Perang Irak mungkin membawa implikasi besar terhadap perekonomian dunia dan juga Indonesia. Ketegangan antara AS dgn sekutunya di satu pihak dan Irak di pihak lain ditambah dgn ketidakpastian di negara penghasil minyak Venezuela menyebabkan harga minyak dunia cenderung tinggi di atas 30 dolar AS/barel. Selain itu perekonomian dunia yg cenderung menurun juga semakin melemah. Sebenarnya sebelum terjadi perisitiwa 11 September 2001 pengeboman WTC perekonomian AS dan dunia pada umumnya telah menunjukkan pelemahan dan diperburuk dgn peristiwa tersebut serta ketegangan dgn Irak. Daya tarik AS sebagai tujuan investasi terutama melalui pasar modalnya menurun drastis dan berakibat pada melemahnya nilai dollar AS. Pemerintahan Bush tampaknya juga tidak dapat berbuat banyak utk memperbaiki keadaan perekonomian bahkan kebijakannya mengurangi pajak itu dikritik sebagai hanya memberikan manfaat kepada golongan kaya. Banyak analis ekonomi di AS mendukung terjadinya Perang Irak yg berjalan cepat utk kemenangan AS dan sekutunya. Menurut mereka kemenangan Perang Irak di tangan AS dan sekutunya akan membuat harga minyak dunia menurun drastis dan mendorong perkembangan pesat perekonomian AS dan dunia. Sedangkan pihak yg menentang Perang Irak mengkhawatirkan perang ini hanya akan memperburuk ketidakpastian dan kemungkinan perang berlarut-larut akan semakin memperburuk perekonomian dunia. Selama ketegangan antara AS dgn sekutunya dan Irak masih berlangsung selama itu pula ketidakpastian membayangi perekonomian dunia. Menurut pandangan ini perbaikan ekonomi AS dan dunia bukanlah melalui Perang Irak tetapi dgn melakukan perubahan struktural di dalam perekonomian negara-negara maju tidak saja AS terutama Jepang dan Jerman. Bagi Indonesia ketidakpastian berkaitan dgn kemungkinan Perang Irak jelas tidak menguntungkan. Naiknya harga minyak di satu sisi menambah pemasukan negara apalagi dgn asumsi harga minyak 22 dolar AS/barel di dalam APBN. Namun di lain pihak hal itu menambah beban krn meningkatnya pengeluaran utk subsidi BBM. Berkaitan dgn permasalahan harga minyak itu pemerintah tampaknya masih dapat mengendalikan antara sisi penerimaan dan pengeluaran dgn baik. Namun ketidakpastian juga menyebabkan sulitnya sasaran ekspor yg diharapkan tumbuh 5 persen pada tahun 2003 sulit utk dicapai. Tujuan ekspor Indonesia utama adl AS dan Jepang ketika permintaan konsumen di AS melemah dan Jepang masih mengalami resesi berkepanjangan. Begitu pula prospek investasi juga semakin buruk. Investasi di Indonesia cenderung terus menurun sejak 2001 dan kemungkinan tidak akan mengalami perbaikan pada 2003 krn permasalahan domestik seperti kepastian hukum dan ditambah lagi dgn ketidakpastian di tingkat internasional berkaitan dgn kemungkinan Perang Irak. Dari sudut pandang eksternal 2003 bukanlah tahun yg menguntungkan bagi perekonomian nasional. Dari sisi domestik konsumsi masyarakat masih merupakan satu-satunya kegiatan ekonomi yg membuat perekonomian nasional menggelinding. Perbankan dalam negeri masih belum dapat berperan optimal dalam mendukung investasi dalam negeri. Peran perbankan masih terbatas pada fasilitasi perkembangan konsumsi masyarakat meskipun tidak dapat terus-menerus demikian. Demikian pula temperatur politik meningkat lbh awal daripada yg diperkirakan dalam menjelang pemilihan umum dan pemilihan presiden secara langsung pada 2004. Dalam situasi demikian kebijaksanaan ekonomi semakin tidak optimal dan menjadi kontroversial seperti kebijakan privatisasi dan pengurangan subsidi BBM yg mendapat tentangan keras masyarakat. Keadaan perekonomian 2003 akan lbh berat daripada tahun 2002 tetapi kebijakan pemerintah belum disesuaikan dgn kemungkinan perkembangan yg terjadi. Jika AS menyerang Irak kemungkinannya adl tidak secepat seperti yg diperkirakan analis yg mendukungnya. Dengan ketidakpastian yg semakin tinggi perekonomian dunia cenderung semakin lemah sekalipun tidak mengalami resesi yg dalam. Reaksi di dalam negeri juga akan cukup besar menentang serangan AS dan sekutunya ke Irak. Namun jika pemerintah dapat menempatkan kebijakan luar negerinya dgn baik tetap berupaya mendukung pelucutan senjata pemusnah massal dan menghindarkan peperangan implikasi politik domestik kemungkinan dapat dikendalikan. Harapan kita adl sekalipun akan terjadi demonstrasi besar menentang Perang Irak tetapi hal ini tidak menciptakan ketidakstabilan sosial yg meluas.Dalam perekonomian tampaknya kecil harapan pada perbaikan ekonomi internasional utk mendorong pemulihan ekonomi nasional. Oleh krn itu fokus kebijakan ekonomi selayaknya ditujukan pada menggerakkan ekonomi domestik. Untuk itu pemerintah yg masih mengusai bank-bank besar semestinya secara bertahap mengarahkan peran bank utk lbh besar dalam investasi domestik tidak harus yg berskala besar tetapi berskala menengah sehingga aspek kehati-hatian perbankan masih dapat dipertahankan. Peluang masih cukup terbuka utk lbh mendinamiskan perekonomian domestik. Pemerintah pusat dan daerah harus bekerja sama secara bertahap utk menciptakan iklim kondusif bagi kegiatan ekonomi domestik dgn memberikan kepastian aturan dan pengurangan berbagai macam pungutan penghambat kegiatan ekonomi. Kerja sama ekonomi regional seperti dgn Cina Korea Taiwan dan Singapura dapat mengurangi dampak negatif dari ketidakpastian di tingkat internasional. Kerja sama itu ditekankan pada perdagangan dan investasi. Kerja sama itu tidak sekadar berupa pembelian aset nasional tetapi terutama dalam menciptakan kegiatan ekonomi baru baik dalam sektor sumber daya alam maupun industri dan perdagangan. Dengan demikian kerjasama itu dapat mendukung penciptaan kesempatan kerja dan mengurangi kontroversi politiknya. . Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

sumber file al_islam.chm


kerja sama indonesia dengan irak dalam pengertian politik dan negara kondisi perbankan di irak