Sengaja kami tidak mengatakan lahirnya Ahlus Sunnah wal Jamaah tetapi kami menyebutnya lahirnya penamaan Ahli Sunnah Wlajama’ah. Alasannya madzab ahli Sunnah itu merupakan jalan yg di tempuh Rasulullullah saw dan para sahabatnya. Mereka bukan pembuat bid’ah sehingga nama tersebut tidak dapat dinisbatakan kepada perseorangan atau kelompok. oleh krn itu tidak dapat di katakan “Mazhab Ahli Sunnah ini lahir pada tahun sekian.” Menurut Ibnu Taimiyah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah adl mazhab yg telah ada sejak dulu. Ia sudah di kenal sebelum Allah menciptakan Abu Hanifah Malik Syafi’i dan Ahmaf. Ahli Sunnah ialah madzab sahabat yg telah menerimanya dari Nabi mereka. Barang siapa menentang itu menurut pandangan Ahli Sunnah berarti ia pembuat bid’ah. Mereka telah sepakat bahwa ijma’ orang-orang sesudah sahabat. Awal terjadinya penamaan Ahlus Sunna wal Jama’ah adl ketika terjadinya perpecahan sebagaimana yg dikhabarkan Nabi saw. Karena sebelum terjadinya perpecahan tidak ada istilah-istilah itu sedikit pun baik istilah Ahlus Sunna wal Jama’ah Syi’ah Khawarij atau lainnya. Pada saat itu kaum muslimin seluruhnya berada di atas dien dan pemahaman yg satu yaitu Islam. “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” Cobaan itu muncul pada permulaan abad ketiga masa pemerintahan al-Ma’mun dan al-Mu’tashim kemudian al-Watsiq pada saat kaum Jahmiyah menafikkan sifat-sifat Allah dan menyerukan menusia agar mengikuti paham mereka. madzab ini di anut oleh tokoh-tokoh Rafidlah yg mendapat dukungan pihak penguasa. Terhadap penyimpangan tersebut Madzab Ahli Sunnah tentu menolak. oleh krn itu mereka sering mendapat ancaman ataupun siksaan. Adapula yg di bunuh ditakut-takuti ataupun dibujuk rayu. Namun dalam menghadapi situasi yg seperti ini Imam Ahmad tetap tabah dan tegar sehingga mereka memenjarakan beliau sekian beberapa waktu lamanya. kemudian mereka menantang mereka utk berdebat. dan terjadilah berdebatan yg amat panjang. Dalam perdebatan tersebut demikian menurut Imam Ahmad dibahas masalah-masalah mengenai sifat-sifat Allah dan yg berkaitan dengannya mengenai nash-nash dalil-dalil antara pihak yg membenarkan dan menolak. dgn adanya perbedaan pandangan itu akhirnya ummat terpecah belah menjadi berkelompok-kelompok. Imam Ahmad dan Imam-imam lainnya dari Ahli Sunnah serta Ahli Hadits sangat mengetahui kerusakan Madzab Rafidlah Khawarij Qodariyah Jahmiyah dan Murji’ah. Namun krn adanya cobaan maka timbullah perdebatan. Dan Allah mengangkat kedudukan Imam ini menjadi Imam Sunnah sekaligus sebagai tokohnya. Predikat itu memang layak di sandangnya krn beliau sangat gigih dalam menyebarkan menyatakan mengkaji nash-nash dan atsar-atsarnya serta menjelaskan segala rahasianya. Beliau tidak mengeluarkan statement-statemen baru apalagi pandangan bid’ah. Kegigihan beliau dalam memeperjuangkan Ahli Sunnah tidak dapat diragukan lagi sampai-sampai sebagai ulama di Maghrib mengatakan ‘Madzab itu milik Malik dan Syafi’i sedangkan kepopulerannya milik Ahmad. Maksudnya madzab para Imam Ushul itu merupakan satu madzab sperti apa yg dikatakannya’.” Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang ahul sunnah beliau menjawab dgn mengatakan “Ahlus sunnah adl orang-orang yg tidak memiliki laqab yg mereka dikenal dengannya. Mereka bukanlah Jahmiyyun bukan Qadariyyun dan bukan pula Rafidiyyun .” Dari sini kita sepakat seperti apa yg telah dikatakan Dr. Mustafa Holmy “Ahlus Sunnah wal Jama’ah adl pelanjut pemahaman kaum muslimin pertama yg ditinggalkan oleh Rasulullah saw dalam keadaan beliau ridha terhadap mereka sedangkan kita tidak bisa membuat batasan permulaan yg kita bisa berhenti padanya sebagaimana yg dapat kita lakukan pada kelompok-kelompok yg lain. Tidak ada tempat bagi kita utk menanyakan tentang sejarah munculnya ahlus sunnah seperti halnya jika kita bertanya tentang sejarah munculnya kelompok-kelompok yg lain.” . Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitabnya Minhaju As-Sunnah “Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adl madzhab yg terdahulu dan telah terkenal sebelum Allah menciptakan Imam Abu Hanifah Malik Syafi’i dan Ahmad. Ia adl madzhab para shahabat yg diterima dari Nabi mereka. Barangsiapa yg menyelisihi tersebut maka dia adl Ahlul Bid’ah menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa Ahli Sunnah Waljama’ah merupakan kelanjutan dari jalan hidup Rasulullah saw dan para sahabatnya. Kalaupun bangkit seorang Imam pada jaman bid’ah dan keterasingan Ahli Sunnah yg menyeru manusia kepada aqidah yg benar dan memerangi pendapat yg menentangnya maka ia tidaklah membawa sesuatu yg baru. Ia hanya memperbaharui madzzab ahli sunnah yg sudah usang dan menghidupkan ajaran yg sudah terkubur. Sebab aqidah dan sisitemnya bagaimanapun tidak pernah berubah. Dan jika pada suatu masa atau pada suatu tempat terjadi penisbatan madzab Ahli Sunnah terhadap seorang ulama atau mujaddin maka hal itu bukan krn ulama tersebut telah menciptakan atau mengada-ada. Hal itu pertimbanganya semata-mata krn ia selalu menyerukan manusia agar kembali kepada as-sunnah. Adapun mengenai awal penamaan Ahlus Sunnah wal Jamaah atau Ahli Hadits ialah ketika telah tejadi perpecahan munculnya berbagai golongan serta banyaknya bid’ah dan berbagai golongan serta banyaknya bid’ah dan penyimpangan. Pada saat itulah Ahli Sunnah menampakkan identitasnya yg brebeda dgn yg lain baik dalam aqidah maupun manhaj mereka. Namun pada hakikatnya mereka itu hanya merupakan proses kelanjutan dari apa yg di jalankan Rasulullah saw dan para shahabatnya. Sumber

    Manhaj dan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah Muhammad Abdul Hadi al-Mishri.
    Majalah Salafy Edisi IX/Rabi’us Tsani/1/1996. Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    sumber file al_islam.chm


Munculnya ahlussunnah MAKALAH MENGENAI MAHZAB AHLI SUNAH WAL JAMAAH