Kitab Riyadhus Shalihin Hadits 1389, 1390, 1391
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin۱۳۸۹- وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ:وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًاسَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.۱۳۹۰- وَعَنْهُ أَيْضًا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: مَنْ دَعَاإِلىٰ هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الاَجْرِمِثْلُ أُجُرِمَنْ تَبِعَهُ لاَيَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا.رَوَاهُ مُسْلِمٌ.۱۳۹۱-وَعَنْهُ قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ :إِذَا مَاتَ ابْنُ ﺁدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ:صَدَقَتٍ جَارِيَةٍأَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِأَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.1389. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan utk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”1390. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menyerbu kepada hidayah maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yamh mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun.”1391. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Jika anak Adam mati maka terputuslah semua amalannya melainkan tiga hal; shadaqah jariyyah ilmu yg bermanfaat dan anak shalih yg mendo’akannya.”Ketiga hadits tersebut menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan pengaruh serta dampaknya yg baik.Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Dan barang siapa menempuh satu jalan utk mendapatkan ilmu maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga”. “Menempuh Jalan” disini mencakup: Jalan secara indrawi yaitu jalan yg dilalui kedua kaki seperti sesorang pergi dari rumahnya menuju tempat utk menimba ilmu baik berupa masjid madrasah ataupun universitas dan lain sebagainya.Dan termasuk hal ini adl rihlah dalam rangka mencari ilmu yaitu seseorang yg rihlah dari negerinya ke negeri lain utk mencari ilmu maka hal ini adl termasuk menempuh jalan utk mendapatkan ilmu.Sungguh Jabir bin Abdillah Al Anshori radhiallahu ‘anhu seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan rihlah utk mendapatkan satu hadits selama perjalanan sebulan di atas onta beliau menempuh perjalanan dari negerinya ke negeri yg lain selama sebulan untuk mendapatkan satu hadits yg diriwayatkan Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad No. 746}Kedua: Jalan yg bersifat maknawi yaitu mencari ilmu dari pendapat dan perkataan para ulama’ dan kitab-kitab.Maka orang yg menelaah kitab-kitab utk mengetahui dan mendapatkan hukum permasalahan syari’at walaupundia duduk diatas kursinya maka ia telahmenempuh satu jalan mendapatkan ilmu.Barang siapa duduk dihadapan seorang syaikh dia belajar darinya maka ia telah menempuh jalan utk mendapatkan ilmu walaupun ia duduk.Barangsiapa menempuh jalan tersebut maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga krn dgn ilmu syar’i engkau akan mengerti hukum-hukum Allah Subhanahu wa ta’ala. Engkau mengetahui syari’at Allah apa yg diperintahkan dan apa yg dilarang-Nya sehingga engkau ditunjuki ke jalan yg Allah Azza wa Jalla ridhoi dan menghantarkan engkau ke jannah. Manakala bertambah semangat dalam menempuh jalan yg mengantarkan kepada ilmu maka bertambah pula kemudahan jalan yg mengantarkanmu ke surga.Dalam hadits ini terdapat dorongan spirit utk “tholabul ilmi” tanpa diragukan oleh seorangpun. Maka sudah sepantasnya bagi manusia utk segera mempergunakan kesempatan.
Terlebih bagi pemuda yg dia lbh mampu menghafal dgn cepat lbh kuat melekat pada pikirannya maka sudah sepantasnya utk bersegera menggunakan waktu dan umurnya sebelum datang masa-masa yg menyibukkan dirinya.Hadits Kedua:Juga dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda” “Barang siapa menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang yg mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun.” “Barang siapa yg menyeru kepada petunjuk” yaitu dgn mengajarkan ilmu kepada manusia karena da’i kepada Al-huda adl orang yg mengajarkan kepada manusia dan menjelaskan dan membimbing merekakepada Al haq maka dia mendapat pahala seperti orang yg mengikutinya.Satu contoh: Engkau memberi petunjuk kepada orang agar dia semestinya menjadikan witir sebagai akhir sholat malamnya. Sebagaimana perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :اِجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ فِى الَّيْلِ وِتْرًا“Jadikan akhir sholat kalian di malam hari adl witir”Engkau menganjurkan dan mendorong utk sholat witir kemudian ada seseorang yg melakukan witir berdasarkan bimbinganmu maka engkau mendapat pahala seperti dia yaitu orang yg mengetahui hal itu dari kamu dan hal itu bisa mengalir hingga hari kiamat.Dalam hadits tersebut terdapat dalil yg menunjukkan banyaknya pahala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam krn beliau telah menunjuki umat ini kepada “Al huda” maka tiap ada orang yg beramal dari ummat ini dgn petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan pahalanya juga tanpa mengurangi pahala orang-orang yg mengamalkannya sedikitpun.Sehingga pahala itu sempurna baik bagi pelaku maupun da’i Jika telah jelas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat pahala apa yg diamalkan ummat maka dgn hal ini menjadi jelas pula kesalahan orang yg “menghadiahkan” pahala ibadah kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya sebagian orang ada yg melakukan shalat dua raka’at kemudian berkata “ ya Allah jadikan pahala amalan ini utk Rasul”.
Ada lagi yg membaca Al Qur’an ia pun berkata “ ya Allah jadikan pahalanya utk Rasul” maka ini adl perbuatan yg keliru. para imam baik Imam Ahmad bin Hambal Asy Syafi’i Malik dan Abu Hanifah yg menghadiahkan amalan untuk Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam}Jadi kita ambil faedah dari hadits ini berupa keutamaan ilmu krn dgn sebab ilmulah yg menunjuki kepada Al Huda yg mendorong kepada taqwa maka ilmu lbh utama dibanding banyaknya harta bahkan sekalipun bersedekah dgn harta yg luar biasa banyaknya berilmu dan menyebarkan ilmu adl lbh afdhol.Sekarang sebuah contoh nyata utk anda semua:Di zaman Abu Hurairah terdapat raja yg memiliki kekuasaan dunia di zaman imam Ahmad ada orang-orang kaya yg memiliki harta kekayaan melimpah dan mereka bersedekah dan wakaf di zaman setelah mereka seperti zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ibnul Qayyim ada juga orang-orang kaya yg bershadaqah berinfaq dan wakaf. Mana atsar harta yg mereka infaqkan? mana shadaqah mereka yg kita rasakan sampai hari ini? Telah hilang itu semua..Sementara itu hadits-hadits-nya Abu Hurairah tetap dibaca tiap saat malam dan siang dia pun mendapatan pahalanya para imam-imam juga demikian ilmu mereka fiqih mereka tersebar di tengah-tengah ummat sehingga terus mengalir pahala utk mereka.Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ibnul Qayyim dan yg lainnya dari para ulama walau mereka telah meninggal nama-nama mereka masih senantiasa hidup seakan mereka tetap mengajarkan kepada manusia sementara mereka di kubur-kuburnya. Mereka terus dapat pahala walaupun mereka telah tiada.Hal ini menunjukkan bahwa ilmu itu lbh afdhal dan lbh bermanfaat bagi manusia dibandingkan banyaknya harta.Diterjemahkan oleh Al Ustadz Muhammad Rifa’i dari kitab Syarah Riyadhus Shalihin Bagian Kitabul Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin cetakan Darul Atsar .Referensi: Buletin Da’wah Islam Riyadhus Shalihin Edisi 005/Jumadil Tsani/1427 H.
sumber : file chm Darus Salaf 2
Perjalanan untuk satu hadist hadis keutamaan orang bermanfaat
