Setelah 57 tahun tepatnya 17 Agustus 1945 atas nama bangsa Indonesia Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia yg menandai berakhirnya penjajahan asing secara fisik di bumi pertiwi ini sudah seharusnya kita kembali berkaca mengukur prestasi yg telah dicapai oleh sebuah bangsa yg bernama Indonesia mencatat kelemahan yg ada agar tak terulang kembali mengidentifikasi masalah yg harus sesegera mungkin diselasaikan. Marilah berkaca ke negeri lain dalam hal yg positif seperti kemajuan teknologi pendidikan ekonomi dan yg terpenting sikap mental positif serta keluhuran akhlak dan budi pekerti.

Ambilah contoh Jepang negara yg pernah menjajah kita selama 35 tahun itu kembali ke negerinya dan menyerah kepada sekutu krn dua kota besarnya Hiroshima dan Nagasaki hancur di bom atom pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Pada saat yg sama kita sedang memasuki babak baru mematangkan kemerdekaan yg sudah dipersiapkan dari tanggal 28 Mei 1945 dgn dibentuknya BPUPKI sampai proklamasi 17 Agustus 1945. Boleh dikatakan bahwa saat itu bangsa kita dan Jepang sama-sama mulai membangun dari nol. Akan tetapi dalam waktu yg sama mengapa kita terpaut begitu jauh dgn Jepang dari segi kemajuan teknologi pendidikan dan ekonomi?

Kita boleh bangga krn telah mampu membangun industri pesawat terbang, sebuah barang yg masih tergolong mewah. Kita boleh bangga ketika tiga siswa muda Indonesia berhasil meraih medali emas di olimpiade fisika. Kita pun boleh bangga ketika piala thomas dan uber dapat diboyong berkali-kali ke negeri ini walaupun dgn berbagai catatan. Akan tetapi dari kesemuanya itu ternyata penghargaan serta perhatian masarakat terhadap hal-hal yg bersifat mendasar dan mendatangkan manfaat masih bisa dihitung dgn jari bila dibandingkan dgn berbagai macam prestasi buruk yg disandang bangsa ini sebutlah korupsi yg menempati posisi tertinggi angka pengangguran yg terus bertambah kemiskinan yg terus membengkak.

Belum lagi merebaknya dekadensi moral yg membuat hati kita miris. Bila kita mengamati itu adl akibat timpangnya pembangunan yg selama ini diprioritaskan oleh para pemegang kebijakan di negeri yg kaya raya ini. Kita hanya melihat lahiriah bangsa lain dan ingin berlari mengejarnya tanpa melihat jerih payah mereka sebelum sampai ke tingkat yg sekarang ini mereka ni’mati.

Kita terlalu silau dgn kemajuan barat yg dianggap keluar sebagai kampiun dalam segala bidang sehingga apa yg datang dari mereka harus diikuti dan menjadi tren masa kini. Sayangnya bukan hal positif seperti perkembangan ilmu pengetahuan yg kemudian dicontoh tetapi sebatas simbol-simbol semu kemajuan perilaku menyimpang dari aturan agama dan tradisi mulia masarakat.

Muhammad Qutb salah seorang pemikir muslim dari Mesir mengingatkan bahwa hal paling berbahaya akibat penjajahan adl mental rendah diri sebagai bangsa yg terjajah dan tradisi membebek pada bangsa yg dahulu menjajahnya atau dianggap lbh hebat dan termasuk super power.

Inilah potret bangsa kita yg selama 57 tahun kemerdekaannya rakyatnya belum mampu mencicipi melimpahnya kekayaan negeri yg mereka diami. Mengapa? Karena pendidikan masih mahal harga terus melambung sementara di sisi lain pameran mobil sampai harga milyaran rupiah selalu diserbu pembeli dan laris bak kacang goreng. Kemerdekaan ini ternyata baru dini’mati segelintir orang saja di negeri ini sementara itu rakyat kecil bagian terbesar bangsa ini belum merasakan ni’matnya kemerdekaan. Apalah artinya merdeka jika keadaanya tidak berbeda dgn zaman penjajahan dulu hidup susah.

Ketika Jepang hancur krn dibom hal pertama kali yg dilakukan kaisar Jepang adl mengumpulkan guru-guru yg tersisa dan mulailah mereka membangun negaranya lewat pendidikan. Disamping upaya penguasaan teknologi dan kemandirian, pendidikan karakter sangat ditanamkan. Falsafah hidup harakiri yg dimiliki bangsa Jepang lebih baik mati daripada hidup menanggung malu krn tidak mampu melaksanakan tugas adl kelebihan tersendiri yg mereka miliki.

Itulah yg membedakan kita dgn mereka. Hal pertama yg kita lakukan ketika hendak membangun negeri ini bukan membenahi dan memperioritaskan pendidikan tetapi mencari pinjaman pada IMF kemudian mendahulukan pembangunan fisik yg ternyata terbukti rapuh krn dia tidak memiliki pijakan kuat berupa ilmu dan akhlak. Apalagi ditambah mental bangsa kita yg sedikit demi sedikit terus menurun ke titik nadir baik krn memang serbuan budaya asing yg destruktif akibat sikap inferior yg dimiliki sebagai bangsa yg belum bisa melepaskan diri dari mental terjajah atau krn memang kita-terutama para pemimpin-tidak mempunyai budaya malu padahal jelas rasa malu itulah kunci dari kesuksesan hidup krn ia merupakan bagian dari iman. Seperti kata Rasulullah “Malu itu sebagian dari iman.” .

Kita bersyukur ketika pemerintah akhirnya menaikan anggaran negara utk pendidikan sebesar 20% tetapi di sisi lain kita memiliki satu kekhawatiran apakah anggaran yg 20% itu akan sampai ke masarakat yg memang betul membutuhkan ataukah akan bernasib seperti anggaran-anggaran terdahulu yg hanya menjadi bancakan para pemegang amanah yg kebanyakan sudah “kehilangan” rasa malu.

Jadi problem terbesar yg pertama kali harus diatasai adl menghilangkan sifat inferior sehingga kita dapat bersikap tegas terhadap IMF yg selama ini menjadi alat penjajahan gaya baru negara-negara maju. Dan yg kedua adl menanamkan budaya malu sebab bila rasa malu sudah hilang orang bisa melakukan apa saja sesuai dgn keinginan pribadinya. Rasulullah bersabda “ Jika engkau sudah tidak memiliki rasa malu maka berbuatlah sesukamu.”

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam indonesia.

Sumber Mari Kita Lanjutkan Perjuangan Soekarno dengan Pembenahan Pendidikan dan Akhlak Bangsa file al_islam.chm


sikap agar sebuah negara indonesia menjadi negara maju pengaruh kemerdekaan terhadap perkembangan teknologi