Kritik Terhadap Kebatilan dan Pelakunya

penulis Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari Lc
Syariah Manhaji 15 - April - 2005 16:09:23

Konsep persatuan dan rapatkan barisan nampak menjadi konsep yg laker saat ini. Dengan ciri khas mengedepankan persatuan tanpa mempermasalahkan latar belakang pemahaman agama masing-masing unsur konsep ini terus bergulir. Slogan “Islam warna-warni” terus didengungkan seiring dgn semakin merasuk konsep batil ini di tengah umat Islam. Motto kelompok sesat Ikhwanul Muslimin “saling bantu-membantu dlm hal-hal yg disepakati bersama dan saling menghargai perbedaan-perbedaan yg ada” pun turut meramaikan suasana. tdk peduli apakah perbedaan tersebut berkaitan dgn masalah prinsip ataukah tidak. Hingga sampailah pada klimaks di mana tdk boleh saling mengkritik kesalahan dan pelaku meskipun kesalahan tersebut hakekat termasuk masalah prinsip dlm agama ini. Subhanallah sedemikian sucikah kebatilan dan para pelaku itu?!

Kebatilan dan Pelaku Pada Umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa tiap nabi mempunyai musuh dari jenis jin dan manusia yg selalu menentang mereka dan mengajak umat manusia kepada kebatilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَكَذَالِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَىبَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin. Sebagian dari mereka membisikkan kepada sebagian yg lain perkataan-perkataan yg indah-indah utk menipu manusia.”
Meski demikian Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memerintahkan Rasul-Nya utk terus mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari kebatilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ. إِناَّ كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِيْنَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yg diperintahkan dan berpalinglah dari orang2 musyrik. Sesungguh Kami memelihara kamu dari orang yg memperolok-olokkan .”
Hal ini menunjukkan bahwa kebatilan dan pelaku benar-benar ada pada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yg diriwayatkan shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiallahu ‘anhu ia berkata: “orang2 selalu berta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan sedangkan aku selalu berta kepada beliau tentang kejelekan krn aku khawatir kejelekan itu akan menimpaku. mk aku berkata: “Wahai Rasulullah sesungguh kami dahulu tenggelam dlm kehidupan jahiliyah dan kejelekan kemudian Allah menganugerahkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada kejelekan?” Beliau bersabda: “Ya.” Aku berkata: “Dan apakah setelah kejelekan itu akan ada kebaikan lagi?” Beliau bersabda: “Ya namun ada kelemahan padanya.” Aku berkata: “Apa kelemahan itu?” Beliau bersabda: “Ada suatu kaum yg berpegang dgn selain Sunnahku dan membimbing manusia dgn selain petunjukku engkau mengetahui apa yg datang dari mereka dan bisa mengingkari.” Aku pun berkata: “Apakah setelah kebaikan itu akan ada kejelekan lagi?”
Beliau bersabda: “Ya ada para da’i yg menyeru kepada pintu-pintu jahannam. Barangsiapa menyambut ajakan mereka niscaya akan dilemparkan ke dlm .” Aku berkata: “Wahai Rasulullah apa nasehatmu jika aku mendapatinya?” Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah dgn jamaah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku berkata: “Bagaimana jika mereka tdk mempunyai jamaah dan imam?” Beliau bersabda: “Hendak engkau tinggalkan semua kelompok-kelompok itu meskipun engkau harus berpegangan akar pohon sampai kematian mendatangimu dan engkau dlm keadaan seperti itu.”
Disebutkan pula dlm hadits Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu dia berkata:

وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْناَ: يَا رَسُولَ اللهِ كَأَنَّهاَ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِناَ. قَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفاَءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهاَ وَعَضُّوْا عَلَيْهاَ بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehati kami dgn suatu nasehat yg sangat mengena membuat hati trenyuh dan air mata berlinang. mk kami berkata: ‘Wahai Rasulullah seperti ini nasehat seseorang yg akan meninggalkan mk berilah kami wasiat.’ Beliau pun akhir bersabda: ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar selalu bertaqwa kepada Allah dan mendengar lagi taat walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak. Sesungguh siapa saja di antara kalian yg hidup mk ia akan melihat perselisihan yg cukup banyak. mk wajib bagi kalian dgn Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafa` Ar-Rasyidin setelahku yg terbimbing. Berpegang teguhlah kalian dengan dan gigitlah ia dgn gigi-gigi geraham kalian serta hati-hatilah dari perkara-perkara yg diada-adakan krn tiap bid’ah itu sesat.”

Sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Terhadap Kebatilan dan Pelakunya
Demikianlah wasiat agung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk umat agar mereka tdk larut dlm kesesatan dan dihempaskan oleh hawa nafsu. Perhatikanlah beliau tdk hanya menunjukkan jalan kebenaran yg harus ditempuh yaitu berpegang teguh dgn manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Akan tetapi beliau iringkan pula prinsip lain yaitu memperingatkan umat dari kebatilan dan segala apa yg diada-adakan dlm agama ini . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ …..

“Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yg diada-adakan .”
Dari sini nampak jelas bahwa perkataan sebagian orang: “Ajarkanlah kepada umat suatu kebenaran niscaya mereka dapat mengetahui kebatilan dgn sendirinya” adl perkataan yg batil. Sudah seyogya bagi kita menanamkan manhaj salaf di hati sanubari umat dan memperingatkan mereka dari apa yg menyelisihi seperti yg telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dlm hadits Al-Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu di atas.
Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk mencukupkan peringatan/ kritik terhadap kebatilan semata akan tetapi beliau juga memperingatkan umat dari para penyeru kebatilan yg menyebarkan kebatilan tersebut di tengah-tengah umat menghalangi mereka dari jalan istiqamah serta menipu umat dgn hiasan kata-kata agar mereka terkelabui dengannya. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk segan-segan menyebutkan nama-nama mereka tanpa mencukupkan penyebutan sifat dan kebatilan mereka semata. Tidak ada yg mendorong beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk memberikan peringatan tersebut kecuali kekhawatiran beliau terhadap umat dari penyimpangan dan dari syi’ar-syi’ar kebatilan yg menipu.
Ketahuilah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dari orang2 Khawarij sebagaimana yg terdapat di dlm hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu tentang Dzul Khuwaishirah yg pernah mengatakan :

اِعْدِلْ ياَ مُحَمَّدُ

“Berbuat adillah wahai Muhammad!”
Ketika Umar radhiallahu ‘anhu berkehendak utk membunuh orang yg tdk tahu diri ini beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencegahnya. Dan ketika Dzul Khuwaishirah beranjak pergi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dari dan dari para pengikut seraya bersabda:

إِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِياَمِهِمْ، يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجاَوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Sesungguh ia mempunyai para pengikut yg salah seorang dari kalian merasa shalat tdk ada apa-apa dibandingkan shalat mereka shaum tdk ada apa-apa dibandingkan shaum mereka. Mereka membaca Al Qur`an namun tidaklah melewati kerongkongan . Mereka keluar dari agama sebagaimana keluar anak panah dari tubuh hewan buruan.”
Dan juga sabda beliau sebagaimana dlm hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu:

هُمْ شَرُّالْخَلْقِ وَالْخَلِيْقَةِ

“Mereka adl sejahat-jahat makhluk.”
Sebagaimana pula sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Qadariyyah :

اَلْقَدَرِيَّةُ مَجُوْسُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوْا فَلاَ تَعُوْدُوْهُمْ وَإِنْ مَاتُوْا فَلاَ تَشْهَدُوْهُمْ

“Al-Qadariyyah itu Majusi umat ini. Jika mereka sakit mk jangan dijenguk. Dan jika meninggal dunia jangan disaksikan jenazahnya.”

Sikap Para Shahabat Terhadap Pelaku Kebatilan
Para shahabat pun berpegang teguh dgn prinsip dan sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dlm menyikapi pelaku kebatilan dan memperingatkan umat dari mereka. ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ketika sampai kepada perihal Shabigh bin ‘Isl Al-Iraqi yg selalu berta tentang ayat-ayat mutasyabih dlm Al Qur`an sehingga membingungkan sebagian umat mk Umar mengirim utusan utk memanggil Shabigh. Ketika ia datang Umar pun langsung memukul dgn pelepah kurma hingga benar-benar kesakitan kemudian menulis mandat kepada Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu agar tdk ada seorang pun dari kaum muslimin yg duduk-duduk bersamanya.
Demikian pula sikap Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma terhadap ahlul qadar ketika sampai kepada syubhat yg dihembuskan oleh Ma’bad Al-Juhani dan para pengikut “bahwasa taqdir itu tdk ada dan urusan ini baru ” mk Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yg Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya jika salah seorang dari mereka mempunyai emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfaqkan tdk akan diterima sampai mereka beriman dgn taqdir.”

Sikap Para Tabi’in dan Ulama Terhadap Pelaku Kebatilan
Para tabi’in juga berpegang teguh dgn prinsip ini. Sebagaimana yg diriwayatkan dari Ayyub As-Sakhtiyani rahimahullah ia berkata: “Sa’id bin Jubair telah berkata kepadaku: “Aku melihatmu bersama Thalq.” Aku berkata: “Ya ada apa dengannya?” Sa’id bin Jubair berkata: “Jangan duduk-duduk bersama krn ia seorang Murji` . Kemudian Ayyub mengomentari nasehat Sa’id bin Jubair: “Aku tdk meminta pendapat dlm perkara ini namun sudah semesti bagi seorang muslim bila melihat sesuatu yg buruk pada saudara agar mengingatkannya.”
Thawus bin Kaisan memperingatkan umat dari Ma’bad Al-Juhani ‘si pengingkar taqdir’ dgn menyebut nama beliau berkata: “Hati-hatilah dari Ma’bad Al-Juhani krn sungguh ia seorang pengingkar taqdir.”
Ketika Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah datang ke kota Bashrah beliau memperhatikan keadaan Ar-Rabi’ bin Shubaih dan kedudukan di kalangan umat kemudian beliau bertanya: “Apa madzhabnya?” Mereka menjawab: “Madzhab tdk lain adl As-Sunnah.” Sufyan berkata: “Siapa kawan-kawan dekatnya?” Mereka menjawab: “Ahlul qadar .” mk Sufyan berkata: “ dia adl seorang Qadari .”
Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah berkata setelah menyebutkan para imam di atas: “Barangsiapa meneladani para imam tersebut mk akan selamat agama insya Allah.”
Demikianlah teladan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam para shahabat tabi’in dan para ulama setelah mereka dlm menyikapi pelaku kebatilan dari kalangan Ahlul Bid’ah. Dan ternyata yg demikian itu tdk termasuk dari ghibah bahkan tergolong sebagai nasehat utk umat. Para imam Islam pun sepanjang masa senantiasa berpegang teguh dgn prinsip ini. Bila anda perhatikan apa yg mereka tulis dlm karya-karya tulis mereka niscaya anda akan melihat dgn jelas dan gamblang. Lihatlah apa yg ditulis oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dlm kitab Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyati Waz Zanaadiqah bantahan Al-Imam Ad-Darimi rahimahullah terhadap Bisyr Al-Marisi dan juga bantahan Ibnu Abdil Hadi rahimahullah salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah terhadap As-Subki.
Adapun bantahan-bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah terhadap ahlul ahwa` tdk terhitung lagi banyaknya. Beliau benar-benar bagaikan pedang terhunus bagi mereka. Lihatlah kitab Ar-Raddu ‘alal Akhnaa’i dan kitab Ar-Raddu ‘alal Bakri bantahan terhadap Imamul Haramain di dlm kitab Dar`u Ta’arudhil ‘Aqli wan Naqli bantahan terhadap Ar-Razi dlm kitab Talbisul Jahmiyyah dan bantahan terhadap Al-Ghazali dlm kitab Minhajus Sunnah.
Bagaimana tidak.. beliaulah yg mengatakan: “Seorang yg membantah ahlul bid’ah adl mujahid sampai-sampai Yahya bin Yahya menyatakan pembelaan terhadap As-Sunnah lbh utama dari jihad.”
Beliau juga berkata: “Sesungguh menjelaskan dan memperingatkan umat dari keadaan para penyeru bid’ah yg perkataan atau ibadah bertentangan dgn Al Qur`an dan As-Sunnah merupakan suatu kewajiban yg disepakati oleh kaum muslimin.
Telah dikatakan kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah: “Siapakah yg lbh engkau sukai seorang yg selalu shaum shalat dan i’tikaf ataukah seseorang yg membicarakan ahlul bid’ah?” mk beliau menjawab: “Jika seseorang shaum shalat dan i’tikaf mk itu utk diri sendiri. Namun jika berbicara tentang ahlul bid’ah mk sungguh ia utk kaum muslimin dan itulah yg lbh utama.” Beliau juga berkata: “Sebagian mereka ada yg mengatakan kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal sesungguh berat bagiku utk berkata ‘fulan demikian dan fulan demikian’ mk beliau berkata: ‘Jika engkau diam dan aku pun diam mk kapan lagi seorang jahil bisa membedakan antara yg benar dan yg salah.’
Demikianlah secara berkesinambungan hingga zaman kita ini para ulama Sunnah selalu mengangkat tinggi bendera As-Sunnah dan membela serta memerangi bid’ah dan memperingatkan dari ahlul bid’ah. Dan segala puji hanya milik Allah yg telah menjadikan di zaman kita ini orang2 yg menjaga kemurnian agama dan membela aqidah salaf sehingga tdk tercemari oleh berbagai macam kotoran. Perhatikanlah kitab-kitab Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah semua penuh dgn bantahan-bantahan terhadap ahlul ahwa`. Perhatikanlah bantahan beliau terhadap Al-Kautsari dan murid Abdul Fattah Abu Ghuddah serta Ash-Shabuni dlm hal sifat-sifat Allah niscaya anda akan mendapati dgn jelas di dlm kitab Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah. Benar-benar beliau telah membantah sejumlah ahlul bid’ah para pemilik nama-nama yg indah. Al-Mu’allimi rahimahullah juga membantah Al-Kautsari dlm kitab At-Tankil dan perhatikan bantahan-bantahan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah terhadap ahlul bid’ah seperti bantahan terhadap Abu Ghuddah di dlm muqaddimah kitab Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah dan dlm kitab beliau Kasyfun Niqab dan juga bantahan beliau terhadap Muhammad Al-Buuthi. Kaset-kaset beliau pun penuh dgn diskusi tentang ahlul bid’ah serta membongkar tipuan dan kerancuan-kerancuan mereka.
Demikian pula bantahan-bantahan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah terhadap ahlul ahwa` seperti bantahan beliau terhadap Al-Buuthi di dlm kitab As-Salafiyah dan bantahan beliau terhadap Ash-Shabuni. Bantahan-bantahan Asy-Syaikh Al-‘Allamah Hamud At-Tuwaijiri rahimahullah terhadap ahlul bid’ah pun sangat banyak di antara kitab Ar-Raddul Qawi ‘Alal Mujrimil Atsim Al-Qaulul Baligh Fit Tahdzir Min Jama’atit Tabligh dan Al-Ihtijaj Bil Atsar ‘Ala Man Ankaral Mahdi Al-Muntazhar. Dan lihatlah apa yg telah ditulis oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah dlm menyingkap aqidah Sayyid Quthub dan bantahan terhadap orang2 yg berlebihan terhadap dlm empat kitab yg sangat berharga; Adhwa‘ Islamiyah ‘Ala ‘Aqidati Sayyid Quthub Wa Fikrihi Matha’in Sayyid Quthub Fi Ashhabi Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Al-‘Awashim Mimma Fi Kutubi Sayyid Quthub Minal Qawaashim dan Al-Hadddul Fashil Bainal Haqqi Wal Bathil dan banyak lagi dari para ulama selain mereka yg membela As-Sunnah dan manhaj salaf siang dan malam secara sembunyi dan terang-terangan dgn mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Penutup
Dari bahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Kebatilan dan para pelaku benar-benar ada pada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk hanya menunjukkan jalan kebenaran yg harus ditempuh oleh umat tetapi beliau juga memperingatkan mereka dari kebatilan dan segala apa yg diada-adakan dlm agama ini . Sehingga betapa batil perkataan sebagian orang “Ajarkanlah kepada umat suatu kebenaran niscaya mereka dapat mengetahui kebatilan dgn sendirinya.”
3. Di antara prinsip Islam adl memperingatkan umat dari kebatilan dan pelaku sebagaimana yg dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam para shahabat tabi’in dan ulama-ulama Islam. Dari sini nampak kesesatan dan kebatilan perkataan sebagian orang “Peringatkan umat dari kebatilan namun jangan sekali-kali berbicara tentang pelakunya” atau yg lbh ‘keren’ lagi “Kita memperbaiki dan tdk menghancurkan.”
4. Persatuan sejati adl yg dibangun di atas Al-Quran dan As-Sunnah dgn pemahaman As-Salafush Shalih dgn saling membantu dlm kebaikan dan saling menasehati bila ada yg terjatuh dlm kemungkaran.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اُنْصُرْ أَخاَكَ ظَالِماً أَوْ مَظْلُوْمًا. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُوْماً فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِماً؟ قَالَ: َتأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

“Bantulah saudaramu baik dlm keadaan dzalim atau didzalimi.” Para shahabat berkata “Wahai Rasulullah membantu dlm keadaan didzalimi bisa kami mengerti lalu bagaimana membantu dlm keadaan dzalim?” Beliau menjawab “Kalian mencegah dari perbuatan dzalim tersebut.”
Maka dari itu konsep “persatuan dan rapatkan barisan” yg hanya mengedepankan ‘persatuan’ tanpa mempermasalahkan latar belakang pemahaman agama masing-masing unsur bahkan tdk boleh saling mengkritik kesalahan dan pelaku dlm masalah yg prinsip sekalipun merupakan konsep yg batil. Suatu konsep persatuan orang2 Yahudi yg diingkari oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm firman-Nya:

لاَ يُقاَتِلُوْنَكُمْ جَمِيْعاً إِلاَّ فِيْ قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَآءِ جُدُرٍ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعاً وَقُلُوْبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَعْقِلُوْنَ

“Mereka tdk akan memerangi kamu secara frontal kecuali di kota-kota yg berbenteng atau di belakang tembok. Permusuhan di antara mereka sendiri sangat tajam. Kamu mengira mereka itu bersatu tapi hati mereka terpecah-pecah. Itulah krn mereka kaum yg tdk mau berpikir.”
Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: www.asysyariah.com

Related Post:
  • Barokah Dakwah Tauhid
  • Sosok Pembaharu Bukanlah Pengacau Agama, Politikus atau Pemberontak
  • Bentuk-Bentuk Tasyabbuh
  • Masyarakat Madinah bag2 (Turunnya Perintah Untuk Berjihad)
  • DARAH WANITA
  • Keutamaan Ilmu dan Ulama
  • Kewajiban Mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Bolehkah Menikahi Wanita Ahlul Kitab?
  • Rujuk Kepada Ulama Jalan Keluar dari Fitnah
  • Bersatu dan Berpisah Karena Allah
  • Tawadhu’
  • Membungkam Lolongan Para Thaghut Penyeru Pluralisme dan Inklusivisme
  • Adab dan Akhlak dlm Kesempurnaan Islam
  • Bekerja dan Beramal
  • HUKUM MELAFAZKAN NIAT

  • Tag : , , , , , , , , , , , , , , , , , , , bantahan islam terhadap fitnah nabi muhammad bantahan kesesatan Ikhwanul muslimin bantahan subki ibnu taimiyah bantahan terhadap Al quran bantahan terhadap ihwanul muslimin cara mencegah kebatilan islam akan memerangi ahlul bidah jika enkau diam dan aku diam jahil jika melihat kebatilan kebatilan
    You can leave a response, or trackback from your own site.