Ahli Sunnah wal Jamaah menyepakati prinsip-prinsip penting yg kemudian menjadi ciri dan inti akidahnya. Inilah akidah golongan yg selamat hingga hari kiamat. Ahli Sunnah wal Jamaah beriman kepada Allah para malaikat-Nya kitab-kitab-Nya rasul-rasul-Nya hari berbangkit setelah mati dan beriman kepada takdir Allah yg baik maupun yg buruk.

    Akidah Ahli Sunnah wal Jamaah tentang sifat-sifat Allah membenarkan tanpa mempersoalkan bentuknya dan mensucikan-Nya tanpa mengingkari-Nya.

    Termasuk beriman kepada Allah mengimani sifat-sifat yg ditetapkan Allah bagi diri-Nya di dalam kitab-Nya dan yg disebutkan oleh Rasulullah tanpa penyimpangan dan pengingkaran tanpa menyerupakan-Nya dan menggambarkan-Nya dgn permisalan. Akan tetapapi mereka merngimani bahwa tidak ada sesuatu pun yg menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Ahli Sunnah wal Jamaah tidak menafikan apa-apa yg telah disifati Allah bagi diri-Nya tidak menyimpangkan kalimat dari sebenarnya . Mereka juga tidak mengingkari asma-ama Allah dan ayat-ayat-Nya tidak memvisualisasikan dan menyerupakan sifat-sifat-Nya dgn sifat-sifat makhluk-Nya sebab Allah tidak pantas utk divisualisasikan dan disamakan dgn makhluk-Nya dan tidak patut di qiyaskan dgn ciptaan-Nya Dia Maha Suci. Allah lbh mengetahui akan diri-Nya dan di luar diri-Nya yg paling benar perkataan-Nya dan lbh bagus firman-Nya dari pada makhluk-Nya. Para rasul Allah yg benar dan dibenarkan perkataannya berbeda dgn orang yg mengatakan tentang-Nya tanpa berdasarkan pengetahuan. Mengenai hal ini Allah berfirman yg artinya “Maha Suci Rabbamu yg mempunyai keperkasaan dari apa yg mereka sifatkan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.” Allah SWT menyucikan diri-Nya dari sifat-sifat rekaan orang-orang yg menentang para Rasul. Dia memberi salam kepada para rasul krn kebersihan dan kejujuran perkataan mereka yg bebas dari kekurangan dan cacat. Allah telah menghimpun di dalam kitab-Nya apa-apa yg mesti ditolak dan mesti diterapkan mengenai sifat-sifat-Nya. Oleh sebab itu pantang bagi Ahli Sunnah wal Jamaah utk menyimpangkan segala sesuatu yg dibawa para Rasul krn hal itulah jalan yg lurus jalan orang-orang yg yg telah diberi keni’matan oleh Allah jalan yg ditempauh para nabi sidiqun syuhada dan orang-oran saleh.

    Ahli Sunnah wal Jamaah menetapkan akidah mereka tentang Alquran Alquran adl Kalamullah bukan makhluk.

    Mazab salaf umat dan Ahli Sunnah wal Jamaah menandaskan bahwa Alquran adl Kalamullah yg diturunkan bukan diciptakan . Alquran berasal dari Allah dan kembai kepada-Nya. Kebenaran ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw “Bahwa Allah berkata-kata dgn suara memanggil Adam dgn suara?.” Kalimat-kalimat inilah yg diyakini oleh salaf umat dan imam-imam sunah

    Ahli Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa Allah tidak bisa dilihat oleh siapa pun di dalam kehidupan dunia.

    Seluruh ucapan yg didalamnya terdapat kalimat “Muhammad melihat Rabbnya dgn kedua matanya di bumi” adl dusta menurut kesepakatan kaum muslimin dan ulama-ulama mereka. Ucapan seperti ini tidak diambil dari seorang ulama kaum muslimin mana pun dan tak satu pun dari mereka yg meriwayatkan hal tersebut. Demikian pula bagi siapa saja yg mengklaim bahwa dia melihat Rabbnya sebelum dia mati. Maka dakwaannya itu tertolak berdasarkan kesepakatan Ahli Sunah wal Jamaah. Ahli sunah telah bersepakat seluruhnya bahwa tak satu pun dari orang-orang mukmin dapat mealihat Allah dgn kedua matanya di dunia. Hal ini dikuatkan oleh hadis sahih Muslim dari Nawwas ibnu Sam’an dari Nabi saw ketika dia menyebut Dajal dia berkata “Dan ketahuilah olehmu bahwa tak seorang pun dari kalian yg melihat Rabbnya sampai dia mati.”

    Ahli Sunnah wal Jamaah bersepakat bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Rabbanya di surga dgn kedua mata mereka.

    Oran mukmin akan dapat melihat Allah dgn kedua mata di surga. Demikian juga manusia akan melihat-Nya di Padang Mahsyar pada hari kiamat sebagaimana diriwaytkan hadis Nabi yg termaktub dalam kitab-kitab sahih yg telah diterima oleh kaum salaf dan para imam terdahulu serta telah disepakati oleh Ahli Sunah wal Jamaah. Namun demikian hadis-hadis tersebut didustakan dan disimpangkan oleh golongan Jahmiyah dan orang-orang yg mengikuti paham mereka dari golongan Mu’tazilah Rafidlah dan sejenisnya. Mereka mendustakan sifat-sifat Allah berdasarkan ra’yu termasuk mendustakan keterangan mengenai melihat Allah di surga dan yg lainnya. Mereka tergolong orang yg ingkar dan seburuk-buruk makhluk. Dien Allah bersikap di tengah-tengah antara mendustakan berita-berita yg disampaikan Nabi di akhirat dgn membenarkan pendapat ektrem yg mengatakan bahwa Allah bisa dilihat oleh mata di dunia fana ini krn kedua pendapat itu batil. Maksudnya sikap islamiyah tidak mendustakan sabda Nabi yg mengatakan bahwa orang mukmin akan melihat melihat Allah di dalam surga dan tidak membenarkan pendapat yg mengatakan bahwa Nabi pernah melihat Allah di dunia. Mazab semua rasul dan yg mengikuti mereka orang-orang mukmin dan ahli kitab berkeyakinan bahwa Allah pencipta alam semesta Rabb langit dan bumi beserta yg ada di antara keduanya Rabbul ‘Arsil ‘Azhim sementara semua mahluk ciptaan sebagai hamba-hamba-Nya yg bergantung kepada-Nya. Allah SWT berada di atas langit ciptaan-Nya diantara ‘Arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya namun tetap bersama mereka di mana pun mereka berada.

    Ahli Sunnah wal Jamaah mengimani semua berita keadaan setelah mati yg disampaikan Rasulullah.

    Termausk beriman kepada hari akhir adl mengimani berita yg disampikan Nabi perihal keadaan sesudah mati. Oleh krn itu mereka mengimani adanya fitnah kubur azab kubur ni’mat kubur hingga terjadinya kiamat kubra saat semua ruh dikembalikan kepada jasad masing-masing. Pada saat itu manusia bangkit dari kubur mereka utk menghadap Rabb yg menguasai alam ini dalam keadaan tanpa busana dan belum dikhitan. Matahari dekat sekali di atas kepala sehingga mereka bercucuran keringat krn sengatannya. Neraca keadilan pun dipasang utk menimbang amalan para hamba-Nya. Kitab-kitab catatan amal dibentangkan di antara mereka ada yg mengambilnya dgn tangan kanan tangan kiri atau dari belakang bunggung mereka. Allah menghisap amalan makhluk-Nya menghadap hamba-Nya yg beriman lalu mengakui dosa-dosa mereka sebagaiman tertulis dalam kitabullah dan sunah. Adapun amalan baik dan buruk yg dilaukan orang-orang non muslim tidak dihisab krn mereka tidak berhak mengklaim kebaikan-kebaikan mereka. Tidak ada kebaikan bagi mereka tetapi amalan buruk mereka langsung dihitung dan dijumlah kemudian mereka mengakuinya mempertanggungjawabkannya dan mendapat balasan sesuai dgn amlan tersebut. Di Padang Mahsyar terdapat Telaga Muhammad yg didatangi umatnya juga terdapat jembatan Syirat yg dipasang di atas panggung jahanam. Manusia berjalan di atasnya sesuai dgn kadar amalannya masing-masing. Di antara mereka ada yg tersambar dan terlempar ke neraka dan siapa yg berhasil melewati Ash-Shirat itu maka berhasil masuk surga. Pada saat manusia melewati jembatan tersebut mereka berhenti di atasnya di atara surga dan neraka sebagaiman mereka menuntut balas atas sebagian yg lain. Jika telah terseleksi barulah mereka diizinkan memasuki surga. Orang pertama yg meminta dibukakan pintu surga adl Muhammad saw dan sekaligus yg pertama dimasukinya. Sementa itu yg paling pertama mausk surga di antara umat para nabi dan rasul adl umat Muhammad. Pada hari kiamat Rasulullah diberi hak oleh Allah berupa tiga macam syafaat Pertama beliau memberi syafaat kepada orang-orang ketika berkumpul pada hari Mahsyar sampai nasib mererka diputuskan. Kedua beliau memberikan syafaat bagi orang yg layak masuk surga yg dijanjikan-Nya. Kedua syafaat tersebut khusus diberikan oleh Nabi. Ketiga beliau memberi syafaat kepada orang-orang yg sepatutnya masuk neraka. Syafaat yg terakhir ini tidak hanya dimiliki oleh Rasulullah namun juga dimiliki oleh nabi-nabi lain para sidiqin dan lain-lainnya. Rasulullah memberi syafaat kepada orang-orang yg seharusnya masuk neraka agar terhindar darinya juga kepada mereka yg memasukinya agar dikeluarkan darinya juga kepada mereka yg memasukinya agar dikeluarkan darinya. Allah juga mengeluarkan hamba-hamba-Nya dari neraka tanpa melalui syafaat akan tetapi semata-mata krn karunia dan rahmat-Nya. Allah mengekakalkan ahli surga di dalamnya dan memberi kelebihan bagi yg memasukinya dari penduduk dunia. Sesungguhnya Allah berkehendak terhadap suatu kaum utk memasuki surga.

    Ahli Sunnah wal Jamaah mengimani qadar Allah dgn segala tingkatnya.

    Golongan yg selamat Ahli Sunnah wal Jamaah mengimani qadar Allah yg baik maupun yg buruk. Iman kepada qadar Allah ada dua tingkatan. Masing-maisng tingkatan mencakup dua hal. Tingkatan pertama

    Beriman bahwa Allah mengetahui semua perbuatan manusia berdasarkan ilmu-Nya yg qadim dan azali. Allah juga mengetahui seluruh keadaan mereka ketaatan kemaksiatan rezeki dan ajal mereka.
    Allah telah menentukan ketetapan itu di dalam Lauh mahfuz semua ketentuan makhluk-Nya itulah yg disebut takdir. Semuanya mengikuti ilmu Allah di mana pun tempat mereka yg bersifat ijmali ataupun tafsili . Allah telah mencatat semua yg ia kehendaki di lauh mahfudz. Pada saat dia menjadikan janin sebelum meniupkan ruh dia mengutus malaikat dan menyuruhnya menetapkan empat perkara tulislah rezekinya ajalnya amalnya dan nasibnya . Taqdir seperti ini telah diingkari oleh golongan Qadariyah secara keterlaluan pada masa lalu sedikit pada masa sekarang. Tingkatan kedua
    Dalam hal ini meliputi kehendak Allah yg berlaku dan kekausaan-Nya yg menyeluruh. Yaitu mengimani bahwa apa-apa yg dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa-apa yg tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Begitu juga tiap yg bergerak dan diam baik yg di langit maupun yg di bumi berjalan menurut kehendak-Nya dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu baik yg ada maupun yg tidak ada. Tidak ada satu jenis makhluk pun di bumi dan di langit ini kecuali Allah yg menciptakannya. Tiada pencipta selain Allah dan tak ada rabb selain Dia.

    Meskipun demikian Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya utk menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya serta mencegah mereka dari perbuatan maksiat. Dia Maha Suci yg mencintai orang-orang yg bertakwa orang-orang yg berbuat baik serta yg berbaut adil. Dia juga rido kepada orang-orang yg beriman dan beramal saleh. Dia tidak suka kepada orang-orang non muslim tidak rido kepada kaum yg fasik tidak memerintahkan utk berbuat keji tidak mencintai hamba-hamba-Nya yg ingkar dan tidak mencintai pembuat kerusakan. Para hamba adl pelaku yg sebenarnya sedangkan Allah yg menciptakan perbuatan mereka. Di antara hamba-Nya ada yg durhaka ada yg mendirikan salat dan puasa. Mereka diberi kemampuan utk melakukan amalan-amalan juga diberi kemauan utk berbuat Allahlah yg menciptakan mereka serta menciptakan kudrat dan iradat mereka. Tingkatan qadar inilah yg diingkari oleh golongan Qadariyyah -golongan ini disinyalir oleh Nabi sebagai Majusi umat ini. Di kalangan umat juga dijumpai kaum yg berlebih-lebihan membenarkan soal qadar Allah ini sehingga mereka mengingkari kudrat dan ikhtiar manusia terbelenggu oleh angan-angan mereka sendiri. Mereka mengeluarkan hikmah dan kemaslahatannya dari af’al Allah dan hukum-hukum-Nya.

    Ahli Sunnah wal Jamaah berpendapat Iman adl ucapan dan perbuatan dapat bertambah dan berkuarang.

    Termasuk prinsip yg diyakini Ahli Sunnah wal Jamaah adl bahwa dien dan iman merupakan ucapan dan perbuatan ucapan hati lisan dan anggota badan. Sesungguhnya iman dapat bertambah krn taat dan berkurang krn maksiat. Adapun Ahli Sunnah wal Jamaah-para sahabat tabi’in imam-imam sunah dan hadis jumhur fuqaha dan sufi seperti Imam Malik ats-Tsauri al-Auza’i Hammad bin Zaid asy-Syafi’i Ahmad bin Hambal dan lainnya serta para muhaqiq ahli kalam telah sepakat bahwa iman dan dien adl ucapan dan perbuatan. Inilah pendapat ulama salaf dari golongan sahabat dan lainnya. Meskipun pada sebagian tempat iman itu berbeda maknanya dgn amal akan tetapi semua amal saleh termasuk dalam lingkup ad-dien dan al-Iman. Adapun yg dimaksud dgn ucapan adl hati dan lisan sedangkan perbuatan adl perbautan hati dan anggota badan.

    Ahli Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa iman mempunyai pokok dan cabang . Iman seseorang tidak terlepas kecuali dgn terlepasnya pokok keimanan. Oleh karenanya mereka tidak mengafirkan seseorang dari ahli kiblat krn kemaksiatannya kecuali jika telah terlepas pokok keimannya.

    Para mufasir ahli sunnah mengatakan bahwa iman memiliki pokok dan cabang yg meliputi rukun-rukun kewajiban-kewajiban dan yg dibolehkan sebagaimana hal ini terdapat di dalam ibadah haji mencakup semua amalan yg dilakukan dan ditinggalkan . Haji mempunyai rukun-rukun yg jika ditinggalkan batallah haji tersebut seperti wukuf di Arafah. Juga terdapat hal-hal yg dilarang jika dilanggar rusaklah haji tersebut seperti menggauli isteri. Haji juga meliputi kewajiban yg harus dikerjakan dan berdosa jika ditinggalkan. Disamping itu di dalam ibadah haji terdapat hal-hal yg dibolehkan jika ditinggalkan tidak berdosa namun jika dilakukan akan menambah kesempurnaan haji. Bagi orang yg meninggalkan rukun haji atau melakukan sesuatu yg dapat merusaknya maka hajinya rusak dan ia tetap berkewajiban melaksanakannya. Kita dapat memisalkan al-iman dan ad-dien sebagai pohon yg memiliki batang ranting dan daun. Kalaupun hilang ranting dan daunnya tetaplah disebut pohon meskipun menjadi kurang lengkap keberadaannya. Iman memiliki tiga tingkatan

    Iman yg dimiliki para pendahulu yg dekat dgn Allah . Mereka melakukan hal-hal yg wajib dan mustahab baik mengerjakannya maupun meninggalkannya.

    Iman yg dimiliki oleh orang-orang tingkat menengah dari golongan kanan yaitu orang-orang yg melakukan kewajiban-kewajiban baik yg harus dikerjakan maupun yg harus ditinggalkan.

    Iman yg dimiliki orang-orang zalim yaitu orang-orang yg meninggalkan sebagian kewajiban atau melakukan sebagian perbautan terlarang. Oleh krn itu ulama-ulama Ahli Sunnah wal Jamaah beritikad bahwa mereka tidak mengafirkan seorang pun dari ahli kiblat krn dosa yg dilakukannya sebagai isyarat terhadap bid’ah Khawarij yg mengkafirkan seorang muslim krn melakukan dosa semata-mata. . Adapun pokok iman adl mengakui dan membenarkan apa-apa yg disampaikan Rasulullah dari Allah dan tunduk mengikutinya. Maka siapa pun yg tidak melakukan hal tersebut tidaklah dia beriman. Perlu diketahui bahwa iman terdiri dari bagian-bagian dan unsur-unsut . Oleh krn itu bagian iman sekecil apa pun yg ada pada seseorang akan dapat mengeluarkannya dari siksa neraka . Artinya ia tidak kekal di dalam neraka selama masih ada unsur iman meski sekecil apa pun. Akan tetapi kelompok Khawarij mempunyai anggapan yg bebeda dgn ahli sunah. Mereka beranggapan bahwa iman harus secara keseluruhan atau sama sekali tidak memiliki iman. Berdasarkan pendirian dan itikad tersebut Ahli Sunnah wal Jamaah tidak mengafirkan ahli kiblat hanya disebabkan perbuatan dosa dan kemaksiatan semata. Hal ini berbeda dgn itikad Khawarij yg mengafirkan orang krn kemaksiatan dan dosa yg dilakukannya. Bahkan menurut Ahli Sunah wal Jamaah persaudaraan iman masih tetap berlaku dan dibenarkan meskipun mereka bermaksiat. Orang-orang fasik tidak berarti kehilangan iman secara keseluruhan dan mereka tidak kekal di dalam neraka berbeda apa yg diyakini Mu’tazilah bahwa fasik dapat menggugurkan iman secara total dan kekal di neraka. Orang fasik menurut ahli sunah masih tergolong beriman atau bisa juga dikatakan beriman tidak secara mutlak. Oleh sebab itu mereka mengatakan bahwa orang fasik adl orang beriman dgn kualitas rendah dia disebut mukmin krn imannya dan disebut fasik krn dosa-dosanya. Mereka tidak diberi nama secara mutlak dan tidak pula divonis mutlak telah hilang keimannya.
    Ahli Sunnah wal Jamaah bersepakat terhadap kemungkinan berkumpulnya antara siksa dan pahala pada diri sesorang. Namun mereka tidak mewajibkan siksa atau pahala pada orang tertentu kecuali dgn dalil khusus.

    Sesungguhnya laknat termasuk ancaman oleh karenanya tidak ditetapkan secara umam. Seseorang dapat terhindar dari ancaman krn melakukan taubat dgn benar krn kebaikan-kebaikan yg dilakukannya krn adanya musibah yg bisa menebusnya krn syafaat yg diterimanya atau sebab-sebab lain yg dapat menghilangkan hukuman . Ini tentang orang yg melakukan dosa dgn jelas. Tidaklah seseorang dinyatakan masuk surga kecuali dgn dalil khusus. Juga tidak boleh menjadi saksi atas mereka semara-mata berdasarkan prasangka sebab mereka termasuk dalam kategori umum. Dengan demikian mereka bisa tergolong kedalam dua kategori umum tersebut mereka berhak mendapat pahala dan hukuman. Ahli Sunah wal Jamaah dan seluruh pengikut mereka telah bersepakat atas berhimpunnya dua perkara siksa dan pahala pada kebanyakan manusia sebagaimana dijelaskan oleh hadis-hadis yg mutawatir dari Nabi. Mereka tidak mewajibkan siksa terhadap orang yg melakukan dosa besar juga tidak menyatakan terhadap seorang muslim tertentu berdasarkan kesakian matanya patut masuk neraka krn dosa besar yg diperbuatnya. Menurut mereka boleh jadi Allah memasukkan mereka ke dalam surga tanpa disiksa terlebih dahulu. Hal itu disebabkan kebaikan-kebaikan yg dilakukannya dapat menghapus dosa atau krn musibah yg dapat menebusnya atau krn dia mustajab yg diucapkannya atau diucapkan orang lain. Kami tidak memvonis seseorang masuk neraka krn kami tidak mengetahui berlakunya ancaman baginya hanya berdarkan pengamatan lahir. Selain itu berlakunya ancaman pada seseorang dibutuhkan persyaratan serta tiadanya unsur-unsur penghalang sedangkan kita tidak mengetahui kebenaran sayrat-syarat dan tidak adanya penghalang tersubut pada seseorang. Manfaat ancaman adl menerangkan bahwa dosa merupakan penyebab timbulnya siksa. Sedangkan penyebab itu sendiri pengaruhnya tergantung pada persyaratan yg memenuhinya dan tiadanya penghalang.

    Ahli Sunnah wal Jamaah mencintai dan mendukung sahabat Rasul ahlul bait dan isteri-isteri Rasul tanpa meyakini adanya kemaksuman terhadap siapa pun kecuali Rasulullah.

    Termasuk pokok akidah Ahli Sunah wal Jamaah adl menjaga keselamatan hati dan lisan mereka dari tuduhan terhadap para sahabat Rasulullah. Ahli Sunah wal Jamaah meneriman Kitabullah Sunah dan ijma sesuai dgn keutamaan dan martabat mereka. Oleh krn itu mereka lbh mengutamakan orang-orang yg membelanjakan hartanya dan berperang di jalan Allah sebelum “kemenangan”-yaitu perjanjian hudaibiyah- daripada orang-orang yg membelanjakan harta dan berperang di jalan Allah sesudah masa itu. Mereka mendahulukan kaum Muhajirin terhadap Anshar. Mereka juga mengimani bahwa Allah berfirman kepada ahli Badar yg berjumlah 300 orang lebih “Kerjakanlah apa yg kalian suka Aku telah mengampuni dosa kalian.” Mereka mengimani bahwa tidak ada sorang pun yg berba’iat di bawah pohon Ridlwan masuk neraka. Berdasarkan hal ini mereka menyatakan masuk surga kepada seseorang yg dinyatakn masuk surga oleh Rasulullah. Mereka mengetahhui berita yg mutawatir dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan lainnya bahwa sebaik-baik umat ini sesusah Nabinya adl Abu Bakar kemudian Umar bin Khattab. Mereka mengakui bahwa kedua sahabat itu adl khalifah sesudah Rasulullah. Termasuk Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah sesudah mereka. Mereka mencintai dan mendukung ahlul bait dan isteri-isteri Rasul sebagai ibu orang-orang mukmin . Mereka mengimani bahwa isteri beliau akan tetap menjadi isteri beliau di akhirat kelak khususnya Khadijah binti Khuwailid dan Aisyah binti Ash-Shidiq. Ahli Sunnah wal Jamaah tetap teguh dalam melihat perselisihan yg terjadi di antara para sahabat. Mereka mengatakan bahwa para sahabat itu dimaafkan Allah baik merek ayang melakukan ijtihad dgn hasil yg benar maupun yg salah. Akan tetapi mereka tidak meykini bahwa para sahabat itu maksum dari dosa-dosa besar dan kecil. Bahkan menurut Ahli Sunah wal Jamaah boleh jadi di antara mereka pernah melakukan dosa namun krn memliki banyak jasa dan berbagai keutamaan maka patut diampuni dosa-dosa mereka. Hal ini benar dan dikuatkan oleh sabda Nabi saw “Mereka adl sebaik-baik generasi.” Para sahabat merupakan sebaik-baik makhluk setelah para Nabi. Tidak ada dan tidak akan terjadi generasi seperti mereka sebab mereka merupakan generasi yg paling terpelihara dari umat ini sebai-baik umat dan semualia-mulia umat di sisi Allah.

    Ahli Sunnah wal Jamaah membenarkan adanya karomah para wali dan kejadian-kejadian luar biasa yg diberikan Allah kepada mereka.

    Termasuk pokok keyakinan Ahli Sunnah wal Jamaah adl membenarkan adanya karomah para wali dan kejadian-kejadian yg diberlakukan Allah pada mereka dalam berbagai ilmu temuan kemampuan dan pengaruh-pengaruh mereka. Hal demikian sebagaimana banyak diriwayatkan telah ada sejak umat-umat terdahulu seperti yg terdapat dalam Alquran surat Al-Kahfi dan lainya sampai kepada para sahabat dan tabiin dan seluruh generasi umat ini. Kejadian-kejadian seperti itu akan tetap ada sampai hari kiamat.

    Ahli Sunnah wal Jamaah bersepakat utk memerangi siapa pun yg keluar dari syariat Islam sekalipun ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Telah ditegaskan berdasarkan Kitabullah Sunnah dan Ijma umat bahwa siapa pun yg kelaur dari syariat Islam berhak diperangi sekalipun mengucapkan dua kalimat syahadat. Memerangai mereka merupakan kewajiban yg tentu saja harus didahului dgn penyampaian dakwah Nabi kepada mereka. Jika mereka mendahului memerangi kaum muslimin haruslah mereka diperangi. Jika musuh hendak menyerang kaum muslimin mereka wajib membela diri sementara kaum muslimin yg lainnya memberikan pertolongan menurut kemampuan masing-masing baik dgn diri dan harta ataupun dgn berjalan kaki dan berkendaraan. Hal seperti ini sebagaimana pernah diperlihatkan kaum muslimin ketika hendak menyerang musuh pada perang Khandaq yg tak seorang pun dari mereka diizinkan utk tidak ikut berjihad membela agama jiwa dan kehormatan.

    Ahli Sunnah wal Jamaah berperang bersama pemimpin-pemimpin mereka baik pemimpin yg baik maupun durhaka demi menegakkan syariat Islam.

    Termasuk pokok keyakinan Ahli Sunnah wal Jamaah adl berperang bersama orang yg baik dan buruk sebab Allah memperkuat Dienul Islam ini di antaranya dgn orang-orang fajir dan orang-orang yg tidak berakhlak sebagaimana diberikan oleh Nabi. Maka dalam situasi seperti ini hanya ada dua alternatif yg harus dihadapi tiap muslim tidak mau berperang bersama mereka sehingga muncul kekuasaan lain yg akan membawa mudarat lbh besar dalam ad-Din dan dunia atau berperang bersama mereka sehingga dapat mengalahkan orang-orang yg lbh fajir sehingga sebagian besar syariat Islam bisa ditegakkan meskipun tidak seluruhnya. Dalam hal ini alternatif yg kedua yg harus dipilih bahkan kebanyakan peperangan yg terjadi sesudah masa Khulafaur Rasyidin dalam bentuk seperti ini.

    Sumber Ahlus Sunnah wal Jamaah Ma’alimul Inthilaqah al-Kubra Muhammad Abdul Hadi al-Mishri Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    sumber file al_islam.chm


Siapa saja yang termasuk ahli Surga pada masa Nabi Muhammad S A W kejadian pada zaman sahabat nabi tentang zikir jamaah- salaf