Penyebab Terjadi Perpecahan

penulis Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
Syariah Tafsir 11 - Januari - 2006 08:31:11

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ. فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُراً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“Sesungguh ini adl agama kamu semua agama yg satu dan Aku adl Rabbmu mk bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dgn apa yg ada pada sisi mereka .”

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً

“Sesungguh ini adl agama kamu semua agama yg satu”
Yaitu agama kalian –wahai para Nabi– adl agama yg satu dan ajaran yg satu yaitu menyeru utk beribadah hanya kepada Allah k
tak ada sekutu bagi-Nya . mk lafadz ‘umat’ yg dimaksud dlm ayat ini adl agama.

فَتَقَطَّعُوا

Makna adl
افْتَرَقُوا
.
Yaitu para umat menjadikan agama mereka yg satu menjadi beberapa agama setelah mereka diperintahkan utk bersatu.

زُبُراً

Makna zubur dlm ayat ini diperselisihkan.
Ada yg mengatakan bahwa zubur adl jamak dari zabuur yg berarti kitab-kitab yaitu mereka mengarang kitab-kitab dan kesesatan yg mereka susun. Ini adl pendapat Ibnu Zaid.
Adapula yg mengatakan bahwa mereka memecah belah kitab-kitab satu kelompok mengikuti shuhuf satu kelompok lagi mengikuti Taurat kelompok lain mengikuti Zabur dan yg lain mengikuti Injil. Kemudian mereka mengubah semua tersebut. Pendapat ini disebutkan oleh Qatadah.
Ada pula yg berkata bahwa makna adl tiap kelompok beriman dgn satu kitab dan mengingkari kitab-kitab lainnya.
Adapula yg membaca dgn mem-fathah-kan huruf zay {
زَبُراً
} yg makna adl potongan-potongan seperti potongan besi. Dan ini termasuk qira‘ah Al-A’masy dan Abu ‘Amr.

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“Tiap-tiap golongan merasa bangga dgn apa yg ada pada sisi mereka .”
Yaitu tiap kelompok suka dgn kesesatan yg ada pada krn mereka menyangka bahwa mereka adl orang2 yg diberi petunjuk.

Penjelasan Makna Ayat
Al-Allamah As-Sa’di t
berkata:
“Sesungguh ini adl umat kalian yaitu jamaah kalian –wahai sekalian para rasul– adl jamaah yg satu yg bersepakat di atas satu agama dan Rabb kalian pun hanyalah satu. mk bertakwalah kalian kepada-Ku dgn menjalankan perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku. Dan sungguh Allah k
telah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yg diperintahkan kepada para rasul krn para rasul-lah yg mereka jadikan sebagai panutan dan di belakang rasul pula mereka berjalan. Sehingga Allah k
berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Hai orang2 yg beriman makanlah di antara rizki yg baik-baik yg Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada-Nya kalian menyembah.”
Oleh krn itu wajib bagi tiap orang yg menisbahkan diri kepada para nabi dan juga yg lain utk mematuhi hal ini dan mengamalkannya. Namun orang2 dzalim dan memecah-belah tidaklah menghendaki melainkan penyimpangan. Oleh krn itu Allah k
menyatakan selanjutnya: “Mereka telah berpecah belah dlm perkara mereka menjadi kelompok-kelompok”. Setiap kelompok merasa senang dgn ilmu dan agama yg ada pada mereka dan mengklaim bahwa merekalah yg benar sedangkan yg lain tdk di atas kebenaran. Padahal yg berada di atas kebenaran di antara mereka adl yg berada di atas jalan para rasul dgn memakan makanan yg baik dan halal beramal shalih. Sedangkan yg selain itu mk mereka berada di atas kebatilan.”
Nampak dari ayat ini bahwa ada dua hal pokok yg menjadi prinsip dakwah para nabi dan rasul pada tiap zaman dan generasi yaitu:
Pertama: mentauhidkan Allah k
dalam beribadah kepada-Nya
Kedua: menyatukan umat manusia agar berjalan di atas dan tdk berpecah-belah.
Adapun tauhidullah mk hal ini diambil dari firman-Nya
وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ
“dan Aku adl Rabbmu mk bertakwalah kepada-Ku”. Allah k
telah menjadikan sebagai asas dakwah para nabi dan Rasul sehingga tidaklah terjadi perbedaan di antara mereka dlm hal mengajak manusia utk memurnikan segala bentuk ibadah kepada Allah k
dan meninggalkan segala bentuk praktek kesyirikan yg terjadi di tengah-tengah umatnya. Allah k
berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

“Dan sesungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat : ‘Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut itu’ mk di antara umat itu ada orang2 yg diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antara orang2 yg telah pasti kesesatan baginya. mk berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang2 yg mendustakan .”
Dan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

“Dan Kami tdk mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasa tdk ada sesembahan melainkan Aku mk sembahlah Aku olehmu sekalian.”
Dan firman-Nya:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

“Sesungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaum lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tdk ada sesembahan bagimu selain-Nya.’ Sesung-guh aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yg besar .”
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Allah k
yg menguatkan dakwah tauhid tersebut.
Adapun yg kedua yaitu mempersatukan umat di atas tauhid dan menghindari perpecahan mk diambil dari firman-Nya
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
“Sesungguh ini adl agama kamu semua agama yg satu” dan juga firman-Nya
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُراً
“Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan.”
Ayat Allah k
yg mulia ini menjelaskan bahwa hakekat persatuan umat adl dgn menyembah Allah k
berdasarkan syariat yg dibawa oleh para rasul baik dlm akidah maupun ibadah. Dan umat disatukan di atas syariat tersebut sehingga Rabb mereka satu agama mereka satu akidah mereka satu dan Nabi mereka pun satu yg dijadikan sebagai imam yg mereka berjalan di atas syariatnya. Dan tujuan mereka pun satu yaitu utk meninggikan kalimat Allah k
dalam diri-diri mereka dan juga dlm diri orang lain. Dan dgn harapan yg satu yaitu memperoleh keridhaan Allah k
dan jannah -Nya serta selamat dari kemurkaan dan neraka-Nya.
Namun yg terjadi kebanyakan umat mengamalkan selain apa yg telah diperintahkan kepada mereka. Sehingga mereka pun terpecah menjadi berkelompok-kelompok dan masing-masing memiliki pengikut. Dan mereka menjadi kelompok-kelompok yg saling membenci satu sama lain saling memusuhi di mana tiap kelompok mengklaim bahwa dialah yg berada di atas kebenaran dan selain di atas kebatilan. Setiap kelompok berbangga diri terhadap apa yg ada pada mereka.
Padahal perselisihan tidaklah selalu membuahkan perpecahan dan tdk selalu memberi pengaruh yg negatif dlm persatuan umat kecuali apabila hal tersebut terjadi dlm perkara prinsip-prinsip agama dan akidah seperti tauhid dgn tiga pembagiannya. mk barangsiapa yg berkeyakinan boleh beristighatsah kepada makhluk dlm perkara yg tdk ada sesuatupun yg mampu melakukan kecuali Allah k
atau tdk ambil pusing dgn orang2 yg thawaf di kuburan dan bahkan memberi kesempatan kepada orang2 yg ber-taqarrub dan bernadzar kepada kuburan lalu menyeru para penyembah kubur utk mendatangi dan memberikan dorongan kepada utk mengambil kebaikan dan menolak keja-hatan dan menganggap bahwa orang yg melakukan hal tersebut tdk mengeluarkan dari Islam bahkan tetap menganggap sebagai saudara menjadikan sebagai salah satu anggota dlm berdakwah mk sesungguh dgn hal tersebut dia telah menggugurkan tauhid uluhiyyah.
Dan barangsiapa yg menakwilkan sifat-sifat Allah k
dgn sesuatu yg membatalkan makna yg hakiki yg dikehendaki oleh Allah k
dalam Kitab-Nya dan yg dikehendaki oleh Nabi-Nya sebagai penyampai dari-Nya dgn persangkaan bahwa zhahir ayat tersebut bukanlah yg diinginkan –karena bila memahami secara zhahir mk menyebabkan terjadi penyerupaan dgn makhluk– seperti anggapan kaum Asy’ariyyah atau meniadakan sifat-sifat Allah k
secara keseluruhan seperti anggapan kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah atau menyangka bahwa Al-Qur`an bukanlah firman Allah k
namun hanyalah makhluk seperti makhluk yg lain dan berpendapat bahwa Allah k
tak dilihat oleh kaum mukminin di akhirat seperti anggapan kaum Mu’tazilah; Dan barangsiapa yg menganggap bahwa seorang hamba menciptakan perbuatan sendiri seperti anggapan kaum Qadariyyah yg mengingkari takdir atau mengatakan bahwa seorang hamba tdk punya kehendak seperti batu yg didorong atau seperti ranting yg digerakkan oleh angin seperti kaum Jabriyyah yg ekstrem dlm menetapkan taqdir dan perbuatan-perbuatan Allah k
atau menyangka bahwa pelaku dosa besar adl kafir dan kekal dlm neraka seperti anggapan kaum Khawarij atau berkata bahwa dia tdk mukmin dan tdk pula kafir sedangkan di akhirat dia akan kekal dlm neraka seperti anggapan kaum Mu’tazilah; Atau menganggap bahwa iman tidaklah dipengaruhi dgn ada dosa atau iman itu hanya sekedar pembenaran walaupun tdk diucapkan dan tdk diamalkan seperti anggapan kaum Murji’ah; Atau menganggap bahwa bacaan dan cara-cara tarekat si fulan atau tarekat syaikh fulan lbh afdhal dari membaca Al-Qur`an atau lbh afdhal dari membaca hadits Nabi dan bahwa tarekat itulah yg benar atau lbh mengutamakan tarekat Sufiyyah daripada akidah Salafiyyah; Atau meyakini bahwa 12 imam terpelihara dari kesalahan dan meyakini kekafiran para shahabat sebab mereka lbh mengutamakan Abu Bakr Umar dan Utsman daripada Ali dlm kekhilafahan dan membolehkan mencela para shahabat g
seperti anggapan kaum Rafidhah; mk semua keyakinan ini dan yg semisal dgn berbagai tingkatan inilah yg memecah belah umat. Dan inilah yg menyebabkan terjadi perpecahan yg tercela sebagaimana yg ditegaskan dlm Al-Qur`an.
Adapun perselisihan dlm perkara furu’ mk tidaklah menyebabkan ada tafriq dan tdk pula berakibat saling mencela satu sama lain. Karena hal ini terjadi pada zaman Nabi n
dan tdk menyebabkan saling mencela antara yg satu dgn yg lain dan tdk pula bersikap keras antara yg satu dgn yg lainnya.
Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu ‘Umar c
dia berkata: Nabi n
bersabda pada saat perang Ahzab: “Janganlah salah seorang kalian shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah”. Kemudian sebagian shahabat mendapati waktu shalat Ashar di perjalanan. Sebagian shahabat berkata: ‘Kami tdk mengerjakan shalat sampai kami tiba .’ Sebagian yg lain berkata: ‘Kita tetap shalat . Bukan itu yg beliau inginkan dari kita.’ Lalu perkara ini disebutkan kepada Rasulullah n
dan beliau tdk mencela seorangpun dari mereka.”
Juga dlm Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Muhammad bin Abi Bakr berta kepada Anas bin Malik z
dalam keadaan kedua sedang berangkat dari Mina menuju Arafah: “Apa yg kalian dulu kerjakan bersama Rasulullah n
pada hari ini?” Beliau z
menjawab: “Di antara kami ada yg bertalbiyah dan beliau tdk mengingkarinya. Dan di antara kami ada pula yg bertakbir dan beliau pun tdk mengingkarinya.”
Dan para shahabat Rasulullah n
telah berbeda pendapat dlm berbagai masalah furu’ dan mereka tdk saling mencela. Tidak pula memunculkan celaan pemboikotan dan perpecahan. Kemudian pula bahwa merupakan tabiat manusia mereka berselisih dlm perkara yg diperbolehkan utk ijtihad berupa hukum-hukum furu’ dipandang dari perbedaan pandangan akal dan kesiapan fitrahnya. Dengan sebab inilah tdk ada celaan atasnya.
Adapun jika telah menyentuh agama akidah dihinakan mk sesungguh mereka sangat marah walaupun orang tersebut termasuk kerabat yg terdekat. Telah shahih dari Ibnu ‘Umar c
tatkala beliau c
menyebutkan hadits Rasulullah n
:

إِذَا اسْتَأْذَنَتْ أَحَدَكُمُ امْرَأَتُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَأَذَنْ لَهَا، لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ

“Jika istri salah seorang kalian meminta izin kepada kalian utk pergi ke masjid mk hendaklah dia mengizinkannya. Janganlah kalian mencegah hamba-hamba wanita Allah masjid-masjid Allah.”
Maka Bilal berkata: “Demi Allah kami akan mencegah mereka jika tdk mk dia akan membuat kerusakan.”
Perawi hadits ini berkata: “Maka mencela dgn celaan yg buruk yg aku tdk pernah mendengar seperti itu sebelumnya. Dan beliau berkata: ‘Aku memberitakan kepadamu hadits Rasulullah n
lalu kamu berkata: ‘Demi Allah kami akan mencegahnya’?!”
Al-Hafizh Ibnu Hajar dlm Fathul Bari berkata: “ terdapat dlm riwayat Ibnu Abi Najih dari Mujahid. Adapun menurut riwayat Al-Imam Ahmad disebutkan bahwa Abdullah bin ‘Umar tdk mengajak bicara sampai beliau meninggal.”
Dan dlm Musnad Al-Imam Ahmad disebutkan bahwa Abu Bakrah z
berkata:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَذْفِ

“Rasulullah n
melarang melempar dgn kerikil.”
Maka salah seorang anak paman berkata: “Melarang dari ini?” sambil melempar kerikil dgn dua jarinya. mk Abu Bakrah z
berkata: “Apakah engkau tdk melihatku memberitakan kepadamu hadits Rasulullah n
bahwa beliau melarang lalu engkau melakukannya?! Demi Allah k
aku tdk akan mengajakmu berbicara selama hidupku!” atau yg semisal dgn ini.”
Demikian pula yg dialami oleh Abdullah bin Mughaffal z
bersama seorang kerabat dlm masalah melempar kerikil dgn dua jari disebutkan dlm Musnad .

Al-Wala` wal Bara` Hanyalah di atas Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya
Kita memetik faedah dari ayat ini bahwa tolak ukur kebenaran hanyalah yg datang dari Allah k
Rasul-Nya dan apa yg telah menjadi kesepakatan pendahulu umat ini. Adapun selain itu mk hal tersebut adl kesesatan perpecahan dan penyimpangan dari jalan Allah k
. Firman-Nya:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْراً

“Dan barangsiapa yg menentang Rasul sesudah jelas kebenaran bagi dan mengikuti jalan yg bukan jalan orang2 mukmin Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yg telah dikuasai itu dan Kami masukkan ia ke dlm Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t
berkata: “Agama kaum muslimin dibangun di atas ittiba’ terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta apa yg telah disepakati oleh umat ini. Ketiga perkara ini merupakan prinsip-prinsip yg tetap terjaga . Dan apa saja yg diperselisihkan umat ini mk mereka kembalikan kepada Allah k
dan Rasul-Nya. Dan tdk diperbolehkan bagi siapapun utk mengangkat seseorang lalu mengajak kepada jalan orang itu dan ber-wala` dan bara` di atas kecuali kepada Nabi n
. Dan tdk boleh seseorang memegang suatu perkataan lalu ber-wala` dan bara` di atas perkataan tersebut kecuali bila itu perkataan Allah k
dan perkataan Rasul-Nya n
. Dan apa yg disepakati umat ini. Bahkan termasuk perbuatan ahli bid’ah yg mereka mengangkat seseorang atau suatu perkataan lalu memecah belah umat dengan bersikap loyal dan memusuhi di atas perkataan atau penisbatan tersebut.”
Jika kita perhatikan ayat ini mk jelaslah bahwa apa yg selama ini diamalkan oleh kelompok-kelompok sesat baik itu Ikhwanul Muslimin Jamaah Tabligh Islam Jamaah tarekat Shufiyyah Hizbut Tahrir dan yg lain adl kesesatan yg nyata.
Maka perhatikanlah semoga kita termasuk di antara hamba-hamba yg diberi hidayah.
Amin.

Sumber: www.asysyariah.com

Related Post:
  • Kebenaran Hanya Datang dari Allah U
  • Keutamaan Ilmu dan Ulama
  • Jihad Harus Didasari Ilmu
  • Akankah Amalku Di Terima ?
  • ‘Iffah Sebuah Kehormatan Diri
  • Berlindung Dari Kebinasaan Ahlul Kitab (Bagian kedua)
  • Jalan Kebenaran Hanya Satu
  • Perpecahan Umat Antara Kemestian dan Adzab
  • Hukum Shalat di Masjid Nabawi di mana terdapat Kuburan Nabi
  • Bacaan Tasyahud
  • MENGENAL BID’AH
  • Bolehkah Menikahi Wanita Ahlul Kitab?
  • Adab-Adab Berpuasa
  • Puasa Tidak Sekedar Menahan Makan dan Minum
  • Kelancangan Ahlul Kitab Terhadap Kitab Suci-Nya

  • Tag : , , , , , , , , , , , , , , , 2 apa penyebab ada nya pelangi apa yang menyebabkan pelangi terjadi dan mengapa itu tidak terjadi setiap waktu? CARA TERJADINYA PELANGI pengertian terjadinya pelangi penyebab kejadian pelangi penyebab terjadinya pelangi penyebab terjadinya pelangi menurut para ahli penyebab terjadinya perpecahan umat
    You can leave a response, or trackback from your own site.