Perang Khandaq (Perang Ahzab) bag 2
Perang Khandaq bag 2
penulis Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Syariah Jejak 04 - Juni - 2007 09:58:09
Benteng parit yg dibuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ternyata efektif utk membendung serbuan kaum musyrikin. Mereka mengalami kesulitan utk melakukan penyerangan dan hanya bisa mengitari parit. Di sisi lain kaum musyrikin terus menggalang bantuan utk melakukan penyerangan besar-besaran terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tanda-tanda Nubuwwah dlm Peristiwa Khandaq
Dalam peristiwa bersejarah ini banyak terdapat kejadian luar biasa sebagai salah satu tanda kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sejarawan menukilkan sebagiannya:
Di antara apa yg dikisahkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu dlm Shahih Al-Bukhari bahwa para sahabat mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada tanah keras yg tdk sanggup mereka gempur. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dlm keadaan mereka tdk merasakan makanan sejak tiga hari. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikatkan dua buah batu ke perut beliau utk menahan lapar.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun ke dlm parit lalu meminta seember air beliau berdoa dan meludahi air itu lalu menuangkan ke bongkahan tanah keras tersebut. Kemudian beliau memukul tanah itu dgn cangkul hingga menjadi debu.
Ibnu Hisyam menukil pula dari Ibnu Ishaq yg menerima dari Sa’id bin Mina bahwa dia diceritakan tentang puteri Nu’man bin Basyir yg masih kecil diperintah oleh ibu ‘Amrah bintu Rawahah membawa beberapa butir kurma utk bekal makan siang ayah dan khali . Setelah bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dia dita tentang apa yg dibawanya. Gadis kecil itu menjawab beberapa butir kurma yg akan diberikan kepada ayah dan paman utk makan siang. Oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kurma itu diminta kemudian beliau letakkan di atas sehelai kain dan beliau doakan. Setelah itu beliau suruh orang memanggil para penggali utk makan. Merekapun datang mengambil kurma yg ada di atas kain itu dan makan sampai kenyang sementara kurma itu tetap berserakan di atas kain tersebut.
Hidangan Keluarga Jabir radhiyallahu ‘anhu
Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dlm Shahih kedua dari Jabir bin Abdullah:
لَمَّا حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيْدًا فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي فَقُلْتُ: هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيْدًا؟ فَأَخْرَجَتْ إِلَيَّ جِرَابًا فِيْهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيْرٍ وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتِ الشَّعِيْرَ فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي وَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: لاَ تَفْضَحْنِي بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِمَنْ مَعَهُ. فَجِئْتُهُ فَسَارَرْتُهُ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا وَطَحَنَّا صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ كَانَ عِنْدَنَا، فَتَعَالَ أَنْتَ وَنَفَرٌ مَعَكَ. فَصَاحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ، إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ سُوْرًا فَحَيَّ هَلاً بِهَلِّكُمْ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ وَلاَ تَخْبِزُنَّ عَجِيْنَكُمْ حَتَّى أَجِيْءَ. فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدُمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي فَقَالَتْ: بِكَ وَبِكَ. فَقُلْتُ: قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ. فَأَخْرَجَتْ لَهُ عَجِيْنًا فَبَصَقَ فِيْهِ وَبَارَكَ ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ وَبَارَكَ ثُمَّ قَالَ: ادْعُ خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعِي وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلاَ تُنْزِلُوْهَا. وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللهِ لَقَدْ أَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوْهُ وَانْحَرَفُوا وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ وَإِنَّ عَجِيْنَنَا لَيُخْبَزُ كَمَا هُوَ
“Ketika penggalian khandaq aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm keadaan sangat lapar mk akupun kembali kepada isteriku dan berkata kepadanya: ‘Apakah engkau punya sesuatu? Karena aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm keadaan sangat lapar.’
Isteriku mengeluarkan karung kulit yg di dlm terdapat segantang gandum. Dan kami masih punya seekor kambing kecil. Akupun mulai menyembelih kambing itu sementara isteriku mengadon tepung . Dia pun menyelesaikan pekerjaan bersamaan dgn aku menyelesaikan pekerjaanku. Lalu aku memotong-motong di dlm burmah kemudian aku kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Isteriku berkata: ‘Jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.’
Akupun menemui beliau dan membisiki beliau aku katakan: ‘Wahai Rasulullah kami sudah menyembelih seekor kambing kecil dan mengadon segantang gandum yg kami punyai. Jadi kemarilah engkau dan beberapa sahabatmu.’
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berseru: ‘Wahai para penggali parit sesungguh Jabir sudah menyiapkan hidangan. Marilah segera kalian semua!’
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Jangan turunkan periuk dan adonan kalian sampai aku datang.’
Akupun pulang dan datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahului kaum muslimin hingga aku menemui isteriku.
Dia berkata: ‘Gara-gara kamu gara-gara kamu.’
Aku katakan: ‘Sudah aku lakukan apa yg kamu katakan.’
Lalu dia pun mengeluarkan adonan itu dan menyerahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun meludahi dan mendoakan keberkahan pada kemudian menuju periuk kami lalu meludahi dan mendoakan keberkahan padanya. Kemudian beliau berkata: ‘Panggil si pembuat roti agar dia buat roti bersamaku dan ciduklah dari periuk kalian tapi jangan diturunkan.’
Mereka ketika itu berjumlah seribu orang. Aku bersumpah demi Allah sungguh semua makan sampai mereka tinggalkan dan kembali pulang sementara periuk kami benar-benar masih mendidih sebagaimana awal dan adonan itu juga masih seperti semula.”
Pengepungan Tentara Sekutu dan Pengkhianatan Yahudi
Setiba pasukan sekutu di pinggir kota Madinah mereka terkejut melihat “benteng” pertahanan yg dibuat kaum muslimin bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Strategi semacam ini sama sekali belum pernah dikenal di kalangan bangsa Arab. Mereka berusaha mencari celah sempit utk masuk ke garis pertahanan kaum muslimin namun tdk berhasil kecuali beberapa gelintir ahli berkuda mereka seperti ‘Amr bin Abdi Wadd ‘Ikrimah dan lainnya. Namun mereka inipun lari tunggang langgang setelah jago andalan mereka mati dibunuh ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Akhir sekutu membuat perkemahan di seberang parit mengepung kaum muslimin selama satu bulan. Saling lempar panah dan batu masih terjadi dari kedua belah pihak.
Sebagaimana telah diceritakan beberapa tokoh Yahudi menemui para pemimpin Quraisy dan kabilah Arab lain utk menghasut mereka agar memerangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin. orang2 Yahudi ini menjanjikan akan membantu Quraisy dan sekutu-sekutu utk menumpas kaum muslimin.
Kemudian tokoh-tokoh Yahudi ini menemui pimpinan Yahudi Bani Quraizhah Ka’b bin Asad. Mula Ka’b menolak menerima kedatangan Huyyai bin Akhthab tapi dia terus membujuk sampai diterima oleh Ka’b.
Setelah Huyyai masuk dia berkata: “Aku datang membawa kemuliaan masa. Aku datang dgn Quraisy Ghathafan dan Asad berikut para pemimpin mereka utk memerangi Muhammad.”
Akhir Ka’b termakan bujukan tersebut. Diapun melanggar perjanjian yg telah disepakati antara orang2 Yahudi Bani Quraizhah dgn Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin. Namun dia mensyaratkan apabila mereka tdk berhasil mengalahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mk hendak Huyyai masuk ke dlm benteng bergabung bersama menerima apa yg ditimpakan kepada mereka. Huyyai menyetujuinya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar pula pengkhianatan ini. Beliau mengutus beberapa sahabat; Sa’d bin ‘Ubadah Sa’d bin Mu’adz dan Abdullah bin Rawahah serta Khawwat bin Jubair radhiyallahu ‘anhum utk mencari berita. Ternyata keadaan jauh lbh buruk dari yg mereka bayangkan. Dengan terang-terangan orang2 Yahudi mencaci maki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menampakkan permusuhan mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan menenangkan para sahabat: “Bergembiralah kalian.”
Tapi keadaan semakin mencekam. Kaum muslimin mulai merasakan tekanan. Kemunafikan mulai muncul. Sebagian Bani Haritsah minta izin pulang ke kota dgn alasan rumah-rumah mereka tdk terjaga. Bani Salimah pun mulai merasa lemah tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkan hati mereka sehingga mereka tetap berjuang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menceritakan kejadian ini:
إِذْ جَاءُوْكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ اْلأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوْبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِاللهِ الظُّنُوْنَا. هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالاً شَدِيْدًا. وَإِذْ يَقُوْلُ الْمُنَافِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِي قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُوْلُهُ إِلاَّ غُرُوْرًا. وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لاَ مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيْقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُوْلُوْنَ إِنَّ بُيُوْتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيْدُوْنَ إِلاَّ فِرَارًا
“ ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian dan ketika tdk tetap lagi penglihatan dan hati kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian berprasangka terhadap Allah dgn bermacam-macam sangkaan. Di situlah diuji orang2 mukmin dan digoncangkan dgn goncangan yg sangat. Dan ketika orang2 munafik dan orang2 yg berpenyakit dlm hati berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya tdk menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.’ Dan ketika segolongan di antara mereka berkata: ‘Hai penduduk Yatsrib tdk ada tempat bagi kalian mk kembalilah kalian.’ Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi dgn berkata: ‘Sesungguh rumah-rumah kami terbuka .’ Dan rumah-rumah itu sekali-kali tdk terbuka mereka tdk lain hanyalah hendak lari.”
Melihat hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengajak damai ‘Uyainah bin Hishn dan Al-Harits bin ‘Auf pemuka suku Ghathafan dgn menyerahkan sepertiga kurma Madinah agar mereka menarik pasukannya. Tawar menawarpun terjadi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat Sa’d bin ‘Ubadah dan Sa’d bin Mu’adz tentang masalah ini. Kedua memberikan jawaban tegas: “Wahai junjungan kami kalau Allah yg memerintahkan anda melakukan ini kami dengar dan taat. Tapi kalau ini hanya sekedar siasat dari anda mk kami tdk membutuhkannya. Sungguh dahulu kami dan mereka sama-sama dlm keadaan menyekutukan Allah dan menyembah berhala namun mereka tdk pernah bisa meni’mati kurma itu kecuali dgn membelinya. Sekarang di saat Allah telah memuliakan kami dgn Islam memberi kami hidayah/taufik kepada memuliakan kami pula apakah kami akan serahkan harta kami kepada mereka?! Demi Allah kami tdk berikan kepada mereka apapun kecuali pedang!”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujui pendapat mereka berdua. Beliau berkata: “Itu hanyalah siasat yg aku buat krn aku melihat bangsa Arab menyerang kalian secara serentak.”
Sumber: www.asysyariah.com
akhir perang khandaq Kisah perang khandak
