Kewajiban Taat Kepada Pemerintah

penulisĀ Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
Syariah Kajian Utama 12 - Februari - 2004 01:03:24

Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yg agung. Namun di tengah carut-marut kehidupan politik di negeri-negeri muslim prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal agama yg sempurna ini telah mengatur bagaimana seharus sikap seorang muslim terhadap pemerintah baik yg adil maupun yg dzalim.

KKN represivitas penguasa kedekatan pemerintah dgn Barat seringkali menjadi isu yg diangkat sekaligus dijadikan pembenaran utk melawan pemerintah. Dari yg ‘sekedar’ demonstrasi hingga yg berujud pemberontakan fisik.
Meski terkadang isu-isu itu benar namun sesungguh syariat yg mulia ini telah mengatur bagaimana seharus seorang muslim bersikap kepada pemerintah sehingga diharapkan tdk timbul kerusakan yg jauh lbh besar.
Yang menyedihkan Islam atau jihad justru yg paling laris dijadikan tameng utk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan ini. Di antara mereka bahkan ada yg menjadikan tegak khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya. Mereka pun berangan-angan seandai kejayaan Islam di masa khalifah Abu Bakar dan ‘Umar bin Al-Khaththab dapat tegak kembali di masa kini.
Jika diibaratkan apa yg dilakukan kelompok-kelompok Islam ini seperti “menunggu hujan yg turun air di bejana ditumpahkan”. Yakni mereka sangat berharap akan tegak khilafah ‘Umar bin Al-Khaththab namun kewajiban yg Allah perintahkan kepada mereka terhadap penguasa yg ada di hadapan mereka justru dilupakan. Padahal dgn itu Allah akan mengabulkan harapan mereka dan harapan seluruh kaum muslimin.

WAJIBNYA TAAT KEPADA PENGUASA MUSLIM
Allah  telah memerintahkan kepada kaum muslimin utk taat kepada penguasa betapapun jelek dan dzalim mereka. Tentu dgn syarat selama para penguasa tersebut tdk menampakkan kekafiran yg nyata. Allah  juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kedzaliman mereka dan tetap berjalan di atas sunnah.
Karena barangsiapa yg memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasa mk mati mati jahiliyyah. Yakni mati dlm keadaan bermaksiat kepada Allah seperti keadaan orang2 jahiliyyah.1
Dari Ibnu Abbas c dia berkata: ”Rasulullah  bersabda:

“Barangsiapa yg melihat sesuatu yg tdk dia sukai dari penguasa mk bersabarlah! Karena barangsiapa yg memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja mk ia akan mati dlm keadaan mati jahiliyyah.”
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah z dia berkata: “Kami masuk ke rumah Ubadah bin Ash-Shamit ketika beliau dlm keadaan sakit dan kami berkata kepadanya: ‘Sampaikanlah hadits kepada kami –aslahakallah- dgn hadits yg kau dengar dari Rasulullah  yg dengan Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’ mk ia pun berkata:

“Rasulullah  memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara baiat adl agar kami bersumpah setia utk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tdk suka ketika dlm kemudahan ataupun dlm kesusahan ataupun ketika kami diperlakukan secara tdk adil. Dan hendaklah kami tdk merebut urusan kepemimpinan dari orang yg berhak –beliau berkata- kecuali jika kalian melihat kekufuran yg nyata yg kalian memiliki bukti di sisi Allah.”

WAJIB TAAT WALAUPUN JAHAT DAN DZALIM
Kewajiban taat kepada pemerintah ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah  adl terhadap tiap penguasa meskipun jahat dzalim atau melakukan banyak kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah dgn memberikan hak mereka yaitu ketaatan walaupun mereka tdk memberikan hak kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud z dia berkata: “Rasulullah  bersabda:

‘Akan muncul setelahku atsarah dan perkara-perkara yg kalian ingkari’. Mereka bertanya: ‘Apa yg engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau berkata:

“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.”
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim z. Dia berkata: “Kami mengatakan: Wahai Rasulullah  kami tdk berta tentang ketaatan kepada orang2 yg takwa tetapi orang yg berbuat begini dan begitu… mk Rasulullah  bersabda:

‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’
Berkata Ibnu Taimiyyah t: “Bahwasa termasuk ilmu dan keadilan yg diperintahkan adl sabar terhadap kedzaliman para penguasa dan kejahatan mereka sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah  dlm hadits yg masyhur.”
Sedangkan menurut Al-Imam An-Nawawi t: “Kesimpulan adl sabar terhadap kedzaliman penguasa dan bahwasa tdk gugur ketaatan dgn kedzaliman mereka.”
Berkata Ibnu Hajar t: “Wajib berpegang dgn jamaah muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.”
TETAP TAAT WALAUPUN CACAT
Meskipun penguasa tersebut cacat secara fisik Rasulullah  tetap memerintahkan kita utk tetap mendengar dan taat. Walaupun hukum asal dlm memilih pemimpin adl laki2 dari Quraisy berilmu tdk cacat dan seterus namun jika seseorang yg tdk memenuhi kriteria tersebut telah berkuasa -apakah dgn pemilihan kekuatan dan peperangan- mk ia adl penguasa yg wajib ditaati dan dilarang memberontak kepadanya. Kecuali jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan mk tdk perlu menaati dgn tdk melepaskan diri dari jamaah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar z bahwa dia berkata:

“Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan taat walaupun yg berkuasa adl bekas budak yg terpotong hidung 2”
Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah z. Dia berkata: “Berkata kepadaku ‘Umar z: ‘Wahai Abu Umayyah aku tdk tau apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini… jika dijadikan amir atas kalian seorang hamba dari Habasyah terpotong hidung mk dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu sabarlah! Jika ingin sesuatu yg mengurangi agamamu mk katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!”

Wallahu a’lam. 

Sumber: www.asysyariah.com


pengertian taat hukum dalil tentang taat kepada pemerintah