Masyarakat Madinah bag2 (Turunnya Perintah Untuk Berjihad)
Masyarakat Madinah bag2
penulisĀ Al-Ustadz Abu Muhammad Harits
Syariah Jejak 15 - Desember - 2004 20:51:28
Perintah Jihad
Kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin kokoh di Madinah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong beliau melalui hamba-hamba-Nya dari kalangan Al-Anshar dan Allah satukan hati kaum Muhajirin dan Anshar. Padahal sebelum mereka dlm permusuhan dan silang sengketa.
Akhir Ansharullah ini membela Nabi-Nya mencurahkan seluruh jiwa raga dan harta mereka serta mendahulukan kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan mereka terhadap orang tua isteri dan anak-anak mereka. Kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lbh utama bagi mereka daripada diri mereka sendiri.
Ketika kaum musyrikin dan orang2 Yahudi menyerang beliau dlm satu barisan bangkitlah para pembela Nabi menghadapi musuh-musuh tersebut. Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memerintahkan utk bersabar dan memaafkan namun keadaan semakin hebat. Akhir Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan mereka utk balas menyerang dlm satu pertempuran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
“Diizinkan bagi orang2 yg diperangi krn sesungguh mereka telah dianiaya. Dan sesungguh Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”
Para ulama berbeda pendapat tentang kapan perintah tersebut dimulai. Ada yg mengatakan di Makkah dan adapula yg berpendapat hal itu bermula di Madinah. Wallahu a’lam.
Kemudian Allah memerintahkan mereka utk berperang menghadapi orang2 yg memerangi mereka. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ
“Dan perangilah di jalan Allah orang2 yg memerangi kamu.”
Jihad dan Keutamaannya
Sebenar jihad itu sendiri secara umum merupakan suatu kewajiban individual berlaku bagi tiap muslim baik dgn hati lisan ataupun harta. Adapun jihad dgn jiwa dan raga hukum fardhu kifayah.1
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يآ أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيم. تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
“Hai orang2 yg beriman sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yg dapat menyelamatkan kamu dari adzab yg pedih? kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dgn harta dan jiwamu. Itulah yg lbh baik bagi kamu jika kamu mengetahui niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dlm surga yg mengalir di bawah sungai-sungai dan ke tempat tinggal yg baik di dlm jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yg besar.” Dan karunia lain yg kamu sukai pertolongan dari Allah dan kemenangan yg dekat . Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang2 yg beriman.”
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menerangkan:
إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهَ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ
“Sesungguh Allah telah membeli dari orang2 mukmin diri dan harta mereka dgn memberikan jannah utk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah lalu mereka membunuh atau terbunuh.”
Ketika semakin banyak yg mengaku cinta mereka dituntut utk membuktikan pengakuan cinta mereka itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ
“Katakanlah: ‘Jika kamu mencintai Allah ikutilah aku niscaya Allah mencintai kamu..”
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan tanda bukti bagi orang2 yg mencintai-Nya dgn dua hal. Yaitu ittiba’ Rasulullah Subhanahu wa Ta’ala dan jihad di jalan Allah. Karena sesungguh jihad adl hakikat suatu ijtihad dlm memperoleh apa yg dicintai oleh Allah berupa iman dan amal shalih serta menjauhkan apa yg dibenci oleh Allah seperti kekafiran kefasikan dan kemaksiatan.
Al-Jihad adl mencurahkan segenap kemampuan dan kekuatan dlm upaya meraih hal-hal yg dicintai oleh Allah dan menjauhkan apa yg dibenci-Nya. Dengan demikian jika seorang hamba meninggalkan jihad di mana dia sebenar mampu menunaikan ini menunjukkan kelemahan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan cinta tdk mungkin diraih –umum demikian– kecuali dgn memikul berbagai hal yg tdk disukai. Sedangkan orang yg beriman sangatlah hebat cinta kepada Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
غَدْوَةٌ أَوْ رَوْحَةٌ فِي سَبِيلِ اللهِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Berangkat di awal siang atau di akhir siang di jalan Allah lbh baik dari dunia dan seisinya.” .
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ
“Sesungguh di surga ada 100 tingkat yg disediakan oleh Allah bagi para mujahidin di jalan Allah yg jarak antara satu tingkat ke tingkat lain seperti jarak antara langit dan bumi. mk jika kamu minta kepada Allah mintalah surga Firdaus krn dia terletak di surga yg paling tengah dan paling tinggi di atas adl ‘Arsy Allah Yang Maha Pemurah dan dari situlah terpancar sungai-sungai di surga.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu:
يَا أَبَا سَعِيدٍ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ فَعَجِبَ لَهَا أَبُو سَعِيدٍ فَقَالَ أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللهِ فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ قَالَ وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ
“Hai Abu Sa’id siapa yg ridha Allah sebagai Rabb Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi dia pantas memperoleh surga.”
Abu Sa’id merasa takjub dan berkata”Ulangi untukku ya Rasulullah.”
Beliau mengulangi dan berkata”Dan yg lain dgn itu seorang hamba diangkat derajat 100 tingkat di dlm surga yg jarak antara dua tingkat seperti jarak langit dan bumi.”
Kata Abu Sa’id”Apakah itu ya Rasulullah?”
Beliau berkata”Jihad di jalan Allah jihad di jalan Allah.”
Pasukan ‘Abdullah bin Jahsy radhiallahu ‘anhu
Pada bulan Rajab bulan ke 17 setelah hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutuslah pasukan kecil berjumlah 12 orang dari Muhajirin. Setiap dua orang dari mereka mengendarai seekor unta.
Akhir mereka tiba di Nakhlah utk mengintai kafilah dagang Quraisy. dlm ekspedisi ini ‘Abdullah bin Jahsy dijuluki Amirul Mukminin dan memegang sepucuk surat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg tdk boleh dibaca kecuali setelah dua hari perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan dua hari barulah surat itu dibaca di antara isi menyebutkan: “Kalau engkau membaca surat ini lanjutkan perjalanan hingga tiba di Nakhlah antara Makkah dan Thaif. Amatilah kafilah Quraisy dan carilah berita utk kami tentang mereka.”
‘Abdullah menyambut dgn semangat lalu menyampaikan kepada para shahabatnya. Dia tdk memaksa mereka siapa yg mau ikut mencari syahadah segera berangkat siapa yg tdk suka boleh pulang. Adapun ‘Abdullah berketetapan utk berangkat.
Ternyata mereka berangkat seluruhnya. Di tengah perjalanan unta tunggangan Sa’d bin Abi Waqqash dan ‘Utbah bin Ghazwan tersesat. Kedua terpaksa mencari hingga menjauh dari pasukan ‘Abdullah.
Setiba di Nakhlah lewatlah kafilah dagang Quraisy membawa kismis kulit dan dagangan lainnya. Dan di dlm kafilah itu terdapat ‘Amr bin Al-Hadhrami ‘Utsman dan Naufal juga Al-Hakam bin Kaisan maula Bani Al-Mughirah.
Pasukan Islam tersebut akhir bermusyawarah mengingat saat itu adl akhir bulan Rajab salah satu bulan Haram . Jika mereka menyerang berarti melanggar kehormatan bulan haram ini. Namun jika kaum musyrikin Quraisy dibiarkan malam ini niscaya mereka masuk ke wilayah Haram . Akhir mereka sepakat utk menyerang. Salah seorang pasukan muslim berhasil memanah ‘Amr bin Al-Hadhrami hingga tewas. Kemudian mereka menawan Al-Hakam dan ‘Utsman. Sementara Naufal berhasil lolos.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari perbuatan mereka
Pasukan kembali ke Madinah membawa tawanan dan rampasan perang yg telah dipisahkan seperlima . Ini adl pertempuran tawanan dan rampasan perang pertama di dlm Islam.
Namun ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari perbuatan mereka. Di sisi lain peristiwa ini menjadikan orang2 kafir Quraisy semakin hebat permusuhan dan penentangannya. Mereka merasa mendapat celah utk menjatuhkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin.
Mereka menuduh kaum muslimin telah melanggar kehormatan bulan Rajab sebagai bulan Haram. Hal ini sangat menyusahkan kaum muslimin. Mereka mencela pasukan tersebut. Akhir Allah menurunkan firman-Nya:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْل
“Mereka berta kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: ‘Berperang dlm bulan itu adl dosa besar tetapi menghalangi dari jalan Allah kafir kepada Allah Masjidil Haram dan mengusir penduduk dari sekitar lbh besar di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lbh besar daripada membunuh.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn tegas menyatakan bahwa apa yg diingkari itu jika dikatakan besar mk kekafiran kepada Allah menghalangi manusia dari jalan Allah merintangi mereka dari rumah Allah mengusir kaum muslimin dari tanah haram serta kesyirikan yg dikerjakan berikut fitnah yg timbul akibat kesyirikan itu jauh lbh besar di sisi Allah daripada pembunuhan yg dilakukan di bulan-bulan haram .
Dan di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan keadilan-Nya tdk berat sebelah baik terhadap musuh maupun para walinya. Arti Allah tdk mentolerir perbuatan kaum muslimin berperang di bulan haram ini bahkan tetap menganggap besar. Tetapi apa yg dilakukan oleh orang2 kafir jauh lbh parah dan lbh besar. Sehingga mereka itu lbh pantas utk mendapat celaan dan hukuman. Apalagi dlm hal ini para wali-Nya melakukan pembunuhan tersebut berdasarkan takwil.
Setelah turun ayat ini di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kelonggaran bagi kaum muslimin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan rampasan dan para tawanan tersebut.
Akhir datanglah utusan dari Quraisy menebus ‘Utsman dan Al-Hakam. Namun ditolak oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn alasan kedua shahabat Sa’d bin Abi Waqqash dan ‘Utbah bin Ghazwan belum ketahuan rimbanya. Khawatir kalau-kalau kedua juga terbunuh.
Setelah kedua shahabat tersebut muncul barulah kedua tawanan itu dilepaskan dgn tebusan tadi. Adapun Al-Hakam segera masuk Islam dan baik Islam sedangkan ‘Utsman kembali ke Makkah dan mati dlm kekafiran.
1 Kewajiban yg apabila telah ada sebagian yg menjalankan mk yg lain yg tdk mengerjakan tidaklah berdosa. Wallahu a’lam –red.
Sumber: www.asysyariah.com
Related Post:Tag : Abu Muhammad, Al Anshar, Alaihi Wa Sallam, Dlm, Hamba, Hebat, Isteri, Kapan, Kokoh, Lbh, Madinah, Nabi, Pembela, Penulis, Rasul, Rasulullah, Subhanahu Wa, Syariah, Ulama, Yahudi cara berjihad rasulullah jihad di madinah keadaan madinah setelah islam datang KEADAAN MASYARAKAT MADINAH SEBELUM DATANG ISLAM keadaan masyarakat madinah sebelum islam datang keadaan masyarakat madinah sesudah islam datang keadaan masyarakat madinah setelah islam datang keadaan masyarakat mekah sebelum islam kondisi agama sesudah islam di madinah kondisi masyarakat madinah
You can leave a response, or trackback from your own site.
