Meninggalkan Jihad, Sebab Kehinaan dan Kerendahan
Meninggalkan Jihad Sebab Kehinaan dan Kerendahan
penulisĀ Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al Atsari
Syariah Hadits 02 - Maret - 2005 05:17:57
Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ
“Apabila kalian telah berjual beli dgn cara ‘inah2 dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi dan telah senang dgn bercocok tanam dan juga kalian telah meninggalkan jihad niscaya Allah akan kuasakan/ timpakan kehinaan kepada kalian tdk akan dicabut/ dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.”
Hadits yg mulia di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3003 dlm kitab Al Buyu’ bab An-Nahyu ‘anil ‘Inah dan Al-Imam Ahmad . Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menshahihkan hadits ini dlm kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 11.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ merupakan kinayah tersibukkan seseorang dgn pertanian sehingga lalai utk berjihad di jalan Allah. رَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ merupakan kinayah tentang keberadaan mereka yg menjadikan bercocok tanam sebagai ambisi dan perhatian utama. Adapun maksud ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ adl kalian kembali menyibukkan diri dgn amalan-amalan agama
Kehinaan kaum muslimin krn meninggalkan ajaran agamanya
Pantas dicatat dgn tinta emas masa-masa gemilang dan kejayaan kaum muslimin pada kurun terdahulu. Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemuliaan kepada mereka hingga musuh-musuh dari kalangan kuffar sangat takut dan bertekuk lutut di hadapan mereka sampai-sampai dinyatakan dlm hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kaum kafirin itu sudah amat takut ketika mendengar kaum muslimin akan mendatangi mereka walaupun dlm jarak sebulan perjalanan yg memisahkan mereka dgn kaum muslimin.3
Termaktub dlm sejarah Islam bagaimana kaum muslimin mampu meruntuhkan dan menguasai dua kerajaan besar yg menguasai bagian dunia dan diibaratkan negara adi daya di masa itu Persia dan Romawi. Mereka guncangkan tahta Kisra dan Kaisar. Hal ini sebagaimana pengabaran dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ اللهَ زَوَى لِيَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا. وَإنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا. وَأَعْطَيْتُ الْكَنْزَيْنِ: اْلأَحْمَرَ وَاْلأَبْيَضَ
“Sesungguh Allah mengumpulkan/ melipat bumi untukku hingga aku dapat melihat timur dan baratnya. Dan sungguh kerajaan umatku akan sampai ke bagian bumi yg dilipatkan untukku tersebut . Dan aku diberi dua perbendaharaan: merah dan putih4.”
Demikianlah generasi terdahulu dari kaum ini dapat mencapai kemuliaan yg begitu tinggi. Hal ini bukan krn kekayaan materi mereka. Bukan pula krn mereka menguasai IPTEK walaupun hal ini dibolehkan bagi mereka bila mereka mampu. Namun mereka diberikan kemuliaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala krn keimanan dan ketakwaan mereka kepada-Nya berpegang teguh dgn agama-Nya membenarkan seluruh ajaran-Nya dan selalu beramal utk negeri akhirat. Sebagaimana janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm firman-Nya:
وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُوْنَنِي لاَ يُشْرِكُوْنَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفاَسِقُوْنَ
“Allah telah berjanji kepada orang2 yg beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang2 yg sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yg telah diridhai-Nya utk mereka dan Dia benar-benar akan mengganti keadaan mereka sesudah mereka berada dlm ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dgn tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yg kafir sesudah itu mk mereka itulah orang2 yg fasik.”
Ayat di atas merupakan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana Dia akan menjadikan umat beliau sebagai pemimpin dan penguasa manusia. Hal ini disebabkan krn dgn kepemimpinan dan penguasaan mereka akan menjadi baiklah negeri-negeri dan umat manusia. Dulu kaum muslimin takut kepada manusia namun sesuai dgn janji Allah ini Allah akan gantikan rasa takut tersebut dgn keamanan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memenuhi janji-Nya di mana sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat Allah bukakan utk beliau kota Makkah Khaibar Bahrain seluruh jazirah Arab dan seluruh negeri Yaman. Beliau mengambil jizyah dari orang Majusi Hajar dan dari sebagian penduduk Syam. Demikian pula Hiraklius raja Romawi dan Muqauqis penguasa Mesir serta Iskandariyyah tunduk kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula raja-raja negeri ‘Amman dan Najasyi raja Habasyah .
Kemudian sepeninggal beliau Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu khalifah beliau memegang pemerintahan. Dia mengutus pasukan muslimin ke negeri Persia dipimpin Khalid ibnul Walid radhiallahu ‘anhu. Pasukan yg lain menuju negeri Syam dipimpin Abu ‘Ubaidah radhiallahu ‘anhu dan pasukan ketiga dipimpin ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu menuju negeri Mesir. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun membukakan kemenangan di hari-hari Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sampai dia kembali ke sisi-Nya.
‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah kedua meneruskan dgn sempurna apa yg telah dilakukan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Sehingga semasa beliau hidup negeri Syam dikuasai sepenuh demikian pula Mesir dan kebanyakan daerah Persia. Hancurlah dgn sehancur-hancur Kisra dan Kaisar.
Demikian pula di masa ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu perjuangan pendahulu tetap ia teruskan. Hingga di masa timur dan barat bumi telah dikuasai kaum muslimin. Segala puji bagi Allah atas ni’mat yg telah dilimpahkan-Nya.
Janji yg diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm ayat ini akan terus berlaku sampai hari kiamat. Selama mereka menegakkan keimanan dan amal shalih mk pasti akan diperoleh apa yg dijanjikan Allah kepada mereka. Mereka dapat dikuasai oleh orang2 kafir dan munafik hanya dikarenakan mereka menyia-nyiakan iman dan amal shalih .
Sebalik kenyataan pahit yg kita dapatkan pada hari-hari kita ini di mana kaum muslimin direndahkan musuh-musuh dan kehinaan pun menyelubungi dan menguasai mereka bukan krn mereka tdk memiliki materi dan bukan pula krn mereka tdk menguasai IPTEK namun krn mereka jauh dari ajaran agama mereka tenggelam dlm kehidupan dunia dan bergelimang dlm lumpur dosa dan maksiat. Bahkan lbh jelek daripada itu kesyirikan menyebar dgn sangat luas sehingga tdk diketahui lagi mana yg dinamakan kesyirikan dan mana yg dinamakan tauhid. Tauhid disangka syirik dan syirik disangka tauhid. Begitu juga hal dgn bid’ah dan sunnah wallahul musta’an wa ilallahil musytaka.
Gambaran secara global adl sebagaimana tersebut dlm hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Mereka bermuamalah dgn cara yg jelek tenggelam dlm kesibukan dunia dan ingin hidup kekal di muka bumi dgn enggan utk berjihad. Karena anggapan mereka jihad identik dgn mati konyol dan berpisah dgn kesenangan hidup.
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Penyakit yg diderita kaum muslimin pada hari ini bukanlah berupa kebodohan mereka terhadap ilmu tertentu . Aku katakan yg demikian ini dlm keadaan aku mengakui bahwa semua ilmu yg bermanfaat bagi kaum muslimin wajib dipelajari dgn kadarnya. Namun kehinaan yg menimpa kaum muslimin bukanlah disebabkan kebodohan mereka dgn fiqih yg populer pada hari ini dgn istilah “fiqhul waqi’”! Namun yg menjadi sebab utama dikarenakan mereka menyia-nyiakan utk beramal dgn hukum-hukum agama baik dari Al-Qur’an maupun dari As-Sunnah sebagaimana datang keterangan dlm hadits yg shahih5 ini.
Ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ merupakan isyarat satu jenis dari muamalah ribawiyah yg mengandung unsur tipu muslihat terhadap syariat. Sedangkan sabda beliau: وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ merupakan isyarat tentang sangat perhatian seseorang terhadap perkara-perkara dunia dan kecenderungan pada sementara perkara syariat dan hukum-hukum diabaikan. Yang semisal dgn ini sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ . Sementara sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ merupakan buah dari keinginan hidup kekal di dunia sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيْتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيْلٌ
“Wahai orang2 yg beriman ada apa dgn kalian apabila dikatakan kepada kalian: “Berangkatlah utk berperang di jalan Allah” kalian merasa berat dan ingin diam di tempat kalian? Apakah kalian lbh senang dgn kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat padahal tidaklah kehidupan dunia itu dibanding dgn akhirat kecuali sedikit.”
Meninggalkan jihad fi sabilillah termasuk sebab kerendahan umat ini
Jihad fi sabilillah termasuk amalan yg utama. Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan orang yg berjihad di jalan-Nya seperti orang yg sedang melakukan jual beli dengan-Nya di mana jannah sebagai pembayarannya.
إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Sesungguh Allah telah membeli dari kaum mukminin jiwa dan harta mereka dgn surga bagi mereka. Mereka berjihad di jalan Allah mereka membunuh dan dibunuh. Itulah janji yg benar dari Allah dlm kitab Taurat Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yg lbh menepati janji daripada Allah? mk bergembiralah dgn jual beli yg telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yg besar.”
Pahala yg diperoleh dgn amalan jihad ini demikian besar sehingga ketika ada shahabat yg berta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah amal apakah yg bisa menyamai jihad fi sabilillah?” Beliau berkata: “Kalian tdk akan mampu melakukannya.” Lalu mereka mengulangi pertanyaan ini dua hingga tiga kali namun beliau tetap menjawab: “Kalian tdk akan mampu melakukannya.” Setelah beliau bersabda:
مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللهِ. لاَ يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلاَ صَلاَةٍ، حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى
“Permisalan orang yg berjihad di jalan Allah seperti orang yg berpuasa dia shalat dan taat kepada ayat-ayat Allah. Dia tdk pernah berhenti dari shalat dan puasa itu sampai orang yg berjihad pulang kembali.”
Namun wallahu al-musta’an krn cinta terhadap dunia dan takut mati amalan yg begitu besar nilai tdk dipandang ataupun ditoleh oleh kebanyakan kaum muslimin. Amalan yg utama ini dilempar jauh di belakang mereka. Bahkan ada di antara mereka yg salah kaprah terhadap jihad dgn perkataan di antaranya: Jihad itu mati konyol tdk ada itu yg nama jihad sebab jihad itu jahat dan Islam itu rahmah jihad itu sudah lewat masa dan segudang perkataan yg lain.
Akibat kehinaan dan kerendahan pun ditimpakan pada mereka. Jumlah mereka banyak namun tiada berarti di hadapan musuh-musuh mereka sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm sabdanya:
يُوْشِكُ اْلأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَْكُمْ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَال قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، لَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلً: يَا رَسُوْلَ الله! مَا الْوَهْنُ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَهِيَةُ الْمَوْتِ
“Hampir-hampir umat-umat mengerumuni kalian sebagaimana orang2 yg makan mengerumuni piring hidangannya.” Ada yg berta kepada beliau: “Apakah disebabkan jumlah kita sedikit pada saat itu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bahkan kalian pada hari itu jumlah banyak akan tetapi kalian hanyalah buih seperti buih yg dibawa air bah dan sungguh Allah akan mencabut dari dada-dada musuh kalian rasa segan terhadap kalian dan Allah akan lemparkan ke dlm hati-hati kalian al-wahn.” Seseorang berta lagi: “Wahai Rasulullah apakah al-wahn itu?”
“Cinta dunia dan takut mati” jawab beliau.
Hadits ini menunjukkan dua hal:
Pertama: Islam itu tdk butuh kepada buih seberapa pun besarnya.
Kedua: Pokok/ asal penyakit itu muncul dari hati dikarenakan “cinta dunia dan takut mati” adl dua penyakit hati. Tempat asal akidah juga di hati sehingga dari sini jelaslah bahwa perbaikan akidah adl pokok/ asas dari suatu perbaikan . Dan pada perkara inilah kaum muslimin sebaik dan seharus menyibukkan diri mereka. Hingga seandai pun musuh yg kuat dzalim lagi aniaya hendak menimpakan kejelekan kepada mereka niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolak keinginan tersebut hingga musuh-musuh kaum muslimin kembali dgn rendah lagi hina dina. Walaupun dia telah mengumpulkan orang2 antara Timur dan Barat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُلاَقُو اللهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِيْنَ
“Berkatalah orang2 yg yakin bahwa mereka akan bertemu dgn Allah: Berapa banyak terjadi golongan yg kecil/ sedikit dapat mengalahkan golongan yg berjumlah banyak/ besar dgn izin Allah dan Allah beserta orang2 yg sabar.”
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Sebab kerendahan dan kehinaan ini wallahu a’lam yaitu tatkala mereka meninggalkan jihad fi sabilillah sementara di dlm jihad ini ada kemuliaan bagi Islam. Juga dgn jihad agama ini akan menang di atas seluruh agama lain. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan kepada mereka lawan dari kemuliaan itu berupa turun kehinaan dan kerendahan krn mereka berjalan di belakang ekor-ekor sapi yg sebelum mereka menunggangi di atas punggung-punggung kuda yg merupakan tempat paling mulia .”
Dengan meninggalkan jihad berarti mereka menjatuhkan diri mereka ke dlm kebinasaan padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita menjatuhkan diri ke dlm kebinasaan.
وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dlm kebinasaan.”
Ayat yg mulia di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan sebagai teguran kepada sebagian shahabat yg berkeinginan utk menyarungkan pedang-pedang mereka dan berencana utk membenahi harta mereka setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan banyak kemenangan kepada Islam dan muslimin sehingga mereka beranggapan selesailah tugas mereka berjihad dan tiba saat bagi mereka mengurusi dunia.
Abu ‘Imran At-Tujibi berkisah: “Kami keluar utk berperang menuju Konstantinopel menghadapi pasukan Romawi sementara yg memimpin pasukan adl Abdurrahman bin Khalid ibnul Walid. Pasukan Romawi pada waktu itu merapatkan punggung-punggung mereka ke tembok kota Konstantinopel . Lalu seseorang dari kami maju menghadapi musuh hingga ia masuk ke barisan mereka. Melihat hal itu orang2 pun berteriak dgn menyatakan: “Cegah! Cegah! La ilaha illallah! Dia telah menjatuhkan diri dlm kebinasaan.” Mendengar hal itu bangkitlah Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu seraya berkata: “Kalian telah menakwilkan ayat ini dgn penakwilan yg demikian ketika melihat ada seseorang yg maju berperang krn ingin mati syahid. Padahal ayat ini turun berkenaan dgn diri-diri kami orang2 Anshar. Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menolong Nabi-Nya dan memenangkan Islam kami pun berkata di antara kami dgn menyembunyikan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Marilah kita benahi dan kita perbaiki harta-harta kita.” Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menurunkan ayat:
وَأَنْفِقُوا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Berinfaklah kalian di jalan Allah dan janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian ke dlm kebinasaan.”
Sehingga yg dikatakan kebinasaan adl mengurus harta mengutamakan dan memperbaiki sementara jihad kita tinggalkan dan kita abaikan.”
Jalan keluar dari kehinaan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi bagi umat utk keluar dari kehinaan yg menimpa mereka yaitu dgn kembali kepada ajaran agama mereka. Kembali bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mentauhidkan-Nya dan menjauhi kesyirikan. Kembali berpegang teguh dgn seluruh ajaran agama Islam sebagaimana yg pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa memilah-milah atau memilih-milih mana yg sesuai dgn selera hawa nafsu dan mana yg tdk sesuai dgn selera hawa nafsu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang2 yg beriman masuklah kalian ke dlm Islam secara kaffah.”
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذَلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ
“Niscaya Allah akan kuasakan/ timpakan kehinaan kepada kalian tdk akan dicabut/ dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.”
Terdapat isyarat yg jelas bahwa agama yg kita harus kembali kepada adl agama yg Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dlm banyak ayat-Nya yg mulia. Seperti dlm firman-Nya:
إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ
“Sesungguh agama di sisi Allah adl Islam.”
Dan dlm firman-Nya:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْناً
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan utk kalian agama kalian dan Ku sempurnakan atas kalian ni’mat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.”
Termasuk ajaran agama Islam yg mulia ini adl jihad fi sabilillah berperang melawan orang2 kafir di medan peperangan. Sehingga sepantas bagi seorang mukmin utk selalu bersiap diri dlm rangka membela agama Allah kapanpun dibutuhkan meski harus mengorbankan jiwa raganya. Seorang mukmin bukanlah seorang penakut dan pengecut serta kecil nyali menghadapi musuh. Seorang mukmin bukan pula seorang yg tdk pernah terbetik di hati utk berjihad krn dia faham dan takut dgn ancaman Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg mulia:
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ، مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
“Siapa yg mati dan belum pernah berjihad serta tdk pernah terbetik di hati utk berjihad mk dia mati di atas satu cabang kemunafikan6.”
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik kepada kita utk selalu berpegang teguh dgn ajaran agama-Nya dan selalu siap membela agama-Nya di jalan yg haq tanpa rasa gentar kepada musuh-musuh agama ini. Wallahu al-musta’an wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
1 Jihad yg diinginkan di sini adl jihad yg syar’i bukan jihad bid’ah seperti yg dilakukan Imam Samudra dan kawan-kawan NII Takfiriyun Jamaatul Fasad Jihadiyyun dan yg lain dari kalangan Hizbiyyun serta para pemberontak.
2 Jual beli dgn ‘inah adl jual beli dgn cara riba. Contoh si A menjual barang kepada si B dgn harga tertentu dan pembayaran dilakukan di belakang hari. Kemudian sebelum lunas pembayaran si A membeli kembali barang yg dia jual tersebut dari si B dgn harga yg lbh murah daripada harga yg ditetapkan ketika dia menjualnya. Kemudian nanti si B harus tetap membayar barang tersebut dgn harga semula walaupun barang tersebut sudah tdk lagi dimilikinya.
3 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ.. الحديث
“Aku diberi lima perkara yg belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku: aku ditolong dgn rasa takut di hati-hati musuhku walaupun jarak antara aku dan mereka masih sebulan perjalanan….”
4 Ulama berkata: “Yang dimaksud dgn dua perbendaharaan adl emas dan perak yaitu harta raja Kisra penguasa Iran dan Kaisar penguasa Syam.”
5 Hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma yg menjadi pembahasan kita.
6 Yakni ia menyerupai sifat munafik yg tdk mau turut berjihad krn meninggalkan jihad merupakan salah satu cabang kemunafikan.
Sumber: www.asysyariah.com
amalan melipat bumi ancaman meninggalkan jihad dua kerajaan adidaya dua kerajaan adidaya di masa rasulullah dua kerajaan adidaya pada masa rasulullah hadist meninggalkan jihad hingga kalian kembali kepada agama ilmu melipat bumi jalan menuju bumi jihad jenis kehinaan allah jihad fisabilillah sebagai salah satu amal utama
You can leave a response, or trackback from your own site.
