Musuh-musuh Dakwah Tauhid

penulis Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Baabduh
Syariah Kajian Utama 24 - Maret - 2006 20:17:23

Sebagaimana dialami Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dakwah yg mengajak kepada tauhid niscaya akan menghadapi musuh-musuh yg tiada henti-henti utk memadamkan cahaya tauhid di muka bumi ini. Daulah Utsmani yg merupakan representasi kelompok Sufi yg juga diagungkan banyak kelompok pergerakan Islam adl salah satunya. Bagaimana kisah selengkap simak kajian berikut!

Telah menjadi sunnatullah Allah telah menetapkan ada musuh-musuh yg senantiasa menghalangi dakwah menuju tauhid dan upaya-upaya utk menegakkan syariat Islam. Mereka bisa datang dari kaum kafir ataupun dari kalangan kaum munafiqin yg memakai baju Islam yg merasa terusik kepentingan dan khawatir terbongkar kedok dan syubhat-syubhatnya. Hal ini sebagaimana Allah tegaskan di dlm firman-Nya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا

“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu setan-setan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yg lain perkataan yg indah-indah utk menipu .”

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِيْنَ، وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيْرًا

“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari kalangan orang2 yg berdosa. Dan cukuplah Rabb mu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong.”
Begitu pula dakwah yg dilakukan para ulama pewaris nabi yg selalu berdakwah utk memurnikan tauhid serta menegakkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara mereka adl Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu yg telah berupaya memurnikan tauhid umat serta mengajak mereka utk menegakkan syariat Islam. Namun musuh-musuh dakwah beliau tdk rela terhadap apa yg beliau lakukan.
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullahu menyimpulkan musuh yg menghalangi dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu dlm tiga jenis:
1. Para ulama suu` yg memandang Al-Haq sebagai suatu kebatilan dan memandang kebatilan sebagai Al-Haq dan berkeyakinan bahwa pembangunan di atas kubur serta mendirikan masjid di atas kubur-kubur tersebut kemudian berdoa ber-istighatsah kepada serta amalan yg serupa dgn itu adl bagian dari agama dan petunjuk . Dan mereka berkeyakinan bahwa barangsiapa mengingkari hal itu berarti dia telah membenci orang2 shalih serta membenci para wali.
Jenis yg pertama ini adl musuh yg harus diperangi.
2. Jenis yg kedua adl orang2 yg dikenal sebagai ulama namun mereka tdk mengerti tentang hakekat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu yg sebenarnya. Mereka tdk mengetahui pula tentang kebenaran dakwah beliau bahkan cenderung bertaqlid kepada yg lain serta membenarkan tiap isu negatif yg dihembuskan ahli khurafat dan para penyesat.
Sehingga mereka menyangka berada di atas kebenaran atas isu-isu negatif yg dituduhkan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu bahwasa beliau membenci para wali dan para nabi serta memusuhi mereka dan mengingkari kekeramatannya. Sehingga mereka memusuhi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan mencela dakwah serta membuat orang antipati terhadap beliau.
3. orang2 yg takut kehilangan kedudukan dan jabatannya. Mereka memusuhi beliau agar kekuatan para pengikut dakwah Islamiyyah tersebut tdk sampai menyentuh mereka yg akan menurunkan mereka dari posisi serta menguasai negeri-negeri mereka.-sekian dari Asy-Syaikh Ibnu Baz.1
Fakta musuh-musuh dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu banyak diperankan oleh:
1. Kaum kafir Eropa
Inggris Prancis dan lain yg tengah berkuasa dan menjajah negeri-negeri Islam pada waktu itu. Mereka menganggap bahwa dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu yg bertujuan memurnikan tauhid dan menegakkan syariat merupakan suatu kekuatan besar yg dapat mengancam eksistensi mereka di negeri-negeri jajahannya.
Karena dakwah beliau ini telah berhasil menyatukan umat dlm naungan aqidah tauhid di sejumlah negeri. Selain di daerah Najd ternyata dakwah beliau telah berhasil menyentuh muslimin di negeri lain seperti di Afrika Utara yg mayoritas adl negeri-negeri jajahan Inggris dan Prancis India sebagai jajahan Inggris dan tdk luput pula Indonesia sebagai jajahan Belanda.
Hal ini membuat para penjajah kafir itu geram dan mengkhawatirkan bangkit muslimin di negeri jajahannya. Sehingga mereka pun berupaya utk menjauhkan kaum muslimin dan membuat mereka antipati terhadap dakwah tauhid yg dilancarkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab2.
Hal ini mereka lakukan dgn cara:
a. Menebarkan isu-isu negatif dan dusta tentang dakwah tauhid di tengah-tengah muslimin melalui para misionaris mereka baik secara lisan maupun tulisan.
b. Memprovokasi dan mempengaruhi pemerintahan Dinasti ‘Utsmani utk membenci dan memerangi dakwah tauhid dan dikesankan kepada mereka bahwa dakwah mulia tersebut sebagai ancaman besar bagi eksistensi Daulah ‘Utsmaniyyah3.
c. Pemberian bantuan pasukan dari pemerintahan penjajah Inggris maupun Prancis kepada Dinasti ‘Utsmani dlm upaya menyerang dakwah tauhid.4
Di antara bukti yg menunjukkan provokasi mereka terhadap Dinasti ‘Utsmani utk memusuhi dan menyerang dakwah tauhid adl ada penyerangan tentara Dinasti ‘Utsmani terhadap kota Ad-Dir’iyyah sebagai pusat dakwah tauhid di bawah pimpinan Ibrahim Basya pada tahun 1816 M atas perintah ayah Muhammad Ali Basya Gubernur Mesir ketika itu yg bersekongkol dgn penjajah Prancis.
Karena keberhasilan atas penyerangan ke negeri Ad-Dir’iyyah itu Pemerintah Inggris mengirimkan utusan yaitu Kapten George Forster Sadleer utk menyampaikan ucapan selamat secara khusus dari Pemerintahan Inggris atas keberhasilan Dinasti ‘Utsmani menghancurkan Ad-Dir’iyyah5.
2. Daulah ‘Utsmaniyyah
Yang tdk kalah gencar pula adl permusuhan pemerintahan Dinasti ‘Utsmani yg telah terprovokasi kaum kafir penjajah. Keadaan ini diperburuk oleh para mufti pemerintahan Dinasti ‘Utsmani yg notabene beraqidah tashawwuf. Siang dan malam mereka memprovokasi pemerintah utk memerangi dakwah tauhid di Najd baik di masa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu masih hidup ataupun permusuhan mereka terhadap dakwah tauhid sepeninggal beliau.
Tercatat dlm sejarah beberapa kali ada upaya penyerangan yg dilakukan Dinasti ‘Utsmani terhadap Negeri Najd dan kota-kota yg ada di dlm yg terkenal sebagai pusat dakwah tauhid.
Di antara apa yg terjadi di masa Sultan Mahmud II ketika memerintahkan Muhammad ‘Ali Basya utk menyerang kekuatan dakwah tauhid di Najd. Tentara Muhammad ‘Ali Basya dipimpin oleh anak Ibrahim Basya dlm sebuah pasukan besar dgn bantuan militer dari negara-negara kafir Eropa. Pada akhir tahun 1232 H mereka menyerang kota ‘Unaizah dan Al-Khubra` serta berhasil menguasai Kota Buraidah. Sebelum pada bulan Muharram 1232 H tepat tanggal 23 Oktober 1818 M mereka berhasil menduduki daerah Syaqra’ dlm sebuah pertempuran sengit dgn strategi tempur penuh kelicikan yg diatur oleh seorang ahli perang Prancis bernama Vaissiere.
Bahkan dlm pasukan Dinasti ‘Utsmani yg menyerang Najd pada waktu itu didapati 4 orang dokter ahli berkebangsaan Itali. Nama-nama mereka adl Socio Todeschini Gentill Scots. Nama terakhir ini adl dokter pribadi Ibrahim Basya. Demikian juga didapati perwira-perwira tinggi Eropa yg bergabung dlm pasukan Dinasti ‘Utsmani dlm penyerangan tersebut.6
Hal ini menunjukkan bahwa Dinasti ‘Utsmani telah bersekongkol dgn negara-negara kafir Eropa di dlm memerangi dakwah tauhid yg tentu hal ini mengundang amarah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadi sebab terbesar hancur Daulah ‘Utsmaniyyah.
Belum lagi kondisi tentara dan pasukan tempur Dinasti ‘Utsmani yg benar-benar telah jauh dari bimbingan Islam. Hal ini sebagaimana disebutkan sejarawan berkebangsaan Mesir yg sangat terkenal yaitu Abdurrahman Al-Jabrati. Ketika menyampaikan kisah tentang kondisi pasukan Dinasti ‘Utsmani dan membandingkan dgn pasukan tauhid di Najd yg beliau nukil dari penjelasan salah seorang perwira tinggi militer Mesir yg menceritakan tentang kondisi pertempuran yg terjadi pada tahun 1227 H yg dipimpin Ahmad Thusun putra Muhammad ‘Ali Basya beliau menyatakan:
“dan beberapa perwira tinggi mereka yg menyeru kepada kebaikan dan sikap wara’ telah menyampaikan kepadaku bahwa mana mungkin kita akan memperoleh kemenangan sementara mayoritas tentara kita tdk berpegang dgn agama ini. Bahkan di antara mereka ada yg sama sekali tdk beragama dgn agama apapun dan tdk bermadzhab dgn sebuah madzhab pun. Dan berkrat-krat minuman keras telah menemani kita. Di tengah-tengah kita tdk pernah terdengar suara adzan tdk pula ditegakkan shalat wajib. Bahkan syi’ar-syi’ar agama Islam tdk terbetik di benak mereka.
Sementara mereka jika telah masuk waktu shalat para muadzin mengumandangkan adzan dan pasukan pun segera menata barisan shaf di belakang imam yg satu dgn penuh kekhusyu’an dan kerendahan diri. Jika telah masuk waktu shalat sementara peperangan sedang berkecamuk para muadzin pun segera mengumandangkan adzan. Lalu seluruh pasukan melakukan shalat khauf dgn cara sekelompok pasukan maju terus bertempur sementara sekelompok yg lain bergerak mundur utk melakukan shalat.
Sedangkan tentara kita terheran-heran melihat pemandangan tersebut. Karena memang mereka sama sekali belum pernah mendengar hal yg seperti itu apalagi melihatnya.” –sekian
Kalau kisah tersebut disampaikan salah seorang perwira tinggi militer Mesir mk Abdurrahman Al-Jabrati sendiri juga menceritakan tentang pertempuran yg terjadi pada tahun 1233 H yg dipimpin Ibrahim Basya dlm menghancurkan Ad-Dir’iyyah yg tdk jauh berbeda dari kisah yg disampaikan sang perwira tinggi tersebut di atas. Lihat penjelasan tersebut dlm kitab Al-Jabrati IV/140.8
Dinasti ‘Utsmani melengkapi kekejaman dan permusuhan terhadap dakwah tauhid dgn menawan Al-Amir Abdullah bin Su’ud sebagai salah satu penerus dan pembela dakwah tauhid yg telah menginfakkan jiwa dan harta dlm menegakkan kalimat tauhid serta syariat Islam. Beliau dikirim ke Mesir dan selanjut dikirim ke Istambul lalu dihukum pancung di sana setelah sebelum diarak di jalan-jalan Istanbul dijadikan sebagai lelucon dan olok-olok selama tiga hari. Peristiwa ini terjadi pada 18 Shafar 1234 H/ 17 Desember 1818 M.9
3. Permusuhan kaum sufiyyah
Musuh berikut yg dgn gencar memusuhi dakwah tauhid yg dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adl orang2 dari aliran tashawwuf/Sufi yg merasa kehilangan pamor di hadapan para pengikutnya. Dengan dakwah tauhid banyak syubhat dan kerancuan kaum Sufi yg terbongkar dan terbantah dgn hujjah-hujjah yg terang dan jelas yg disampaikan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu murid-murid serta para pendukungnya.
Berbagai macam bid’ah dan amalan-amalan yg menyelisihi sunnah Rasul serta amalan-amalan yg tercampur dgn berbagai praktek kesyirikan yg selama ini mereka tebarkan di daerah Najd ataupun Hijaz mulai tersingkir dan dijauhi umat. Demikian juga praktek amalan ibadah haji yg selama ini telah mereka penuhi dgn bid’ah dan amalan yg menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berbagai upaya utk memakan harta umat dgn cara batil juga terhalangi dgn ada dakwah tauhid tersebut.
Ini semua membuat mereka geram dan marah terhadap dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu dan murid-muridnya. Itu semua mendorong mereka utk berupaya menjauhkan umat dari dakwah beliau. Mereka sebarkan berbagai macam kedustaan tentang beliau dan dakwah tauhid yg disampaikannya.
Kaum Sufi bersama orang2 kesultanan Turki dan Mesir serta kaum kafir Eropa menciptakan sebuah julukan terhadap dakwah beliau dgn Gerakan Dakwah Al-Wahhabiyyah serta melukiskan sebagai madzhab baru di luar Islam. Nama Al-Wahhabiyyah adl sebuah nama yg dinisbahkan kepada ayah Asy-Syaikh Muhammad yg bernama Abdul Wahhab.
Padahal jika mereka mau jujur semesti mereka menjuluki dgn Muhammadiyyun yaitu nisbah kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu secara langsung. Namun hal itu sengaja mereka lakukan dlm rangka memberikan kesan lbh negatif terhadap dakwah beliau. Karena jika memakai julukan Muhammadiyyun akan terkesan di banyak kalangan bahwa ini adl sebuah madzhab yg baik.
Bahkan mereka tdk segan-segan mengucapkan kata-kata kotor utk memuluskan tujuan yg sebenar kita sendiri malu utk mendengar dan menukilkan kalimat tersebut. Namun dgn sangat terpaksa kami nukilkan salah satu contoh kata-kata kotor dan menjijikkan yg diucapkan tokoh-tokoh Sufi.
Di antara adl yg diucapkan salah satu tokoh mereka yg dikenal dgn nama Muhammad bin Fairuz Al-Hanbali dlm rekomendasi terhadap kitab Ash-Shawa’iq war Ru’ud sebuah kitab yg penuh dgn tuduhan dan kedustaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu karya seorang tokoh Sufi yg bernama Abdullah bin Dawud Az-Zubairi . dlm rekomendasi itu Ibnu Fairuz berkata:
“Bahkan mungkin saja Asy-Syaikh pernah lalai utk menggauli ibu sehingga dia didahului oleh setan utk menggauli isterinya. Jadi pada hakekat setanlah ayah dari anak yg durhaka ini.”10
Sebuah ucapan kotor yg penuh kekejian dan kedustaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu bahkan terhadap ayah dan ibunya.
Mereka juga menuduh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu dgn berbagai tuduhan dusta di antaranya:
 Tuduhan bahwasa beliau mengklaim An-Nubuwwah sebagaimana disebutkan dlm kitab Mishbahul Anam karya Ahmad Abdullah Al-Haddad Ba’alawi . Dan dinyatakan pula oleh Ahmad Zaini Dahlan dlm sebuah makalah kecil yg berjudul Ad-Durar As-Saniyyah fir Raddi ‘alal Wahhabiyyah : “yang nampak dari kondisi Muhammad bin Abdul Wahhab bahwasa dia adl seorang yg mengklaim An-Nubuwwah. Ha saja dia tdk mampu utk menampakkan klaim tersebut secara terang-terangan.”
Pernyataan semacam ini dia tegaskan juga dlm kitab yg lain yg berjudul Khulashatul Kalam hal. 228-261.
Buku-buku Ahmad Zaini Dahlan ini adl buku-buku yg sarat dgn kedustaan dan tuduhan-tuduhan batil terhadap dakwah dan pribadi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu. Buku-buku itu dlm kurun 60 tahun terakhir ini sering menjadi referensi kaum Sufi di berbagai belahan bumi termasuk di Indonesia dlm menebarkan kedustaan terhadap dakwah tauhid yg mulia itu. Bahkan sebagian buku-buku tersebut telah diterjemahkan dlm bahasa Indonesia.
Lebih parah lagi buku-buku karya kaum Sufi ini dimanfaatkan kaum kafir dan para orientalis sebagai referensi bagi mereka dlm menebarkan kedustaan terhadap dakwah mulia tersebut dan menjauhkan umat Islam darinya. Di antara mereka adl seorang orientalis berkebangsaan Denmark bernama Caresten Nie Bury dlm buku namun dia tdk berhasil memasuki Najd. Sehingga ketika menulis tentang sejarah Najd dia banyak menukil dan menyandarkan karya pada berita-berita yg beredar di Jazirah Arabia yg telah dipenuhi banyak kedustaan oleh para tokoh Sufi di sana11.
Begitu juga salah seorang tokoh kafir yg lain menulis sebuah buku yg berjudul 12. Buku ini pun dipenuhi berbagai macam kedustaan dan tuduhan-tuduhan batil terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu.
Kemudian diikuti pula oleh seorang orientalis lain yg bernama William W. Hunter dlm buku Al-Muslimun fil Hind yg telah banyak menukil dari senior yaitu T.E. Ravenshaw.13
 Beliau juga dituduh sebagai penganut inkarul hadits ; sebagaimana dituduhkan Ahmad Abdullah Al-Haddad Ba‘alawi di dlm kitab Mishbahul Anam. Tentu tuduhan tersebut sangatlah aneh. Karena Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu selalu berhujjah dgn hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dlm banyak karya beliau yg telah banyak diketahui oleh umat Islam. Namun begitulah kaum Sufi tdk malu dan segan utk berdusta utk menjauhkan umat dari dakwah tauhid.
 Tuduhan kepada Al-Amir Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud -salah satu pembela dan pembawa bendera dakwah tauhid yg menghabiskan waktu tenaga pikiran dan segala yg dimiliki dlm membela dakwah yg mulia tersebut - bahwasa beliau telah menghancurkan kubah yg dibangun di atas kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal itu sama sekali tdk pernah terjadi.
Memang benar beliau dan para pendukung telah menghancurkan beberapa kubah yg berada di Najd dan sekitar namun sedikitpun mereka belum pernah menyentuh bangunan kubah di atas kubur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun mereka semua yakin bahwa bangunan kubah tersebut tdk diridhai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertentangan dgn syariat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dlm hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwasa beliau berkata:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ القَبْرُ وَأِنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Bahwasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dilabur sebuah makam dan diduduki serta dibangun di atasnya.”
Hal ini dipertegas pula dlm hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengutus Abul Hayyaj “Maukah engkau aku utus dgn sebuah misi yg dgn misi tersebut pula aku diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Yaitu:

أَلاَّ تَدَعَ صُوْرَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا، وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

“Jangan kau biarkan satu gambarpun kecuali kau musnahkan dan jangan kau biarkan ada satu kuburan pun yg menonjol kecuali kau ratakan.”
Namun demikianlah musuh-musuh dakwah tauhid memutarbalikkan fakta sehingga beberapa sejarawan orientalis senang dgn disebutkan beberapa kisah dusta tersebut. Hal ini sebagaimana didapati dlm beberapa buku sejarah karya mereka di antara tulisan yg berjudul Hadhir Al-‘Alam Al-Islami karya L. Stoddard Dictionary of Islam “Wahhabiyah” karya Thomas P. Hughes Mustaqbal Al-Islam karya Lady Anne Blunt . Dan masih banyak sejarawan orientalis lain yg memanfaatkan kedustaan serta tuduhan batil kaum Sufi terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab utk semakin mencemarkan dakwah tauhid yg beliau dakwahkan.14
 Dan masih banyak tuduhan-tuduhan dusta yg lainnya.
Namun kami simpulkan kedustaan-kedustaan tersebut dgn menukilkan sebuah surat yg ditulis oleh putra beliau yg bernama Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab yg ditujukan kepada penduduk Makkah pada tahun 1218 H / 1803 M. Beliau berkata:
“Adapun sekian perkara dusta atas nama kami dlm rangka utk menutupi al-haq di antara tuduhan bahwa kami menafsirkan Al-Qur`an dgn logika kami serta mengambil hadits-hadits yg sesuai dgn pemahaman kami Dan bahwasa kami merendahkan kedudukan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn pernyataan kami bahwasa Nabi telah menjadi debu di kubur dan tongkat salah seorang kami lbh bermanfaat dari beliau dan bahwasa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk memiliki syafaat serta berziarah kepada tdk disunnahkan dan bahwasa kami adl beraliran mujassimah15 serta mengkafirkan manusia secara mutlak mk ketahuilah bahwa seluruh kisah khurafat tersebut di atas dan yg semisalnya Jawaban kami terhadap tiap permasalahan tersebut di atas adl dgn ucapan:

سُبْحَانَكَ هَذا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ

“Maha Suci Engkau sesungguh ini adl kedustaan yg sangat besar.”
—sekian dari kitab Al-Hadiyyatus Sunniyyah hal. 46 16
4. Syi’ah Rafidhah
Tak kalah dahsyat dari permusuhan kaum Sufi terhadap dakwah tauhid adl permusuhan kaum Syi’ah Rafidhah yg juga merasa terusik dgn ada dakwah tauhid. Aqidah mereka yg sesat dan penuh dgn kekufuran yg mereka tebarkan di tengah-tengah umat dgn penuh pembodohan dan penipuan terbongkar dgn tersebar dakwah tauhid tersebut. Umat menjadi mengerti bahwa aqidah Syi’ah Rafidhah yg meyakini bahwa:
 ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu adl seorang imam yg ma’shum dan seluruh shahabat yg menyelisihi adl kafir.
 Para imam Syi’ah Rafidhah yg 12 mengetahui perkara-perkara ghaib bahkan punya andil di dlm mengatur alam semesta.
 Keyakinan mereka dgn aqidah Ar-Raj’ah yaitu keyakinan bahwasa ‘Ali bin Abi Thalib dan imam-imam mereka yg 12 akan kembali hidup di akhir zaman
 dan lain-lain
adalah aqidah sesat yg bisa mengantarkan seseorang kepada kekufuran.
Ini semua membuat mereka marah dan memusuhi dakwah tauhid hingga hari ini. Belum lagi kemarahan mereka krn pasukan tauhid telah menghancurkan bangunan kubah di atas kuburan Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib di Karbala. Itu semua mendorong mereka utk memusuhi dakwah tauhid tersebut dan menebarkan kedustaan-kedustaan tentangnya.
Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan melampiaskan kebencian dan permusuhan itu dlm bentuk tindakan fisik. Di antara adl pembunuhan atas Al-Amir Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud pada tanggal 18 Rajab 1218 H/4 November 1803 M yg dilakukan seorang Syi’ah Rafidhah berkebangsaan Iran. Beliau dibunuh oleh penjahat ini ketika beliau sedang menunaikan shalat Ashar. Tepat ketika beliau bersujud tiba-tiba datanglah orang Syi’ah tersebut dgn membawa sebilah belati kemudian menghunjamkan ke tubuh Al-Amir Abdul Aziz rahimahullahu.
Permusuhan ini terus berlanjut hingga masa kini. Baik dlm bentuk permusuhan fikri ataupun fisik. Sebagai contoh adl sejumlah upaya penyerangan yg dilakukan kaum Syi’ah Rafidhah pengikut Khumaini di Kota Makkah pada musim haji tepat pada hari Jum’at 6 Dzulhijjah 1407 H. Didahului penyebaran selebaran-selebaran yg berisi kedustaan dan provokasi sebuah penyerangan sporadis dan penuh kezhaliman itu menelan 402 korban jiwa dari jamaah haji dan pihak keamanan Negeri Tauhid.
Tak cukup sampai di sana pada tahun 1409 H kembali para pengikut Khumaini dari kalangan Syi’ah Rafidhah yg kejam dan tdk berperikemanusiaan itu melakukan peledakan bom di Masjidil Haram yg juga menelan korban jiwa serta korban luka dari para jamaah haji tamu-tamu Allah.17
5. Hizbiyyun dan pergerakan-pergerakan Islam
Zaman berganti zaman generasi pun telah berganti. Namun permusuhan terhadap dakwah tauhid tdk kunjung usai dan memang akan terus berlanjut. dlm beberapa dekade terakhir ini kaum hizbiyyun menampilkan diri sebagai musuh dakwah tauhid dan sunnah yg ditegakkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu dan para penerusnya. Di antara kaum hizbiyyun itu pada masa ini adalah:
 Al-Ikhwanul Muslimun
Gerakan yg didirikan di atas upaya merangkul berbagai macam kelompok dan pemikiran bid’ah —sebagaimana telah dijelaskan dlm majalah Asy Syari’ah edisi 20 Sejarah Hitam IM— telah mempraktekkan berbagai macam bentuk permusuhan terhadap dakwah tauhid dan sunnah serta negara tauhid Saudi Arabia. Baik melalui statemen dan karya-karya tulis para tokoh maupun dlm bentuk tindakan fisik nyata di lapangan.
Di antara penulis dan tokoh besar IM adl Muhammad Al-Ghazali yg melarikan diri dari ancaman Anwar Sadat - Presiden Mesir kala itu - dan tinggal di negeri Saudi Arabia.
Dengan segala fasilitas yg dia terima dari negeri tauhid ini dia justru menikam dari belakang dan membalas kebaikan itu dgn caci maki terhadap para ulama tauhid dan sunnah penerus dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Hal ini sebagaimana didapati dlm beberapa karya yg penuh dgn kesesatan. Di antara adl apa yg dia tulis dlm kitab Kaifa Nata’amalu ma’al Qur`an dan kitab As-Sunnah baina Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits.
Namun Alhamdulillah para ulama tauhid telah membantah dan menghancurkan syubhat-syubhatnya. Di antara adl bantahan yg ditulis Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan Asy-Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahumallah.
Kemudian permusuhan Muhammad Al-Ghazali terhadap dakwah tauhid dan sunnah ini diikuti pula oleh tokoh dan pemikir besar IM lain yaitu Yusuf Al-Qaradhawi. Dia adl murid dari Muhammad Al-Ghazali sekaligus temannya. Namun cara Al-Qaradhawi di dlm menunjukkan permusuhan lbh halus dan terselubung dibandingkan gurunya. Hal ini nampak sekali dlm karya-karya seperti kitab Kaifa Yata’amalu Ma’as Sunnah dan Awwaliyatul Harakatil Islamiyyah serta beberapa kitab yg lain.18
Kemudian pada generasi berikut IM melahirkan tokoh-tokoh semacam Muhammad Surur bin Naif Zainal ‘Abidin yg nampak lbh arogan dlm memusuhi negeri tauhid dan dakwah tauhid itu sendiri. Begitu besar kebencian dan permusuhan sehingga dia merasa sesak nafas dan sempit dada utk tinggal bersama kaum muslimin di negeri tauhid. Dia justru memilih tinggal bersama kaum kafir di Inggris dgn merendahkan diri di bawah perlindungan hukum-hukum kufur di negeri kafir yg sangat memusuhi Islam itu. Sementara itu dia mengkafirkan pemerintah-pemerintah muslimin dgn alasan mereka tdk berhukum dgn hukum-hukum Allah.
Dengan penuh kebencian dan tanpa malu dia keluarkan sejumlah pernyataan pedas dan dusta tentang ulama-ulama tauhid dan sunnah di negeri tauhid Saudi Arabia khususnya. Lihat sebagian pernyataan-pernyataan yg pernah dimuat dlm majalah Asy Syari’ah Vol. I/No. 12/1425 H/2005. Lihat pula kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 51-57; Al-Irhab karya Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali hal. 67-77.
Kelompok ini pun tdk segan-segan melakukan tindakan fisik utk mewujudkan permusuhan terhadap dakwah Tauhid dan para da’i sebagaimana telah terjadi di beberapa tempat. Di antara adl yg terjadi di negeri Yaman berupa penembakan brutal dan sporadis terhadap sejumlah Ahlus Sunnah di sebuah masjid yg menyebabkan sebagian mereka terbunuh.
Bahkan salah satu tokoh IM di negeri Yaman mengancam Ahlus Sunnah dgn pernyataannya: “Jika seandai kami memiliki kekuatan niscaya kami akan memerangi Wahhabiyyin sebelum kami memerangi kaum komunis.” Hal ini sebagaimana dikisahkan Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullahu dlm beberapa kali ceramah beliau.
Lebih dari itu semua apa yg telah terjadi di Afghanistan dgn terbunuh seorang mujahid Ahlus Sunnah yaitu Asy-Syaikh Jamilurrahman rahimahullahu. Pembunuh adl salah seorang dari kelompok IM yg dikenal dgn Abu ‘Abdillah Ar-Rumi. Dia datang ke Afghanistan membawa kebencian yg sangat besar terhadap Ahlus Sunnah dan menjuluki dgn Wahhabiyyah. Pembunuhan sadis ini terjadi pada hari Jum’at 20 Shafar 1412 H/ 30 Agustus 1991 M sebelum Asy-Syaikh Jamilurrahman berangkat menuju shalat Jum’at. Pembunuh kejam itu mendatangi beliau sebagai tamu yg hendak memeluknya. Tanpa disangka ternyata orang ini melepaskan tembakan ke arah Asy-Syaikh dan tepat mengenai wajah dan kepala beliau!
Inilah sekelumit contoh permusuhan dan kebencian tokoh-tokoh besar IM terhadap para ulama tauhid dan sunnah serta negeri tauhid Saudi Arabia.

 Hizbut Tahrir
Kelompok Hizbut Tahrir adl sebuah kelompok sempalan yg didirikan Taqiyyuddin An-Nabhani di negeri Yordania pada tahun 1372 H/1953 M. Selengkap bisa pembaca dapati pada majalah Asy Syari’ah Vol. II/No. 16/1426 H/2005.
Namun yg hendak kita tampilkan di sini adl bentuk kebencian dan permusuhan HT terhadap Daulah Tauhid dan para ulamanya.
Permusuhan itu diwujudkan dlm statemen-statemen mereka dan karya-karya tulisnya. Di antara adl apa yg disebutkan dlm buku berbahasa Inggris How The Khilafah Destroyed karya Abdul Qadim Zallum yg diterbitkan Khilafah Publication London England. Buku ini adl salah satu buku refensi utama dlm perjalanan HT.
Dalam buku ini penulis telah menuduh Daulah Tauhid sebagai suatu bentuk konspirasi Barat dlm meruntuhkan Khilafah ‘Utsmaniyyah dgn mengkambinghitamkan Al-Amir Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud rahimahullahu dan menyatakan beliau sebagai agen Inggris. Padahal justru beliau adl seorang yg telah menyerahkan waktu tenaga pikiran dan hidup utk membela dan menegakkan tauhid sebagaimana telah kami sebutkan di atas.
Tuduhan HT ini sama sekali tdk disertai dgn bukti dan fakta ilmiah. Tapi yg ada hanya sebatas analisa dan klaim semata. Sebalik telah kami paparkan di atas dgn bukti-bukti ilmiah bahwa ternyata Dinasti ‘Utsmanilah yg sebenar bersekongkol dan diperdaya oleh negara-negara kafir Eropa dlm memerangi dakwah tauhid dan sunnah.
Kemudian mereka juga menuduh gerakan Dakwah Tauhid sebagai gerakan pemberontakan terhadap Dinasti ‘Utsmani. Tuduhan ini pun adl tuduhan yg batil dan dusta sebagaimana telah kami bahas di atas.
Masih dlm buku tersebut di atas penulis HT ini menuduh bahwa Al-Amir Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud telah menghancurkan bangunan kubah di atas makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mempereteli batu perhiasan dan ornamen-ornamen yg sangat berharga. Namun itu semua adl dusta. Bahkan dgn itu penulis HT ini telah mengikuti jejak para orientalis Eropa belaka sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Tak kalah seru adl salah satu tokoh HT yg bernama Muhammad Al-Mis’ari ikut meramaikan permusuhan kelompok ini terhadap dakwah dan negara tauhid dlm beberapa statemennya.
Di antara adl pernyataan dia yg dimuat oleh surat kabar Asy-Syarqul Ausath edisi 6270 terbit pada hari Jum’at 8 Ramadhan 1416 H:
“Sesungguh kondisi saat ini di negeri Saudi Arabia yg tdk mengizinkan bagi kaum Masehi dan Yahudi utk mempraktekkan syi’ar-syi’ar ibadah secara terang-terangan akan berubah dgn tampil Komisi ini19 di medan hukum. Bahwasa pemberian hak kepada kaum minoritas adl wajib dlm bentuk hak utk melaksanakan syi’ar-syi’ar agama mereka di gereja-gereja mereka serta hak utk mendapatkan pengakuan resmi atas pelaksanaan akad pernikahan sesuai dgn aturan agama mereka secara khusus serta hak-hak lain sebagai bentuk penyempurnaan terhadap kebebasan kehidupan keagamaan dan kehidupan pribadi mereka secara sempurna. Baik mereka itu dari kaum Yahudi Masehi ataupun kaum Hindu!”
Kemudian dia berkata: “Sesungguh pembangunan gereja-gereja adl perkara yg mubah dlm syariat Islam.”20
Dia pun dgn lancang mencaci maki Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab —sang Mujaddid yg berdakwah utk memurnikan tauhid umat ini dan menjauhkan mereka dari kesyirikan dan bid’ah— dgn statemen yg dia ucapkan dlm sebuah selebaran resmi yg dikeluarkan CDLR dari London pada hari Kamis 22 Syawwal 1415 H / 23 Maret 1995 M:
“Kedua: Saya tdk akan membahas tentang aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu. Namun saya hanyalah menyebutkan tentang sebuah realita yaitu bahwasa dia adl seorang yg berpemikiran nyleneh dan bukanlah seorang yg alim. Dia adl seorang yg diliputi dgn berbagai masalah dan cara bersikap nyleneh yg memang sesuai dgn ke-nyleneh-an kaum di Najd pada masa itu”
Nampak sekali kebencian tokoh besar HT yg satu ini terhadap dakwah tauhid sekaligus menunjukkan kebodohan tentang tauhid itu sendiri. Namun yg sangat aneh dari orang ini ketika dia mencaci maki Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada saat yg sama dia memuji tokoh besar Syi’ah Rafidhah Al-Khumaini dgn pernyataannya:
“Sesungguh dia adl seorang pemimpin bersejarah yg agung dan jenius”
Dalam selebaran yg sama pula dgn penuh arogansi dia mencaci maki salah satu imam dakwah ini yaitu Al-Imam Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullahu dgn pernyataannya:
“Pertama: Saya tdk menuduh Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dgn kekufuran. Namun saya menyatakan dgn satu kata bahwa mayoritas ulama dan masyayikh berpandangan bahwasa dia setelah fatwa tentang boleh upaya perjanjian damai dgn Israil telah sampai ke sebuah tahapan yg mendekati kepada kekufuran. Saya hanya menukilkan pendapat para ulama dan masyayikh tersebut. Adapun pendapat saya pribadi adl beliau telah sampai pada derajat pikun bodoh dan kelemahan yg sangat rendah.”21
Bantahan tuntas atas ucapan keji ini para pembaca bisa mendapati dlm buku kami Mereka Adalah Teroris hal. 325-326 footnote no. 215. Begitu pula tentang jawaban hukum perdamaian dgn kaum kafir lihat hal. 203-219
Subhanallah Betapa keji ucapan tersebut! Seseorang yg berdakwah utk memurnikan tauhid umat serta menjauhkan dari kesyirikan dibenci dicaci maki dan dituduh dgn tuduhan-tuduhan dusta. Sementara seorang Syi’ah Rafidhah semacam Khumaini yg menyeru kepada kesesatan dan kekufuran disanjung dan dipuji. Inikah sebuah Hizb dan tokoh yg konon menginginkan tegak khilafah?!
Sayang sekali Al-Mis’ari yg telah mengumumkan kebencian terhadap daulah tauhid serta ulama dan merasa gerah hidup di tengah-tengah muslimin justru rela dan merasa tentram tinggal di negeri kufur dgn perlindungan hukum dari mereka.

 Al-Qa’idah
Jaringan Al-Qa’idah yg merupakan jaringan khawarij terbesar masa kini juga tdk kalah besar kebencian dan permusuhan terhadap daulah tauhid dan sunnah serta para ulamanya. Kebencian tersebut tdk hanya dituangkan dlm bentuk statemen-statemen para tokoh bahkan juga dlm bentuk serangan fisik dan teror.
Usamah bin Laden mencaci maki salah seorang imam besar Ahlus Sunnah pada masa ini yaitu Al-Imam Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullahu di antara dlm surat yg ditujukan kepada Al-Imam Ibnu Baz tanggal 27/7/1415 H yg dikeluarkan Hai`ah An-Nashihah di negeri London Usamah berkata:
“Dan kami mengingatkan engkau —wahai syaikh yg mulia— atas beberapa fatwa dan sikap-sikap yg mungkin Anda tdk mempedulikan padahal fatwa-fatwa tersebut telah menjerumuskan umat ini ke dlm jurang kesesatan sejauh 70 tahun.”
Dengan tegas dan lugas Usamah bin Laden menghukumi daulah tauhid Saudi Arabia sebagai negara kafir. Hal ini sebagaimana dimuat dlm koran Ar-Ra`yul ‘Am Al-Kuwaity edisi 11-11-2001 M dlm sebuah wawancara dgn Usamah bin Laden ia menjawab:
“Ha Afghanistan sajalah Daulah Islamiyyah itu. Adapun Pakistan dia memakai undang-undang Inggris. Dan saya tdk menganggap Saudi itu sebagai Negara Islam.”
Usamah juga memvonis kafir Putra Mahkota Abdullah bin Abdul ‘Aziz –waktu itu dan kini sebagai Raja Negara Saudi Arabia— yaitu dlm ucapan yg terakhir utk rakyat Iraq pada bulan Dzulhijjah 1423 H:
“.. mk para penguasa tersebut telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dan sekaligus MEREKA TELAH KELUAR DARI AGAMA INI dan berarti mereka juga telah mengkhianati umat.”
Dengan bangga Usamah menyanjung para teroris yg melakukan aksi peledakan di negeri tauhid tersebut:
“Aku memandang dgn penuh pemuliaan dan penghormatan kepada para pemuda yg mulia yg telah menghilangkan kehinaan dari umat ini baik mereka yg telah meledakkan di kota Riyadh atau peledakan di kota Khubar ataupun peledakan-peledakan di Afrika Timur dan yg semisalnya.”
Dalam dua peledakan ini terkhusus di Kota Khubar memakan 18 korban jiwa yg mayoritas adl muslimin serta 350 lbh luka-luka dan sebagian lagi menderita cacat seumur hidup. Tidak cukup itu bahkan Usamah “membumbui” kebencian terhadap daulah tauhid dgn kedustaan. Di antara kedustaan adl pernyataan dia bahwa kaum Salibis telah menduduki Masjidil Haram.
Wallahu a’lam.

1 Lihat kitab Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab wa Da’watuhu wa Siratuhu karya Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz hal. 23; lihat pula kitab Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah karya Dr. Muhammad bin Sa’d Asy-Syuwai’ir cet. III hal. 91.
2 Lihat kitab Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al Wahhabiyyah karya Dr. Muhammad bin Sa’d Asy-Syuwai’ir hal. 63-67 .
3 Ibid hal. 77-78.
4 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi hal. 139.
5 Lihat kitab Imam wa Amir wa Dakwah likulli Al-‘Ushur karya Ahmad bin Abdul ‘Aziz Al-Hushain penerbit Daruth Tharafain cet. I th. 1993 hal. 191 dan penulis mengisyaratkan pada kitab Jaulah fi Biladil ‘Arab hal. 104-111
6 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi karya Al Ustadz Mas’ud An-Nadwi hal. 139
7 Shalat Khauf yaitu shalat fardhu yg ditegakkan ketika sedang berkecamuk perang dgn beberapa tata cara tertentu yg telah diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg sangat berbeda dgn tata cara pelaksanaan shalat fardhu di luar waktu pertempuran.
8 Dinukil dari kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi hal. 152-153.
9 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi hal. 141.
10 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi karya Al-Ustadz Mas’ud An Nadwi hal. 199.
9 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi hal. 141.
10 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi karya Al-Ustadz Mas’ud An Nadwi hal. 199.
12 Ibid hal. 236.
13 Ibid hal. 237.
14 Ibid hal. 214
15 Yaitu sebuah aliran yg menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki jasmani seperti layak makhluk. Ini adl aliran sesat yg keluar dari prinsip manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.
16 Lihat kitab Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘alaihi karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi hal. 213
17 Revolusi Iran Khumaini telah banyak mempengaruhi pemikiran para aktivis dan pergerakan Islam di mancanegara utk melakukan tindakan-tindakan teror dan pembunuhan-pembunuhan serta menebarkan pemikiran bernuansa terorisme pada kaum muda Islam. Bahkan secara terbuka kelompok Al-Ikhwanul Muslimun menyatakan dukungan terhadap Revolusi Iran ini.
18 Lihat kitab Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam hal. 175-203. Untuk mengetahui lbh banyak tentang kesesatan aqidah dan pemikiran Yusuf Al-Qaradhawi lihat buku Membongkar Kedok Yusuf Al-Qaradhawi cet. Pustaka Salafiyah Depok
19 Komisi yg dimaksud adl Lajnah Ad-Difa’ ‘anil Huquqisy Syar’iyyah (C.D.L.R) yg berpusat di London di mana Muhammad Al-Mis’ari ini sebagai Juru Bicara Resminya. Komisi ini banyak mengeluarkan statemen dan tindakan-tindakan yg berisi provokasi utk membenci dan melawan pemerintah Saudi Arabia. Selengkap tentang Komisi ini dan fatwa para ulama sunnah tentang bisa dibaca pada buku Mereka Adalah Teroris hal. 370-374 .
20 Lihat kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah hal. 38-39 Percetakan Darus Salaf.
21 Lihat kitab Al-Quthbiyyah hiyal fitnah Fa’rifuha Abu Ibrahim bin Sulthan hal. 115.

Sumber: www.asysyariah.com

Related Post:
  • Menyelisihi Orang Kafir
  • Perang Badr Al Kubra
  • Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya
  • Kritik Terhadap Kebatilan dan Pelakunya
  • Jalan Kebenaran Hanya Satu
  • Hukum Ringkas Puasa Ramadhan
  • Rujuk Kepada Ulama Jalan Keluar dari Fitnah
  • Sahur dan Berbuka
  • Hukum Alat Kontrasepsi Untuk Mencegah Kehamilan
  • Tawadhu’
  • Akankah Amalku Di Terima ?
  • Bekerja dan Beramal
  • Tidak Menyerupai Orang Kafir
  • Islam Di Antara Hantaman Badai Peradaban Kuffar
  • Masyarakat Madinah bag2 (Turunnya Perintah Untuk Berjihad)

  • Tag : , , , , , , , , , , , , , , , , , , , amalan para wali arti dari pembunuhan? arti dusta Arti Kebaikan arti nisbah cara madi wajib contoh bela negara contoh ceramah contoh footnote contoh gambar orang shalat
    You can leave a response, or trackback from your own site.