"Hukum Menyiapkan Makanan Pada Tanggal Dua Puluh Tujuh Rajab, Nisyfu Sya'ban Dan Hari Asyura" ketegori Muslim.

Hukum Menyiapkan Makanan Pada Tanggal Dua Puluh Tujuh Rajab, Nisyfu Sya'ban Dan Hari Asyura

Kategori Bid'ah

Senin, 19 September 2005 07:28:09 WIB

HUKUM MENYIAPKAN MAKANAN PADA TANGGAL DUA PULUH TUJUH RAJAB, NISYFU SYA’BAN DAN HARI ASYURA

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dita : Kami memiliki banyak kebiasaan yg kami warisi (dari orang tua kami) dalam hal perayaan pada waktu-waktu tertentu, seperti memuntuk kue-kue dan biscuit ketika hari raya Idul Fithri, menyiapkan makanan dan buah-buahan pada malam dua puluh tujuh bulan Rajab atau pada malam pertengahan bulan Sya’ban, serta beberapa jenis makanan pada hari Asyura. Apa hukum menurut syari’at ?

Jawaban
Menunjukkan kebahagian dan kesenangan pada hari raya Idul fithri dan Idul Adha tdk apa-apa bila masih dalam batas-batas syari’at. Misal kedatangan orang-orang untuk makan-makan dan minum-minum atau yg sejenisnya, berdasarkan dalil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasa beliau bersada.

“Arti : Hari-hari Tasyrik ialah hari makan, minum dan dzikir kpd Allah Azza wa Jalla”

Yaitu tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yg pada saat itu menusia menyembelih binatang dan memakan daging serta menikmati rizki yg diberikan oleh Allah. Demikian pula pada hari raya Idul Fithri, tdk dilarang untuk menunjukkan kegembiraan dan kesenangan selama tdk melewati batas yg ditetapkan syari’at.

Adapun merayakan hari kedua puluh tujuh Rajab atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau hari Asyura, peruntukan itu tdk ada dasar sama sekali, bahkan terlarang. Bagi setiap muslim tdk wajib hukum untuk menghadiri perayaan semacam itu apabila diundang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Arti : Hendaklah kalian meghindari perkara baru dalam agama, krn setiap perkara baru dalam agama ialah bid’ah dan setiap bid’ah ialah sesat”

Malam kedua puluh tujuh bulan Rajab dikira banyak orang sebagai malam di mana Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mi’rajkan oleh Allah. Ini semua tdk ada dasar menurut sejarah. Setiap yg tdk berdasar ialah bathil. Meski misal peristiwa itu terjadi pada malam dua puluh tujuh, maka tetap saja tdk boleh bagi kita untuk menjadikan sebagai perayaan atau bentuk ibadah, krn hal itu tdk pernah ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabatnya, padahal mereka ialah manusia yg paling gemar mengikuti sunnah dan melaksanakan syari’atnya. Bagaimana mungkin diperbolehkan bagi kita untuk menetapkan apa yg tdk pernah ada pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun pada zaman sahabat ?

Demikian juga malam nisyfu Sya’ban, tdk ada ketetapan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk merayakan atau mengagungkannya. Akan tetapi yg ada ialah menghidupkan dgn dzikir dan shalat, tdk dgn makan-makan, bersuka cita atau merayakannya.

Sedangkan pada hari Asyura, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dita tentang puasa pada hari itu, beliau mengatakan bahwa puasa pada hari itu menghapus dosa-dosa setahun yg lalu. Tidak diperbolehkan pada hari tersebut untuk mengadakan semacam perayaan atau menunjukkan kesedihan, krn bersenang-senang maupun menunjukkan kesedihan pada hari ini bertentangan dgn sunnah. Tidak ada riwayat dari Nabi selain untuk mengerjakan puasa pada hari itu, juga diperintahkan untuk berpuasa sehari sebelum atau setelah untuk menyelisihi apa yg dilaksanakan oleh orang-orang Yahudi yg berpuasa pada hari itu saja.

[Fatawa Mar’ah 1/11]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesiap Fatwa-Fatwa Tentang wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerbit Darul Haq]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1581&bagian=0

Sumber Hukum Menyiapkan Makanan Pada Tanggal Dua Puluh Tujuh Rajab, Nisyfu Sya'ban Dan Hari Asyura : http://alsofwah.or.id


apa arti rajab www sejarah bulan rajab com