Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam

penulisĀ Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Syariah Ibrah 15 - Desember - 2004 20:49:24

1. Rahmat dan limpahan kebaikan Allah terhadap hamba-hamba-Nya ada yg mengetahui adapula yg tidak. Sebagian dari akhlak para Nabi dan perbuatan yg ihsan adl membantu memberi minum hewan ternak. Terutama terhadap mereka yg lemah. Hal ini ditunjukkan oleh perbuatan Nabi Musa bersama dua anak perempuan salah seorang penduduk Madyan di mana beliau melihat kedua tdk dapat memberi minum ternak mereka sebelum para penggembala lain menjauh dari sumur itu.
2. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai apabila ada hamba-Nya yg berdoa dgn bertawassul kepada-Nya melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta ni’mat-Nya yg umum maupun yg khusus. Dia juga menyukai apabila orang yg bedoa itu bertawassul kepada-Nya dgn kelemahan kefakiran serta ketidakmampuan dlm mewujudkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan dari diri sebagaimana yg dikatakan oleh Nabi Musa dlm firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ
“Wahai Rabbku sesungguh aku sangat membutuhkan kebaikan yg Engkau turunkan kepadaku.”
Karena sikap yg demikian menunjukkan kerendahan dan ketundukan seseorang dan kefakiran kepada Allah di mana sesungguh hal inilah hakekat penghambaan seseorang di hadapan-Nya.
3. Hidup dan imbalan atas suatu kebaikan sudah merupakan tradisi atau kebiasaan orang2 yg shalih sejak dulu. Seorang manusia apabila dia beramal ikhlas krn Allah kemudian memperoleh suatu imbalan tanpa dia mengharapkan mk tidaklah dia tercela dan tdk pula menghapus keikhlasan dan pahalanya. Sebagaimana Nabi Musa menerima upah atas kebaikan yg beliau sendiri tdk menginginkan atau mengharapkan imbalan atas pertolongan itu.
4. Boleh memberi upah atas suatu pekerjaan yg telah diketahui manfaat atau sudah diketahui berapa lama batas waktunya. Patokan adl kebiasaan yg berlaku di suatu masyarakat. Bahkan boleh pula memberi upah sebagai imbalan memperoleh manfaat berupa pernikahan. Sebagaimana yg disebutkan oleh orang Madyan itu dlm firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنِّي أُرِيْدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ
“Sesungguh aku bermaksud menikahkan kamu dgn salah seorang dari kedua anak perempuanku ini.”
Dari ayat ini dibolehkan seseorang menikahkan puteri dgn seorang laki2 bila dia adl wali bagi perempuan tersebut dan hal itu bukanlah suatu cacat atau aib. Bahkan boleh jadi mengandung manfaat dan menunjukkan kemuliaan. Sebagaimana yg dilakukan orang tua yg shalih di Madyan itu dgn Nabi Musa ‘alaihissalam.
5. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yg mengisahkan ucapan salah seorang perempuan itu kepada ayahnya:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِيْنُ
“Sesungguh orang yg paling baik yg kamu ambil utk bekerja pada kita ialah orang yg kuat lagi terpercaya.”
Dengan kedua sifat inilah sempurna suatu pekerjaan. Semua bentuk usaha baik perwalian pelayan perusahaan atau pekerjaan yg membutuhkan pemeliharaan dan pengawasan terhadap para karyawan dan pekerjaan mereka apabila kedua sifat ini yaitu kuat mengerjakan sesuai dgn keadaan pekerjaan itu dan dapat dipercaya melaksanakan sempurnalah pekerjaan itu dan tercapailah hasil serta tujuan yg diharapkan. Sedangkan kesalahan dan kekurangan yg terjadi sebab adl krn ketiadaan kedua sifat ini pada diri seseorang atau salah satunya.
6. Termasuk akhlak yg mulia adl memperbaiki sikap atau perilaku dgn semua yg berhubungan dgn kita. Apakah dia seorang pelayan buruh isteri anak atau relasi atau yg lainnya. Di mana seseorang memberikan keringanan bagi seorang yg bekerja pada kita berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا أُرِيْدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شآءَ اللهُ مِنَ الصَّالِحِيْنَ
“Aku tdk ingin memberatkan kamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang2 yg saleh.”
7. dlm kisah ini diterangkan boleh memberikan semangat kepada relasi atau pegawai dgn imbalan dan upah dgn menerangkan keadaan diri sebagai orang yg baik dlm bermu’amalah. Akan tetapi tentu dgn syarat dia jujur dlm menyebutkan hal itu.
8. Boleh pula melakukan akad suatu mu’amalah persewaan atau yg lain tanpa menghadirkan saksi krn ada dalil dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَاللهُ عَلَى مَا تَقُوْلُ وَكِيْلٌ
“Dan Allah adl saksi atas apa yg kita ucapkan.”
Telah dijelaskan sebelum bahwa dgn ada saksi akan memudahkan terjaga hak-hak orang2 yg bersangkutan minimal persengketaan. Dan manusia dlm masalah ini bertingkat-tingkat begitu pula hak mereka masing-masing.
9. Diterangkan di dlm kisah ini ayat-ayat yg sangat jelas. Di mana dgn ayat-ayat itu Allah memperkuat kedudukan Nabi Musa. Seperti mengubah tongkat menjadi seekor ular yg merayap dgn cepat lalu mengembalikan seperti semula. Juga ketika dia memasukkan tangan ke leher baju lalu mengeluarkan dlm keadaan putih bercahaya bagi orang2 yg melihat dan bukan krn penyakit.
Disebutkan pula betapa besar rahmat dan pembelaan Allah terhadap Nabi Musa dan Harun dari Fir’aun dan para pembesarnya. Dia membelah lautan ketika Musa memukulkan tongkat ke laut hingga terbelah menjadi dua belas jalan yg dilalui oleh Musa beserta para pengikut dgn selamat. Sedangkan Fir’aun dan pasukan yg mencoba menyusul akhir binasa.
Demikian seterus ayat-ayat dan bukti-bukti yg berturut-turut Allah tunjukkan bagi mereka yg melihat dan menyaksikan kejadian tersebut atau bagi mereka yg hanya mendengar . Karena sesungguh sumber penukilan adl kitab-kitab samawi dan dinukil turun temurun generasi demi generasi. Dan tidaklah ada yg mengingkari ayat-ayat seperti ini melainkan orang yg bodoh sombong dan zindiq. Seperti itu pula ayat-ayat yg ada pada Nabi yg lainnya.
10. Ayat-ayat yg ada pada para Nabi dan karamah para wali atau ayat-ayat yg Allah jadikan sebagai sesuatu yg menakjubkan; seperti perubahan sebab akibat atau terhalang sesuatu menjadi sebab bagi suatu akibat atau diperlukan suatu sebab yg lain bagi suatu akibat atau ada penghalang yg merintangi pengaruh sebab itu terhadap suatu akibat adl bukti yg nyata tentang wahdaniyyah Allah . Dia adl Dzat Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Di mana tdk satupun persoalan besar maupun kecil yg lepas dari kodrat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mukjizat dan karamah serta perubahan-perubahan ini tidaklah meniadakan semua sebab inderawi dan aturan baku yg telah Allah berlakukan pada makhluk ini. Kita tdk akan mendapati ada ganti dan perubahan terhadap Sunnatullah ini. Dan sesungguh Sunnatullah pada semua makhluk yg sudah terjadi ataupun yg akan terjadi itu terbagi dua:
a. Yang merupakan perkara yg baru kejadian alam ketetapan hukum syariat atau kodrati atau yg berkaitan dgn pembalasan tidaklah akan berubah dan berganti dari semua yg telah diketahui manusia sebab-sebabnya.
Bagian ini juga berada di bawah qadha dan qadar Allah. Dari sini kita mengetahui betapa sempurna hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala pada ciptaan dan hukum-hukum syariat-Nya. Dan siapa saja yg menempuh semua sebab akibat dgn cara yg benar akan mendapatkan buah dan hasil yg baik. Sebalik siapa yg menempuh tdk dgn cara yg benar niscaya tdk akan memperoleh hasil sebagaimana yg telah ditetapkan pada amalan itu menurut kodrat dan syariat.
Ini mendorong seorang manusia agar bersungguh-sungguh dlm menjalankan sebab-sebab yg berkaitan dlm masalah agama dan dunia yg berguna bagi mereka dgn diiringi doa memohon pertolongan kepada Allah dan memuji-Nya agar memudahkan sebab-sebab itu dan semua perangkatnya.
b. Kejadian yg berasal dari mu’jizat para Nabi yg berita kejadian dinukil oleh tiap generasi juga kemuliaan yg Allah berikan kepada para hamba-Nya dgn dikabulkan doa mereka dilepaskan mereka dari kesulitan memperoleh apa yg diharapkan dan dijauhkan semua kemudaratan yg dia tdk mampu melenyapkannya. Juga gerbang Rabbani dan ilham ilahi serta cahaya yg Allah letakkan ke dlm makhluk-makhluk pilihan-Nya sehingga menambah keyakinan dan ketenangan jiwa mereka serta ilmu pengetahuan yg belum tentu dapat diperoleh dgn hanya mempelajari atau melakukan sebab-sebab lainnya.
Dan juga merupakan pertolongan yg diberikan-Nya kepada para Rasul serta para pengikut mereka bahkan kehinaan yg ditimpakan-Nya terhadap musuh-musuh-Nya adl juga perkara yg dapat disaksikan pada sebagian besar perjalanan masa.
Pada bagian kedua ini sama sekali tdk ada peranan makhluk utk mengetahui sebab-sebab semua kejadian ini. Tidak pula mereka dapat membuat suatu patokan utk sampai pada hakekat dan kenyataannya. Ha saja perkara yg baru ini sesungguh Allah Yang Maha Agung Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu telah menaqdirkan semua sebab-sebab hukum dan sunnah-sunnah yg tdk mungkin dapat dipahami makhluk manapun. Tidak pula dapat ditangkap dan diperkirakan oleh panca indera mereka sehingga bisa memahami hakekat kejadian tersebut. Namun para Rasul dan para pengikut mereka sejak dari yg pertama sampai kepada yg terakhir beriman kepadanya.
Dengan perkara ini pula semakin jelaslah keagungan Allah Yang Maha Pencipta. Seluruh ubun-ubun hamba-hamba-Nya ada di tangan-Nya. Apa yg dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti terjadi dan apa yg tdk dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti tdk akan terjadi. Dengan demikian jelas pula kebenaran semua ajaran yg dibawa oleh para Rasul tersebut sebagaimana juga dari bagian pertama tadi kita dapat pula mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak ada jalan bagi seorang hamba di dunia ini utk memahami hakekat keadaan atau sifat Yaumil Akhir bahkan apa dan bagaimana hakekat al-jannah serta an-nar. Bahwa hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala itu mengetahui sebagian keadaan hari kiamat itu adl dgn melalui apa yg telah diterangkan oleh para Rasul dan yg terdapat dlm Kitab-Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada jalan bagi penduduk bumi ini utk sampai ke alam langit dan tdk ada jalan bagi mereka utk menghidupkan yg sudah mati menciptakan ruh pada benda-benda padat. Begitupula hal bagian terbesar dari kejadian ini. Dan kami paparkan panjang lebar masalah ini krn dua hal:
a. orang2 zindiq masa kini yg mengingkari keberadaan Allah Yang Maha Pencipta juga mengingkari semua perkara ghaib yg dibawa oleh para Rasul dan Kitab-Kitab Samawi. Mereka menolak ilmu-ilmu itu kecuali yg dapat ditangkap oleh panca indera dan teori-teori dari percobaan mereka yg dangkal terhadap sebagian kejadian alam ini. Mereka mengingkari yg selain itu yakni mengingkari semua yg tdk dapat dibuktikan secara eksperimental. Mereka menganggap bahwa alam ini dan gejala-gejala alam yg ada di dlm tdk mungkin dapat diubah atau mengubah suatu sebab. Menurut mereka juga bahwa alam ini dgn semua perangkat terjadi secara tiba-tiba bukan krn ada yg menciptakan. Alam ini berjalan dgn sendiri tdk ada Yang Mengatur Pencipta atau Rabb .
Padahal semua penganut agama yg ada mengakui betapa sombong dan angkuh mereka. orang2 zindiq ini di samping mengingkari ajaran agama juga sesungguh telah kehilangan akalnya. Hal ini krn mereka telah menentang hakekat yg paling nyata dan jelas bahkan bukti dan tanda kekuasaan Allah yg paling besar. Mereka tersesat dgn akal mereka yg sempit dan pemikiran mereka yg rusak. Urusan mereka sebetul sudah sangat jelas.
b. Sebagian ulama masa kini yg terlihat membela Islam masuk bersama orang2 zindiq ini dlm suatu perdebatan tentang masalah ini. Harapan mereka bahwa dgn ijtihad atau ketertipuan mereka dapat menyesuaikan sunnah-sunnah ilahiyyah ke dlm permasalahan akhirat agar dapat dipahami manusia dgn panca indera dan teori-teori hasil eksperimen mereka. Melalui cara ini mereka mencoba membelokkan pengertian mu’jizat menolak ayat-ayat yg sangat jelas.
Namun mereka tdk mendapat manfaat sedikitpun kecuali mudharat yg akan menimpa diri mereka sendiri dan orang2 yg membaca buku-buku mereka dlm masalah ini. Dan krn kelemahan iman mereka kepada Allah yg ditunjukkan dgn menolak ada mu’jizat para Nabi ini melalui tahrif yg membawa kepada keingkaran terhadap mu’jizat ini dan keingkaran bahwa semua itu adl merupakan qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga krn lemah iman mereka yg membaca buku para tokoh filsafat ini dan tdk ada ilmu dan pengetahuan agama mereka utk menolak bagian ini.
Dan ternyata mereka juga sama sekali tdk berhasil menarik orang2 atheis materialis itu kembali kepada hidayah dan ajaran Islam. Bahkan semakin bertambah jauh mereka tenggelam dlm madzhab itu ketika melihat orang2 seperti itu berusaha memasukkan nash-nash dan mu’jizat para Nabi ini ke dlm ilmu mereka yg dangkal yg hanya didasari hasil-hasil teori dan pengamatan panca indera.
Sungguh alangkah besar musibah ini dan betapa keji kejahatan yg dihiasi. Akan tetapi memang kelemahan ilmu serta kekaguman terhadap orang2 zindiq atheis ini tentu akan mendorong seseorang utk tunduk menerima ucapan-ucapan mereka. Tiada daya dan upaya kecuali dgn pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
11. Pelajaran lain dari kisah ini hukuman terbesar yg dialami seorang manusia adl jika dia menjadi imam atau pemimpin suatu kejahatan dan juru dakwah yg mengajak kepada kejahatan tersebut. Sebagaimana dikatakan bahwa ni’mat terbesar yg Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada seorang manusia adl menjadikan sebagai imam atau pelopor dlm kebaikan sebagai pemberi petunjuk sekaligus terbimbing. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Fir’aun dan orang2 yg seperti dia:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُوْنَ إِلَى النَّارِ
“Dan Kami jadikan mereka imam-imam yg mengajak kepada neraka.”
Untuk yg kedua Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا
“Dan Kami jadikan mereka sebagai imam-imam yg memberi petunjuk dgn perintah Kami.”
12. dlm kisah ini terdapat sisi pendalilan benar risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam krn Allah menerangkan kisah ini atau yg lain secara terperinci sesuai dgn kenyataan utk menjadi suatu patokan yg sesuai. Suatu kisah yg membenarkan para Rasul dan dukungan terhadap kebenaran yg nyata. Padahal beliau tdk menyaksikan sedikitpun kejadian itu dan tdk pula mempelajari sedikitpun sehingga mengetahui kejadian tersebut secara terperinci. Bahkan beliau tdk pernah duduk dan menimba ilmu dari seorang ulamapun.
Semua ini tdk lain adl risalah dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang wahyu yg diturunkan kepada oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi anugerah agar beliau memberi peringatan kepada seluruh manusia dgn wahyu ini. Oleh krn itulah Allah menyebutkan pada bagian akhir kisah ini:
وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّوْرِ
“Dan tidaklah kamu berada di dekat gunung Thur.”
وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيْ إِذْ قَضَيْنَا إِلَى مُوْسَى
“Dan tidaklah kamu berada di sisi sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa.”
وَمَا كُنْتَ ثَاوِيًا فِيْ أَهْلِ مَدْيَنَ
“Dan tiadalah kamu tinggal bersama-sama penduduk Madyan.”
Semua ini adl satu dari bukti-bukti kebenaran risalah beliau.
13. Sebagian ulama menyebutkan pelajaran dari jawaban Nabi Musa ketika dita tentang tongkat dlm firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا تِلْكَ بِيَمِيْنِكَ يَا مُوْسَى قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي
“Dan apa yg di tangan kananmu itu hai Musa? Berkata Musa:” Inilah tongkatku aku bertelekan pada dan aku pukul dengan utk kambingku..”
Yaitu dianjurkan menggunakan tongkat krn ada manfaat tertentu dan utk keperluan lain seperti disebutkan dlm lanjutan ayat itu:
وَلِيَ فِيْهَا مَئَارِبُ أُخْرَى
“..dan bagiku ada lagi keperluan lain padanya.”
14. Dari ayat-ayat ini dapat dipetik pelajaran ada kasih sayang terhadap hewan ternak berbuat kebaikan dan berusaha melepaskan dari hal-hal yg menyusahkannya.
15. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي
“Tegakkanlah shalat utk mengingat-Ku.”
Ingat seorang hamba kepada Rabb itulah yg menjadi tujuan dia diciptakan dan di situlah kebaikan dan keberuntungannya. Tentu tujuan menegakkan shalat itu adl juga menegakkan tujuan utama ini. Kalau bukanlah krn shalat itu selalu berulang-ulang dikerjakan orang2 mukmin dlm sehari semalam utk mengingatkan mereka kepada Allah di mana dlm shalat itu mereka terikat utk selalu membaca Al Qur’an memuji Allah berdoa kepada-Nya tunduk merendah kepada-Nya yg mana hal ini adl ruh dari dzikir tersebut. Dan kalaulah bukan krn keni’matan ini tentulah mereka termasuk orang2 yg lalai.
Dzikir itu adl tujuan utama dari penciptaan makhluk. Dan seluruh peribadatan itu tdk lain adl dzikrullah . mk dzikir itu akan membantu seseorang melaksanakan ketaatan meskipun hal itu berat dirasakannya. Dzikir itu meringankan seseorang utk menghadapi para penguasa yg sewenang-wenang memudahkan berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كُيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا وَنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا
“Supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau dan banyak mengingat Engkau.”
اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوْكَ بِآيَاتِي وَلاَ تَنِيَا فِيْ ذِكْرِى
“Pergilah engkau dan saudaramu dgn membawa ayat-ayat-Ku dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku.”
16. Kebaikan Nabi Musa ‘alaihissalam terhadap saudara Nabi Harun ‘alaihissalam krn beliau memohon kepada Allah agar Harun juga menjadi Nabi bersamanya. Beliau juga mengharapkan ada bantuan dan pertolongan dlm kebaikan ketika berdoa:
وَاجْعَلْ لِي وَزِيْرًا مِنْ أَهْلِي هَارُوْنَ أَخِي اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي وَأَشْرِكْهٌ فِيْ أَمْرِي
“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku Harun saudaraku teguhkanlah dgn dia kekuatanku dan jadikanlah dia sekutu dlm urusanku.”
17. Kefasihan dan keterangan yg jelas adl hal-hal yg sangat membantu dlm memberikan pelajaran dan dakwah. Oleh sebab itulah Nabi Musa meminta agar Allah melepaskan kekakuan lidah supaya mereka mengerti perkataannya. Lidah yg celat bukanlah suatu aib selama ucapan masih dapat dipahami. Dan salah satu adab Nabi Musa bersama Rabb- beliau tdk meminta agar Allah menghilangkan secara keseluruhan celat dari lidahnya. Namun beliau hanya meminta agar dihilangkan apa-apa yg dgn hilang perkara tersebut tercapailah tujuan yg diinginkan.
18. Perlu sikap dan kata-kata yg lemah lembut ketika berbicara dgn seorang raja penguasa atau pemimpin dan mendakwahi atau menasehati mereka. Sehingga hal itu akan memberikan pemahaman kepada mereka tanpa harus menimbulkan keributan atau kekerasan. Dan ini sangat diperlukan dlm keadaan apapun juga. Akan tetapi sudah tentu hal ini sangat diperlukan dlm persoalan-persoalan penting seperti dakwah ini. Yaitu jika diperlukan dgn sikap ini tujuan yg diharapkan seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
“Mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
19. Barangsiapa yg berada dlm taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yakin dgn kebenaran janji Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala mk sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama sehingga tdk ada lagi kekhawatiran pada krn firman Allah Subhanahu wa Ta’ala diteruskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan:
إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
“Sesungguh Aku bersama kamu berdua Aku mendengar dan melihat.”
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا
“Di waktu dia berkata kepada temannya: ”Janganlah kamu berduka cita sesungguh Allah bersama kita.”
20. Sebab-sebab turun adzab Allah adl ada dua keadaan ini:
إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَى مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى
“Sesungguh telah diwahyukan kepada kami bahwa adzab itu akan ditimpakan atas orang2 yg mendustakan dan berpaling.”
Yaitu mendustakan semua berita yg datang dari Allah dan para Rasul-Nya; berpaling dari ketaatan terhadap Allah dan para Rasul-Nya. Dan sama seperti ini juga adl firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لاَ يَصْلاَهَا إِلاَّ اْلأَشْقَى الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى
“Tidak ada yg masuk ke dlm kecuali orang yg paling celaka yg mendustakan dan berpaling.”
21. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
“Dan sesungguh Aku Maha Pengampun bagi orang yg bertaubat beriman beramal saleh kemudian tetap di jalan yg benar.”
Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengungkapkan semua sebab atau jalan yg mendatangkan ampunan dari Allah yaitu:
Yang pertama: At-Taubah yakni rujuk dari segala perkara yg dibenci Allah lahir dan batin kepada semua yg dicintai oleh Allah lahir dan batin. Dan taubat ini akan memutuskan dosa-dosa sebelum besar maupun kecil.
Yang kedua: Al-Iman yaitu pernyataan keyakinan dan pembenaran yg pasti yg meliputi semua yg diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya yg menumbuhkan amalan dlm hati. Kemudian diikuti dgn amalan yg dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tdk diragukan lagi bahwa apa yg di dlm hati berupa keimanan kepada Allah Malaikat Kitab-Kitab-Nya para Rasul-Nya dan hari akhir merupakan landasan dan asas ketaatan yg paling utama.
Tidak disangsikan pula bahwa sesuai dgn tingkat kekuatan iman tersebut dia akan menjauhkan keburukan-keburukan; menolak hal-hal yg belum terjadi sehingga menghalangi orang yg beriman itu agar tdk terjatuh pada keburukan itu. Iman itu juga akan menjauhkan apa yg sudah terjadi dgn mendatangkan perkara yg dapat menghapus dan tiak ada keinginan utk terus-menerus melakukan di dlm hati. mk seorang mukmin yg didalam hati terdapat keimanan dan cahaya tdk akan mengumpulkan kemaksiatan.
Yang ketiga: Amal shalih ini mencakup semua amalan hati anggota badan dan perkataan. Dan kebaikan itu akan menghapus kejelekan.
Yang keempat: Terus-menerus di atas keimanan dan hidayah serta menambahnya. mk barangsiapa yg menyempurnakan keempat sebab ini hendaklah dia bergembira dgn maghfiratullah yg menyeluruh. Oleh sebab inilah Allah menyebutkan sifat-Nya ini dlm bentuk mubalaghah :“dan sesungguh Aku Maha Pengampun.”
Kami cukupkan sampai di sini kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dgn pelajaran berharga yg termuat dlm kisah tersebut bagi mereka yg mau memperhatikan.

Sumber: www.asysyariah.com


kemudaratan dihilangkan kejadian nyata dzikir dan doa MEMOHON ANAK YANG SALEH sholat nabi musa nabi harun as dari kecil karamah para wali nabi harun saudara saudara nabi harun as mss zikir nabi musa