"Pengertian Tentang Beruntuk Baik Dan Durhaka" ketegori Muslim.

Pengertian Tentang Beruntuk Baik Dan Durhaka

Kategori Birrul Walidain

Selasa, 2 Maret 2004 06:44:06 WIB

PENGERTIAN TENTANG BERBUAT BAIK DAN DURHAKA-

Oleh
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

KATA PENGANTAR
Buku kecil ini pada asal ialah kajian yg penulis sampaikan dalam satu muhadlarah di Bogor dgn tema 'Berbakti Kepada Kedua Orang Tua', kemudian banyak permintaan dari hadirin agar dibukukan untuk dpt dibaca oleh kaum muslimin agar lebih bermanfaat. Alhamdulillah, dgn rahmat Allah Subhnahu wa Ta'ala, Allah mudahkan penulis untuk melengkapi dalil-dalil dari Al-qur'an dan hadits-hadits yg shahih.

Penulis mengangkat tema ini, krn banyak sekali di masyarakat anak-anak yg durhaka kpd kedua orang tuanya, tdk menghargai orang tua, melecehkan orang tua, bahkan ada yg mencaci maki dan memukul orang tuanya, na'udzubillah min dzalik. Padahal, apabila 'Si Anak' ini menyadari, orang tua lah yg melahirkan, mengurus, memberikan nafkah, mendidik dan membesarkan dia sampai dia dewasa, krn itu kewajiban 'Si Anak' ialah taat kpd orang tua dan hrs memenuhi hak orang tua dgn mematuhi perintah dan taat kpdnya.

Jadi bahasan tentang berbakti kpd kedua orang tua ialah pembahasan yg amat penting setelah masalah tauhid kpd Allah Subhanahu wa Ta'ala. Banyak hak yg hrs dipenuhi oleh manusia, pertama hak Allah Subhanahu wa Ta'ala, kedua hak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ketiga ialah hak kedua orang tua kemudian hak-hak lainnya.

Hak Allah Subhanahu wa Ta'ala yg hrs dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah mentauhidkanNya, beribadah kpdNya dan meninggalkan segala bentuk keyakinan, perkataan dan peruntukan syirik. Dari Mua'dz bin Jabal Radhiyallahu 'anhu.

"Arti : Aku pernah dibonceng Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diatas seekor keledai, lalu beliau bersabda kpdku, "Hai Mua'dz, tahukah kamu apa hak Allah yg wajib dipenuhi oleh para hambaNya dan apa hak para hamba yg pasti dipenuhi Allah ?" Aku menjawab, "Allah dan RasulNya yg lebih mengetahui". Beliaupun bersabda , "Hak Allah yg wajib dipenuhi oleh para hamba ialah supaya mereka beribadah kpdNya saja dan tdk beruntuk syirik sedikitpun kpdNya, sedangkan hak para hamba yg pasti dipenuhi Allah ialah bahwa Allah tdk akan menyiksa orang yg tdk beruntuk syirik sedikitpun kpdNya" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Hak-hak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yg hrs dipenuhi oleh umat Islam ialah taat kpdnya, menjauhkan semua larangan dan beribadah kpd Allah Subhanahu wa Ta'ala dgn mengikuti (ittiba') yg dicontohkannya. Karena beliau diutus untuk ditaati dan diteladani.

"Arti : Katakanlah : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayg. [Ali Imran : 31]

"Arti : Sesungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yg baik bagimu (yaitu) bagi orang yg mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah" [Al-Ahzab : 21]

Islam juga sangat memperhatikan hak-hak orang tua dan kerabat, sehingga kita ditekankan untuk mengamalkan dgn baik terutama hak-hak orang tua, krn mereka telah melahirkan, mengasuh, mendidik dan membesarkan kita sehingga kita menjadi manusia yg berguna. Oleh krn itu kita wajib berbakti kpd kedua orang tua degan cara mentaati, menghormati, mencintai, menyaygi, membahagiakan serta mendo'akan kedua ketika kedua masih hidup maupun sudah meninggal dunia.

Taat kpd kedua orang tua ialah hak orang tua atas anak sesuai dgn perintah Allah dan RasulNya selama kedua tdk memerintahkan untuk melakukan hal-hal yg tdk sesuai dgn aturan dan syari'at Allah dan RasulNya. Rasulullahn Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Arti : Tidak boleh taat kpd seseorang dalam beruntuk maksiat kpd Allah" [Hadits Riwayat Ahmad]

Sebaliknya, kita juga dilarang durhaka kpd kedua orang tua krn hal itu termasuk dosa besar yg paling besar. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa seseorang tdk masuk surga bila durhaka kpd kedua orang tuanya.

"Arti : Tidak masuk surga orang yg suka mengungkit-ungkit kebaikan (menyebut-nyebut kebaikan yg sudah diberikan), anak yg durhaka dan pecandu khamr" [Hadits Riwayat Nasa'i adri Abdullah bin Amr pada Shahih Jami'us Shaghir No. 7676]

Akhirnya, penulis memohon kpd Allah Yang Maha Mulia dan Maha Kuasa semoga tulisan ini bermanfaat untuk penulis sendiri dan kaum muslimin, menjadi amal shalih bagi penulis dan kedua orang tua penulis serta menjadi amal yg ikhlas krn Allah Rabbul 'alamin semata.

Alhamdulillahirabbil 'alamin
Yazid bin Abdul Qadir Jawas

PENDAHULUAN
Birrul Walidian (berbakti kpd kedua orang tua) ialah salah satu masalah yg penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur'an, setelah memerintahkan kpd manusia untuk bertahuid kpd-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk berbakti kpd kedua orang tuanya.

Dalam surat Al-Isra ayat 23-24, Allah berfirman.
"Arti : Dan Rabb-mu telah memerintahkan kpd manusia janganlah ia beribadah melainkan ha kpdNya dan hendaklah beruntuk baik kpd kedua orang tua dgn sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari kedua atau kedua-dua telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kpd kedua 'ah' dan janganlah kamu membentak keduanya" [Al-Isra : 23]

"Arti : Dan katakanlah kpd kedua perkataan yg mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua dgn penuh kasih sayg. Dan katakanlah, "Wahai Rabb-ku saygilah kedua sebagaimana kedua menyaygiku di waktu kecil" [Al-Isra : 24]

Al-Hafidz Ibnu Katsir telah menerangkan ayat tersebut sebagai berikut :

"Allah Ta'ala telah mewajibkan kpd semua manusia untuk beribadah ha kpd Allah saja, tdk menyekutukan dgn yg lain. " Qadla" disini bermakna perintah sebagaimana yg dikatakan Imam Mujahid, wa qadla yakni washa (Allah berwasiat). Kemudian dilanjutkan dgn "Wabil waalidaini ihsana" hendaklah beruntuk baik kpd kedua orang tua dgn sebaik-baiknya. Ayat ini mempunyai makna yg sama dgn surat Luqman ayat 14.

"Arti : …. hendaklah kalian bersyukur kpd-Ku dan kpd kedua orang tuamu dan kpd-Ku lah kalian kembali"

Dan jika salah satu dari kedua atau kedua berada disisimu dalam keadaan lanjut usia, "fa laa taqul lahuma uffin" maka janganlah berkata kpd kedua 'ah' ('cis' atau yg lainnya). Jangan memperdengarkan kpd kedua perkataan yg buruk. "Wa laa tanharhuma" dan janganlah kalian membenci keduanya. Ada juga yg mengatakan bahwa "Wa laa tanhar huma ai la tanfudz yadaka alaihima" maksud ialah janganlah kalian mengibaskan tangan kpd keduanya. Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang perkataan dan peruntukan yg buruk, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memerintahkan untuk beruntuk dan berkata yg baik. Seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala " wa qul lahuma qaulan karima" dan katakanlah kpd kedua perkataan yg mulia, yaitu perkataan yg lembut dan baik dgn penuh adab dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua dgn kasih sayg, hendaklah kalian bertawadlu' kpd keduanya. Dan hendaklah kalian berdo'a, "Ya Allah saygilah kedua sebagaimana kedua menyaygi dan mendidiku di waktu kecil", pada waktu mereka berada di usia lanjut hingga kedua wafat. [Tafsir Ibnu Katsir Juz III hal 39-40, Cet.I Maktabah Daarus Salam Riyadh, Th.1413H]

Perintah Birrul Walidain juga tercantum dalam surat An-Nisa ayat 36, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Arti : Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dgn sesuatu, dan beruntuk baiklah kpd kedua ibu bapak, kpd kaum kerabat kpd anak-anak yatim kpd orang-orang miskin, kpd tetangga yg dekat, tetangga yg jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguh Allah tdk menyukai orang-orang yg sombong dan membanggakan dirinya" [An-Nisa : 36]

Para ulama terdahulu telah membahas masalah Birrul Walidain (berbakti kpd kedua orang tua) ini dalam kitab-kitab mereka. Sepeti dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan kitab-kitab hadits besar (Ummahatul Kutub) lain dalam pembahasan tentang berbakti kpd kedua orang tua dan ancaman terhadap orang-orang yg durhaka kpd kedua orang tua.

PENGERTIAN TENTANG BERBUAT BAIK DAN DURHAKA

Menururt lughoh (bahasa), Al-Ihsan berasal dari kata ahsana-yuhsinu-ihsanan. Sedangkan yg dimaksud dgn ihsan dalam pembahasan ini ialah berbakti kpd kedua orang tua yaitu menyampaikan setiap kebaikan kpd kedua semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadapa keduanya. Menurut Ibnu Athiyah, kita wajib juga mentaati kedua dalam hal-hal yg mubah, hrs mengikuti apa-apa yg diperintahkan kedua dan menjauhi apa-apa yg dilarang.

Sedang 'uquq arti memotong (seperti hal aqiqah yaitu memotong kambing). 'Uququl Walidain ialah gangguan yg ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tua baik berupa perkataan maupun peruntukan. Contoh gangguan dari seorang anak kpd kedua orang tua yg berupa perkataan yaitu dgn mengatakan 'ah' atau 'cis', berkata dgn kalimat yg keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci dan yg lainnya. Sedangkan yg berupa peruntukan ialah berlaku kasar seperti memukul dgn tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tdk memperdulikan, tdk bersilaturrahmi atau tdk memberikan nafkah kpd kedua orang tua yg miskin.

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta.]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=343&bagian=0

Sumber Pengertian Tentang Beruntuk Baik Dan Durhaka : http://alsofwah.or.id


arti al ihsan arti uququl walidain