Hukum Ringkas Puasa Ramadhan

penulis Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi
Syariah Kajian Khusus Ramadhan 12 - September - 2005 18:41:04

Menyambut Ramadhan banyak acara digelar kaum muslimin. Di antara acara tersebut ada yg telah menjadi tradisi yg “wajib” dilakukan meski syariat tdk pernah memerintahkan utk membuat berbagai acara tertentu menyambut datang bulan mulia tersebut.
Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yg ditetapkan syariat yg ditujukan dlm rangka taqarrub kepada Allah k
. Hukum puasa sendiri terbagi menjadi dua yaitu puasa wajib dan puasa sunnah. Adapun puasa wajib terbagi menjadi 3: puasa Ramadhan puasa kaffarah dan puasa nadzar.

Keutamaan Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adl bulan diturunkan Al Qur’an. Allah k
berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adl bulan yg di dlm diturunkan Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda .”
Pada bulan ini para setan dibelenggu pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.
Rasulullah n
bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ النِّيْرَانِ وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Bila datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah para setan.”
Pada bulan Ramadhan pula terdapat malam Lailatul Qadar. Allah k
berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguh Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lbh baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dgn izin Tuhan utk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.”

Penghapus Dosa
Ramadhan adl bulan utk menghapus dosa. Hal ini berdasar hadits Abu Hurairah z
bahwa Rasulullah n
bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لَمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu dari Jum’at menuju Jum’at berikut Ramadhan hingga Ramadhan adl penghapus dosa di antara apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.”

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yg berpuasa Ramadhan dgn keimanan dan mengharap ridha Allah akan diampuni dosa-dosa yg terdahulu.”

Rukun Berpuasa

a. Berniat sebelum muncul fajar shadiq. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah n
:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguh amalan itu tergantung niatnya.”
Juga hadits Hafshah x
bersabda Rasulullah n
:

مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yg tdk berniat berpuasa sebelum fajar mk tdk ada puasa baginya.”
Asy-Syaikh Muqbil t
menyatakan bahwa hadits ini mudhtharib walaupun sebagian ulama menghasankannya.
Namun mereka mengatakan bahwa ini adl pendapat Ibnu ‘Umar Hafshah ‘Aisyah g
dan tdk ada yg menyelisihi dari kalangan para shahabat.
Persyaratan berniat puasa sebelum fajar dikhususkan pada puasa yg hukum wajib krn Rasulullah n
pernah datang kepada ‘Aisyah x
pada selain bulan Ramadhan lalu bertanya: “Apakah kalian mempunyai makan siang? Jika tdk mk saya berpuasa.”
Masalah ini dikuatkan pula dgn perbuatan Abud-Darda Abu Thalhah Abu Hurairah Ibnu ‘Abbas dan Hudzaifah ibnul Yaman g
. Ini adl pendapat jumhur.
Para ulama juga berpendapat bahwa persyaratan niat tersebut dilakukan pada tiap hari puasa krn malam Ramadhan memutuskan amalan puasa sehingga utk mengamalkan kembali membutuhkan niat yg baru. Wallahu a’lam.
Berniat ini boleh dilakukan kapan saja baik di awal malam pertengahan maupun akhir. Ini pula yg dikuatkan oleh jumhur ulama1.
b. Menahan diri dari tiap perkara yg membatalkan puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim hadits dari ‘Umar bin Al-Khaththab z
bahwa Rasulullah n
bersabda:

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَهُنَا وَأَدْرَكَ النَّهَارُ مِنْ هَهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Jika muncul malam dari arah sini dan hilang siang dari arah sini dan matahari telah terbenam mk telah berbukalah orang yg berpuasa.”
Puasa dimulai dgn muncul fajar. Namun kita harus hati-hati krn terdapat dua jenis fajar yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq. Fajar kadzib ditandai dgn cahaya putih yg menjulang ke atas seperti ekor serigala. Bila fajar ini muncul masih diperbolehkan makan dan minum namun diharamkan shalat Shubuh krn belum masuk waktu.
Fajar yg kedua adl fajar shadiq yg ditandai dgn cahaya merah yg menyebar di atas lembah dan bukit menyebar hingga ke lorong-lorong rumah. Fajar inilah yg menjadi tanda dimulai seseorang menahan makan minum dan yg semisal serta diperbolehkan shalat Shubuh.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas c
bahwa Rasulullah n
bersabda:

الْفَجْرُ فَجْرَانِ فَأَمَّا اْلأَوَّلُ فَإِنَّهُ لاَ يُحْرِمُ الطَّعَامَ وَلاَ يُحِلُّ الصَّلاَةَ وَأَمَّا الثَّانِي فَإِنَّهُ يُحْرِمُ الطَّعَامَ وَيُحِلُّ الصَّلاَةَ

“Fajar itu ada dua yg pertama tdk diharamkan makan dan tdk dihalalkan shalat . Adapun yg kedua adl yg diharamkan makan dan dihalalkan shalat.”
Namun para ulama menghukumi riwayat ini mauquf . Di antara mereka adl Al-Baihaqi Ad-Daruquthni dlm Sunan- Abu Dawud dlm Marasil- dan Al-Khathib Al-Baghdadi dlm Tarikh- . Juga diriwayatkan dari Tsauban dgn sanad yg mursal. Sementara diriwayatkan juga dari hadits Jabir dgn sanad yg lemah.
Wallahu a’lam. 

1 Cukup dgn hati dan tdk dilafadzkan dan makan sahur seseorang sudah menunjukkan dia punya niat berpuasa red

Siapa yg Diwajibkan Berpuasa?

Orang yg wajib menjalankan puasa Ramadhan memiliki syarat-syarat tertentu. Telah sepakat para ulama bahwa puasa diwajibkan atas seorang muslim yg berakal baligh sehat mukim dan bila ia seorang wanita mk harus bersih dari haidh dan nifas.
Sementara itu tdk ada kewajiban puasa terhadap orang non muslim orang gila anak kecil orang sakit musafir wanita haidh dan nifas orang tua yg lemah serta wanita hamil dan wanita menyusui.
Bila ada orang non muslim yg berpuasa krn puasa adl ibadah di dlm Islam mk tdk diterima amalan seseorang kecuali bila dia menjadi seorang muslim dan ini disepakati oleh para ulama.
Adapun orang gila ia tdk wajib berpuasa krn tdk terkena beban beramal. Hal ini berdasarkan hadits ‘Ali bin Abi Thalib z
bahwa Rasulullah n
bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقَظَ وَعَنِ الصَّبِي حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Diangkat pena dari 3 golongan: orang gila sampai dia sadarkan diri orang yg tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga dia baligh.”
Meski anak kecil tdk memiliki kewajiban berpuasa sebagaimana dijelaskan hadits di atas namun sepantas bagi orang tua atau wali yg mengasuh seorang anak agar menganjurkan puasa kepada supaya terbiasa sejak kecil sesuai kesanggupannya.
Sebuah hadits diriwayatkan Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x
:
“Utusan Rasulullah n
mengumumkan di pagi hari ‘Asyura agar siapa di antara kalian yg berpuasa mk hendaklah dia menyempurnakan dan siapa yg telah makan mk jangan lagi dia makan pada sisa harinya. Dan kami berpuasa setelah itu dan kami mempuasakan kepada anak-anak kecil kami. Dan kami ke masjid lalu kami buatkan mereka mainan dari wol mk jika salah seorang mereka menangis krn makan kamipun memberikan pada hingga mendekati buka puasa.”
Sementara itu bagi orang2 lanjut usia yg sudah lemah orang sakit yg tdk diharapkan sembuh dan orang yg memiliki pekerjaan berat yg menyebabkan tdk mampu berpuasa dan tdk mendapatkan cara lain utk memperoleh rizki kecuali apa yg dia lakukan dari amalan tersebut mk bagi mereka diberi keringanan utk tdk berpuasa namun wajib membayar fidyah yaitu memberi makan tiap hari satu orang miskin.
Berkata Ibnu Abbas c
:
“Diberikan keringanan bagi orang yg sudah tua utk tdk berpuasa dan memberi makan tiap hari kepada seorang miskin dan tdk ada qadha atasnya.”
Anas bin Malik z
tatkala sudah tdk sanggup berpuasa mk beliau memanggil 30 orang miskin lalu sampai mereka kenyang.
orang2 yg diberi keringanan utk tdk berpuasa namun wajib atas mereka mengganti di hari yg lain adl musafir dan orang yg sakit yg masih diharap kesembuhan yg apabila dia berpuasa menyebabkan kekhawatiran sakit bertambah parah atau lama sembuhnya.
Allah k
berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yg sakit atau dlm perjalanan lalu ia berbuka mk wajib bagi berpuasa sebanyak hari yg ditinggalkan pada hari-hari yg lain.”
Demikian pula bagi wanita hamil dan menyusui yg khawatir terhadap janin atau anak bila dia berpuasa wajib bagi meng-qadha puasa dan bukan membayar fidyah menurut pendapat yg paling kuat dari pendapat para ulama.
Hal ini berdasar hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi z
bersabda Rasulullah n
:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلاَةِ وَالصَّوْمَ وَعَنِ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ

“Sesungguh Allah telah meletakkan setengah shalat dan puasa bagi orang musafir dan bagi wanita menyusui dan yg hamil.”
Yang tdk wajib berpuasa namun wajib meng-qadha di hari lain adl wanita haidh dan nifas.
Telah terjadi kesepakatan di antara fuqaha bahwa wajib atas kedua utk berbuka dan diharamkan berpuasa. Jika mereka berpuasa mk dia telah melakukan amalan yg bathil dan wajib meng-qadha.
Di antara dalil atas hal ini adl hadits Aisyah x
:

كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُأْمَرُ بِقَضَاءِ الصِّيَامِ وَلاَ نُأْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

“Adalah kami mengalami haidh lalu kamipun diperintahkan utk meng-qadha puasa dan tdk diperintahkan meng-qadha shalat.”

Wallohu a’lam

Sumber: www.asysyariah.com


orang yang wajib puasa ramadhan Hukum berpuasa bagh orang gila