Peristiwa Mata Air Raji’

penulisĀ Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Syariah Jejak 24 - Februari - 2006 03:04:01

Sebuah tragedi terjadi atas kaum muslimin. Sejumlah utusan Rasulullah n
dibantai musuh-musuh Islam akibat pengkhianatan yg dilakukan sekelompok kaum yg mengaku-aku telah berIslam.

Setelah perang Uhud usai kaum musyrikin Quraisy tetap bertahan sehingga dikira akan bersiap menyerang Madinah. Hal ini dirasa cukup menyulitkan posisi kaum muslimin. mk Rasulullah n
pun mengutus pasukan utk mengintai gerak-gerik musyrikin Quraisy.
Di kalangan musyrikin sendiri mereka justru saling mencela dan meminta Abu Sufyan kembali menyiapkan pasukan utk menyerang Rasulullah n
dan para shahabatnya. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah n
dan para shahabat mereka mengucapkan kalimat yg menunjukkan besar keimanan dan keyakinan mereka kepada Allah k
sebagaimana firman Allah k
:

الَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيْمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

“ orang2 yg kepada mereka ada orang2 yg mengatakan: ‘Sesungguh manusia telah mengumpulkan pasukan utk menyerang kamu krn itu takutlah kepada mereka’. Perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adl sebaik-baik Pelindung.”
Pada bulan Shafar datanglah utusan dari masyarakat ‘Adhal dan Al-Qarah yg mengaku telah masuk Islam. Mereka meminta agar diutus orang2 yg bisa mengajarkan Islam dan membacakan Al-Qur`an utk mereka. Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah n
mengirim sepuluh orang dgn dipimpin Martsad bin Abi Martsad Al-Ghanawi1 disertai pula Khubaib bin ‘Adi.
Setiba di Ar-Raji’ sebuah perairan milik kabilah Hudzail di pinggiran Hijaz kaum ‘Adhal dan Al-Qarah malah berkhianat. Mereka berteriak memanggil orang2 Hudzail yg akhir datang mengepung mereka kemudian membantai sebagian besar utusan Rasulullah n
. Tinggallah Khubaib dan Zaid bin Datsinah menjadi tawanan. Kedua dibawa ke Makkah dan dijual kepada orang2 Quraisy yg para pemimpin mereka banyak terbunuh oleh kedua di Badr.
Al-Imam Al-Bukhari mengisahkan dlm Shahih- dari Abu Hurairah z
:

بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً عَيْنًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ عَاصِمَ بْنَ ثَابِتٍ وَهُوَ جَدُّ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَانْطَلَقُوا حَتَّى إِذَا كَانَ بَيْنَ عُسْفَانَ وَمَكَّةَ ذُكِرُوا لِحَيٍّ مِنْ هُذَيْلٍ يُقَالُ لَهُمْ بَنُو لِحْيَانَ فَتَبِعُوْهُمْ بِقَرِيْبٍ مِنْ مِائَةِ رَامٍ فَاقْتَصُّوا آثَارَهُمْ حَتَّى أَتَوْا مَنْزِلاً نَزَلُوْهُ فَوَجَدُوا فِيْهِ نَوَى تَمْرٍ تَزَوَّدُوْهُ مِنْ الْمَدِيْنَةِ فَقَالُوا: هَذَا تَمْرُ يَثْرِبَ. فَتَبِعُوا آثَارَهُمْ حَتَّى لَحِقُوْهُمْ، فَلَمَّا انْتَهَى عَاصِمٌ وَأَصْحَابُهُ لَجَئُوا إِلَى فَدْفَدٍ وَجَاءَ الْقَوْمُ فَأَحَاطُوا بِهِمْ، فَقَالُوا: لَكُمْ الْعَهْدُ وَالْمِيْثَاقُ إِنْ نَزَلْتُمْ إِلَيْنَا أَنْ لاَ نَقْتُلَ مِنْكُمْ رَجُلاً. فَقَالَ عَاصِمٌ: أَمَّا أَنَا فَلاَ أَنْزِلُ فِيْ ذِمَّةِ كَافِرٍ، اللَّهُمَّ أَخْبِرْ عَنَّا نَبِيَّكَ. فَقَاتَلُوْهُمْ حَتَّى قَتَلُوا عَاصِمًا فِي سَبْعَةِ نَفَرٍ بِالنَّبْلِ، وَبَقِيَ خُبَيْبٌ وَزَيْدٌ وَرَجُلٌ آخَرُ، فَأَعْطَوْهُمْ الْعَهْدَ وَالْمِيْثَاقَ. فَلَمَّا أَعْطَوْهُمْ الْعَهْدَ وَالْمِيثَاقَ نَزَلُوا إِلَيْهِمْ، فَلَمَّا اسْتَمْكَنُوا مِنْهُمْ حَلُّوا أَوْتَارَ قِسِيِّهِمْ فَرَبَطُوهُمْ بِهَا فَقَالَ الرَّجُلُ الثَّالِثُ الَّذِي مَعَهُمَا: هَذَا أَوَّلُ الْغَدْرِ. فَأَبَى أَنْ يَصْحَبَهُمْ فَجَرَّرُوْهُ وَعَالَجُوْهُ عَلَى أَنْ يَصْحَبَهُمْ فَلَمْ يَفْعَلْ فَقَتَلُوهُ، وَانْطَلَقُوا بِخُبَيْبٍ وَزَيْدٍ حَتَّى بَاعُوْهُمَا بِمَكَّةَ فَاشْتَرَى خُبَيْبًا بَنُو الْحَارِثِ بْنِ عَامِرِ بْنِ نَوْفَلٍ، وَكَانَ خُبَيْبٌ هُوَ قَتَلَ الْحَارِثَ يَوْمَ بَدْرٍ فَمَكَثَ عِنْدَهُمْ أَسِيْرًا حَتَّى إِذَا أَجْمَعُوا قَتْلَهُ اسْتَعَارَ مُوسًى مِنْ بَعْضِ بَنَاتِ الْحَارِثِ لِيَسْتَحِدَّ بِهَا فَأَعَارَتْهُ قَالَتْ فَغَفَلْتُ عَنْ صَبِيٍّ لِي فَدَرَجَ إِلَيْهِ حَتَّى أَتَاهُ فَوَضَعَهُ عَلَى فَخِذِهِ فَلَمَّا رَأَيْتُهُ فَزِعْتُ فَزْعَةً عَرَفَ ذَاكَ مِنِّي وَفِي يَدِهِ الْمُوسَى فَقَالَ أَتَخْشَيْنَ أَنْ أَقْتُلَهُ مَا كُنْتُ لأَفْعَلَ ذَاكِ إِنْ شَاءَ اللهُ. وَكَانَتْ تَقُولُ مَا رَأَيْتُ أَسِيْرًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ خُبَيْبٍ لَقَدْ رَأَيْتُهُ يَأْكُلُ مِنْ قِطْفِ عِنَبٍ وَمَا بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ ثَمَرَةٌ وَإِنَّهُ لَمُوْثَقٌ فِي الْحَدِيْدِ وَمَا كَانَ إِلاَّ رِزْقٌ رَزَقَهُ اللهُ فَخَرَجُوا بِهِ مِنْ الْحَرَمِ لِيَقْتُلُوْهُ. فَقَالَ: دَعُوْنِي أُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ. ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ: لَوْلاَ أَنْ تَرَوْا أَنَّ مَا بِي جَزَعٌ مِنْ الْمَوْتِ لَزِدْتُ. فَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الرَّكْعَتَيْنِ عِنْدَ الْقَتْلِ هُوَ. ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ أَحْصِهِمْ عَدَدًا. ثُمَّ قَالَ: مَا أُبَالِي حِيْنَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا عَلَى أَيِّ شِقٍّ كَانَ لِلَّهِ مَصْرَعِي وَذَلِكَ فِيْ ذَاتِ اْلإِلَهِ وَإِنْ يَشَأْ يُبَارِكْ عَلَى أَوْصَالِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ. ثُمَّ قَامَ إِلَيْهِ عُقبَةُ بْنُ الْحَارِثِ فَقَتَلَهُ. وَبَعَثَتْ قُرَيْشٌ إِلَى عَاصِمٍ لِيُؤْتَوْا بِشَيْءٍ مِنْ جَسَدِهِ يَعْرِفُوْنَهُ، وَكَانَ عَاصِمٌ قَتَلَ عَظِيْمًا مِنْ عُظَمَائِهِمْ يَوْمَ بَدْرٍ فَبَعَثَ اللهُ عَلَيْهِ مِثْلَ الظُّلَّةِ مِنْ الدَّبْرِ فَحَمَتْهُ مِنْ رُسُلِهِمْ فَلَمْ يَقْدِرُوا مِنْهُ عَلَى شَيْءٍ

Nabi n
mengirim satu pasukan mata-mata dan mengangkat ‘Ashim bin Tsabit sebagai pimpinan. Dia adl kakek ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khaththab. Merekapun berangkat hingga tiba di antara ‘Usfan dan Makkah. Ternyata berita ini dibocorkan kepada Bani Lihyan yg lantas membuntuti mereka dgn seratus pasukan panah. Hingga ketika mereka tiba di satu tempat mereka dapati pada bekas rombongan ‘Ashim biji-biji kurma yg dibawa dari Madinah. Kata mereka: “Ini adl kurma Madinah.” Merekapun mengejar hingga berhasil menemukan rombongan ‘Ashim.
Sementara rombongan ‘Ashim berlindung di Fadfad. Akhir datanglah pasukan Bani Lihyan mengepung mereka dan berkata: “Kalian berhak membuat kesepakatan dan perjanjian. Jika kalian turuti kami mk kami tdk akan membunuh seorangpun dari kalian.”
Kata ‘Ashim: “Adapun aku tdk akan menerima perlindungan orang kafir. Ya Allah sampaikan tentang kami kepada Nabi-Mu.”
Maka merekapun memerangi rombongan ‘Ashim hingga dia terbunuh dari tujuh korban yg ada akibat serangan panah. Tinggallah Khubaib dan Zaid serta seorang lagi. Lalu merekapun menerima kesepakatan dan perjanjian setelah itu merekapun ikut dgn pasukan Bani Lihyan.
Setelah pasukan itu menguasai Khubaib dan teman-teman mereka melepas tali busur mereka mengikat Khubaib dan dua temannya. Shahabat yg ketiga tadi berkata: “Ini adl pengkhianatan pertama.” Dan dia menolak ikut mereka. Akhir pasukan itu menyeret namun dia tetap menolak. mk merekapun membunuhnya.
Pasukan itu akhir membawa Khubaib dan Zaid kemudian menjual di Makkah. Khubaib dibeli Bani Al-Harits bin ‘Amir bin Naufal di mana Khubaib pernah membunuh Al-Harits pada waktu perang Badr. Akhir dia tinggal bersama mereka sebagai tawanan sampai mereka sepakat utk membunuhnya. Khubaib meminjam pisau cukur kepada salah satu anak perempuan Al-Harits utk membersihkan diri. Wanita itu pun meminjamkannya.
Wanita itu mengatakan: “Aku sempat lupa dgn anakku yg masih kecil. Dia masuk mendekati Khubaib dan oleh Khubaib diletakkan di atas pahanya. Ketika aku melihat aku sangat ketakutan dan ini diketahui Khubaib sedangkan di tangan tergenggam pisau cukur itu. Diapun berkata: “Apakah engkau takut kalau aku membunuh anak ini? Tidak mungkin aku melakukan Insya Allah.”
Wanita itu setelah itu selalu berkata: “Aku belum pernah melihat tawanan yg lbh baik dari Khubaib. Aku pernah melihat memakan segenggam anggur padahal ketika itu di Makkah tdk ada buah-buahan sedangkan dia terbelenggu dgn rantai besi. Ternyata itu tdk lain adl rizki yg Allah berikan kepadanya.
Kemudian mereka keluar menjauhi daerah Al-Haram utk membunuh Khubaib.
Khubaib berkata: “Biarkan aku mengerjakan shalat dua rakaat.” Setelah itu dia menoleh kepada mereka dan berkata: “Kalau bukan krn khawatir kalian menganggap aku takut mati tentu aku tambah lagi.” Dialah yg pertama memberikan contoh shalat dua rakaat sebelum dibunuh. Kemudian dia berkata: “Ya Allah hitunglah jumlah mereka.” Lalu dia berkata lagi:
Aku tdk pernah peduli ketika aku terbunuh sebagai muslim
Di bagian manapun tubuhku jatuh terbunuh krn Allah
Itu utk membela Dzat Allah2 dan kalau Dia kehendaki
Tentu Dia berkahi salah satu anggota tubuhku yg terputus
Kemudian bangkitlah ‘Uqbah bin Al-Harits lalu membunuhnya. Kemudian orang2 Quraisy mengirim utusan utk mencari satu bagian tubuh ‘Ashim yg mereka ketahui bahwa ia yg membunuh pembesar mereka di Badr. Kemudian Allah mengirimkan serombongan lalat atau lebah seperti naungan yg melindungi ‘Ashim dari utusan-utusan tersebut sehingga mereka tdk dapat mendekatinya.”
Ibnu Hajar v
menerangkan ketika Khubaib berdoa dgn kalimat tersebut tdk ada yg selamat dari mereka kecuali orang yg menjatuhkan diri tiarap di atas tanah. Beliau nukil dari Ibnu Ishaq dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan yg menyertai ayah Abu Sufyan ketika itu bahwa beliau mengatakan: “Ayahku melemparkanku ke atas tanah khawatir terkena doa itu.”
Dan beliau nukilkan pula dari riwayat Abil Aswad bahwa Jibril datang kepada Nabi n
menceritakan keadaan mereka. Lalu beliaupun menyampaikan kepada para shahabat.
Ibnul Qayyim menceritakan bahwa ketika itu Abu Sufyan menawarkan kepada Khubaib katanya: “Bagaimana apakah engkau senang kalau Muhammad yg kami tawan dan leher ditebas sedangkan engkau tinggal di tengah-tengah keluargamu?” Kata Khubaib: “Tidak demi Allah. Tidaklah aku senang meskipun aku bersama keluargaku namun Muhammad ada di tempat lain dan dia tertusuk duri.”

Beberapa Faedah Kisah Ini
Ibnu Hajar menerangkan beberapa faedah dari kisah yg ada dlm hadits ini di antaranya:
- Boleh menepati perjanjian kesepakatan dgn kaum musyrikin
- Menahan diri tdk membunuh anak-anak mereka
- Ada karamah para wali
- Boleh mendoakan kejelekan utk kaum musyrikin secara umum
- Boleh shalat ketika akan dibunuh
- Boleh mendendangkan syair ketika akan dibunuh.
Dan ini menunjukkan kekuatan keyakinan Khubaib dan keteguhan terhadap Islam.
Dari sini kita lihat pula bagaimana kaum musyrikin sangat menghormati dan mengagungkan tanah haram semoga Allah tetap menjaga dan memuliakannya. Wallahu a’lam.

1 Demikian Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa yg diangkat menjadi pimpinan adl Martsad bin Abi Martsad Al-Ghanawi z
namun wallahu a’lam yg lbh tepat adl seperti yg tersebut dlm hadits berikutnya.
2 Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan dlm Bada`i’ul Fawa`id bahwa konteks seperti makna adl yaitu hal itu kutempuh di jalan Allah . Demikian pula kata Al-’Allamah Ibnu ‘Utsaimin dlm Syarah Bulughul Maram ketika menjelaskan hadits ‘Aisyah dari Kitabush Shiyam lafadz .

Sumber: www.asysyariah.com

Related Post:
  • Perang Badr Kubra bag. 3. Kekalahan Pasukan Musyrikin
  • Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam
  • Keutamaan Ilmu dan Ulama
  • Kebenaran Hanya Datang dari Allah U
  • Kisah Nabi Dawud dan Sulaiman
  • Puasa Tidak Sekedar Menahan Makan dan Minum
  • Kisah Khidhr Bersama Nabi Musa
  • Beberapa Pelajaran Penting Perang Uhud, Bagian 4
  • Bekerja dan Beramal
  • Jangan Terlalu Membenci Istri
  • Mengusap Khuf
  • Hukum Ikhtilath dlm Belajar
  • Jihad Harus Didasari Ilmu
  • Kritik Terhadap Kebatilan dan Pelakunya
  • Ketika Nasehat Dianggap Celaan

  • Tag : , , , , , , , , , , , , , , , , , , , air mata raji david chipperfield and perjanjian gaib Khubaib bin Adi kisah khubaib bin adi perang bani lihyan PERISTIWA AR-RAJI
    You can leave a response, or trackback from your own site.