Isti’dzan

penulis Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah Bintu ‘Imran
Sakinah Permata Hati 09 - April - 2006 09:04:05

Kakak memperkosa adik gara-gara sering melihat adegan mesra orang tua memang bukan berita baru lagi. Namun satu hal yg pasti itu semua jelas membuat kita prihatin. Sudah demikian rusakkah moral anak-anak kita? Atau jangan-jangan kita tdk pernah menyadari bahwa kita sendiri juga turut “menciptakan” fantasi kotor anak-anak kita selain tentu saja film atau klip porno melalui VCD atau handphone?

Mendidik dan membesarkan anak tentu penuh liku-liku dan punya seluk-beluk tersendiri. Sehingga orang tua mesti memiliki andil dlm berbagai sisi kehidupan si anak. Mulai pemeliharaan kesehatan badan menanamkan akidah yg benar membiasakan akhlak yg mulia hingga menjaga kebersihan jiwa seorang anak.
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya krn Islam adl agama yg bersih yg menjaga agar angan-angan akal hati dan lisan anak senantiasa dlm keadaan bersih. Di antara sekian banyak hal yg harus dilakukan utk menjaga kebersihan jiwa seorang anak ada satu hal yg teramat sering dilupakan orang tua. Padahal permasalahan ini diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm Kitab-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِيْنَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِيْنَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَحِيْنَ تَضَعُوْنَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيْرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ثَلاَثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَ عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُوْنَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ اْلآيَاتِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ. وَإِذَا بَلَغَ اْلأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ آيَاتِهِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

“Wahai orang2 yg beriman hendaklah budak laki2 dan wanita yg kalian miliki dan orang2 yg belum baligh di antara kalian meminta izin kepada kalian tiga kali yaitu sebelum shalat subuh ketika kalian menanggalkan pakaian di tengah hari dan setelah shalat ‘Isya. Itulah tiga aurat bagi kalian. Tidak ada dosa atasmu dan tdk pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani kalian sebagian ada keperluan atas sebagian yg lainnya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat ini bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha sempurna hikmah-Nya. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh mk hendaklah mereka meminta izin seperti orang2 yg sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Dalam ayat yg mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum mukminin agar budak-budak yg mereka miliki dan anak-anak yg belum ihtilam meminta izin kepada mereka pada tiga keadaan. Pertama sebelum shalat subuh krn pada saat itu orang2 tengah tidur di pembaringan mereka; kedua ketika kalian menanggalkan pakaian di tengah hari yaitu pada waktu tidur siang krn pada saat itu terkadang seseorang menanggalkan pakaian bersama istrinya; ketiga setelah shalat ‘Isya krn ini adl waktu tidur. Karena itulah para budak maupun anak-anak diperintahkan agar mereka tdk masuk menemui ahlul bait tanpa izin pada keadaan-keadaan ini. Sebab dikhawatirkan saat itu seseorang sedang berada dlm posisi di atas istri atau hal-hal semacam itu.
Umum pada waktu-waktu ini seseorang bersama istri tengah menanggalkan pakaian krn ini adl waktu-waktu jima’. mk orang tua diperintahkan utk mengajari anak-anak mereka yg telah mumayyiz yg belum mencapai usia baligh utk meminta izin kepada mereka pada waktu-waktu ini. Karena terkadang seorang anak ketika masuk menemui orang tua mendapati mereka dlm keadaan yg tdk semesti dilihat seperti menanggalkan pakaian jima’ atau yg lainnya. Kemudian si anak keluar sementara di benak telah tergambar pemandangan yg dilihat dari ibu atau ayah hingga mengotori pikirannya. Dia pun berupaya mencari cara utk mempraktekkan apa yg dilihatnya. Hingga bisa jadi dia praktekkan dgn tetangga atau teman wanitanya. Bahkan dgn saudara perempuan terutama dlm rumah yg tdk terjaga dan yg tempat tidur anak laki2 dan perempuan tdk dipisah. mk sangat mungkin anak laki2 yg tidur di sisi saudara perempuan dlm keadaan dia telah melihat pemandangan yg begitu menggelorakan dari ayah dan ibu kemudian melakukan bersama saudara perempuannya. Sesungguh setan sangat menginginkan kerusakan hingga terkadang setan menuntun menuju kerusakan dan kehinaan bersama saudara perempuannya.
Pada ketiga keadaan inilah para budak dan anak-anak kecil seperti orang lain tdk diperkenankan masuk tanpa izin. Adapun pada selain ketiga keadaan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَ عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ .
Mereka tdk seperti yg lain krn penghuni rumah itu senantiasa membutuhkan mereka sehingga sulit bagi mereka bila harus meminta izin pada tiap waktu. Oleh krn itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: طَوَّافُوْنَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ Mereka keluar masuk menemui kalian utk meringankan kesibukan dan menunaikan kebutuhan kalian.
Inilah ayat Allah yg muhkamat dan tidaklah terhapus ayat ini hingga hari ini. Namun sangat disayangkan perintah yg agung ini banyak dilupakan. Sampai-sampai Abdullah ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan:

لَمْ يُؤْمِنْ بِهَا أَكْثَرُ النَّاسِ آيَةُ الإِذْنِ، وَإِنِّي لآمُرُ جَارِيَتِي هَذِهِ تَسْتَأْذِنُ عَلَيَّ

“Satu ayat yg kebanyakan orang tdk mengimani yaitu ayat tentang izin. Dan sungguh aku memerintahkan budak perempuanku ini utk meminta izin kepadaku.” Abu Dawud berkata: Demikianlah ‘Atha` meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau memerintahkan hal ini.
Suatu ketika Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah dita penduduk Iraq “Wahai Ibnu ‘Abbas bagaimana pandanganmu tentang ayat yg diperintahkan kepada kami namun tdk diamalkan oleh seorang pun yakni firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِيْنَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِيْنَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَحِيْنَ تَضَعُوْنَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيْرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ثَلاَثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَ عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُوْنَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ اْلآيَاتِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ. وَإِذَا بَلَغَ اْلأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ آيَاتِهِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

“Wahai orang2 yg beriman hendaklah budak laki2 dan wanita yg kalian miliki dan orang2 yg belum baligh di antara kalian meminta izin kepada kalian tiga kali yaitu sebelum shalat subuh ketika kalian menanggalkan pakaian di tengah hari dan setelah shalat ‘Isya. Itulah tiga aurat bagi kalian. Tidak ada dosa atasmu dan tdk pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani kalian sebagian ada keperluan atas sebagian yg lainnya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat ini bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha sempurna hikmah-Nya. Dan apabila anak-anak-mu telah sampai umur baligh mk hendaklah mereka meminta izin seperti orang2 yg sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma menjawab:

إِنَّ اللهَ حَلِيْمٌ رَحِيْمٌ بِالْمُؤْمِنِيْنَ يُحِبُّ السَّتْرَ، وَكَانَ النَّاسُ لَيْسَ لَِبُيُوْتِهِمْ سُتُوْرٌ وَلاَ حِجَالٌ، فَرُبَّمَا دَخَلَ الخَادِمُ أَوِ الوَلَدُ أَوْ يَتِيْمُهُ وَالرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ، فَأَمَرَ اللهُ بِاْلإِسْتِئْذَانِ فِي تِلْكَ العَوْرَاتِ، فَجَاءَهُمُ اللهُ بِالسُّتُوْرِ وَالخَيْرِ، فَلَمْ أَرَ أَحَدًا يَعْمَلُ بِذَلِكَ بَعْدُ

“Sesungguh Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang terhadap kaum mukminin Dia mencintai tabir. Sementara orang2 dahulu rumah-rumah mereka tdk memiliki tabir ataupun penutup sehingga terkadang budak anak atau anak yatim masuk dlm keadaan seseorang sedang berada di atas istrinya. mk Allah memerintahkan utk meminta izin pada waktu-waktu aurat tersebut. Namun kemudian Allah datangkan pada mereka tabir dan kebaikan sehingga setelah itu aku tdk melihat seorang pun mengamalkannya.” 1
Demikian pula Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullahu membawakan riwayat yg sanad sampai kepada Asy-Sya’bi rahimahullahu tentang firman Allah: لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِيْنَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ .
Asy Sya’bi rahimahullahu mengatakan “Ayat ini tdk dihapus.” Aku pun berkata “Sesungguh orang2 tdk mengamalkannya.” Beliau menjawab “Allahul musta’an .”
Demikianlah satu hal yg tdk boleh diremehkan orang tua dlm mendidik anak-anak agar tumbuh diri dlm keadaan bersih hingga menuai keberuntungan di dunia dan di akhirat. Selayak orang tua memperhatikan dan menerapkan dlm keseharian.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

1 Disebutkan dlm riwayat yg lain dari Ibnu ‘Abbas c:

ثُمَّ جَاءَ اللهُ بَعْدُ بِالسُّتُوْرِ فَبَسَطَ اللهُ عَلَيْهِمُ الرِّزْقَ فَاتَّخَذُوا السُّتُوْرَ وَاتَّخَذُوا الْحِجَالَ، فَرَأَى النَّاسُ أَنَّ ذَلِكَ قَدْ كَفَّاهُمْ مِنَ اْلاِسْتِأْذَانِ الَّذِي أُمِرُوا بِهِ

“Setelah itu Allah mendatangkan tirai dan Allah luaskan rizki utk mereka mk merekapun membuat tirai dan penutup. mk orang2 memandang bahwa hal itu mencukupi mereka dari isti`dzan yg diperintahkan utk mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/315 cetakan Darul Ma’rifah Beirut}
Abu Bakr Al-Jashshash mengatakan: “Dalam riwayat tersebut Ibnu ‘Abbas memberitakan bahwa perintah utk meminta izin dlm ayat ini terkait dgn suatu sebab. Sehingga ketika sebab itu tdk ada mk hukum itu pun tdk berlaku. Ini menunjukkan beliau tdk berpendapat bahwa ayat tersebut mansukh dan bahwa bila sebab yg semacam itu muncul lagi mk hukum itu pun akan berlaku.”
Lihat pula penjelasan yg semakna dlm ‘Aunul Ma’bud dan Tafsir Al-Qurthubi . –ed

Kebaikanku Untukmu

Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah Bintu ‘Imran

Ketika melihat seorang anak yg berperangai buruk tdk jarang orang berkata: Buah jatuh tdk jauh dari pohonnya. Pepatah ini menggambarkan bahwa keadaan seorang anak biasa tdk beda jauh dgn keadaan orang tuanya. Barangkali memang ada benarnya. Di dlm syariat Islam juga diterangkan bahwa amalan yg biasa dikerjakan orang tua entah baik atau buruk sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak-anaknya. Karena orang tua dianjurkan utk banyak melakukan amal shalih agar bisa menular kepada anak-anaknya.

Setiap orang tua yg mendambakan anak-anak menjadi anak yg shalih selayak tdk hanya memfokuskan perhatian pada tingkah laku anak-anak semata. Semesti dia juga tdk melalaikan dirinya. Dia akan membiasakan dan menyibukkan diri dgn amalan-amalan yg baik krn kebaikan yg dia lakukan akan membuahkan kebaikan bagi sang anak di dunia dan di akhirat kelak. Sebalik dia akan berupaya menjauhi perbuatan-perbuatan buruk krn hal itu akan menimbulkan pengaruh buruk dlm perjalanan mendidik anak-anaknya.
Terkadang bentuk balasan amalan orang tua terwujud pada diri anak-anak baik dlm bentuk kebaikan si anak penjagaan kelapangan rizki serta kesehatan mereka ataupun dlm bentuk penyimpangan mereka musibah penyakit dan segala problem yg menimpa mereka. Oleh krn itulah orang tua harus memperbanyak amalan shalihah hingga dampak pun mengalir pada diri anak-anaknya.
Perbuatan baik yg dilakukan orang tua akan berbuah barakah dan balasan yg baik dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini tercermin dlm kisah yg terabadikan dlm Al-Qur`an tatkala Nabiyullah Musa ‘alaihissalam bersama Nabiyullah Khidhir ‘alaihissalam mendatangi suatu daerah dan meminta penduduk agar menjamu mereka. Namun penduduk di daerah itu menolak. Lalu mereka berdua mendapati di situ ada sebuah dinding yg miring hampir roboh. Nabi Khidhir ‘alaihissalam pun memperbaiki hingga membuat Nabi Musa ‘alaihissalam keheranan dan mengatakan “Seandai engkau mau engkau bisa meminta upah dari mereka.”
Ternyata inilah jawaban dari peristiwa yg mengherankan itu:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلاَمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوْهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding itu milik dua orang anak yatim di kota ini dan di bawah tersimpan harta milik mereka berdua sementara ayah mereka adl seorang yg shalih. mk Rabbmu menghendaki mereka berdua mencapai usia dewasa dan mengeluarkan harta simpanan itu sebagai rahmat dari Rabbmu.”
Keadaan kedua anak yatim itu menimbulkan perasaan iba dan kasih sayang terhadap mereka krn mereka adl dua orang anak kecil yg tdk memiliki ayah. mk Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga mereka berdua krn kebaikan ayah mereka.
Kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala ini menunjukkan bahwa seorang yg shalih akan terjaga keturunan dan barakah ibadah akan meliputi mereka di dunia dan di akhirat nanti dgn ada syafaat orang yg shalih itu bagi keturunan serta diangkat derajat anak keturunan itu hingga mencapai derajat paling tinggi di dlm surga agar menyenangkan hati orang shalih tersebut sebagaimana hal ini pun dijelaskan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Sa’id bin Jubair rahimahullahu meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu “Mereka berdua dijaga dgn sebab keshalihan ayah mereka.”
Di samping itu orang tua harus menjaga makanan minuman dan pakaian yg dikenakannya. Hal ini jelas memiliki pengaruh pada keshalihan anak krn orang tua tdk lepas dari doa kebaikan bagi anak-anak mereka. Dengan demikian dia menadahkan tangan utk memohon kebaikan anak-anak mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn tangan yg bersih dan jiwa yg suci hingga terkabul permohonannya.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

“Sesungguh Allah hanya menerima amalan orang2 yg bertakwa.”
Tentang hal ini Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ. فَقَالَ: وَقَالَ: ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ. وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Wahai manusia sesungguh Allah itu baik dan tdk menerima kecuali yg baik dan Allah memerintahkan kepada orang2 yg beriman apa yg Dia perintahkan terhadap para rasul. Allah berfirman ‘Wahai para rasul makanlah makanan yg baik-baik dan berbuatlah amalan shalih sesungguh Aku Maha Mengetahui segala yg kalian perbuat.’ Dan Allah berfirman ‘Wahai orang2 yg beriman makanlah makanan yg baik yg Kami rizkikan kepada kalian.’ Kemudian beliau menyebutkan tentang seseorang yg menempuh perjalanan panjang dlm keadaan kusut masai rambut dan berdebu menadahkan kedua tangan ke langit ‘Wahai Rabbku wahai Rabbku!’ sementara makanan haram minuman haram pakaian haram dan disuapi dgn sesuatu yg haram. Bagaimana bisa dikabulkan doanya?”
Diriwayatkan salah seorang dari kalangan Salaf berkata kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ، لأَزِيْدَنَّ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِكَ

“Wahai anakku sungguh aku akan memperbanyak shalatku karenamu.”
Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya: Aku akan shalat sebanyak mungkin dan berdoa sebanyak mungkin dlm shalatku.
Sisi lain penting amalan shalih orang tua bagi anak anak yg senantiasa melihat orang tua melaksanakan ketaatan dan kebaikan akan mendapati teladan yg baik. Anak akan mencontoh perbuatan baik yg dilakukan orang tua hingga dia pun akan terbiasa melakukannya. Sebalik anak yg biasa menyaksikan perbuatan-perbuatan mungkar yg dilakukan orang tua akan terbiasa dgn hal itu dan dia pun akan mencontoh perbuatan mungkar itu pula. Wal ‘iyadzu billah!
Selain itu pula amalan shalih orang tua akan membuahkan pujian orang terhadap si anak. Apabila orang memuji dan menyebut-nyebut kebaikan yg dilakukan orang tua di hadapan si anak anak pun akan besar jiwa dan termotivasi utk turut melakukan perbuatan-perbuatan yg baik. Sementara amalan buruk akan menggiring celaan dan hinaan orang terhadapnya. Apabila seorang anak mendengar orang2 menjuluki dgn julukan jelek maupun mencela krn perbuatan ayah hal ini pun nanti akan mempengaruhi dan merusak jiwa anak.
Tak hanya di dunia buah kebaikan itu dapat diraih bahkan di akhirat pun anak akan menuai kebaikan krn keshalihan orang tuanya. Demikian yg difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِيْنَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيْمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ

“Dan orang2 yg beriman dan yg anak keturunan mereka yg mengikuti mereka dlm keimanan akan Kami pertemukan anak keturunan mereka itu dgn mereka dan Kami tdk mengurangi pahala amalan mereka sedikit pun. Setiap orang terikat dgn apa yg diusahakannya.”
Dalam firman-Nya ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang keutamaan-Nya kedermawanan-Nya anugerah-Nya kelembutan-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya serta kebaikan-Nya bahwa orang2 yg beriman apabila anak keturunan mereka mengikuti mereka dlm keimanan mk Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mempertemukan anak keturunan itu dgn ayah mereka yg shalih walaupun amalan anak keturunan itu tdk bisa menyamai amalan ayah mereka utk menyenangkan hati ayah mereka dgn ada anak keturunan itu di sisinya. mk Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun mereka dlm bentuk yg paling baik dgn mengangkat derajat orang yg kurang sempurna amalan di sisi orang yg sempurna amalan tanpa mengurangi pahala amalan dan derajat orang yg sempurna amalan tersebut.
Demikian pulalah doa para malaikat yg memikul ‘Arsy dan para malaikat yg di sekeliling ‘Arsy bagi orang2 yg beriman:

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Wahai Rabb kami masukkanlah mereka ke dlm surga `Adn yg telah Engkau janjikan kepada mereka beserta orang2 yg shalih dari kalangan ayah-ayah mereka istri-istri mereka dan anak-anak mereka.”
Para malaikat itu memohon kumpulkanlah di antara mereka utk menyenangkan hati mereka dgn mempertemukan mereka pada tempat-tempat yg berdampingan.
Dengan begitu layaklah kira tiap orang tua mempersiapkan segala amalan shalih yg tdk hanya membawa kebaikan bagi dirinya. Namun lbh dari itu kebaikan itu pun akan merambah pada anak keturunan di dunia dan di akhirat.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber: www.asysyariah.com

Related Post:
  • Memuliakan Anak Perempuan
  • Saudariku Sampai kapan kau terlena?
  • Wujudkan Anganmu dlm Bimbingan Ilmu
  • Allah Selalu Bersamamu
  • Seruan Itu Telah Bergema, Anakku…..
  • Lemahnya Hujjah Taqlid
  • Menebar Keangkuhan Menuai Kehinaan
  • Berlatih Puasa
  • Teman Buat Anakku
  • Tawadhu’
  • Ar-Radha’ (Hukum Penyusuan)
  • Madu, Si Manis Yang Menyehatkan
  • Bentuk-Bentuk Tasyabbuh
  • Ruqoyyah dan Ummu Kultsum radhiallahu ‘anhuma Kisah Perjalanan Dua Cahaya
  • Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam

  • Tag : , , , , , , , , , , , , , , , , , , , adab al istidzan adab al-istidzan adab istidzan al istidzan AL ISTI’DZAN amalan untuk orangtua cara shalat subuh definisi al-istidzan doa arsy doa pajang umur islam
    You can leave a response, or trackback from your own site.