Pemikiran Berikut ini adl kajian seputar aliran Mu’tazilah. Mukadimah Firqah Mu’tazilah disebut juga sebagai Ahl al-’Adl wa at-Tauhid. Mereka dikenal dgn sebutan kaum Qadariyah dan ‘Adliyah. Akan tetapi mereka sendiri berpendapat bahwa sebutan “Qadariyah” itu mubham dan mereka mengatakan bahwa gelar tersebut seyogyanya diberikan bukan kepada mereka melainkan kepada orang-orang yg mempercayai bahwa qadar yg bersangkut-paut dgn perkara baik dan buruk adl sudah ditetapkan dari dan oleh Allah. Dengan penolakan gelar tersebut kaum Mu’tazilah berusaha utk menghindarkan diri dari noda yg sudah umum dibebankan kepada nama tersebut berhubung Nabi sendiri pernah bersabda “Qadariyyah adl Majusinya kaum Muslimin.” Penolakan mereka itu dibantah keras oleh firqah Shifatiyyah dgn alasan bahwa Jabariyyah dan Qadariyyah merupakan dua istilah yg saling kontradiktif . Bagaimana bisa tanya mereka suatu istilah yg kontradiktif diterapkan kepada firqah lain? Dengan mengemukakan hadits selanjutnya kaum Shifatiyyah berpendapat bahwa Qadariyyah adl penentang taqdir Allah. Doktrin-Doktrin Umum Mu’tazilah

    Allah Kekal Kekekalan adl karakteristik-Nya yg khas. Firqah Mu’tazilah menolak semua sifat-sifat Allah . Menurut mereka Allah mengetahui kuasa hidup dgn dzat-Nya bukan dgn sifat-sifat-Nya krn kalau sifat-sifat-Nya berdampingan dgn kekekalan-Nya yg merupakan karakteristik-Nya yg khas berarti sifat-sifat itu pun ambil bagian dalam Dzat Allah. Mengenai kalam Allah mereka berpendapat bahwa kalam Allah itu bersifat temporal dan diciptakan . Ia terdiri dari suara dan huruf-huruf dan kemudian ia ditulis oleh manusia dan dgn demikian berarti Alquran itu makhluk. Lagipula segala yg bertempat dan diciptakan itu dinamakan makhluk dan tiap makhluk pasti akan lenyap . Mereka juga berpendapat bahwa iradah Allah mendengar dan melihat bukanlah merupakan kesatuan sifat yg terdapat dalam Dzat Allah. Mereka berbeda lagi pendapatnya ketika menerangkan makna-makna sifat dan cara-cara wujudnya sifat-sifat itu. Ini akan kami terangkan nanti. Mereka dgn tegas menolak bahwa Allah dapat dilihat dgn mata di hari akhir nanti di sorga. Mereka juga menolak kemungkinan deskripsi apa pun tentang Allah dalam bentuk anthropomorthis seperti misalnya Dia bertempat berbentuk berbadan bergerak berubah bergeser atau beremosi. Jadi ayat-ayat Alquran yg mendeskripsikan tentang diri Allah haruslah ditafsirkan secara metoforis. Begitulah menurut mereka apa yg dimaksud dgn Tauhid.
    Manusia Memiliki Kekuasaan utk Berbuat Baik dan Buruk serta Bertanggung Jawab terhadap Perbuatan-perbuatannya Itu Mereka sepakat bahwa manusia akan mendapatkan ganjaran atau siksaan di akhirat nanti semata-mata krn perbuatannya sendiri di dunia ini. Manusia tidak dapat menyalahkan Allah dalam perbuatan jelek yg dia lakukan krn kejahatan kezaliman kufur dan dosa tidaklah dinisbatkan kepada Allah krn jika Dia menciptakan perbuatan zalim berarti Ia zalim sebagaimana Ia menciptakan keadilan maka Ia pun Adil. Mereka sepakat bahwa Allah tidak berbuat kecuali kebaikan dan kebajikan. Dari segi hikmah-Nya Dia harus menjaga kemaslahatan para hamba-Nya. Adapun masalah “al-ashlah dan al-luthf” merupakan perkara yg masih mereka perselisihkan. Mereka menamakan hal ini dgn “al-’adlu”.

    Pelaku Dosa Besar Kekal di Neraka jika Tidak Bertaubat Jika seorang mukmin mati dalam keadaan mamatuhi hukum Allah dan bertaubat dia akan mendapat ganjaran dari Allah dan pahala sedangkan pemberian keutamaan adl sesuatu yg berbeda dari ganjaran dan pahala. Tetapi jika dia mati dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa-dosa besar yg dilakukannya dia akan mendapatkan siksaan yg kekal dari Allah meskipun siksaannya itu akan lbh ringan daripada siksaan terhadap orang non muslim. Inilah yg mereka sebut dgn janji dan ancaman dari Allah.

    Mengenai Wahyu dan Akal Mereka sepakat bahwa pokok-pokok ilmu dan menyukuri ni’mat merupakan hal yg wajib sebelum turunnya wahyu. Manusia juga wajib dgn akalnya utk mengetahui perkara yg baik dan buruk. Ia pun wajib melakukan kebajikan dan menjauhi kejahatan tersebut. Allah memberitahukan kepada manusia kewajiban-kewajiban tersebut melalui rasul-rasul-Nya sebagai ujian dan cobaan bagi manusia . Kaum Mu’tazilah sendiri juga berbeda pendapat di antara mereka tentang imamah. Sebagian dari mereka berpendirian bahwa imamah mesti ditetapkan dgn pengangkatan sedangkan yg lain berpendapat bahwa hal itu harus melalui pemilihan. Sumber Sekte-Sekte Islam Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrastani Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    sumber file al_islam.chm


mutazilah menolak allah arti dari mu tazilah