Permasalahan Rumah Tangga, Sebuah Kemestian
Permasalahan Rumah Tangga Sebuah Kemestian
penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah
Sakinah Mengayuh Biduk 18 - Juli - 2005 05:14:45
Sedikit sekali rumah tangga yg selamat dari lilitan perselisihan di antara anggota khusus di antara suami istri. Karena yg nama berumah tangga membangun hidup berkeluarga dlm perjalanan pasti akan menjumpai berbagai permasalahan kecil ataupun besar sedikit ataupun banyak. Permasalahan yg muncul ini dapat memicu perselisihan dlm rumah tangga yg bisa jadi berujung dgn pertengkaran kemarahan dan keributan yg tiada bertepi atau berakhir dgn damai saling mengerti dan saling memaafkan.
Sampai pun rumah tangga orang2 yg memiliki keutamaan dlm agama ini juga tdk lepas dari masalah perselisihan pertengkaran dan kemarahan. Namun berbeda dgn orang2 yg tdk mengerti agama orang yg memiliki keutamaan dlm agama tdk membiarkan setan menyetir hingga menjerumuskan kepada apa yg disenangi oleh setan. Bahkan mereka berlindung kepada Allah k
dari makar setan berusaha memperbaiki perkara mereka menyatukan kembali kebersamaan mereka dan menyelesaikan perselisihan di antara mereka.
Rumah tangga yg mulia lagi penuh barakah yg dibangun oleh seorang hamba termulia kekasih Allah k
Muhammad bin Abdillah k
juga tdk lepas dari kerikil-kerikil yg menyandung perjalanan sampai beliau pernah bersumpah utk tdk mendatangi istri-istri beliau selama sebulan krn marah kepada mereka. Berikut ini petikan kisahnya:
Abdullah bin ‘Abbas c
bertutur: “Aku sangat ingin berta kepada ‘Umar ibnul Khaththab tentang siapa yg dimaksud dua wanita dari kalangan istri Nabi n
yg Allah k
nyatakan dlm firman-Nya:
إِنْ تَتُوْباَ إِلَى اللهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوْبُكُماَ وَإِنْ تَظاَهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللهَ هُوَ مَوْلاَهُ وَجِبْرِيْلُ وَصاَلِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيْرٌ
“Jika kalian berdua bertaubat kepada Allah mk sungguh hati kalian berdua telah condong utk menerima kebenaran. Dan jika kalian berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi mk sesungguh Allah adl Pelindung dan begitu pula Jibril dan orang2 mukmin yg baik. Dan selain dari itu malaikat-malaikat adl penolong pula.”
Namun aku tdk sanggup melontarkan pertanyaan krn segan terhadap hingga akhir ‘Umar berhaji dan aku pun berhaji bersamanya. dlm perjalanan ‘Umar berbelok menuju suatu tempat utk buang hajat. Aku pun mengikuti dgn membawakan bejana kecil dari kulit yg berisi air. Seusai buang hajat aku menuangkan air di atas dua telapak tangan lalu ia pun berwudhu. Kemudian aku berjalan bersama dan kesempatan itu kugunakan utk bertanya: “Wahai Amirul Mukminin siapakah dua wanita dari istri-istri Nabi n
yg Allah k
nyatakan dlm firman-Nya:
إِنْ تَتُوْباَ إِلَى اللهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوْبُكُماَ
“Jika kalian berdua bertaubat kepada Allah mk sungguh hati kalian berdua telah condong utk menerima kebenaran.”
“Alangkah aneh engkau ini wahai Ibnu ‘Abbas!1 Kedua adl ‘Aisyah dan Hafshah” jawab ‘Umar.
Ibnu ‘Abbas berkata: “Demi Allah sejak setahun lalu aku ingin berta kepadamu tentang hal ini namun aku tdk sanggup menanyakan krn segan terhadapmu.”
“Jangan berbuat demikian. Apa yg engkau yakini aku memiliki ilmu tentang mk tanyakanlah. Bila memang aku mengetahui aku akan beritakan kepadamu” kata ‘Umar.
‘Umar pun menceritakan kejadian yg menjadi sebab turun ayat tersebut. “Aku dan tetanggaku dari kalangan Anshar berada di tempat Bani Umayyah bin Zaid mereka termasuk penduduk daerah yg dekat dgn kota Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi n
sehari giliranku hari berikut gilirannya. Bila tiba giliranku akupun mendatangi tetanggaku tersebut utk menceritakan berita yg kudapat pada hari itu berupa wahyu atau yg lainnya. Bila tiba giliran ia pun melakukan hal yg sama. Dan kami orang2 Quraisy menguasai istri-istri kami dan dahulu kami tdk pernah menyertakan mereka dlm urusan kami. Ketika kami datang dan tinggal di kalangan orang2 Anshar kami dapatkan mereka itu dikalahkan istri-istri mereka. mk mulailah istri-istri kami mengambil adab wanita-wanita Anshar. Suatu hari aku menghardik istriku dan bersuara keras pada ia pun menjawab dan mendebatku. Ia juga ikut-ikutan dlm urusanku dgn mengatakan: “Seandai engkau melakukan ini dan itu.” mk aku mengingkari perbuatan yg demikian.
“Mengapa engkau mengingkari apa yg kulakukan sementara demi Allah istri-istri Nabi n
sendiri mendebat beliau sampai-sampai salah seorang dari mereka memboikot beliau dari siang sampai malam” kata istriku.
Berita itu mengejutkan aku “Sungguh merugi orang yg melakukan hal itu dari kalangan mereka” kataku kepada istriku. Lalu kukenakan pakaian lengkapku dan turun menemui Hafshah putriku.
“Wahai Hafshah apakah benar salah seorang kalian ada yg marah kepada Nabi n
dari siang sampai malam?” tanyaku.
“Iya” jawab Hafshah.
“Sungguh merugi yg melakukan hal itu” tanggapku “Apakah kalian merasa aman dari kemurkaan Allah krn kemarahan Rasulullah n
hingga engkau pun binasa? Jangan engkau banyak menuntut kepada Nabi n
jangan engkau mendebat beliau dlm sesuatu pun dan jangan memboikotnya. Minta saja kepadaku apa yg ingin kamu minta dan jangan menipumu dgn keberadaan madumu yg lbh cantik darimu dan lbh dicintai oleh Rasulullah n
.” Yang dimaksud adl ‘Aisyah.
‘Umar melanjutkan ceritanya: “Telah menjadi perbincangan di antara kami bahwa Ghassan memakaikan ladam pada kuda-kuda sebagai persiapan utk memerangi kami. Suatu ketika turunlah temanku Al-Anshari itu pada hari giliran menuju ke majelis Nabi n
. Di waktu Isya ia kembali kepada kami lalu mengetuk pintuku dgn keras seraya berkata: “Apakah ‘Umar ada di dalam?” Aku terhentak dan bergegas keluar menemuinya.
“Hari ini sungguh telah terjadi perkara yg besar” katanya.
“Apa itu? Apakah Ghassan telah datang?” tanyaku.
“Bukan bahkan lbh besar dan lbh menghebohkan daripada itu. Nabi n
telah menceraikan istri-istrinya” katanya.
“Betapa merugi diri Hafshah sungguh sebelum aku telah menduga hal ini akan terjadi” kataku.
Aku pun mengenakan pakaian lengkapku. Pagi hari aku menunaikan shalat subuh bersama Nabi n
. Setelah Nabi n
masuk ke masyrubah2 beliau dan menyendiri di dalamnya. Aku masuk ke rumah Hafshah ternyata ia sedang menangis “Apa yg membuatmu menangis?” tanyaku. “Bukankah aku telah memperingatkanmu akan hal ini apakah Nabi telah menceraikan kalian?”
“Aku tdk tahu di sana di masyrubah beliau memisahkan diri dari kami” jawab Hafshah.
Aku keluar dari rumah Hafshah dan mendatangi mimbar masjid ternyata di sana ada sekumpulan orang sebagian mereka sedang menangis. Sejenak aku duduk bersama mereka kemudian perasaan hatiku menguasaiku hingga aku bangkit dari tempat tersebut menuju masyrubah yg di dlm ada Nabi n
. Aku berkata kepada Rabah budak hitam milik Nabi n
: “Minta izinkan ‘Umar utk masuk menemui Nabi n
.” mk masuklah Rabah lalu berbicara kepada Nabi n
kemudian ia kembali menemuiku seraya berkata: “Aku telah berbicara kepada Nabi n
dan menyebutkan permintaanmu namun beliau hanya diam.”
Aku pun berlalu dari tempat tersebut hingga akhir aku duduk bersama sekumpulan orang yg ada di sisi mimbar namun kemudian perasaan hatiku menguasaiku hingga aku kembali menuju ke masyrubah tersebut dan kukatakan kepada Rabah “Mintakan izin bagi ‘Umar utk masuk.”
Rabah pun masuk lalu kembali menemuiku seraya berkata: “Aku telah menyampaikan permintaanmu namun beliau tetap diam.”
Aku kembali lagi duduk bersama sekumpulan orang di sisi mimbar namun sekali lagi perasaan hatiku mengalahkanku hingga aku mendatangi Rabah dan berkata: “Mintakan izin bagi ‘Umar utk masuk.”
Rabah pun masuk ke dlm masyrubah kemudian keluar lagi seraya berkata: “Aku telah sebutkan permintaanmu namun beliau diam saja.”
Maka ketika aku berbalik utk berlalu dari tempat itu budak tersebut memanggilku “Nabi n
telah mengizinkanmu” katanya.
Aku masuk menemui Nabi n
ternyata aku dapati beliau tengah berbaring di atas tikar tipis tanpa dialasi kasur sehingga tampak bekas-bekas kerikil di rusuk beliau dlm keadaan beliau bertelekan di atas bantal dari kulit yg telah disamak yg diisi dgn sabut. Aku ucapkan salam kepada beliau kemudian aku berkata dlm keadaan tetap berdiri; “Wahai Rasulullah apakah engkau telah menceraikan istri-istrimu?”
Beliau mengangkat pandangan ke arahku “Tidak” jawab beliau
“Allahu Akbar” seruku.
Kemudian aku berkata utk menyenangkan hati beliau dlm keadaan aku tetap berdiri “Wahai Rasulullah kita dulu orang2 Quraisy mengalahkan dan menguasai istri-istri kita. Ketika kita datang ke Madinah ternyata orang2 dikalahkan oleh istri-istri mereka.” Nabi n
tersenyum mendengar penuturanku.
“Wahai Rasulullah seandai engkau melihatku masuk menemui Hafshah kukatakan kepadanya: “Jangan menipumu dgn keberadaan madumu yg lbh cantik darimu dan lbh dicintai Rasulullah n
–yakni ‘Aisyah” lanjutku. Nabi n
tersenyum lagi. mk ketika melihat beliau telah tersenyum aku pun duduk. Aku memandang isi masyrubah beliau mk demi Allah tdk ada sesuatu pun di tempat itu kecuali tiga kulit yg belum disamak.
“Wahai Rasulullah mohon berdoalah engkau kepada Allah agar memberikan keluasan dan kelapangan bagi umatmu krn Persia dan Romawi telah dilapangkan dunia mereka dan mereka diberi keni’matan dunia padahal mereka tdk beribadah kepada Allah” kataku.
Nabi n
duduk setelah sebelum beliau bertelekan di atas bantal seraya berkata: “Apakah engkau ragu wahai Ibnul Khaththab bahwa kelapangan di akhirat lbh baik daripada kelapangan di dunia? Mereka itu adl orang2 yg disegerakan kebaikan/ kesenangan mereka dlm kehidupan dunia ini.”
“Wahai Rasulullah mintakanlah ampun untukku” kataku.
Nabi n
memisahkan diri dari istri-istri beliau selama 29 malam dikarenakan rahasia beliau yg disebarkan oleh Hafshah kepada ‘Aisyah3 beliau menyatakan: “Aku tdk akan masuk menemui mereka selama sebulan.” Beliau sangat marah terhadap mereka krn merekalah yg menyebabkan Allah k
mencela beliau.4
‘Umar berkata: “Wahai Rasulullah apa yg menyusahkanmu dari perkara wanita? Bila engkau menceraikan mereka mk sungguh Allah bersamamu para malaikat Jibril dan Mikail. Aku Abu Bakar dan kaum mukminin pun bersamamu.”
Ketika telah lewat waktu 29 malam beliau pertama kali masuk menemui ‘Aisyah. “Wahai Rasulullah bukankah engkau telah bersumpah utk tdk masuk menemui kami selama sebulan sementara waktu yg kuhitung baru berjalan 29 malam” ta ‘Aisyah mengingatkan beliau.
“Bulan ini lama 29 malam” jawab beliau.
Kemudian Allah k
menurunkan ayat takhyir5 ‘Aisyah-lah yg paling pertama dari istri beliau yg beliau tawarkan pilihan mk ‘Aisyah memilih tetap bersama beliau. Setelah beliau pun memberikan pilihan kepada istri-istri beliau yg lain mk mereka semua mengucapkan seperti yg diucapkan ‘Aisyah .”
Pertikaian pun pernah terjadi dlm rumah tangga putri Rasulullah n
Fathimah Az-Zahra x
seorang yg dikabarkan sebagai tokoh wanita ahlul jannah. Rumah tangga Fathimah dgn Ali bin Abi Thalib z
seorang yg cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.6 Ali pernah marahan dgn istri dan setelah ia keluar dari rumah menuju masjid dan tidur di sana.
Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi z
berkata: “Nama yg paling disukai oleh Ali z
adl Abu Turab. Dia senang sekali bila dipanggil dgn nama yg diberikan oleh Rasulullah n
itu. Suatu hari Ali marah kepada Fathimah mk ia pun keluar dari rumah menuju masjid dan berbaring di sana. Bertepatan dgn kejadian tersebut Rasulullah n
datang ke rumah putri Fathimah namun beliau tdk mendapatkan Ali di rumah.
“Di mana anak pamanmu itu?” ta beliau.
“Telah terjadi sesuatu antara aku dgn dia dia pun marah padaku lalu keluar dari rumah. Dia tdk tidur siang di sisiku” jawab Fathimah.
Rasulullah n
berkata kepada seseorang: “Lihatlah di mana Ali.”
Orang yg disuruh itupun datang dan memberi kabar: “Wahai Rasulullah! Dia ada di masjid sedang tidur.”
Rasulullah n
mendatangi Ali yg ketika itu sedang berbaring. Beliau dapatkan rida`- telah jatuh dari punggung sehingga pasir mengenai punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir tersebut dari punggung Ali seraya berkata: “Duduklah wahai Abu Turab. Duduklah wahai Abu Turab!”
Demikian perselisihan yg pernah terjadi dlm rumah tangga orang2 yg mulia sengaja kami paparkan dgn tujuan agar mereka yg akan membangun mahligai rumah tangga atau telah menjalani menyadari bahwa tdk ada rumah tangga yg lepas dari problema sehingga mereka bersiap-siap dan tdk kaget ketika problem itu datang menghadang. Dan agar mereka tdk terlalu muluk-muluk dlm angan-angan mereka tentang kehidupan berumah tangga7 selalu indah bak bunga-bunga di taman yg bermekaran dgn beragam warna menampakkan keindahan yg mempesona dan menebarkan aroma yg harum semerbak!! Rumah tangga tanpa masalah tanpa problema tanpa ganjalan tanpa pertikaian selalu sejalan seia sekata sepakat tanpa pernah ada perbedaan!! Padahal bayangan ini sesuatu yg teramat langka utk didapatkan pada sebuah rumah tangga di dunia Sesuatu yg bisa dikatakan mustahil utk sebuah akad yg dijalin dgn seorang anak Adam yg senantiasa punya salah sebagaimana kata Rasul yg mulia n
:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطاَّئِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
“Setiap anak Adam itu banyak bersalah. Dan sebaik-baik orang yg banyak bersalah adl orang2 yg mau bertaubat.” hasan.”}
Masalah mesti akan dijumpai antara suami istri. Dan ketika masalah itu bergulir di antara kedua semesti kedua berusaha mencari jalan penyelesaian memperbaiki keadaan dan menutup pintu rapat-rapat . Bila seorang suami marah atau seorang istri sedang emosi hendaklah kedua berlindung kepada Allah k
dari gangguan setan yg terkutuk lalu bangkit berwudhu dan shalat dua rakaat. Bila salah satu dari kedua dlm keadaan berdiri mk hendaklah ia duduk bila sedang duduk mk hendaklah ia berbaring. Atau salah seorang dari kedua menghadap pasangan memeluk dan meminta maaf bila memang ia bersalah melanggar hak pasangan dan yg dimintai maaf hendaklah lapang dada dgn memberi maaf krn mengharapkan wajah Allah k
.
Tidak sepantas ketika ada masalah dgn suami seorang istri ngambek minta pulang ke rumah orang tuanya. Atau yg lbh parah lagi si istri minggat dari rumah tanpa izin suami tentunya. Padahal di antara hak suami yg harus ditunaikan istri si istri tdk boleh keluar dari rumah suami kecuali dgn izinnya8.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t
berkata: “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah kecuali dgn izin suami dan tdk halal bagi seorang pun mengambil istri seseorang dan menahan dari suami sama saja baik krn si istri tersebut seorang perawat atau seorang bidan atau profesi lainnya. Bila istri tersebut keluar dari rumah suami tanpa izin mk ia telah berbuat nusyuz9 bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan ia pantas mendapatkan hukuman.”
Dengan demikian bila ada permasalahan rumah tangga seharus suami dan istri berusaha menyelesaikan berdua bila memang masalah bisa diselesaikan berdua. Ibarat “tutup pintu rapat-rapat” dari masuk pihak ketiga dan jangan sampai orang lain tahu masalah tersebut. Jangan tergesa-gesa melibatkan pihak luar orang tua misal krn dapat memperkeruh suasana bukan memperbaiki keadaan. Melibatkan orang tua apatah lagi orang tua yg masih awam tdk memiliki pandangan dlm agama belum tentu menyelesaikan masalah malah bisa menambah panas dan keruh permasalahan. Terkecuali orang tua itu seorang yg arif paham agama dan pandangan lurus barulah memungkinkan masalah yg ada diangkat pada bila memang sepasang suami istri tdk bisa lagi menyelesaikan berdua.
Sebagai akhir hendaklah sepasang suami istri selalu bertakwa kepada Allah k
dalam seluruh keadaan mereka di mana pun mereka berada10 dan hendaklah kedua melazimi ketaatan kepada-Nya. Ketahuilah dgn takwa segala masalah akan mendapatkan pemecahan krn Allah k
yg Mahabenar janji-Nya telah berfirman dlm Tanzil-Nya:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً
“Siapa yg bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan jalan keluar baginya.”
Dan firman-Nya:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Siapa yg bertakwa kepada Allah niscaya Dia menjadikan bagi kemudahan dlm urusannya.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
1 ‘Umar heran dgn Ibnu ‘Abbas kenapa hal yg ditanyakan itu belum diketahui padahal ia begitu terkenal dgn pengetahuan dlm tafsir dan terdepan dlm ilmu dibanding yg lainnya. Atau ‘Umar heran dgn semangat Ibnu ‘Abbas utk mengetahui cabang-cabang ilmu tafsir sampaipun pengetahuan tentang mubham . Pengertian mubham sendiri adl orang yg tdk disebutkan namanya.
2 Kamar yg tinggi
3 Allah k
berfirman:
وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيْثاً فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ .. اْلأَيَةَ
“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri suatu peristiwa. mk ketika istri itu mengabarkan rahasia tersebut .”
Mayoritas ahli tafsir berkata bahwa istri Nabi n
yg dimaksud dlm ayat adl Hafshah. Nabi n
pernah menyampaikan satu rahasia kepada dan meminta agar tdk memberitahukan kepada seorang pun. Ternyata Hafshah menceritakan rahasia tersebut kepada Aisyah x
.
4 Allah k
mencela Khalil-Nya yg mulia Muhammad n
ketika beliau mengharamkan diri utk menyentuh budak wanita bernama Mariyah atau ketika beliau mengharamkan diri minum madu krn memperhatikan perasaan sebagian istri sebagaimana kisah ma’ruf . Allah k
menurunkan ayat -Nya:
ياَ أَيُّهاَ النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ ماَ أَحَلَّ اللهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ. قَدْ فَرَضَ اللهُ لَكُُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ ..الأية
“Wahai Nabi mengapa engkau mengharamkan apa yg Allah halalkan bagiku krn engkau ingin mencari keridhaan istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sungguh Allah telah mewajibkan kalian utk membebaskan diri dari sumpah kalian.”
5 Yaitu ayat Allah k
:
عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجاً خَيْرًا مِنْكُنَّ .. الأية
“Jika Nabi menceraikan kalian mudah-mudahan Rabb akan menggantikan untuk istri-istri yg lbh baik daripada kalian
Yakni janganlah kalian mengangkat diri kalian di hadapan beliau krn jika beliau menceraikan kalian tidaklah berat/ sempit perkara bagi beliau dan tidaklah beliau dipaksa utk terus bersama kalian. Bahkan beliau akan dapatkan pengganti kalian dan Allah k
akan memberikan kepada beliau istri-istri yg lbh baik daripada kalian baik dlm hal agama maupun dlm keelokan paras.
6 Sebagaimana diberitakan Rasulullah n
dalam peristiwa perang Khaibar:
لأُعْبِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ – أَوْ قَالَ: يُحِبُّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ – يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ .. الْحَدِيْثَ
“Aku sungguh akan memberikan bendera ini besok kepada seseorang yg dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya –atau beliau mengatakan: dia mencintai Allah dan Rasul-Nya–. Allah akan membukakan kemenangan melalui kedua tangannya.” . dlm riwayat Muslim disebutkan: seseorang yg mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.”
Dan ternyata keesokan hari Ali-lah yg diserahi bendera tersebut.
7 Yang akhir berujung dgn kekecewaan
8 Al-Imam Al-Bukhari t
membuat satu bab dlm kitab Shahih- dgn judul: Isti‘dzanul Mar‘atu Zaujaha fil Khuruj ilal Masjid wa Ghairi . Kemudian beliau t
membawakan hadits Rasulullah n
:
إِذَ اسْتَأْذَنَتِ الْمَرْأَةُ أَحَدَكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهاَ
“Apabila istri minta izin kepada salah seorang dari kalian utk keluar menuju masjid mk janganlah ia mencegahnya.”
9 Lihat pembahasan nusyuz dlm Syariah Vol. I/No. 04/Juli 2003/Jumadil Ula 1424 H hal. 58-60
10 Rasulullah n
berpesan:
اتَّقِ اللهَ حيْثُماَ كُنْتَ .. الْحَدِيْثَ
“Bertakwalah engkau kepada Allah di mana pun engkau berada.”
Sumber: www.asysyariah.com
Related Post:Tag : Abbas, Antara, Damai, Dapat, Juga, Kekasih Allah, Krn, Makar, Marah, Muhammad Bin, Nabi, Namun, Nya, Pasti, Pun, Selama, Setan, Tdk, Wanita, Yg ayat masalah rumah tangga ayat tentang rumah tangga cara menyelesaikan masalah rumahtangga yg berat cara penyelesaian masalah rumahtangga hukum istri minggat dari rumah istri ingin minggat ISTRI MINGGAT istri minggat hukum islam istri minggat menurut islam istri minggat secara hukum
You can leave a response, or trackback from your own site.
