Malino beberapa hari kebelakang nama wilayah ini menjadi lbh dikenal secara nasional. Hal itu krn di sana telah terjadi dua kesepakatan damai antar dua kubu yg bertikai di dua kota berbeda Poso dan Ambon. Perjanjian damai Poso berjalan lancar sebagaimana diharapkan walaupun dalam realita yg dihadapi kaum muslimin disana tetap tidak mencerminkan apa yg telah disepakati dalam perjanjian Malino I. Mereka justru mendapat perlakuan yg tidak menyenangkan pasca perjanjian tersebut. Kemudian perjanjian Malino II juga berjalan lancar dan mulus. Walaupun ada beberapa pihak yg tidak setuju namun hal itu tidak berpengaruh langsung pada proses perjanjian damai tersebut. Realita dan fakta di lapangan kemudian membuktikan bahwa suara mereka patut dan harus didengarkan dan diperhatikan. Pasca perjanjian itu mulailah dilakukan sosialisasi oleh pemerintah setempat. Semua kita berharap apa yg akan berkembang di Ambon selanjutnya hendaknya merupakan hal yg positif dan membawa angin segar bagi kehidupan sosial kedua kubu yg bertikai Islam dan Kristen. Tapi kita harus mengelus dada menahan rasa kecewa krn perdamaian yg digemborkan rupanya hanya sebuah pemaksaan kehendak dan simbolik yg semu semata. Perdamaian dan kerukunan hanya bersifat sementara belaka. Karena akar permasalahan tidak disentuh apalagi diselesaikan. Adalah suatu hal mustahil kalau pertikaian sekian tahun langsung habis dalam sehari dua hari. Pemaksaan perdamaian dibarengi rasa tabu membicarakan masalah SARA justru akan menjadi api dalam sekam. Membiarkan masalah SARA berlalu dgn sendirinya tanpa berani membicarakan dan mendiskusikannya justru akan memupuk perasaan saling benci pada kedua pihak yg bertikai. Tidakkah kita mau mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa SARA yg telah lalu. Yang mana membiarkannya ibarat orang menyiram api dgn minyak tanah. Adalah tidak bijaksana kalau mendamaikan dua kubu yg bertikai tanpa memperjelas duduk persoalan dan posisi masing-masing kubu dalam hal ini. Nampaknya kita belum bisa lepas dari budaya simbol tanpa realita. Renungkanlah apa yg telah diperbuat bangsa ini. Betapa banyak kita membuat simbol tapi kita bodoh dalam mewujudkannya ke dalam realita kehidupan. Patung-patung dan monumen megah didirikan sebagai simbol prinsip dan penghargaan. Jargon-jargon kebangkitan dan kejayaan dikumandangkan dimana-mana. Kita teriak hidup sederhana tapi kita larut dalam kemewahan. Kita teriak damai tapi kita sibuk buat pertikaian. Rupanya Poso dan Ambon juga merupakan korban simbol perdamaian yg dicanangkan di Malino. Dalam sebuah pertikain pasti ada pihak yg benar dan salah. Hukumlah yg salah dan belalah yg benar. Perdamaian tidak akan pernah terwujud dgn mengabaikan pihak yg salah tanpa hukuman. Itu hanya akan memupuk dendam di pihak yg dirugikan. Artinya permusuhan dan pertikaian punya potensi kuat utk berlanjut dan berlanjut. Jadi tugas kita belum selesai.

sumber file al_islam.chm


pengertian perdamaian malino perjanjian malino