Jadikan Istirahatmu Bernilai di Sisi Allah

penulisĀ Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
Syariah Akhlak 31 - Januari - 2006 19:26:10

dlm Islam tiap amalan sekecil apapun bisa bernilai ibadah. Beristirahat misalnya. Ia tdk sekedar rutinitas melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Namun bisa menjadi pohon yg berbuah pahala. Bagaimana amalan yg nyata-nyata telah menjadi kebutuhan kita sehari-hari ini bisa bernilai ibadah? Simak bahasan berikut!

Hidup memang sebuah pengorbanan dan perjuangan. Berjuang dan berkorban adl sesuatu yg melelahkan dan memberatkan dan ketika lelah tentu butuh ketenangan dan istirahat. Namun tdk semua orang bisa dgn mudah mendapatkan ini semua. Ada yg hanya bisa beristirahat satu atau dua jam saja tiap harinya. Hidup dipenuhi dgn aktivitas dan kesibukan yg luar biasa. Sehingga kesempatan beristirahat merupakan sebuah keni’matan dan kasih sayang Allah k
yg mesti kita syukuri.
Namun di masa kini manusia dihadapkan pada pola hidup yg menuhankan materi. Hidup di dunia seolah-olah hanya utk mencari uang atau materi. Manusia diposisikan sebagai alat produksi yg senantiasa dituntut produktif. Dengan kata lain segala aktivitas harus ada timbal balik secara materi. Pekerjaan adl no. 1 sementara keharmonisan keluarga interaksi sosial dgn masyarakat adl nomor kesekian. Walhasil manusia pun tdk ubah seperti robot. Ini jelas menyelisihi fitrah manusia. Allah k
menjelaskan di dlm Al-Qur`an:

وَخُلِقَ اْلإِنْسَانُ ضَعِيْفًا

“Dan manusia diciptakan dlm keadaan lemah.”
As-Sa’di t
mengatakan: “ arti kemudahan dlm segala perintah dan larangan-Nya atas kalian. Kemudian bila kalian menjumpai kesulitan dlm beragama mk Allah k
telah menghalalkan bagi kalian sesuatu yg kalian butuhkan seperti bangkai darah dan selain kedua bagi orang yg mudhthar1 dan seperti boleh bagi orang yg merdeka menikahi budak wanita dgn syarat di atas. Hal ini sebagai bukti sempurna kasih sayang Allah k
kebaikan yg mencakup ilmu dan hikmah-Nya atas kelemahan manusia dari semua sisi. Lemah tubuh lemah niat lemah kehendak lemah keinginan lemah iman dan lemah kesabaran. Berdasarkan semua ini sangat sesuai jika Allah k
meringankan atas mereka perkara yg dia tdk sanggup utk melakukan dan segala apa yg tdk sanggup dipenuhi oleh keimanan kesabaran dan kekuatan dirinya.”
Dan krn kelemahan itu Allah Maha Bijaksana di dlm menentukan waktu kehidupan bagi mereka. Allah k
menjadikan malam dan siang memiliki hikmah tersendiri. Dan ada malam dan siang itu menunjukkan kasih sayang Allah k
terhadap hamba-hamba-Nya dan manakah dari hamba-Nya yg mau mensyukurinya?
Allah k
berfirman:

فَالِقُ اْلإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam utk beristirahat dan matahari dan bulan utk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yg Maha perkasa lagi Maha Mengetahui.”

هُوَالَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيْهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتِ لِقَوْمِ يَسْمَعُوْنَ

“Dialah yg telah menjadikan malam bagi kalian supaya kalian beristirahat pada dan siang terang benderang . Sesungguh pada yg demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang2 yg mendengar.”

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُوْرًا

“Dialah yg menjadikan utk kalian malam sebagai pakaian dan tidur utk istirahat dan Dia menjadikan siang utk bangun berusaha.”

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan krn rahmat-Nya Dia jadikan utk kalian malam dan siang supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebahagian dari karunia-Nya dan agar kalian bersyukur kepada-Nya.”
Dan masih banyak lagi ayat yg semakna dgn di atas. Semua menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah k
terhadap hamba-hamba-Nya dan bahwa Allah k
telah melimpahkan kepada mereka segala yg mereka butuhkan dlm pengabdian dan ibadah kepada Allah k
. Namun mengapa kebanyakan manusia ingkar kepada-Nya?
Dan kita semua berkeinginan agar tidur sebagai salah satu bentuk istirahat bukan hanya sebagai ketundukan kepada sunnatullah semata. Kita juga ingin agar tidur kita mendapatkan nilai ibadah tambahan dari sisi Allah k
. Allah k
melalui lisan Rasul-Nya Muhammad n
telah mengajarkan kepada kita beberapa adab di dlm tidur.

Berwudhu Sebelum Tidur
Termasuk Sunnah Rasulullah n
adl berwudhu sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar tiap muslim bermalam dlm keadaan suci sehingga bila ajal datang menjemput diapun dlm keadaan suci. Dan sunnah ini menggambarkan bentuk kesiapan seorang muslim utk memenuhi panggilan kematian dlm keadaan suci hatinya. Dan jelas bahwa kesucian hati lbh diutamakan daripada kesucian badan. Dan sunnah ini juga akan mengarahkan pada mimpi yg baik dan menjauhkan diri dari permainan setan yg akan menimpanya.
Tentang sunnah ini Rasulullah n
telah menjelaskan dlm sabda beliau:

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْئَكَ لِلصَّلاَةِ..

Dari Al-Bara` bin ‘Azib z
berkata: “Rasulullah n
bersabda kepadaku: ‘Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu mk berwudhulah kamu sebagaimana wudhumu utk shalat.”2
Al-Imam Al-Bukhari di dlm Shahih beliau menulis sebuah bab: “Apabila Bermalam dlm Keadaan Suci”. Al-Hafizh Ibnu Hajar t
mengatakan: “Sungguh terdapat hadits-hadits yg menjelaskan makna ini yg tdk memenuhi syarat Al-Bukhari dlm Shahih- di antara hadits Mu’adz z
:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيْتُ عَلَى ذِكْرٍ طَاهِرًا فَيَتَعَارُُُّ مِنَ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Tidaklah seorang muslim tidur di malam hari dgn berdzikir dan dlm keadaan suci kemudian dia terbangun dari tidur di malam hari kemudian dia meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat melainkan Allah akan memberikan itu kepadanya.”3
Dan beliau mengatakan: “Perintah adl sunnah .” Beliau mengatakan juga: “At-Tirmidzi mengatakan: ‘Tidak ada di dlm hadits-hadits penyebutan wudhu ketika tidur melainkan di dlm hadits ini’.”
Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Di dlm hadits ini terdapat tiga sunnah yg penting namun bukan wajib. Salah satu di antara adl berwudhu ketika ingin tidur. Dan bila dia dlm keadaan berwudhu mk cukup bagi krn yg dimaksud adl dlm keadaan suci.”
Demikianlah sunnah yg tdk ditinggalkan oleh Rasulullah n
ketika hendak tidur yg semesti kita sebagai muslim memperhatikannya. Abdullah bin ‘Abbas c
bercerita:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَقَضَى حَاجَتَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ نَامَ

“Bahwa Rasulullah n
terjaga di suatu malam lalu beliau menunaikan hajat dan kemudian membasuh wajah dan tangan lalu tidur.”4

Mengibas Tempat Tidurnya
Satu dari sekian sunnah yg diajarkan oleh Rasulullah n
berkaitan dgn adab tidur adl mengibas tempat tidur. Ini dimaksudkan agar tdk terjadi sesuatu yg membahayakan diri seperti binatang berbisa baik ular kalajengking dan sebagainya. Ini dilakukan tdk dgn tangan langsung supaya terhindar dari sesuatu yg mengotori sekira terdapat najis atau kotoran.
Rasulullah n
bersabda:

إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضُ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لاَيَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian beranjak menuju tempat tidur mk hendaklah dia mengibas tempat tidur krn dia tdk mengetahui apa yg akan terjadi kemudian.”5

فَإِنَّهُ لاَيَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ
“Dia tdk mengetahui apa yg terjadi kemudian” arti kata Al-Imam At-Thibi: “Dia tdk mengetahui apa yg akan terjatuh di ranjang berupa tanah kotoran atau serangga bila dia meninggalkannya.”
Ibnu Baththal mengatakan: “Di dlm hadits ini terdapat adab yg besar dan telah disebutkan hikmah dlm hadits yaitu dikhawatirkan sebagian serangga yg berbahaya bermalam di tempat tidur dan mengganggunya.
Al-Qurthubi mengatakan: “Diambil faedah dari hadits ini bahwa sepantas bagi orang yg akan tidur utk mengibas tempat tidur krn dikhawatirkan terdapat sesuatu yg basah tersembunyi atau selainnya.”
Ibnul ‘Arabi mengatakan: “Di dlm hadits ini terdapat peringatan dan agar seseorang mengetahui sebab-sebab tertolak taqdir yg jelek. Dan hadits ini sama dgn hadits: “Ikatlah ontamu kemudian bertawakkal.”

Tidur di Atas Lambung Sebelah Kanan
Kesempurnaan Islam adl sebuah keistimewaan yg diberikan kepada umat Rasulullah n
dan menunjukkan keutamaan mereka atas umat-umat terdahulu. Sungguh merugi bila akal perasaan adat istiadat ajaran nenek moyang dijadikan sebagai hakim atas kesempurnaannya.
Segala perintah larangan dan bimbingan yg ada di dlm adl demi kemaslahatan manusia. Akan tetapi berapa banyak dari mereka yg mau menerima bimbingan? Yang ingkar lbh banyak daripada yg beriman dan yg menentang lbh banyak daripada yg taat dan yg menolak lbh banyak dari yg menerima.
Hikmah yg terkandung dlm bimbingan Rasulullah n
utk tidur di atas lambung kanan adl lbh cepat utk terjaga jantung bergantung ke arah sebelah kanan sehingga tdk menjadi berat bila ketika tidur.
Ibnul Jauzi berkata: “Cara seperti ini sebagaimana telah dijelaskan ilmuwan-ilmuwan kedokteran sangat berfaedah bagi badan. Mereka mengatakan: ‘Mereka mengawali sesaat tidur di atas lambung sebelah kanan kemudian di atas lambung sebelah kiri krn tertidur. pertama akan menurunkan makanan dan tidur di atas lambung kiri akan menghancurkan dan dikarenakan hati lambung.”
Rasulullah n
bersabda:

ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ اْلأَيْمَنِ

“Lalu tidurlah di atas lambungmu yg kanan.”6

Meletakkan Tangan di Bawah Pipi
Tata cara ini dijelaskan oleh Hudzaifah ibnul Yaman c
:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ

“Adalah Rasulullah n
apabila beliau tidur di malam hari beliau meletakkan tangan beliau di bawah pipi.”7

Berdoa Sebelum Tidur

كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ قَالَ: اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ

“Rasulullah n
apabila akan tidur beliau berdoa: ‘Ya Allah dgn menyebut nama-Mu aku hidup dan dgn menyebut namamu aku mati .”8

Membaca Dzikir-dzikir Tidur
Dzikir-dzikir tidur yg ada dan shahih riwayat dari Rasulullah n
sangatlah banyak dan buku-buku yg ditulis dlm masalah ini bertebaran di tengah kaum muslimin. Di antara dzikir-dzikir tersebut adalah:
a. Membaca ta’awwudz dan meniup telapak tangan lalu mengusapkan ke seluruh anggota tubuh.
Hal ini berdasarkan hadits yg dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ نَفَثَ فِي يَدَيْهِ وَقَرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَمَسَحَ بِهِمَا جَسَدَهُ

“Adalah Rasulullah n
apabila beliau akan tidur beliau meniup kedua tangan beliau dan membaca mu’awwidzat lalu mengusap dgn itu seluruh jasadnya.”9
Apa yg dimaksud dgn ayat-ayat perlindungan? Dan bagaimana tatacara yg dipraktekkan Rasulullah n
?
Telah dijelaskan dlm riwayat Abu Dawud tentang yg dimaksud dgn doa perlindungan dan tatacara yaitu:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا وَقَرَأَ فِيْهِمَا وَ وَ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Dari ‘Aisyah bahwa Nabi n
apabila menuju tempat pembaringan pada tiap malam beliau menghimpun kedua telapak tangan beliau kemudian meniup dan membaca Qul Huwallahu Ahad dan Qul A’udzubirabbil Falaq dan Qul A’udzubi Rabbi An-Nas kemudian dia mengusap seluruh tubuh beliau dan beliau memulai dari kepala kemudian wajah dan bagian depan jasad dan beliau lakukan hal itu tiga kali.”10
b. Membaca takbir tahmid dan tasbih 33 kali.
Al-Imam Al-Bukhari v
mengatakan:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْحَكَمِ: سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي لَيْلَى قَالَ: حَدَّثَنَا عَلِيٌّ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ شَكَتْ مَا تَلْقَى مِنْ أَثَرِ الرَّحَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ. فَانْطَلَقَتْ فَلَمْ تَجِدْهُ فَوَجَدَتْ عَائِشَةَ فَأَخْبَرَتْهَا. فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِيءِ فَاطِمَةَ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا فَذَهَبْتُ لأَقُوْمَ فَقَالَ: عَلَى مَكَانِكُمَا. فَقَعَدَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِي، وَقَالَ: أَلاَ أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَانِي؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا تُكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلاَثِيْنَ وَتُسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَتَحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepadaku: Ghundar telah menceritakan kepada kami: Syu’bah telah menceritakan kepada kami dari Al-Hakam: Aku telah mendengar Ibnu Abi Laila berkata: “‘Ali telah menceritakan kepadaku bahwa Fathimah mengeluhkan apa yg beliau dapati krn menumbuk . Kemudian dibawakan kepada Nabi n
seorang tawanan dan aku segera mendatangi Nabi n
. Akan tetapi aku tdk menjumpai dan beliau menjumpai ‘Aisyah lalu Fathimah menceritakan kepada ‘Aisyah. Ketika Rasulullah n
datang ‘Aisyah memberitahukan tentang kedatangan Fathimah kemudian Rasulullah n
mendatangi kami sedangkan kami telah tidur. Lalu aku berusaha bangun beliau berkata: “Tetaplah kalian di tempat kalian.” Lalu beliau duduk di antara kami dan aku merasakan dingin kedua kaki beliau yg diletakkan di atas dadaku dan beliau bersabda: “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yg lbh baik dari apa yg kalian minta kepadaku yaitu bila kalian akan tidur bertakbirlah 34 kali bertasbih 33 kali dan bertahmid 33 kali lbh baik bagi kalian dari pada memiliki pembantu .”
c. Membaca doa di bawah ini:

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَامَ عَلَى شِقِّهِ اْلأَيْمَنِ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَهُنَّ ثُمَّ مَاتَ تَحْتَ لَيْلَتِهِ مَاتَ عَلَى الْفِطْرَةِ

Dari Al-Bara` bin ‘Azib berkata: Adalah Rasulullah n
apabila beliau menuju tempat pembaringan beliau tidur di atas lambung sebelah kanan kemudian berdoa: “Ya Allah aku serahkan diriku kepada-Mu dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu dan aku serahkan semua urusanku kepada-Mu dan aku bentangkan punggungku di hadapan-Mu dgn penuh harapan dan rasa takut dari-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan keselamatan melainkan kepada-Mu aku beriman kepada kitab yg Engkau telah turunkan dan Nabi yg Engkau telah utus” dan Rasulullah n
bersabda: “Barangsiapa mengatakan lalu dia meninggal pada malam itu mk dia meninggal di atas fitrah.”11
c. Membaca doa di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُ بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Dari Abu Hurairah z
berkata: “Rasulullah n
bersabda: Apabila salah seorang dari kalian menuju tempat tidur hendaklah dia mengibas dgn bagian dlm kain krn dia tdk mengetahui apa yg akan terjadi kemudian. Lalu dia berdoa: ‘Dengan menyebut nama-Mu wahai Rabb aku meletakkan lambungku dan karena-Mu pula aku mengangkat dan jika Engkau mencabut ruhku mk rahmatilah dia dan jika Engkau melepaskan mk jagalah dia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yg shalih’.”12
Wallahu a’lam.

1 Orang yg sangat membutuhkan dan bila dia tdk melakukan niscaya akan binasa seperti orang yg bepergian sementara bekal habis di perjalanan dan dia dlm keadaan sangat lapar yg dapat mengancam jiwa . mk agama memperbolehkan memakan segala apa yg didapati seperti bangkai darah babi anjing dan sebagai utk memenuhi kebutuhan di saat itu saja. Ibnu Atsir di dlm kitab An-Nihayah menjelaskan: “Sesungguh dihalalkan bangkai bagi orang yg mudhthar hanyalah sebatas memakan apa yg akan menutup lapar di pagi atau malam dan tdk boleh menjadikan bekal antara kedua
2 HR. Al-Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710
3 HR. Abu Dawud di dlm Sunan beliau no. 5042 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dlm kitab Shahih Sunan Abu Dawud no 5042 Al-Misykat no. 1215 dan di dlm kitab At-Ta’liq Ar-Raghib 1/207-208.
4 HR. Al-Bukhari no. 6316 dan Abu Dawud no. 5043 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dlm kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 4217.
5 HR. Al-Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714
6 HR. Al-Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710
7 HR. Al-Bukhari no. 6314
8 HR. Muslim dan Ahmad dari shahabat Al-Bara’ bin ‘Azib z
. Dari shahabat Hudzaifah ibnul Yaman c
dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dgn lafadz yg berbeda dgn lafadz Al-Imam Muslim:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يُقُوْلُ: اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

Dan yg semakna dgn hadits ini diriwayatkan dari shahabat Abu Dzar z
dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari .
9 HR. Al-Bukhari no. 6319 Muslim Abu Dawud no. 5057 Ibnu Majah dan Ahmad no. 23708 dari shahabat ‘Aisyah x
.
10 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dlm kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 4228
11 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 6315 dan Muslim no. 2710
12 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714 lafadz ini adl lafadz Al-Bukhari

Sumber: www.asysyariah.com


mengapa allah menjadikan malam dan siang QS tentang malam