Kedudukan Akal dlm Islam

penulisĀ Al Ustadz Qomar Suaidi Lc
Syariah Kajian Utama 08 - Oktober - 2004 10:58:50

Akal adl ni’mat besar yg Allah titipkan dlm jasmani manusia. Nikmat yg bisa disebut hadiah ini menunjukkan akan kekuasaan Allah yg sangat menakjubkan.
Oleh karena dlm banyak ayat Allah memberi semangat utk berakal di antaranya:
وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ
“Dan Dia menundukkan malam dan siang matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dgn perintah-Nya. Sesungguh pada yg demikian itu benar-benar ada tanda-tanda bagi kaum yg memahami.”
وَفِي اْلأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي اْلأُكُلِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yg berdampingan dan kebun-kebun anggur tanaman-tanaman dan pohon korma yg bercabang dan yg tdk bercabang disirami dgn air yg sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yg lain tentang rasanya. Sesungguh pada yg demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yg berfikir.”
Sebalik Allah mencela orang yg tdk berakal seperti dlm ayat-Nya:
وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ
“Dan mereka berkata: ‘Sekira kami mendengarkan atau memikirkan niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yg menyala-nyala’.”
Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “ tdk berakal dan tdk punya tamyiz … Bagaimanapun tdk terpuji dari sisi itu sehingga tidaklah terdapat dlm kitab Allah  serta dlm Sunnah Rasulullah  pujian dan sanjungan bagi yg tdk berakal serta tdk punya tamyiz dan ilmu. Bahkan Allah  telah memuji amal akal dan pemahaman bukan hanya dlm satu tempat serta mencela keadaan yg sebalik di beberapa tempat…”
Kitapun dapat melihat agama Islam dlm ajaran memberikan beberapa bentuk kemuliaan terhadap akal seperti:
1. Allah  menjadikan akal sebagai tempat bergantung hukum sehingga orang yg tdk berakal tdk dibebani hukum. Nabi bersabda:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ الْمَغْلُوْبِ عَلىَ عَقْلِهِ حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقَظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمُ
“Pena diangkat dari tiga golongan: orang yg gila yg akal tertutup sampai sembuh orang yg tidur sehingga bangun dan anak kecil sehingga baligh.”
2. Islam menjadikan akal sebagai salah satu dari lima perkara yg harus dilindungi yaitu: agama akal harta jiwa dan kehormatan.
3. Allah  mengharamkan khamr utk menjaga akal. Allah  berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَاْلأَنْصَابُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Hai orang2 yg beriman sesungguh khamar berjudi berhala mengundi nasib dgn panah adl perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. mk jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
Nabi  bersabda:
كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٍ
“Setiap yg memabukkan itu haram.”
Asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan: “Dalam rangka menjaga akal mk wajib ditegakkan had bagi peminum khamr.”
4. Tegak dakwah kepada keimanan berdasarkan kepuasan akal. Arti keimanan tdk berarti mematikan akal bahkan Islam menyuruh akal utk beramal pada bidang sehingga mendukung kekuatan iman dan tdk ada ajaran manapun yg memuliakan akal sebagaimana Islam memuliakan tdk menyepelekan dan tdk pula berlebihan. Sedangkan yg dilakukan para pengkultus akal yg mereka beritikad memuliakan akal pada hakikat mereka justru menghinakan akal serta menyiksa krn mambebani akal dgn sesuatu yg tdk mampu.
Walaupun akal dimuliakan tapi kita menyadari bahwa akal adl sesuatu yg berada dlm jasmani makhluk. mk ia sebagaimana makhluk yg lain memiliki sifat lemah dan keterbatasan.
As-Safarini rahimahullah berkata: “Allah  menciptakan akal dan memberi kekuatan adl utk berpikir dan Allah  menjadikan pada batas yg ia harus berhenti pada dari sisi berfikir bukan dari sisi ia menerima karunia Ilahi. Jika akal menggunakan daya pikir pada lingkup dan batas serta memaksimalkan pengkajian ia akan tepat dgn ijin Allah. Tetapi jika ia menggunakan akal di luar lingkup dan batas yg Allah  telah tetapkan mk ia akan membabi buta…”
Untuk itu kita perlu mengetahui di mana sesungguh bidang akal. Inti bahwa akal tdk mampu menjangkau perkara-perkara ghaib di balik alam nyata yg kita saksikan ini seperti pengetahuan tentang Allah  dan sifat-sifat-Nya arwah surga dan neraka yg semua itu hanya dapat diketahui melalui wahyu.
Nabi  bersabda:
تَفَكَّرُوْا فِيْ أَلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِيْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Berpikirlah pada makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir pada Dzat Allah.”
وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوْتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً
“Dan mereka berta kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.”
Oleh karena akal diperintahkan utk pasrah dan mengamalkan perintah syariat meskipun ia tdk mengetahui hikmah di balik perintah itu. Karena tdk semua hikmah dan sebab di balik hukum syariat bisa manusia ketahui. Yang terjadi justru terlalu banyak hal yg tdk manusia ketahui sehingga akal wajib tunduk kepada syariat.
Diumpamakan oleh para ulama bahwa kedudukan antara akal dgn syariat bagaikan kedudukan seorang awam dgn seorang mujtahid. Ketika ada seseorang yg ingin meminta fatwa dan tdk tahu mujtahid yg berfatwa mk orang awam itu pun menunjukkan kepada mujtahid. Setelah mendapat fatwa terjadi perbedaan pendapat antara mujtahid yg berfatwa dgn orang awam yg tadi menunjuki orang tersebut. Tentu bagi yg meminta fatwa harus mengambil pendapat sang mujtahid yg berfatwa dan tdk mengambil pendapat orang awam tersebut krn orang awam itu telah mengakui keilmuan sang mujtahid dan bahwa dia lbh tahu .
Al-Imam Az-Zuhri t mengatakan: “Risalah datang dari Allah kewajiban Rasul menyampaikan dan kewajiban kita menerima.”
Orang yg menggunakan akal tdk pada tempat berarti ia telah menyalahgunakan dan melakukan kezaliman terhadap akalnya. Sesungguh madzhab filasafat dan ahli kalam yg ingin memuliakan akal dan mengangkat –demikian perkataan mereka– belum dan sama sekali tdk akan mencapai sepersepuluh dari sepersepuluh apa yg telah dicapai Islam dlm memuliakan akal -ini jika kita tdk mengatakan mereka telah berbuat jahat dgn sejahat-jahat terhadap akal. Di mana ia memaksakan akal masuk ke tempat yg tdk mungkin mendapatkan jalan ke sana.
Akal yg terpuji dan akal yg tercela
Menengok penjelasan yg telah lalu dapat disimpulkan bahwa penggunaan akal terkadang terpuji yaitu ketika pada tempatnya. Dan terkadang tercela yaitu ketika bukan pada tempatnya. Adapun pendapat akal yg terpuji secara ringkas adl yg sesuai dgn syariat dgn tetap mengutamakan dalil syariat. Sedang akal yg tercela adl sebagaimana disimpulkan Ibnul Qayyim yg menyebutkan bahwa pendapat akal yg tercela itu ada beberapa macam:
1. Pendapat akal yg menyelisihi nash Al Qur’an atau As Sunnah.
2. Berbicara masalah agama dgn prasangka dan perkiraan yg dibarengi dgn sikap menyepelekan mempelajari nash-nash memahami serta mengambil hukum darinya.
3. Pendapat akal yg berakibat menolak asma Allah  sifat-sifat dan perbuatan-Nya dgn teori atau qiyas yg batil yg dibuat oleh para pengikut filsafat.
4. Pendapat yg mengakibatkan tumbuh bid’ah dan mati As Sunnah.
5. Berbicara dlm hukum-hukum syariat sekedar dgn anggapan baik dan prasangka.
Jadi manakala kita mengambil sebuah kesimpulan dgn akal kita kemudian ternyata hasil adl salah satu dari lima yg tersebut di atas mk yakinlah bahwa itu pendapat yg tercela dan salah. Ia harus ditinggalkan dan menundukkan akal di hadapan kepada syariat.

Akal yg sehat tdk akan menyelisihi syariat
Disebutkan dlm kaidah ahlul kalam –ringkasnya– bahwa tatkala bertentangan antara akal dan wahyu mk mesti dikedepankan akal.
Dengan prinsip ini mereka menolak sekian banyak nash yg shahih dulu maupun sekarang. Tentu kita tahu bahwa pendapat mereka adl salah dan sangat berbahaya. Untuk mengetahui bathil pendapat mereka dgn singkat dan mudah cukup dgn kita merujuk kepada lima hal yg disebutkan Ibnul Qayyim t di atas.
Lebih rinci para ulama seperti Ibnu Taimiyyah t menjelaskan: Sesuatu yg diketahui dgn jelas oleh akal sulit dibayangkan akan bartentangan dgn syariat sama sekali. Bahkan dalil naqli yg shahih tdk akan bertentangan dgn akal yg lurus sama sekali. Saya telah memperhatikan hal itu pada kebanyakan hal yg diperselisihkan oleh manusia. Saya dapati sesuatu yg menyelisihi nash yg shahih dan jelas adl syubhat yg rusak dan diketahui kebatilan dgn akal. Bahkan diketahui dgn akal kebenaran kebalikan dari hal tersebut yg sesuai dgn syariat. Kita tahu bahwa para Rasul tdk memberikan kabar dgn sesuatu yg mustahil menurut akal tapi mengabarkan sesuatu yg membuat akal terkesima. Para Rasul itu tdk mengabarkan sesuatu yg diketahui oleh akal sebagai sesuatu yg tdk benar namun akal tdk mampu utk menjangkaunya.
Karena itu wajib bagi orang2 Mu’tazilah yg menjadikan akal mereka sebagai hakim terhadap nash-nash wahyu demikian pula bagi mereka yg berjalan di atas jalan mereka serta meniti jejak mereka agar mengetahui bahwa tdk terdapat satu haditspun di muka bumi yg bertentangan dgn akal kecuali hadits itu lemah atau palsu. Wajib bagi mereka utk menyelisishi kaidah kelompok Mu’tazilah kapan terjadi pertentangan antara akal dan syariat menurut mereka mk wajib utk mengedepankan syariat. Karena akal telah membenarkan syariat dlm segala apa yg ia kabarkan sedang syariat tdk membenarkan segala apa yg dikabarkan oleh akal. Demikian pula kebenaran syariat tdk tergantung dgn semua yg dikabarkan oleh akal.”

Ketika dalil bertentangan dgn akal
Sesungguh pertentangan akal dgn syariat takkan terjadi manakala dalil shahih dan akal sehat. Namun terkadang muncul ketidakcocokan akal dgn dalil walaupun dalil shahih. Kalau terjadi hal demikian mk jangan salahkan dalil namun curigailah akal. Di mana bisa jadi akal tdk memahami maksud dari dalil tersebut atau akal itu tdk mampu memahami masalah yg sedang dibahas dgn benar. Sedangkan dalil mk pasti benarnya.
Hal ini berangkat dari ajaran Al Qur’an dan As Sunnah yg mengharuskan kita utk selalu kembali kepada dalil. Demikian pula anjuran para shahabat yg berpengalaman dgn Nabi  dan mengalami kejadian turun wahyu. Seperti dikatakan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab: “Wahai manusia curigailah akal kalian terhadap agama ini.”
Beliau mengatakan demikian krn pernah membantah keputusan Nabi  dgn pendapat walaupun pada akhir tunduk. Beliau pada akhir melihat ternyata maslahat dari keputusan Nabi  begitu besar dan tdk terjangkau oleh pikirannya.
Oleh karena Ibnul Qayyim mengatakan: “Jika dalil naqli bertentangan dgn akal mk yg diambil adl dalil naqli yg shahih dan akal itu dibuang dan ditaruh di bawah kaki tempatkan di mana Allah meletakkan dan menempatkan para pemiliknya.”
Abul Muzhaffar As-Sam’ani t ketika menerangkan Aqidah Ahlus Sunnah berkata: “Adapun para pengikut kebenaran mereka menjadikan Kitab dan Sunnah sebagai panutan mereka dan mencari agama dari keduanya. Apa yg terbetik dlm akal dan benak mereka hadapkan kepada Kitab dan Sunnah. Kalau mereka dapati sesuai dgn kedua mereka terima dan bersyukur kepada Allah di mana Allah perlihatkan hal itu dan memberi mereka taufik-Nya. Tapi jika tdk sesuai dgn kedua mk mereka meninggalkan dan mengambil Al Kitab dan As Sunnah kemudian menuduh salah terhadap akal mereka. Karena sesungguh kedua tdk akan menunjukkan kecuali kepada yg hak sedang pendapat manusia kadang benar kadang salah.”

Bila akal didahulukan
Jika akal didahulukan mk akan tergelincir pada sekian banyak bahaya:
1. Menyerupai Iblis –semoga Allah melaknatinya– ketika diperintahkan utk sujud kepada Nabi Adam  kemudian ia membangkang dan menentang dgn akalnya.
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍْ
“Allah berfirman ‘Apakah yg menghalangimu utk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab: ‘Saya lbh baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’.”
2. Menyerupai orang non muslim yg menolak keputusan Allah dgn akal mereka seperti penentangan mereka terhadap kenabian Nabi Muhammad . Mereka katakan:
وَقَالُوْا لَوْلاَ نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ
“Dan mereka berkata: ‘Mengapa Al Qur’an ini tdk diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri ini?’.”
3. Tidak mengambil faidah dari Rasul sedikitpun krn mereka tdk merujuk kepada pada perkara-perkara ketuhanan. Sehingga ada Rasul menurut mereka seperti tdk ada. Keadaan mereka bahkan lbh jelek krn mereka tdk mengambil manfaat sedikitpun justru butuh utk menolaknya.
4. Mengikuti hwa nfsu (**) dan keinginan jiwa. Allah berfirman
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ
“Maka jika mereka tdk menjawab ketahuilah bahwa sesungguh mereka hanyalah mengikuti hwa nfsu (**) mereka . Dan siapakah yg lbh sesat daripada orang yg mengikuti hwa nfsu (**) dgn tdk mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguh Allah tdk memberi petunjuk kepada orang2 yg zalim.”
5. Menyebabkan kerusakan di muka bumi sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim.
6. Berkata dgn mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya tanpa ilmu.
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ
“Dan di antara manusia ada orang2 yg membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan tanpa petunjuk dan tanpa kitab yg bercahaya.”
Ini termasuk larangan terbesar.
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوْا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yg keji baik yg nampak ataupun yg tersembunyi dan perbuatan dosa melanggar hak manusia tanpa alasan yg benar mempersekutukan Allah dgn sesuatu yg Allah tdk menurunkan hujjah utk itu dan mengada-adakan terhadap Allah apa yg tdk kamu ketahui’.”
7. Menyebabkan perbedaan dan perpecahan pendapat.
8. Terjatuh dlm keraguan dan bimbang. (Al-Mauqih 1/81-92)
Pantaslah kalau Al-Imam Adz-Dzahabi mengatakan tentang orang2 yg tetap mengedepankan akalnya: “Jika kamu melihat ahlul kalam ahli bid’ah mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari Al Qur’an dan hadits ahad dan tampilkan akal’ mk ketahuilah bahwa ia adl Abu Jahal.”

Sumber: www.asysyariah.com


pendapat para Ulama tentang Posisi Akal dan nafsu dalam islam hadist jangan berfikir tentang dzat Alloh