emas atau ia tasyabbuh dgn wanita dlm berbicara sehingga ia berbicara bukan dgn gaya/ cara seorang lelaki seakan-akan yg berbicara adl seorang wanita atau ia tasyabbuh dgn wanita dlm cara berjalan atau perkara lain yg merupakan kekhususan wanita mk laki2 seperti ini terlaknat melalui lisan makhluk termulia . Dan kita pun melaknat orang yg dilaknat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Perbuatan menyerupai lawan jenis secara sengaja haram hukum dgn kesepakatan yg ada dan termasuk dosa besar krn Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dan selain mengatakan: “Dosa besar adl semua perbuatan maksiat yg ditetapkan hukum had- di dunia atau diberikan ancaman di akhirat.” Syaikhul Islam menambahkan: “Atau disebutkan ancaman berupa ditiadakan keimanan laknat9 atau semisalnya.”
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu memasukkan perbuatan ini sebagai salah satu perbuatan dosa besar dlm kitab beliau yg masyhur Al-Kabair hal. 145.
Adapun sanksi/hukuman yg diberikan kepada pelaku perbuatan ini adl sebagaimana disebutkan dlm hadits berikut:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِيْنِ مِنَ الرِّجاَلِ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّساَءِ، وَقاَلَ: أَخْرِجُوْهُمْ مِنْ بُيُوْتِكُمْ. قاَلَ: فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلاَناً وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنَةً

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki2 yg menyerupai wanita dan wanita yg menyerupai laki2 . Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian”. Ibnu Abbas berkata: “Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengeluarkan Fulan dan Umar mengeluarkan Fulanah .”
Hadits ini menunjukkan disyariatkan mengusir tiap orang yg akan menimbulkan gangguan terhadap manusia dari tempat sampai dia mau kembali dgn meninggalkan perbuatan tersebut atau mau bertaubat.
Mereka harus diusir dari rumah-rumah dan daerah kalian kata Al-Qari.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menyatakan: Ulama berkata: “Dikeluarkan dan diusir mukhannats ada tiga makna:
Salah satu sebagaimana tersebut dlm hadits yaitu mukhannats ini disangka termasuk laki2 yg tdk punya syhwt (**) terhadap wanita tapi ternyata ia punya syhwt (**) namun menyembunyikannya.
Kedua: ia menggambarkan wanita keindahan-keindahan mereka dan aurat mereka di hadapan laki2 sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seorang wanita menggambarkan keindahan wanita lain di hadapan suami lalu bagaimana bila hal itu dilakukan seorang lelaki di hadapan lelaki?
Ketiga: tampak bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mukhannats ini bahwa dia mencermati tubuh dan aurat wanita dgn apa yg tdk dicermati oleh kebanyakan wanita. Terlebih lagi disebutkan dlm hadits selain riwayat Muslim bahwa si mukhannats ini mensifatkan/ menggambarkan wanita dgn detail sampai-sampai ia menggambarkan kemaluan wanita dan sekitar wallahu a’lam.”
Bila penyerupaan tersebut belum sampai pada tingkatan perbuatan keji yg besar seperti si mukhannats berbuat mesum dgn sesama lelaki sehingga lelaki itu ‘mendatanginya’ pada dubur atau si mutarajjilah berbuat mesum dgn sesama wanita sehingga kedua saling menggosokkan kemaluan mk mereka hanya mendapatkan laknat dan diusir seperti yg tersebut dlm hadits di atas. Namun bila sampai pada tingkatan demikian mereka tdk hanya pantas mendapatkan laknat tapi juga hukuman yg setimpal11. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan utk mengeluarkan mukhannats dari rumah-rumah kaum muslimin agar perbuatan tasyabbuh itu tdk mengantarkan utk melakukan perbuatan yg mungkar tersebut 12. Demikian dikatakan Ibnu At-Tin rahimahullahu seperti dinukil Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu .

Kesimpulan: hukum mukhannats memandang wanita ajnabiyyah
Dalam hal ini fuqaha terbagi dua pendapat:
Pertama: mukhannats dihukumi sama dgn laki2 jantan yg berselera terhadap wanita. Demikian pendapat madzhab Al-Hanafiyyah terhadap mukhannats yg bersengaja tasyabbuh dgn wanita padahal memungkinkan bagi diri utk merubah sifat kewanita-wanitaan tersebut. Sebagian Al-Hanafiyyah juga memasukkan mukhannats yg tasyabbuh dgn wanita krn asal penciptaan walaupun ia tdk berselera dgn wanita demikian pula pendapat Asy-Syafi’iyyah. Adapun madzhab Al-Hanabilah berpandangan bahwa mukhannats yg memiliki syhwt (**) terhadap wanita dan mengetahui perkara wanita mk hukum sama dgn laki2 jantan bila memandang wanita.
Dalil yg dipegangi oleh pendapat pertama ini adl firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصاَرِهِمْ

“Katakanlah kepada kaum mukminin hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka.”
Adapun dalil yg mereka pegangi dari As Sunnah adl hadits Ummu Salamah dan hadits Aisyah radhiallahu ‘anhuma tentang mukhannats yg menggambarkan tubuh seorang wanita di hadapan laki2 sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mukhannats ini masuk menemui istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua: mereka berpandangan bahwa mukhannats yg tasyabbuh dgn wanita krn memang asal penciptaan demikian dan ia tdk berselera/ bersyhwt (**) dgn wanita bila ia memandang wanita ajnabiyyah mk hukum sama dgn hukum seorang lelaki bila memandang mahram-mahramnya. Sebagian Al-Hanafiyyah berpendapat boleh membiarkan mukhannats yg demikian bersama para wanita. Namun si wanita hanya boleh menampakkan tubuh sebatas yg dibolehkan bagi utk menampakkan di hadapan mahram-mahram dan si mukhannats sendiri boleh memandang wanita sebatas yg diperkenankan bagi seorang lelaki utk memandang wanita yg merupakan mahramnya. Demikian yg terkandung dari pendapat Al-Imam Malik rahimahullahu dan pendapat Al-Hanabilah.
Dalil mereka adl firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ أُوْلِي اْلإِرْبَةِ مِنَ الرِّجاَلِ

“atau laki2 yg mengikuti kalian yg tdk punya syhwt (**) terhadap wanita.”
Di antara ulama salaf ada yg mengatakan bahwa yg dimaksud dengan:

غَيْرِ أُوْلِي اْلإِرْبَةِ

adl mukhannats yg tdk berdiri kemaluannya.
Dari As Sunnah mereka berdalil dgn hadits Aisyah radhiallahu ‘anha . dlm hadits Aisyah ini diketahui bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal membolehkan mukhannats masuk menemui istri-istri beliau krn menyangka ia termasuk laki2 yg tdk bersyhwt (**) terhadap wanita. Namun ketika beliau mendengar mukhannats ini tahu keadaan wanita dan sifat mereka beliau pun melarang masuk menemui istri-istri beliau krn ternyata ia termasuk laki2 yg berselera dgn wanita.
Inilah pendapat yg rajih insya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun bila si mukhannats punya syhwt (**) terhadap wanita mk hukum sama dgn laki2 jantan yg memandang wanita ajnabiyyah.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Seperti pendapat Mujahid rahimahullahu
2 Kata ‘Ikrimah rahimahullahu: “Dia adl mukhannats yg tdk bisa berdiri dzakarnya. . Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan: “Dia adl laki2 yg tdk memiliki syhwt (**) terhadap wanita.”
3 Yakni dgn empat lekukan pada perutnya.
4 Ujung lekukan itu sampai ke pinggang pada masing-masing sisi empat sehingga dari belakang terlihat seperti delapan. Al-Khaththabi rahimahullahu menjelaskan: “Mukhannats ini hendak mensifatkan putri Ghailan itu besar badan di mana pada perut ada empat lipatan dan yg demikian itu tidaklah didapatkan kecuali pada wanita-wanita yg gemuk. Secara umum laki2 biasa senang dgn wanita yg demikian sifatnya.”
5 Thaif adl negeri besar terletak di sebelah timur Makkah sejarak 2-3 hari perjalanan. Negeri ini terkenal memiliki banyak pohon anggur dan kurma . Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengepung Thaif.
6 Ghailan bin Salamah Ats-Tsaqafi salah seorang tokoh/ pemimpin Bani Tsaqif yg mendiami Thaif. Pada akhir ia masuk Islam dan ketika itu ia memiliki 10 istri mk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan utk memilih 4 di antara dan menceraikan yg lainnya.
7 Hadits-hadits seperti ini diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dlm syarah terhadap Shahih Muslim bab Larangan bagi mukhannats utk masuk menemui wanita-wanita ajnabiyyah
8 Tidak termasuk laki2 yg disebutkan dlm ayat:

أَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ أُوْلِي اْلإِرْبَةِ مِنَ الرِّجاَلِ

“Atau laki2 yg mengikuti kalian yg tdk punya syhwt (**) terhadap wanita.”
9 Dan dlm hal ini terdapat hadits yg berisi laknat bagi laki2 yg menyerupai wanita dan sebalik wanita menyerupai laki-laki.
10 Al-Mutarajjilah yaitu wanita yg menyerupai laki2 dlm hal pakaian penampilan cara berjalan mengangkat suara dan semisalnya. Bukan penyerupaan dlm pendapat/ pikiran/ pertimbangan dan ilmu. Karena menyerupai laki2 dlm masalah ini adl terpuji sebagaimana diriwayatkan bahwa pendapat/ pikiran/ pertimbangan Aisyah radhiallahu ‘anha seperti laki-laki.
11 Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu berkata: “Ulama berselisih pendapat tentang hukuman bagi orang yg berbuat liwath. Yang paling shahih dari pendapat yg ada hukuman dibunuh baik subyek maupun obyek bila kedua telah baligh.”
12 Para mukhannats yg ada di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka tidaklah tertuduh melakukan perbuatan keji yg besar hanya saja kewanita-wanitaan mereka tampak dari ucapan mereka yg lunak/ lembut mendayu mereka memacari tangan dan kaki mereka seperti hal wanita dan berkelakar seperti kelakar wanita.

Wanita Non Muslimah Memandang Wanita Muslimah

Telah kita pahami dari pembahasan terdahulu bahwa ulama berbeda pendapat tentang hukum wanita muslimah menampakkan sesuatu dari bagian tubuh di hadapan wanita non muslimah tanpa keperluan. Dan tdk mengapa sebagai tambahan faedah kami memaparkan kembali permasalahan ini dgn rujukan dari Kitab An-Nazhar fi Ahkamin Nazhar bi Hassatil Bashar karya Al-Imam Al-Hafidz Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Al-Qaththan Al-Fasi dan kitab Fiqhun Nazhar karya Mushthafa Abul Ghaith.
Kami dapati ahlul ilmi terbagi dua pendapat dlm masalah ini:
Pendapat pertama: Mereka memandang wajib bagi muslimah utk berhijab di hadapan wanita non muslimah dan haram bagi utk membuka sesuatu dari bagian tubuh di depan wanita Nasrani Yahudi atau musyrikah bila tdk ada keperluan yg darurat/ mendesak. Sehingga dlm hal memandang ini wanita kafirah sama dgn laki2 ajnabi bagi seorang muslimah. Demikian pendapat madzhab Hanafiyyah Malikiyyah dan yg paling shahih dari madzhab Syafi’iyyah serta satu riwayat dari Al-Imam Ahmad1. Mereka berdalil dgn firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm Surat An-Nur ayat 31 yg artinya: “Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali di depan suami-suami mereka. sampai pada firman-Nya: atau di hadapan wanita-wanita mereka.”.
Kata wanita di dlm ayat disandarkan kepada mereka wanita-wanita mukminah. Hal ini menunjukkan pengkhususan. Ibnu Athiyyah berkata: “Seandai wanita non muslimah boleh melihat ke tubuh muslimah niscaya tdk tersisa faedah bagi pengkhususan tersebut.”
Selain itu mereka juga berdalil dgn atsar-atsar dari para shahabat dan ulama salaf namun kebanyakan dari atsar-atsar ini lemah wallahu a’lam.
Pendapat kedua: Mereka yg berpandangan bahwa dlm hal memandang wanita non muslimah sama dgn wanita muslimah ketika memandang sesama muslimah sehingga wanita non muslimah ini boleh melihat seluruh tubuh kecuali antara pusar dan lututnya. Pendapat ini ada dlm madzhab Syafi’iyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad yg merupakan pendapat yg masyhur dlm madzhab pengikut beliau. Mereka yg memegang pendapat kedua ini berdalil dgn hadits Asma bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma. Ia berkata “Ibuku datang menemuiku dlm keadaan ia musyrikah di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. mk aku pun minta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Ibuku datang dlm keadaan raghibah2 apakah boleh aku menyambung hubungan dengannya?” tanyaku. “Iya sambunglah hubungan dgn ibumu” jawab beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan Asma radhiallahu ‘anha utk menyambung hubungan dgn ibu yg musyrikah dan tdk dinukilkan ada perintah ataupun berita bahwa Asma berhijab dari ibunya.
Hadits lain yg menjadi dalil pendapat kedua ini adl hadits Aisyah radhiallahu ‘anha: Seorang wanita Yahudi pernah masuk menemui Aisyah lalu ia menyebutkan tentang azab kubur ia berkata: “Semoga Allah melindungimu dari azab kubur”. Aisyah pun menanyakan tentang azab kubur kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Ya memang ada azab kubur” jawab beliau. Aisyah berkata: “Aku tdk pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari mengerjakan satu shalat pun melainkan beliau mesti berlindung dari azab kubur.”
Hadits di atas menunjukkan wanita-wanita kafir biasa masuk menemui Ummahatul Mukminin utk suatu keperluan bersamaan dgn itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk memerintahkan istri-istri beliau utk berhijab dari mereka.
Dari perselisihan pendapat yg ada wallahu ta’ala a’lam bish-shawab yg rajih dgn melihat dalil masing-masing adl pendapat kedua sehingga tdk ada larangan bagi seorang muslimah utk melepas hijab di hadapan wanita non muslimah3 yg demikian ini kita beralasan sebagaimana ucapan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu:
1. Wanita berhijab dari lelaki disebabkan krn kekhawatiran muncul syhwt (**) dan fitnah. Sementara antara muslimah dan wanita non muslimah tdk didapati kekhawatiran yg demikian sehingga tdk ada keharusan bagi muslimah utk mengenakan hijab di hadapan non muslimah.
2. Tidak ada dalil yg mewajibkan muslimah berhijab dari non muslimah dan juga dlm hal ini tdk dapat dikiaskan dgn perintah berhijab dari lelaki.
3. Muslimah dan non muslimah sama-sama berjenis wanita mk sebagaimana lelaki boleh melihat sesama lelaki tanpa dibedakan apakah lelaki itu muslim atau kafir mk dibolehkan pula wanita memandang wanita tanpa dibedakan apakah dia muslimah atau non muslimah
Adapun ayat di mana dhamir kembali pada wanita-wanita mukminah yg menjadi sasaran pembicaraan di dlm ayat tidaklah menunjukkan pengkhususan sehingga wanita selain mukminah dikeluarkan darinya. Namun sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar ibnul Arabi rahimahullahu: “Yang shahih menurutku firman Allah ini boleh diarahkan kepada seluruh wanita. Adapun dhamir dlm ayat ini didatangkan dlm rangka ittiba’ krn ayat ini merupakan ayat dhamir di mana disebutkan di dlm 25 dhamir tdk ada satu ayat pun dlm Al Qur’an yg menyamai dlm hal ini.”
Untuk lbh memantapkan hati berikut ini kami nukilkan fatwa dua ‘alim kabir dari kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yg mendukung pendapat kedua ini.
Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata: “Ayat أَوْ نِساَئِهِنَّ mencakup seluruh wanita mukminah ataupun non mukminah. Inilah pendapat yg paling shahih sehingga tdk ada kewajiban bagi wanita mukminah utk berhijab dari wanita kafir berdasarkan keterangan yg tsabit tentang masuk wanita-wanita Yahudi di Madinah di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula wanita-wanita penyembah berhala menemui istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara tdk disebutkan keterangan istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini berhijab dari mereka. Seandai berhijab dari non muslimah ini terjadi dari istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dari selain mereka niscaya akan dinukilkan. Karena para shahabat radhiallahu ‘anhum tidaklah meninggalkan sesuatu perkara melainkan mereka mesti menukilkannya. Inilah pendapat yg terpilih dan paling kuat.” .
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika dita tentang permasalahan ini beliau menjawab: “Perkara ini dibangun di atas perbedaan pendapat ulama dlm menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm Surat An-Nur ayat 31 tentang dhamir dlm أَوْ نِساَئِهِنَّ. Beliau menyebutkan perbedaan pendapat yg ada kemudian beliau berkata: “Kami sendiri condong kepada pendapat pertama dan pendapat inilah yg lbh dekat kepada kebenaran krn wanita memandang sesama wanita tidaklah dibedakan antara muslimah dgn non muslimah. Namun tentu hal ini diperkenankan bila di sana tdk ada fitnah. Adapun bila dikhawatirkan terjadi fitnah seperti si wanita non muslimah itu akan menceritakan keberadaan si muslimah kepada kerabat-kerabat dari kalangan lelaki mk ketika itu wajib utk berhati-hati menjaga diri dari fitnah sehingga si wanita muslimah tdk membuka sesuatu dari anggota tubuh seperti kedua kaki atau rambut di hadapan wanita lain sama saja dlm hal ini apakah di hadapan wanita muslimah ataupun non muslimah.” .
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Di antara ulama mutaakhirin yg berpegang dgn pendapat ini adl Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Beliau berkata: “Dzahir dari apa yg diinginkan dlm ayat ini adl wanita-wanita dari kalangan muslimin krn wanita-wanita kafir bisa jadi ketika melihat seorang wanita muslimah ia akan menceritakan/ menggambarkan si muslimah kepada suaminya. Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seorang wanita ketika bergaul dgn wanita lain lalu ia menggambarkan wanita lain itu kepada suaminya”.
2 Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Makna ibu Asma’ datang menemui putri meminta agar putri berbuat baik pada dlm keadaan ia khawatir putri akan menolak sehingga ia pulang dgn kecewa demikian penafsiran jumhur.”
3 Jika sekira aman dari fitnah kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dlm fatwanya.

Sumber: www.asysyariah.com


mutarajjilah zaman rasul waria dihadapan allah