Kitab Fadha`il Al-A’mal dlm Timbangan As-Sunnah

penulisĀ Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
Syariah Kajian Utama 24 - Februari - 2006 02:52:27

Bagi yg mengenal Jamaah Tabligh kelompok yg ‘berdakwah’ keliling dari masjid ke masjid besar kemungkinan akan mengetahui Kitab Fadha`il Al-A’mal buku wajib yg dipegangi dan dijadikan rujukan kelompok tersebut dlm ‘berdakwah’. Bagi para ‘pendakwah’ mereka ataupun orang2 yg ‘berlatih dakwah’ bersama kedudukan kitab itu di sisi mereka setara dgn Kitab Shahih .

Membicarakan Fadha`il Al-A’mal kitab yg ditulis Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi tentu tdk bisa dilepaskan dari pembahasan sebuah kelompok shufiyyah yg para pengikut kini semakin menjamur di berbagai negara termasuk Indonesia. Kelompok inilah yg dikenal dgn nama Jamaah Tabligh. Ada hubungan yg erat di antara kedua krn Jamaah Tabligh menjadikan kitab ini sebagai salah satu sandaran dlm mengamalkan rutinitas harian mereka baik dibaca di beberapa waktu sehabis shalat fardhu atau menjadikan sebagai ta’lim akhir malam sebelum tidur tergantung kesempatan yg diberikan masjid setempat. Atau tergantung waktu yg memungkinkan bagi mereka utk melakukan secara rutin. Hal ini menunjukkan demikian penting peranan kitab ini dlm membentuk fikrah dan akidah seorang tablighi . Sebab apa yg mereka dengarkan tentu akan diupayakan utk diwujudkan menjadi suatu amalan dlm berislam.
Sehingga kami memandang perlu utk menjelaskan kepada umat tentang kedudukan kitab ini berdasarkan timbangan As-Sunnah dan memperingatkan mereka dari berbagai kesalahan dan penyimpangan yg terdapat dlm pembahasannya.
Secara umum kitab ini banyak memuat hadits-hadits Rasulullah n
yg lemah palsu bahkan tdk ada asal dan banyak penukilan perkataan kaum shufi yg jika seseorang meyakini hal tersebut dapat menjerumuskan kepada kesesatan dan penyimpangan. Wal ‘iyadzu billah.
Asy-Syaikh Hamud bin Abdullah At-Tuwaijiri v
berkata dlm kitab Al-Qaulul Baligh Fit Tahdzir Min Jama’ah At-Tabligh :
“Kitab terpenting bagi orang yg menjadi tablighiyyin adl kitab Tablighi Nishab yg ditulis salah seorang pemimpin mereka bernama Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi. Dan mereka memiliki perhatian demikian besar terhadap kitab ini dan mengagungkan sebagaimana Ahlus Sunnah mengagungkan kitab Shahih dan kitab-kitab hadits lainnya. Para tablighiyyin telah menjadikan kitab kecil ini sebagai sandaran dan referensi baik bagi orang India maupun bangsa ‘ajam lain yg mengikuti ajaran mereka. dlm kitab ini termuat berbagai kesyirikan bid’ah khurafat serta banyak sekali hadits-hadits palsu dan lemah. mk hakekat ini merupakan kitab jahat sesat dan fitnah. Kaum tablighiyyin telah menjadikan sebagai referensi utk menyebarkan bid’ah dan kesesatan melariskan serta menghiasi di hadapan kaum muslimin awam sehingga mereka lbh sesat jalan dari hewan ternak.”1
Adapun secara rinci mk pembahasan kami bagi menjadi beberapa sub bahasan:

Pertama: Al-Kandahlawi dan Takhrij Haditsnya
Sebagaimana yg telah kita sebutkan bahwa kitab ini banyak memuat hadits-hadits lemah mungkar palsu bahkan tdk ada asalnya. Terkadang sebagian riwayat tersebut diketahui penulisnya. Namun sangat disayangkan takhrij hadits itu tdk diterjemahkan ke dlm bahasa di mana kitab ini ditulis dlm bahasa Urdu kemudian dibaca mayoritas kaum muslimin yg tdk mengerti bahasa Arab. Mereka pun menganggap baik kitab ini dan menyangka bahwa semua boleh dijadi-kan sebagai hujjah. Selanjut mereka membaca lalu menjadikan sebagai keyakinan. mk terjerumuslah mereka dlm penyimpangan dan kesesatan. Demikian pula ketika kitab ini diterjemahkan ke dlm bahasa Indonesia dan Malaysia tdk diterjemahkan takhrij haditsnya. Ini menyebabkan para tablighi dan simpatisan membaca kitab tersebut tanpa membedakan antara hadits-hadits yg bisa diterima dan yg tertolak. Berikut ini akan kami sebutkan beberapa contoh tentang apa yg kami sebutkan:
1. Disebutkan dlm kitab Fadha`il Al-A’mal bab Fadhilah Adz-Dzikr2 hadits dari ‘Umar bin Al-Khaththab z
berkata: Rasulullah n
bersabda:

لَمَّا أَذْنَبَ آدَمُ الذَّنْبَ الَّذِي أَذْنَبَهُ، رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ. فَقَالَ: تَبَارَكَ اسْمُكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي رَفَعْتُ رَأْسِي إِلَى عَرْشِكَ فَإِذَا فِيْهِ مَكْتُوبٌ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ، فَعَلِمْتُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَعْظَمَ عِنْدَكَ قَدْرًا عَمَّنْ جَعَلْتَ اسْمَهُ مَعَ اسْمِكَ. فَأَوْحَى اللهُ إِلَيْهِ: يَا آدَمُ إِنَّهُ آخِرُ النَّبِيِّيْنَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ وَلَوْ لاَ هُوَ مَا خَلَقْتُكَ

Ketika Adam telah berbuat dosa ia pun mengangkat kepala ke atas langit kemudian berdoa: “Aku meminta kepada-Mu berkat wasilah Muhammad ampunilah dosaku.” mk Allah berfirman kepadanya: “Siapakah Muhammad ?” mk Adam menjawab: “Maha berkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu dan ternyata di situ tertulis: Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. mk akupun mengetahui bahwa tdk seorang pun yg lbh agung kedudukan di sisi-Mu dari orang yg telah engkau jadikan nama bersama dgn nama-Mu.” mk Allah berfirman kepadanya: “Wahai Adam sesungguh dia adl Nabi terakhir dari keturunanmu kalaulah bukan krn dia niscaya Aku tdk akan menciptakanmu.”
Hadits ini diterjemahkan begitu saja tanpa menerjemahkan takhrij hadits yg disebutkan Al-Kandahlawi. Dia berkata setelah itu: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dlm Ash-Shaghir Al-Hakim Abu Nu’aim Al-Baihaqi yg kedua dlm kitab Ad-Dala`il Ibnu ‘Asakir dlm Ad-Durr dan dlm Majma’ Az-Zawa`id : Diriwayatkan Ath-Thabrani dlm Al-Ausath dan Ash-Shaghir dan dlm - ada yg tdk aku kenal. Aku berkata: Dan dikuatkan yg lain berupa hadits yg masyhur: “Kalau bukan krn engkau aku tdk menciptakan jagad raya ini” Al-Qari berkata dlm Al-Maudhu’at: “Hadits ini palsu.”
Cobalah pembaca perhatikan. Hadits ini pada hakekat telah diketahui oleh penulis sebagai hadits yg tdk bisa dijadikan sebagai hujjah bahkan tdk dikuatkan dgn ada jalan lain. Namun ucapan ini tdk diterjemahkan sehingga para pembaca kitab ini menyangka bahwa hadits ini termasuk hadits yg bisa diamalkan. Rincian kedudukan hadits ini bisa dilihat dlm kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah dan kitab At-Tawassul mulai hal. 105 dst. Kedua kitab tersebut karya Al-’Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani v
di mana beliau menghukumi hadits tersebut sebagai hadits palsu.
2. Disebutkan pula dlm kitab tersebut pada bab yg sama4 hadits dari Anas z
bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq z
menemui Nabi n
dalam keadaan bersedih. mk Nabi n
berta kepada “Mengapa aku melihatmu bersedih?” Ia menjawab “Wahai Rasulullah semalam aku berada di sisi anak pamanku si fulan yg telah meninggal dunia.” mk Rasul berta “Apakah engkau mentalqin dgn Laa ilaaha illallah?” Ia menjawab “Telah kulakukan wahai Rasulullah.” Beliau berta “Ia mengucapkannya?” Ia menjawab “Ya.” Beliau bersabda “Telah wajib bagi surga.” Abu Bakar berta lagi “Wahai Rasulullah bagaimana jika orang yg masih hidup mengucapkan kalimat itu?” Beliau bersabda “Kalimat itu merontokkan dosa-dosa mereka. Kalimat itu merontokkan dosa-dosa mereka.”
Hadits ini pun disebutkan tanpa diterjemahkan takhrij padahal Al-Kandahlawi mengomentari hadits tersebut dgn mengatakan: “Diriwayatkan Abu Ya’la dlm sanad terdapat Za`idah bin Abi Raqqad ditsiqahkan oleh Al-Qawariri namun dilemahkan Al-Imam Al-Bukhari dan yg lainnya5. Demikian yg terdapat dlm Majma’ Az-Zawa`id6.”
Perkataan ini tertulis dlm bahasa Arab sehingga tdk pernah dibaca para pembacanya.
3. Disebutkan pula pada bab yg sama7 hadits Abdullah bin Abi Aufa z
dia berkata: Rasulullah n
bersabda: “Barangsiapa mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ أَحَدًا صَمَدًا لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

maka Allah akan menuliskan bagi 2.000.000 kebaikan.”
Hadits ini diterjemahkan pula makna tanpa menerjemahkan komentar yg mengatakan: “Diriwayatkan At-Thabrani demikian dlm At-Targhib dan Majma’ Az-Zawa`id. dlm sanad terdapat seorang rawi bernama Faid Abul Warqa ia ditinggalkan hadits .”
Dan hal yg seperti ini sangat banyak kita dapatkan dlm kitab ini.

Kedua: Hadits Lemah Palsu dan bahkan Tidak Ada Asalnya
Di samping poin pertama yg kami sebutkan di dlm kitab ini pun banyak sekali termuat hadits-hadits yg lemah palsu bahkan tdk ada asal dlm kitab-kitab sunnah tanpa ada komentar sedikit pun. Padahal Rasulullah n
telah melarang umat utk meriwayatkan satu ucapan kemudian menisbahkan kepada beliau tanpa ada penelitian tentang kebenaran riwayat tersebut atau menukilkan pendapat para ulama yg dijadikan sebagai sandaran dlm menghukumi suatu riwayat. Rasulullah n
bersabda:

فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dgn sengaja mk hendaklah dia mempersiapkan tempat duduk dlm neraka.”

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta dgn mengatakan segala yg didengarnya.”
Disebutkan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i v
ketika beliau menyebutkan beberapa hal yg menjadi kritikan atas Jamaah Tabligh: “Membacakan hadits-hadits yg lemah palsu dan tdk ada asalnya. Padahal Rasulullah n
bersabda: ‘Hindarilah banyak memberitakan hadits dariku. mk barangsiapa yg menisbahkan kepadaku mk hendaklah mengucap-kan kebenaran atau kejujuran. Barangsiapa mengada-ada sesuatu atasku yg aku tdk ucapkan mk hendaklah dia persiapkan tempat duduk dlm neraka’. 8
Dan berikut ini akan kami sebutkan pula beberapa contoh tentang hal ini:
1. Disebutkan dlm bab Fadhilah Shalat hal. 288 hadits yg berbunyi:
“Shalat akan membuat mulut setan menjadi hitam dan akan mematahkan punggungnya.”
Dalam kitab Al-Jami’ush Shagir berbunyi demikian yg artinya: “Shalat itu menghitamkan wajah setan dan sedekah itu akan mematahkan punggungnya.” Hadits ini merupakan hadits yg sangat lemah. Karena dlm sanad terdapat seorang rawi bernama Abdullah bin Muhammad bin Wahb Al-Hafizh. Ad-Daruquthni berkata tentangnya: “Matruk .” Dan ada perawi lain bernama Zafir bin Sulaiman. Adz-Dzahabi berkata tentang dia: “Lemah sekali.” Dan hadits ini sangat dilemahkan oleh Al-Albani dlm Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir no. 3560.
2. Disebutkan dlm bab Fadhilah Adz-Dzikr hal. 432 ia berkata: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah z
bahwa Rasulullah n
pernah bersabda: “Berpikir sesaat lbh baik daripada beribadah enam puluh tahun.”
Padahal hadits ini adl hadits palsu sebagaimana telah diterangkan Al-Albani dlm Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah 1/173. Adapun riwayat yg shahih dgn lafadz:

لَقِيَامُ رَجُلٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ سَاعَةً أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةٍ سِتِّيْنَ سَنَةً

“Berdiri seseorang di jalan Allah sesaat lbh afdhal dari beribadah selama enam puluh tahun.” Hadits ini dishahihkan Al-Albani dlm Ash-Shahihah 4/1901.
3. Demikian pula yg disebutkan dlm bab Fadhilah Al-Qur`an hal. 644 bahwa barangsiapa mengkhatamkan Al-Qur`an di siang hari mk malaikat akan mendoakan hingga malam hari dan barangsiapa yg menamatkan di awal malam mk para malaikat mendoakan- hingga pagi hari.
Padahal hadits inipun lemah sebagaimana telah diterangkan Al-’Allamah Al-Albani dlm Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah 10/4591.

Ketiga: Membawa Pemahaman Kaum Shufiyyah
Kitab ini banyak sekali menukil afkar kaum Shufiyyah yg dapat menjerumuskan kaum muslimin ke dlm berbagai penyimpangan yakni kerusakan aqidah sikap ekstrim dlm beribadah dan semisalnya. Oleh karena sangatlah wajar jika kitab ini menjadi buku pegangan seorang tablighi dikarenakan Jamaah Tabligh merupakan kelompok yg dibangun di atas empat tarekat shufiyyah: Naqsyabandiyyah Jusytiyyah Sahrawardiyyah dan Qadiriyyah.9
Berikut ini akan kami nukilkan pula beberapa perkataan yg dinukilkan dari kaum Shufiyyah:
Disebutkan pada bab Fadhilah Shalat hal. 316-317 Al-Kandahlawi berkata: Asy-Syaikh Abdul Wahid rah. a10 seorang sufi yg masyhur mengatakan bahwa pada suatu hari beliau didatangi rasa kantuk yg luar biasa sehingga beliau tertidur sebelum menyelesaikan dzikir malam itu. Di dlm mimpi beliau melihat seorang gadis berpakaian sutera hijau yg amat cantik sementara seluruh tubuh hingga kaki sibuk berdzikir. Gadis tersebut berta kepada beliau adakah keinginan beliau utk memilikinya? Dia mencintai beliau kemudian dibaca beberapa bait syair. Setelah bangun dari tidur beliau bersumpah bahwa beliau tdk akan tidur pada malam hari. Diriwayatkan bahwa selama 40 tahun beliau shalat shubuh dgn wudhu shalat ‘Isya.
Dalam kisah ini ada beberapa hal yg perlu diperhatikan:
Pertama: Bahwa Allah k
telah melarang kita utk berbuat ghuluw dlm beribadah dan memerintahkan kita utk beribadah kepada-Nya sesuai dgn kemampuan. Sehingga agama ini menghendaki agar seorang muslim mengerjakan ibadah tersebut dlm keadaan nasyath sehingga mampu mengerjakan ibadah tersebut dlm keadaan khusyu’ dan sesempurna mungkin. Dan apabila ia dlm keadaan mengantuk mk dianjurkan bagi beristirahat hingga rasa kantuk tersebut hilang.
Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik z
dia berkata: Ketika Nabi n
memasuki masjid ternyata ada sebuah tali yg terbentang di antara dua tiang lalu beliau berta “Tali apa ini?” Mereka menjawab “Tali ini milik Zainab11 jika ia lesu diapun bergantung dengannya.” mk Nabi n
bersabda: “Lepaskan itu. Hendaklah salah seorang kalian shalat di saat giatnya. Jika ia lesu mk hendaklah ia tidur.”
Demikian pula yg diriwayatkan dari hadits Aisyah x
bahwa Rasulullah n
bersabda:

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِي لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ

“Jika salah seorang kalian dlm keadaan mengantuk sementara dia shalat. mk hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Karena sesungguh jika salah seorang kalian shalat dlm keadaan mengantuk dia tdk mengetahui. Jangan sampai dia hendak beristighfar lalu tanpa sadar ia mencerca diri sendiri.”
Kedua: Bahwa sebaik-baik petunjuk adl petunjuk Rasulullah n
. Dan di antara petunjuk Rasulullah n
dalam melaksanakan shalat malam adl apa yg beliau sebutkan dlm hadits yg diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c
bahwa Rasulullah n
bersabda:

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَكَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا، وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

“Puasa yg paling dicintai Allah adl puasa Dawud p
. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan shalat yg paling dicintai Allah adl shalat Dawud p
beliau tidur di pertengahan malam bangun di sepertiga malam dan tidur seperenam malam.”
Disebutkan pula dlm kitab ini hal. 484 dari Syaikh Waliullah yg berkata dlm kitab Qaulul Jamil: “Ayah saya telah berkata bahwa ketika saya baru belajar suluk dlm satu nafas dianjurkan supaya membaca Laa ilaaha illallah sebanyak dua ratus kali” Syaikh Abu Yazid Qurtubhi berkata: “Saya mendengar bahwa barang-siapa membaca kalimat Laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali ia akan terbebas dari api neraka. Setelah mendengar hal itu saya membaca utk istri saya sesuai dgn nishab12 tersebut. Tidak lupa saya juga membaca utk nishab diri saya sendiri. Di dekat saya tinggal seorang pemuda yg terkenal sebagai ahli kasyaf13. Dia juga kasyaf tentang surga dan neraka. Namun saya agak meragukan kebenarannya. Pada suatu ketika pemuda tersebut ikut makan bersama kami. Tiba-tiba ia berkata dan meminta kepada saya sambil berteriak katanya: “Ibu saya masuk neraka dan telah saya saksikan keadaannya.” Karena melihat kegelisahan pemuda tersebut saya berpikir utk membacakan bagi satu nishab bacaan saya utk menyelamatkan ibu di samping juga utk mengetahui kebenaran mengenai kasyaf-nya. mk saya membaca sebanyak 70.000 kali sebagai nishab yg saya baca utk diri saya itu guna saya hadiahkan kepada ibunya. Saya meyakini dlm hati bahwa ibu pasti selamat. Tidak ada yg mendengar niat saya ini kecuali Allah k
. Setelah beberapa waktu pemuda tersebut berteriak “Wahai paman wahai paman ibu saya telah bebas dari api neraka.” Dari pengalaman itu saya memperoleh dua manfaat: Pertama saya menjadi yakin tentang keutamaan membaca Laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali krn sudah terbukti kebenarannya. Kedua saya menjadi yakin bahwa pemuda tersebut benar-benar seorang ahli kasyaf.”
Cobalah perhatikan kisah ini. Jika seorang muslim membaca dan meyakini cerita khurafat ini mk dia akan terjatuh ke dlm berbagai penyimpangan di antaranya:
 Menetapkan wirid tertentu dgn bilangan yg telah ditetapkan lalu menyebutkan keutamaan yg semua tdk bersumber dari pembawa syariat: Rasulullah n
. Dan ini jelas merupakan bid’ah yg jahat dan menyesatkan.
 Apa yg disebut sebagai ahli kasyaf adl dusta belaka. Karena tdk seorang pun yg dapat mengetahui nasib seseorang di akhirat apakah dia pasti masuk ke dlm surga ataukah neraka kecuali yg dikabarkan Allah k
kepada hamba yg dikehendaki-Nya dari kalangan para rasul-Nya. Firman-Nya:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلىَ غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“ Yang Mengetahui yg ghaib mk Dia tdk memperlihatkan kepada seorangpun tentang yg ghaib itu. Kecuali kepada rasul yg diridhai-Nya mk sesungguh Dia mengadakan penjaga-penjaga di muka dan di belakangnya.”
Dan penukilan-penukilan yg seperti ini banyak sekali terdapat dlm kitab Fadha`il Al-A’mal karya Muhammad Zakaria tersebut. Sehingga hendaklah kaum muslimin berhati-hati dari kitab ini dan mencari kitab-kitab yg jauh lbh selamat yg bisa mengantarkan seseorang utk mengamalkan Sunnah Rasulullah n
seperti kitab Shahih Al-Bukhari pada kitab Ar-Raqa‘iq Al-Adab dan yg semisalnya. Demikian pula Shahih Muslim pada kitab Ad-Dzikr dan Al-Bir Wash-Shilah Wal-Adab dan kitab-kitab sunnah yg lainnya. Atau seperti Riyadhus Shalihin karya Al-Imam An-Nawawi Al-Kalim Ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah14 dan masih banyak lagi kitab-kitab sunnah yg jauh lbh baik dan selamat dari berbagai penyimpangan.
Wallahu a’lam.

1 Al-Qaulul Baligh hal. 11-12
2 Hal. 497 versi Bahasa Indonesia terbitan Ash-Shaff Yogyakarta Sya’ban tahun 1421 H.
3 dlm cetakan tersebut terdapat kekurangan dlm penukilan lafadz Arab mk disempurnakan oleh penulis dari referensi lainnya.
4 Hadits no. 32 hal. 503
5 Al-Imam Al-Bukhari tdk hanya melemahkan bahkan menghukuminya: munkarul hadits. Dan bila Al-Imam Al-Bukhari menghukumi seorang rawi dgn hukum ini mk maksud adl tdk dihalalkan mengambil riwayat dari perawi tersebut sebagaimana yg telah diriwayatkan Ibnul Qaththan bahwa Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Semua yg aku tetapkan sebagai munkarul hadits mk tdk halal mengambil riwayat darinya.”
6 Fadhilah Dzikr hal 504.
7 Hal. 507 hadits ke-35
8 Al-Makhraj minal Fitnah hal. 96
9 Al-Qaulul Baligh Fit Tahdzir min Jama’ah At-Tabligh Hamud At-Tuwaijiri hal. 11
10 Demikian tertulis maksud radhiallahu anhu.
11 Terjadi silang pendapat tentang Zaenab yg dimaksud dlm hadits ini. Ada yg mengatakan Zaenab bintu Jahsy salah seorang Ummul Mukminin. Ada pula yg mengatakan Hamnah bintu Jahsy yg memiliki nama lain Zaenab. Karena semua anak perempuan Jahsy dipanggil dgn nama Zainab.
12 Nishab arti bahagian.
13 Ahli kasyaf adl seseorang yg mampu melihat segala hal ghaib krn hijab telah diangkat darinya. Begitulah anggapan mereka namun hakekat semua itu adl bohong belaka.
14 Yang kedua telah ditakhrij dan ditahqiq hadits-hadits oleh Al-’Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani v

Sumber: www.asysyariah.com


maulana zakariyya suluk fadilah puasa daud