Ahli Sunnah wal Jamaah berpendapat bahwa bid’ah yg menentang sunnah terjadi dalam perkara-perkara yg samar dan ada kalanya terjadi berkenaan dgn perkara-perkara prinsip utama. Oleh sebab itu pelaku-pelaku bid’ah bersama pendukungnya mempunyai tingkat penyimpangan yg berbeda-beda terhadap Sunnah. Sebagian mereka berselisih dalam soal lafaz dan asma’ sebagian lagi berselisih dalam soal makna dan hakikat segala sesuatu. Berdasarkan hal tersebut Ahli Sunnah wal Jamaah membagi bid’ah dalam beberapa bagian.

    Bid’ah yg tidak menyebabkan pelakunya kafir. Mengenai hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama seperti bid’ah yg dilakukan kelompok Murji’ah dan Syi’ah Mufadhillah.
    Bid’ah yg di dalamnya masih terdapat perselisihan di kalangan para ulama soal kafir atau tidaknya terhadap para pelakunya seperti bid’ah yg dilakukan Khawarij dan Rafidhah.
    Bid’ah yg para pelakunya dikafirkan berdasarkan kesepakatan ulama misalnya bid’ah yg dilakukan Jahmiyah murni. Kelompok-kelompok yg menisbatkan diri kepada orang-orang yg mengakui prinsip-prinsip agama dan kalam juga bertingkat-tingkat. Di antara mereka ada yg menyalahi sunnah dalam persoalan prinsip utama dan ada yg menentang Sunnah dalam persoalan samar .
    Para pelaku bid’ah yg tidak dikafirkan menurut kesepakatan para ulama.

    Adapun kelompok Murji’ah bukanlah termasuk bid’ah yg berat bahkan telah masuk ke dalam paham mereka sejumlah ahli fikih dan ahli ibadah. Mereka masih digolongkan Ahli Sunah wal-Jamaah sebelum sampai pada tingkatan pemahaman bid’ah yg berat. Manakala kaum tersohor itu menisbatkan diri kepada irja’ dan tafdhil barulah para imam as-sunnah yg terkenal berbicara dgn nada mencela Murji’ah al-Mufadhilah utk menjauhkan paham mereka. Tidak ada teks yg disampaikan Imam Ahmad bin Hambal yg mengafirkan Murji’ah krn bid’ah mereka termasuk jenis ikhtilaf fuqaha dalam persoalan furu’ . Di samping itu kebanyakan perselisihan mereka kembali kepada perselisihan yg menyangkut lafaz dan asma’. Oleh sebab itu pembicaraan mereka disebut dgn Bab al-Asma’ dan hal ini termasuk peselisihan para fuqaha tetapi berkaitan dgn prinsip-prinsip ad-dien. Maka siapa yg menentangnya dialah pembuat bid’ah. Demikian juga Syi’ah yg menganggap Ali lbh utama daripada Abu Bakar mereka tidak dikafirkan dan dalam hal ini tidak ada perselisihan di kalangan para ulama krn hal itu merupakan pendapat para fuqaha sekalipun mereka membuat bid’ah. Adapun Salaf dan para imam tidak berselisih dalam hal tidak mengkafirkan Murji’ah dan Syi’ah Mufadhalah dan semisalnya. Juga tidak ada teks-teks Imam Ahmad bin Hambal yg mengkafirkan mereka.

    Bid’ah-bid’ah yg di dalamnya masih terdapat perselisihan di kalangan para ulama soal benar atau tidaknya pengkafiran terhadap para pelakunya.

    Adapun Qadariyah yg mengakui ilmu Rafidhah yg tidak ekstrem Jahmiyah dan Khawarij mengenai pengkafiran mereka terdapat dua riwayat dari Imam Ahmad dan ini sebenarnya pendapat beliau yg mutlak. Meskipun sudah diketahui bahwa beliau bersikap netral dalam mengkafirkan Qadariyah yg mengakui ilmu dan Khawarij dgn berkata “Saya tidak mengetahui satu kaum yg lbh jahat dari Khawarij.” Sedangkan mengenai pengkafiran orang-orang yg tidak mengkafirkan mereka terdapat dua riwayat dari beliau. Tetapi yg lbh shahih adl bahwa beliau tidak mengkafirkan. Kadang kala terjadi perbedaan pendapat di antara mereka dalam hal pengkafiran yg tidak mengkafirkan secara mutlak namun hal ini merupakan kekeliruan semata-mata. Sedangkan menurut mayoritas ulama Salaf seperti Abdullah bin Mubarak Yusuf bin Asbath kelompok pendukung Imam Ahmad dan lainnya Jahmiyah tidak termasuk ke dalam 72 golongan firqah yag berpecah-belah di dalam umat ini. Akan tetapi pokok firqah menurut ulama Salaf adl Khawarij Syi’ah Murji’ah dan Qadariyah. Inilah yg ma’tsur oleh Imam Ahmad dan imam-imam sunnah dan hadits. Mereka berkata “Barangsiapa yg mengatakan bahwa Alquran adl makhluk berarti dia kafir. Dan barangsiapa yg mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat pada hari akhirat dia juga kafir.” Kemudian Abu an-Nashr as-Sajzi menceritakan dari mereka dua pendapat mengenai masalah ini. Pertama ia adl kufur berpindah agama. Ia berkata bahwa ini pendapat mayoritas. Kedua ia adl kufur tetapi tidak berpindah agama. Karena itu al-Khattabi berkata “Sesungguhnya yg mereka katakan ini dalam rangka memberatkan.” Demikian pula perselisihan yg terjadi di kalangan generasi Muta’akhirin dari para pendukung kami perihal kekalnya mereka di dalam neraka. Pendapat ini merupakan mayoritas. Sebagaimana hal itu disebutkan dari kelompok ulama hadits terdahulu seperti Abu Hatim Abu Zur’ah dan lainnya sebagian dari mereka menolak pendapat yg menetapkan kekalnya mereka di neraka.

    Bid’ah-bid’ah yg tidak ada Ikhtilaf di kalangan ulama terhadap pengkafiran para pelakunya secara mutlak.

    Pada umumnya mazhab Ahmad bin Hambal dan imam-imam sunnah mengkafrkan Kelompok Jahmiyah krn mengingkari sifat-sifat Allah Yang Rahman. Mereka jelas-jelas menolak apa-apa yg dibawa Rasulullah dan rasul-rasul lain dari kitab. Disamping itu pendapat mereka pada hakikatnya mengingkari Yang Maha Pencipta termasuk ingkar kepada Allah sebagai Rabb. Mereka ingkar pula terhadap berita-berita yg datang dari Allah melalui lisan para rasul-Nya. Oleh krn itu Abdullah bin al-Mubarok berkata “Sungguh kami ceritakan pembicaraan tentang Yahudi dan Nasrani tetapi kami tidak bisa menceritakan pembicaraan Jahmiyah.” Ia pun berkata “Tidak seorang pun dari imam-imam sunnah yg menolak mengatakan bahwa Jahmiyah itu lbh kafir daripada Yahudi dan Nasrani.” Oleh krn itu mereka mengkafirkan orang yg mengatakan bahwa Alquran itu makhluk bahwa Allah tidak bisa dilihat pada hari Akhirat Allah tidak berada di atas Arsy Allah tidak mempunyai ilmu tidak berkuasa tidak mempunyai rahmat dan kemurkaan serta sifat-sifat yg lain. Imam Ahmad telah meriwayatkan-demikian juga imam-imam sunnah yg lainnya-bahwa orang-orang Murji’ah tidak dianggap kafir. Sementara orang yg mengutip pendapat beliau dan imam-imam lainnya mengkafirkan mereka atau menjadikan mereka termasuk golongan bid’ah yg diperselisihkan kekafirannya sebab telah mencapai bid’ah yg berat. Dikutip dari Imam Ahmad dan yg lainnya “Sesungguhnya pengkafiran itu hanyalah terhadap Jahmiyah al-Mutasyabbihah dan yg semisal mereka.” Mazhab Ahli Sunnah wal-Jamaah dalam Menghukumi Orang Tertentu Ahli Sunnah wal-Jamaah memisahkan antara hukum mutlak bagi pelaku-pelaku bid’ah yg disertai maksiat fasik atau kufur dgn para pelaku bid’ah tertentu yg darinya lahir sejenis bid’ah dikarenakan maksiat fasik atau kafir. Mereka tidak menghukumi orang-orang tersebut sebelum benar-benar jelas ucapannya bertentangan dgn sunnah. Itu pun harus dgn hujjah yg akurat dan menghilangkan syubhat sebagaimana halnya mereka juga memisahkan antara nash-nash ancaman yg mutlak dgn yg mesti diterima seseorang di akhirat kelak dalam hal ancaman ini. Sesungguhnya aku termasuk orang yg paling tidak suka menjatuhkan hukuman kepada seseorang sebagai kafir fasik atau maksiat. Kecuali jika telah diketahui dgn jelas hujjah yg menyatakan bahwa siapa yg menentangnnya adl kafir terkadang fasik atau mungkin maksiat. Aku mengakui bahwa Allah telah mengampuni umat ini dari kekeliruannya baik meliputi perkara-perkara khabariyah qouliyah maupun amaliyah . Riwayat yg diambil dari salaf dan imam-imam yg mengakafirkan siapa yg mengatakan begini dan begitu memang benar. Akan tetapi dalam hal ini harus dibedakan antara yg ithlaq dan ta’yin . Inilah awal permasalahan yg menimbulkan perselisihan umat mengenai persoalan prinsip yg besar yakni ancaman. Sebenarnya nash-nash Alquran tentang ancaman adl mutlak sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya orang-orang yg memakan harta anak yatim secara zalim. ?” . Begitu pula nash-nash yg lain seperti barang siapa mengerjakan begini maka baginya patut mendapatkan begini. Maka hal ini merupakan kebiasaan mutlak. Demikian juga bagi orang-orang tertentu bisa terbebas dari ancaman krn taubatnya krn kebaikan-kebaikan yg dapat menghapuskannya krn musibah-musibah yg dialaminya yg dapat menebus dosa-dosanya atau krn syafa’at yg dia terima. Dalam hal ini pengkafiran itu termasuk ancaman krn meskipun ucapan itu mendustakan sabda Nabi SAW namun boleh jadi orang tersebut baru masuk Islam atau hidup di kampung yg jauh terpencil. Orang seperti itu tidak bisa dikafirkan berdasarkan pengingkaran ucapannya kecuali ditegakkan hujjah kepadanya. Bisa jadi orang itu tidak mendengar nash-nash tersebut atau mendengarnya tetapi tidak tetap menurutnya atau menurutnya ada yg menyangkalnya dari pihak lain sehingga ia harus melakukan takwil atasnya. Pada prinsipnya ucapan yg dianggap kufur terhadap kitabullah sunnah dan ijma’ adl perkataan kufur yg diucapkan secara mutlak sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh dalil-dali syar’i . Tak ada seorang pun yg patut menghukum berdasarkan sangkaan dan hwa nfsu (**) nya juga tidak patut bagi seseorang menghukumi orang lain dgn ucapan kafir sebelum jelas kuat persyaratan yg membenarkan kekafirannya dan tak ada yg menolak pengkafirannya. Dua prinsip penting yg harus dicermati dalam mengkafirkan orang

    Ilmu Iman dan petunjuk merupakan hal-hal yg yg dibawa oleh Rasul. Maka orang yg menentang hal tersebut adl kafir secara mutlak. Mengingkari sifat-sifat Allah adl kafir. Demikian juga mendustakan kebenaran yg menyatakan bahwa Allah bisa dilihat pada hari akhir. Mendustakan bahwa dia di atas Arsy; mendustakan bahwa Alquran itu kalam-Nya; mendustakan bahwa Dia telah berbicara kepada Musa; mendustakan bahwa Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil atau yg semakna dgn itu semua maka yg demikian itu adl kufur. Inilah makna pembicaraan imam-imam sunnah dan ahli hadis.

    Bahwa pengkafiran secara umum harus ditetapkan secara mutlak dan umum. Adapun hukuman atas seseorang bahwa dia kafir atau masuk neraka haruslah didukung dgn dalil tertentu. Karena itu penghukuman harus didukung oleh ketetapan-ketetapan persyaratannya dan peniadaan halangan-halangannya.

    Sumber Ahlus Sunnah wal-Jamaah Ma’alimul Inthilaqah al-Qubra Muhammad Abdul Hadi al-Mishri Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    sumber file al_islam.chm


prinsip qadariyah ancaman bagi penentang sunnah - salaf