"Menentukan Antara Boleh Dan Tidak Bagi Manusia" ketegori Muslim.

Menentukan Antara Boleh Dan Tidak Bagi Manusia

Kategori Ma'ruf Nahi Mungkar

Selasa, 5 April 2005 21:28:02 WIB

MENENTUKAN ANTARA BOLEH DAN TIDAK BAGI MANUSIA

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Pertanyaan.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dita : Bolehkah seseorang memfungsikan diri sebagai penentu terhadap orang lain dalam setiap persoalan, dan kapan seseorang dibolehkan secara syar'i untuk mengatakan, 'ini buruk' dan 'ini baik'?

Jawaban.
Tidak boleh seseorang memfungsikan diri sebagai penentu terhadap orang lain dgn melupakan diri sendiri bahkan sehrs seseorang memperhatikan aib diri terlebih dahulu sebelum memperhatikan aib orang lain, tapi jika seorang muslim memfungsikan diri sebagai pemberi nasehat bagi saudara-saudaranya, yaitu menyuruh beruntuk baik dan mencegah kemungkaran, maka ini baik, dan tdk dikategorikan sebagai memfungsikan diri sebagai penentu bagi orang lain. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Arti : Sesungguh orang-orang mukmin ialah bersaudara krn itu damaikanlah antara kedua saudaramu." [Al-Hujurat: 10]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah bersabda.

"Arti : Seorang mukmin terhadap mukmin lain ialah laksana satu bangunan yg saling menguatkan."[1]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Arti : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam beruntuk dosa dan pelanggaran." [Al-Ma'idah: 2]

Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda.

“Arti : Agama ialah nasehat?" Kami tanyakan, "Bagi siapa?" Beliau menjawab, 'Bagi Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin lainnya'."[2]

Serta sabdanya.

"Arti : Tidak beriman (dgn sempurna) seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai (kebaikan) bagi saudara sebagaimana ia mencintai (itu) bagi diri sendiri."[3]

Maka hendak seorang manusia terlebih dahulu memperbaiki diri kemudian berusaha memperbaiki orang lain, hal ini termasuk kategori mencintai kebaikan bagi mereka dan loyal (nasehat) terhadap mereka, bukan kategori merendahkan orang lain atau mencari-cari aib mereka, krn yg demikian ini dilarang oleh Islam, sebab yg dianjurkan ialah mencintai kebaikan bagi mereka.

Adapun ucapan seseorang, "ini buruk dan ini tdk, seorang muslim tdk dituntut secara syar'i untuk mengucapkan demikian kpd saudara sesama muslim, kecuali jika benar-benar diketahui penyimpangan atau maksud-maksud buruknya. Bagi yg mengetahui perihalnya, hrs mengatakan apa yg dike-tahuinya, yaitu tentang keburukan dan penyimpangannya, jika hal ini dipandang akan melahirkan kemaslahatan bagi agama-nya, yaitu dgn memperingatkan orang-orang terhadap orang tersebut agar mereka bisa membentengi diri dari bahayanya. Tapi jika itu diucapkan ha untuk menjatuhkan atau mencelanya, maka ini tdk boleh, krn ini mrpk penghinaan secara pribadi yg tdk mengandung masalahat.

Tidak diragukan lagi, bahwa memberi ketetapan bagi manusia memerlukan ketelitian dan kajian, krn seseorang tdk boleh berpedoman pada dugaannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman.

"Arti : Hai orang-orang yg beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguh sebagian prasangka itu ialah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yg lain." [Al-Hujurat: 12]

Lain dari itu, dalam hal ini, seseorang tdk boleh berpedoman pada berita dari orang yg fasik, krn Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman.

"Arti : Hai orang-orang yg beriman, jika datang kpdmu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dgn teliti, agar kamu tdk menimpakan suatu musibah kpd suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yg menyebabkan kamu menyesal atas peruntukanmu itu." [Al-Hujurat: 6]

Karena itu, hendak seseorang menjauhi buruk sangka dan tdk menetapkan/mencap ha berdasarkan dugaan. Hendak ia tdk menerima berita-berita begitu saja tanpa mengecek dan memastikannya, dan hendak tdk mencap orang lain kecuali berdasarkan ilmu syari'i, Jika ia memiliki ilmu syari'i, maka ia bisa menetapkan berdasarkan ilmu yg dimilikinya, tapi jika tdk mengerti hukum-hukum syari'at, maka tdk boleh menilai sikap-sikap orang lain.

Hendak pula tdk melibatkan diri dalam ruang lingkup ini jika tdk memiliki ilmunya, krn Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman.

"Arti : Dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu tdk mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungan jawabnya." [Al-Isra': 36]

Dalam ayat lain disebutkan.

"Arti : Katakanlah, Rabbku ha mengharamkan peruntukan yg keji, baik yg nampak maupun yg tersembunyi, dan peruntukan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yg benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dgn sesuatu yg Allah tdk menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yg tdk kamu ketahui'." [Al-A'raf: 33]

Orang yg tdk memiliki ilmu hendak tdk memberi ketetapan ha berdasarkan dugaan atau berdasarkan pendpt atau berdasarkan apa yg terbetik di dalam benaknya, akan tetapi hendak ia diam krn perkara ini sangat berbahaya. Barangsiapa menuduh seorang mukmin dgn tuduhan yg tdk ada padanya, atau mencap dgn sesuatu yg tdk sesuai, maka tuduhan itu akan kembali dan menimpa padanya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.

"Arti : Sesungguhnya, barangsiapa yg melaknat sesuatu yg tdk ada padanya, maka laknat itu akan kembali kpd (menimpa-nya)."[4]

Lain dari itu, seorang muslim tdk boleh mengatakan kpd saudaranya, 'Hai orang fasik' atau 'hai orang non muslim' atau 'hai orang jelek' atau ucapan-ucapan atau gelar-gelar serupa lainnya, krn Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman.

"Arti : Dan janganlah kamu panggil memanggil dgn gelar-gelar yg buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yg buruk sesudah iman." [Al-Hujurat : 11]

Jadi, seorang muslim hrs hati-hati dalam masalah ini, dan hendak memiliki ilmu dan hujjah yg nyata sehingga bisa menetapkan terhadap diri terlebih dahulu, baru kemudian terhadap orang lain, di samping itu, hendak pula ia memiliki kejelian dan kemantapan serta wawasan luas dan tdk tergesa-gesa.

[Kitabud Da'wah, 7, Syaikh Al-Fauzan (2/168-170).]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]
_________
Foote Note
[1]. HR. Al-Bukhari dalam Al-Mazhalim (2446), Muslim dalam Al-Birr wash Shilah (2585).
[2]. HR. Muslim dalam Al-Iman (55).
[3]. HR. Al-Bukhari dalam Al-Iman (13), Muslim dalam Al-Iman(45).
[4]. HR. Abu Dawud dalam Al-Adab(4908), At-Tirmidzi dalam Al-Birr(1978) dari hadits Ibnu Abbas, Abu Dawud (4905) dari

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1396&bagian=0

Sumber Menentukan Antara Boleh Dan Tidak Bagi Manusia : http://alsofwah.or.id


barangsiapa menuduh seorang muslim 5 katagori kebaikan bagi manusia