Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.Kelompok sempalan ini didirikan di kota Al-Quds pada tahun 1372 H oleh seorang alumnus Universitas Al-Azhar Kairo yg berakidah Maturidiyyah1 dalam masalah asma` dan sifat Allah dan berpandangan Mu’tazilah dalam sekian permasalahan agama. Dia adl Taqiyuddin An-Nabhani warga Palestina yg dilahirkan di Ijzim Qadha Haifa pada tahun 1909. Markas tertua mereka berada di Yordania Syiria dan Lebanon {Lihat Mengenal HT hal. 22 Al-Mausu’ah Al-Muyassarah hal. 135 dan Membongkar Selubung Hizbut Tahrir hal. 2 Asy-Syaikh Abdurrahman Ad-Dimasyqi}. Bila demikian akidah dan pandangan keagamaan pendirinya lalu bagaimana keadaan HT itu sendiri?!Apa Itu Hizbut Tahrir?Hizbut Tahrir telah memproklamirkan diri sebagai kelompok politik bukan kelompok yg berdasarkan kerohanian semata bukan lembaga ilmiah bukan lembaga pendidikan dan bukan pula lembaga sosial . Atas dasar itulah maka seluruh aktivitas yg dilakukan HT bersifat politik baik dalam mendidik dan membina umat dalam aspek pergolakan pemikiran dan dalam perjuangan politik. {Mengenal HT hal. 16}Adapun aktivitas dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia sangatlah mereka abaikan. Bahkan dengan terang-terangan mereka nyatakan: “Demikian pula dakwah kepada akhlak mulia tidak dapat menghasilkan kebangkitan… dakwah kepada akhlak mulia bukan dakwah menyelesaikan problematika utama kaum muslimin yaitu menegakkan sistem khilafah.”{Strategi Dakwah HT hal. 40-41}. Padahal dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia merupakan misi utama para nabi dan rasul.Allah k menegaskan:وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat : ‘Beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah segala sesembahan selain-Nya’.” Rasulullah n juga menegaskan:بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكاَرِمَ اْلأَخْلاَقِ“Aku diutus utk menyempurnakan akhlak yg bagus.” {HR. Al-Bukhari dalam Al- Adabul Mufrad Ahmad dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash- Shahihah no. 45}Tujuan dan Latar BelakangMewujudkan kembali Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi merupakan tujuan utama yg melatarbelakangi berdirinya HT dan segala aktivitasnya. Yang dimaksud khilafah adl kepemimpinan umat dalam suatu Daulah Islam yg universal di muka bumi ini dgn dipimpin seorang pemimpin tunggal yg dibai’at oleh umat. Para pembaca tahukah anda apa yg melandasi HT utk mewujudkan Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi? Landasannya adl bahwa semua negeri kaum muslimin dewasa ini –tanpa kecuali– termasuk kategori Darul Kufur sekalipun penduduknya kaum muslimin. Karena dalam kamus HT yg dimaksud Darul Islam adl daerah yg di dalamnya diterapkan sistem hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam urusan pemerintahan dan keamanannya berada di tangan kaum muslimin sekalipun mayoritas penduduknya bukan muslim. Sedangkan Darul Kufur adl daerah yg di dalamnya diterapkan sistem hukum kufur dalam seluruh aspek kehidupan atau keamanannya bukan di tangan kaum muslimin sekalipun seluruh penduduknya adl muslim. Padahal tolok ukur suatu negeri adl keadaan penduduknya bukan sistem hukum yg diterapkan dan bukan pula sistem keamanan yg mendominasi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Keberadaan suatu bumi sebagai Darul Kufur Darul Iman atau Darul Fasiqin bukanlah sifat yg kontinu bagi negeri tersebut namun hal itu sesuai dengan keadaan penduduknya. Setiap negeri yg penduduknya adl orang-orang mukmin lagi bertakwa maka ketika itu ia sebagai negeri wali-wali Allah. Setiap negeri yg penduduknya orang-orang non muslim maka ketika itu ia sebagai Darul Kufur dan tiap negeri yg penduduknya orang-orang fasiq maka ketika itu ia sebagai Darul Fusuq. Jika penduduknya tidak seperti yg kami sebutkan dan berganti dgn selain mereka maka ia disesuaikan dgn keadaan penduduknya tersebut.” Para pembaca mengapa –menurut HT– harus satu khilafah? Jawabannya adalah krn seluruh sistem pemerintahan yg ada dewasa ini tidak sah dan bukan sistem Islam. Baik itu sistem kerajaan republik presidentil ataupun republik parlementer {dipimpin perdana menteri}. Sehingga merupakan suatu kewajiban menjadikan Daulah Islam hanya satu negara bukan negara serikat yg terdiri dari banyak negara bagian. {Lihat Mengenal HT hal. 49-55}Ahlus Sunnah Wal Jamaah berkeyakinan bahwa pada asalnya Daulah Islam hanya satu negara dan satu khalifah. Namun jika tidak memungkinkan maka tidak mengapa berbilangnya kekuasaan dan pimpinan. Al-’Allamah Ibnul Azraq Al-Maliki Qadhi Al-Quds berkata: “Sesungguhnya persyaratan bahwa kaum muslimin harus dipimpin oleh seorang pemimpin semata bukanlah suatu keharusan bila memang tidak memungkinkan.”  Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Para imam dari tiap madzhab bersepakat bahwa seseorang yg berhasil menguasai sebuah negeri atau beberapa negeri maka posisinya seperti imam dalam segala hal. Kalaulah tidak demikian maka dunia ini tidak akan tegak krn kaum muslimin sejak kurun waktu yg lama sebelum Al-Imam Ahmad sampai hari ini tidak berada di bawah kepemimpinan seorang pemimpin semata.”  Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Adapun setelah tersebarnya Islam dan semakin luas wilayahnya serta perbatasan-perbatasannya berjauhan maka dimaklumilah bahwa kekuasaan di masing-masing daerah itu di bawah seorang imam atau penguasa yg menguasainya demikian pula halnya daerah yg lain. Perintah dan larangan sebagian penguasapun tidak berlaku pada daerah kekuasaan penguasa yg lainnya. Oleh karenanya tidak mengapa berbilangnya pimpinan dan penguasa bagi kaum muslimin {di daerah kekuasaan masing-masing -pen}. Dan wajib bagi penduduk negeri yg terlaksana padanya perintah dan larangan pimpinan tersebut utk menaatinya.” Demikian pula yg dijelaskan Al-Imam Ash-Shan’ani sebagaimana dalam Subulus Salam cet. Darul Hadits.Kapan HT Didirikan?Kelompok sempalan ini didirikan di kota Al-Quds pada tahun 1372 H oleh seorang alumnus Universitas Al-Azhar Kairo yg berakidah Maturidiyyah1 dalam masalah asma` dan sifat Allah dan berpandangan Mu’tazilah dalam sekian permasalahan agama. Dia adl Taqiyuddin An-Nabhani warga Palestina yg dilahirkan di Ijzim Qadha Haifa pada tahun 1909. Markas tertua mereka berada di Yordania Syiria dan Lebanon {Lihat Mengenal HT hal. 22 Al-Mausu’ah Al-Muyassarah hal. 135 dan Membongkar Selubung Hizbut Tahrir hal. 2 Asy-Syaikh Abdurrahman Ad-Dimasyqi}. Bila demikian akidah dan pandangan keagamaan pendirinya lalu bagaimana keadaan HT itu sendiri?! Wallahul musta’an.Landasan Berpikir Hizbut TahrirLandasan berpikir HT adl Al Qur‘an dan As Sunnah namun dgn pemahaman kelompok sesat Mu’tazilah bukan dgn pemahaman Rasulullah n dan para shahabatnya.

Mengedepankan akal dalam memahami agama dan menolak hadits ahad dalam masalah akidah merupakan ciri khas keagamaan mereka. Oleh krn itu tidaklah berlebihan bila ahli hadits zaman ini Asy-Syaikh Al-Albani t menjuluki mereka dgn Al-Mu’tazilah Al-Judud {Mu’tazilah Gaya Baru}.Padahal jauh-jauh hari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib z telah berkata: “Kalaulah agama ini tolok ukurnya adl akal niscaya bagian bawah khuf lbh pantas utk diusap daripada bagian atasnya.”2 Demikian pula menolak hadits ahad dalam masalah akidah berarti telah menolak sekian banyak akidah Islam yg telah ditetapkan oleh ulama kaum muslimin. Di antaranya adalah: Keistimewaan Nabi Muhammad n atas para nabi syafaat Rasulullah n utk umat manusia dan untuk para pelaku dosa besar dari umatnya di hari kiamat adanya siksa kubur adanya jembatan telaga dan timbangan amal di hari kiamat munculnya Dajjal munculnya Al-Imam Mahdi turunnya Nabi ‘Isa q di akhir zaman dan lain sebagainya.Adapun dalam masalah fiqih akal dan rasiolah yg menjadi landasan. Maka dari itu HT mempunyai sekian banyak fatwa nyeleneh. Di antaranya adalah: boleh mencium wanita non muslim boleh melihat gambar porno boleh berjabat tangan dgn wanita yg bukan mahram boleh bagi wanita menjadi anggota dewan syura mereka boleh mengeluarkan jizyah utk negeri kafir dan lain sebagainya. Langkah Operasional utk Meraih KhilafahBagi HT khilafah adl segala-galanya. Untuk meraih khilafah tersebut HT menetapkan tiga langkah operasional berikut ini:1. Mendirikan Partai PolitikDengan merujuk Surat Ali ‘Imran ayat 104 HT berkeyakinan wajibnya mendirikan partai politik.

Untuk mendirikannya maka harus ditempuh tahapan pembinaan dan pengkaderan {Marhalah At- Tatsqif} . Pada tahapan ini perhatian HT tidaklah dipusatkan kepada pembinaan tauhid dan akhlak mulia. Akan tetapi mereka memusatkannya kepada pembinaan kerangka Hizb memperbanyak pendukung dan pengikut serta membina para pengikutnya dalam halaqah-halaqah dgn tsaqafah Hizb secara intensif hingga akhirnya berhasil membentuk partai. Adapun pendalilan mereka dgn Surat Ali ‘Imran ayat 104 tentang wajibnya mendirikan partai politik maka merupakan pendalilan yg jauh dari kebenaran. Adakah di antara para shahabat Rasulullah n para tabi’in para tabi’ut tabi’in dan para imam setelah mereka yg berpendapat demikian?! Kalaulah itu benar pasti mereka telah mengatakannya dan saling berlomba utk mendirikan parpol! Namun kenyataannya mereka tidak seperti itu. Apakah HT lbh mengerti tentang ayat tersebut dari mereka?!Cukup menunjukkan batilnya pendalilan ini adl bahwa parpol terbangun di atas asas demokrasi yg amat bertolak belakang dgn Islam. Bagaimana ayat ini dipakai utk melegitimasi sesuatu yg bertolak belakang dgn makna yg dikandung ayat? Wallahu a’lam.2. Berinteraksi dgn Umat Berinteraksi dgn umat merupakan tahapan yg harus ditempuh setelah berdirinya partai politik dan berhasil dalam tahapan pembinaan dan pengkaderan. Pada tahapan ini sasaran interaksinya ada empat:- Pertama: Pengikut Hizb dgn mengadakan pembinaan intensif agar mampu mengemban dakwah mengarungi medan kehidupan dgn pergolakan pemikiran dan perjuangan politik . Pembinaan intensif di sini tidak lain adl doktrin ‘ashabiyyah dan loyalitas terhadap HT.-Kedua: Masyarakat dgn mengadakan pembinaan kolektif/umum yg disampaikan kepada umat Islam secara umum berupa ide-ide dan hukum-hukum Islam yg diadopsi oleh Hizb. Dan menyerang sekuat-kuatnya seluruh bentuk interaksi antar anggota masyarakat tak luput pula interaksi antara masyarakat dgn penguasanya. Taqiyuddin An-Nabhani berkata: “Oleh krn itu menyerang seluruh bentuk interaksi yg berlangsung antar sesama anggota masyarakat dalam rangka mempengaruhi masyarakat tidaklah cukup kecuali dgn menyerang seluruh bentuk interaksi yg berlangsung antara penguasa dgn rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh dgn cara diserang sekuat-kuatnya dgn penuh keberanian.” {Lihat Mengenal HT hal. 24 Terjun ke Masyarakat hal. 7}Betapa ironisnya Rasulullah n memerintahkan kita agar menjadi masyarakat yg bersaudara dan taat kepada penguasa sementara HT justru sebaliknya. Mereka memecah belah umat dan memporakporandakan kekuatannya. Lebih parah lagi bila hal itu dijadikan tolok ukur keberhasilan suatu gerakan sebagaimana yg dinyatakan pendiri mereka: “Keberhasilan gerakan diukur dgn kemampuannya utk membangkitkan rasa ketidakpuasan rakyat dan kemampuannya utk mendorong mereka menampakkan kemarahannya itu tiap kali mereka melihat penguasa atau rezim yg ada menyinggung ideologi atau mempermainkan ideologi itu sesuai dgn kepentingan dan hwa nfsu (**) penguasa.” {Pembentukan Partai Politik Islam hal. 35-36}- Ketiga: Negara-negara kafir imperialis yg menguasai dan mendominasi negeri-negeri Islam dengan berjuang menghadapi segala bentuk makar mereka .Demikianlah yg mereka munculkan. Namun kenyataannya di dalam upaya penggulingan para penguasa kaum muslimin tak segan-segan mereka meminta bantuan kepada orang-orang non muslim dan meminta perlindungan dari negara-negara kafir. {Lihat Membongkar Selubung Hizbut Tahrir hal. 5}- Keempat: Para penguasa di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam lainnya dgn menyerang seluruh bentuk interaksi yg berlangsung antara penguasa dgn rakyatnya dan harus digoyang dgn kekuatan penuh dgn cara diserang sekuat-kuatnya dgn penuh keberanian. Menentang mereka mengungkapkan pengkhianatan dan persekongkolan mereka terhadap umat melancarkan kritik kontrol dan koreksi terhadap mereka serta berusaha menggantinya apabila hak-hak umat dilanggar atau tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat yaitu bila melalaikan salah satu urusan umat atau mereka menyalahi hukum-hukum islam.

.Para pembaca inilah hakikat manhaj Khawarij yg diperingatkan Rasulullah n. Tidakkah diketahui bahwa Rasulullah n menjuluki mereka dgn “Sejahat-jahat makhluk” dan “Anjing- anjing penduduk neraka”! Semakin parah lagi di saat mereka tambah berkomentar: “Bahkan inilah bagian terpenting dalam aktivitas amar ma’ruf nahi munkar.” Tidakkah mereka merenungkan sabda Rasulullah n: “Akan ada sepeninggalku para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dgn petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yg berhati setan dalam bentuk manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yg kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah bersabda : “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun dicambuk punggungmu dan dirampas hartamu maka dengarkanlah dan taatilah .” ?!Demikian pula tidakkah mereka renungkan sabda Rasulullah n: “Barangsiapa ingin menasehati penguasa tentang suatu perkara maka janganlah secara terang-terangan. Sampaikanlah kepadanya secara pribadi jika ia menerima nasehat tersebut maka itulah yg diharapkan.

Namun jika tidak menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya .” {HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim dari shahabat ‘Iyadh bin Ghunmin z dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah hadits no. 1096}?!Namun sangat disayangkan HT tetap menunjukkan sikap kepala batunya sebagaimana yg mereka nyatakan: “Sikap HT dalam menentang para penguasa adl menyampaikan pendapatnya secara terang-terangan menyerang dan menentang. Tidak dgn cara nifaq menjilat bermanis muka dgn mereka simpang siur ataupun berbelok-belok dan tidak pula dgn cara mengutamakan jalan yg lbh selamat. Hizb juga berjuang secara politik tanpa melihat lagi hasil yg akan dicapai dan tidak terpengaruh oleh kondisi yg ada.” Mereka gembar-gemborkan slogan “Jihad yg paling utama adl mengucapkan kata-kata haq di hadapan penguasa yg zalim.” Namun sayang sekali mereka tidak bisa memahaminya dengan baik. Buktinya mereka mencerca para penguasa di mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan.

Padahal kandungan kata-kata tersebut adl menyampaikan nasehat “di hadapan” sang penguasa bukan di mimbar-mimbar dan lain sebagainya. Tidakkah mereka mengamalkan wasiat Rasulullah n yg diriwayatkan shahabat ‘Iyadh bin Ghunmin di atas?! Dan jangan terkecoh dengan ucapan mereka “Meskipun demikian Hizb telah membatasi aktivitasnya dalam aspek politik tanpa menempuh cara-cara kekerasan dalam menentang para penguasa maupun orang-orang yg menghalangi dakwahnya.” . Karena mereka pun akan menempuh cara tersebut pada tahapannya .3. Pengambilalihan Kekuasaan Tahapan ini merupakan puncak dan tujuan akhir dari segala aktivitas HT. Dengan tegasnya Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan: “Hanya saja tiap orang maupun syabab Hizb harus mengetahui bahwasanya Hizb bertujuan utk mengambil alih kekuasaan secara praktis dari tangan seluruh kelompok yg berkuasa bukan dari tangan para penguasa yg ada sekarang saja. Hizb bertujuan utk mengambil kekuasaan yg ada dalam negara dgn menyerang seluruh bentuk interaksi penguasa dgn umat kemudian dijadikannya kekuasaan tadi sebagai Daulah Islamiyyah.” Dalam tahapan ini ada dua cara yg harus ditempuh:1} Apabila negara itu termasuk kategori Darul Islam di mana sistem hukum Islam ditegakkan tetapi penguasanya menerapkan hukum-hukum kufur maka caranya adl melawan penguasa tersebut dgn mengangkat senjata.2} Apabila negara itu termasuk kategori Darul Kufur di mana sistem hukum Islam tidak diterapkan maka caranya adl dgn Thalabun Nushrah kepada mereka yang memiliki kemampuan . Subhanallah! Lagi-lagi prinsip Khawarij si “Sejahat-jahat makhluk” dan “Anjing-anjing penduduk neraka” yg mereka tempuh. Wahai HT ambillah pelajaran dari perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim t berikut ini: “Bahwasanya Nabi n mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar terwujud melalui pengingkaran tersebut suatu kebaikan yg dicintai Allah k dan Rasul-Nya. Jika ingkarul mungkar mengakibatkan terjadinya kemungkaran yg lbh besar darinya dan lbh dibenci oleh Allah k dan Rasul-Nya maka tidak boleh dilakukan walaupun Allah k membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya. Hal ini seperti pengingkaran terhadap para raja dan penguasa dgn cara memberontak sungguh yg demikian itu adl sumber segala kejahatan dan fitnah hingga akhir masa… Dan barangsiapa merenungkan apa yg terjadi pada Islam dalam berbagai fitnah yg besar maupun yg kecil niscaya akan melihat bahwa penyebabnya adl mengabaikan prinsip ini dan tidak sabar atas kemungkaran sehingga berusaha utk menghilangkannya namun akhirnya justru muncul kemungkaran yg lebih besar darinya.” Mungkin HT berdalih bahwa semua penguasa itu kafir krn menerapkan hukum selain hukum Allah. Kita katakan bahwa tidaklah semua yg berhukum dgn selain hukum Allah itu kafir.

Sebagaimana yg dijelaskan oleh Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz t: “Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak keluar dari empat keadaan:1. Seseorang yg mengatakan: “Aku berhukum dgn hukum ini krn ia lbh utama dari syariat Islam” maka dia kafir dgn kekafiran yg besar.2. Seseorang yg mengatakan: “Aku berhukum dgn hukum ini krn ia sama/sederajat dengan syariat Islam sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dgn syariat Islam” maka dia kafir dgn kekafiran yg besar.3. Seseorang yg mengatakan: “Aku berhukum dgn hukum ini dan berhukum dgn syariat Islam lbh utama akan tetapi boleh-boleh saja utk berhukum dgn selain hukum Allah” maka ia kafir dgn kekafiran yg besar.4. Seseorang yg mengatakan: “ Aku berhukum dgn hukum ini” namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dgn selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwasanya berhukum dgn syariat Islam lbh utama dan tidak boleh berhukum dgn selainnya tetapi dia seorang yg bermudah-mudahan atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya maka dia kafir dgn kekafiran yg kecil yg tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar. {At-Tahdzir Minattasarru’ Fittakfir Muhammad Al-’Uraini hal. 21-22}Demikian pula kalaulah sang penguasa itu terbukti melakukan kekufuran maka yg harus ditempuh terlebih dahulu adl penegakan hujjah dan nasehat kepadanya bukan pemberontakan.Adapun dalih mereka dgn hadits Auf bin Malik z:قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لا، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ.Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang ?” Beliau bersabda: “Jangan selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian!” bahwa “mendirikan shalat di tengah-tengah kalian” adl kinayah dari menegakkan hukum- hukum Islam secara keseluruhan sehingga –menurut HT– walaupun seorang penguasa mendirikan shalat namun dinilai belum menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan maka dianggap kafir dan boleh utk digulingkan! Ini adl pemahaman sesat dan menyesatkan.Para pembaca tahukah anda dari mana ta‘wil semacam itu? Masih ingatkah dgn landasan berpikir mereka? Ya ta`wil itu tidak lain dari akal mereka semata… Bukan dari bimbingan para ulama. Wallahul musta’an.Akhir kata demikianlah gambaran ringkas tentang HT dan selubung sesatnya tentang khilafah.

Semoga menjadi titian jalan utk meraih petunjuk Ilahi. Amin.1 Menolak sifat-sifat Allah k dgn ta`wil kecuali beberapa sifat saja. 2 Lanjutan riwayat tersebut: “Dan sungguh aku telah melihat Nabi n mengusap pungggung khufnya.” http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=287
sumber : file chm Darus Salaf 2


darul kufur dan darul islam menurut Ibnu Taimiyah khilafah al quds hadist rasul