Seputar Zakat Fitrah dan Hari Raya ‘Iedul Fitri

penulis Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah
Syariah Problema Anda 07 - November - 2004 10:11:51

Zakat Fitrah
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dita tentang hukum mengeluarkan zakat fitrah pada sepuluh hari pertama pada bulan Ramadhan?
Beliau rahimahullah menjawab: Kata zakat fitrah berasal dari kata al-fithr krn dari al-fithr inilah sebab dinamakan zakat fitrah. Apabila berbuka dari Ramadhan merupakan sebab dari penamaan ini mk zakat ini terkait dengan dan tdk boleh mendahului . Oleh sebab itu waktu yg paling utama dlm mengeluarkan adl pada hari ‘Ied sebelum shalat . Akan tetapi diperbolehkan utk mendahului sehari atau dua hari sebelum ‘Ied agar memberi keleluasaan bagi yg memberi dan yg mengambil. Sedangkan zakat yg dilakukan sebelum hari-hari tersebut menurut pendapat yg kuat di kalangan para ulama adl tdk boleh. Berkaitan dgn waktu penunaian zakat fitrah ada dua bagian waktu:
1. Waktu yg diperbolehkan yaitu sehari atau dua hari sebelum ‘Ied
2. Waktu yg utama yaitu pada hari ‘Ied sebelum shalat
Adapun mengakhirkan hingga usai melaksanakan shalat mk hal ini haram dan tdk sah sebagai zakat fitrah. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma:
وَمَنْ أَدَّاهاَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكاَةٌ مَقْبُوْلَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهاَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقاَتِ
“Barangsiapa yg menunaikan sebelum shalat mk zakat diterima. Dan barangsiapa menunaikan setelah shalat mk itu termasuk dari shadaqah.”
Kecuali apabila orang tersebut tdk mengetahui hari ‘Ied. Misal dia berada di padang pasir dan tdk mengetahui kecuali dlm keadaan terlambat atau yg semisalnya. mk tdk mengapa bagi utk menunaikan setelah shalat ‘Ied dan itu mencukupi sebagai zakat fitrah.1
Beliau rahimahullah ditanya: Kapankah waktu mengeluarkan zakat fitrah? Berapa ukurannya? Bolehkah menambah takarannya?
Beliau rahimahullah menjawab: Zakat fitrah adl makanan yg dikeluarkan oleh seseorang di akhir bulan Ramadhan dan ukuran adl sebanyak satu sha’2. Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan sebanyak satu sha’ kurma atau gandum.” Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan shadaqatul fithr sebagai pembersih bagi orang yg berpuasa dari perbuatan yg sia-sia dan kata-kata keji serta sebagai makanan bagi orang2 miskin.”
Maka zakat fitrah itu berupa makanan pokok masyarakat sekitar. Pada masa sekarang yakni kurma gandum dan beras. Apabila kita tinggal di tengah masyarakat yg memakan jagung mk kita mengeluarkan jagung atau kismis atau aqith . Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu: “Dahulu kami mengeluarkan zakat pada masa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu sha’ dari makanan dan makanan pokok kami adl kurma gandum kismis dan aqith.”
Waktu mengeluarkan adl pada pagi hari ‘Ied sebelum shalat berdasarkan perkataan Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma: “Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar zakat ditunaikan sebelum kaum muslimin keluar utk shalat” dan hadits ini marfu’. Dan dlm hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma: “Barangsiapa yg mengeluarkan sebelum shalat mk itu zakat yg diterima dan barangsiapa yg menunaikan setelah shalat mk hal itu shadaqah.”
Dibolehkan utk mengawalkan sehari atau dua hari sebelum ‘Ied dan tdk boleh lbh cepat dari itu. Karena zakat ini dinamakan zakat fitrah disandarkan kepada al-fithr . Seandai kita katakan boleh mengeluarkan ketika masuk bulan mk nama zakat shiyam. Oleh krn itu zakat fithr dibatasi pada hari ‘Ied sebelum shalat dan diringankan dlm mengeluarkan sehari atau dua hari sebelum ‘Ied.
Adapun menambah takaran lbh dari satu sha’ dgn tujuan utk ibadah mk termasuk bid’ah. Namun apabila utk alasan shadaqah dan bukan zakat mk boleh dan tdk berdosa. Dan lbh utama utk membatasi sesuai dgn yg ditentukan oleh syariat. Dan barangsiapa yg hendak bershadaqah hendak secara terpisah dari zakat fitrah.
Banyak kaum muslimin yg berkata: Berat bagiku utk menakar dan aku tdk memiliki takaran. mk aku mengeluarkan takaran yg aku yakini seukuran yg diwajibkan atau lbh dan aku berhati-hati dgn hal ini.
Maka yg demikian ini dibolehkan.

Hari Raya ‘Iedul Fitri
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dita tentang hukum menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan pada hari ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha serta malam 27 Rajab Nishfu Sya’ban dan hari ‘Asyura?
Beliau rahimahullah menjawab: Tidak mengapa menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan pada hari-hari ‘Ied seperti ‘Iedul Fitri atau ‘Iedul Adha selama dlm batas-batas syar’i. Di antara seseorang makan dan minum atau yg semisalnya. Telah tsabit dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dlm salah satu hadits beliau:
أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشَرْبٍ، وَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Hari-hari tasyriq adl hari-hari makan dan minum dan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala“ yaitu dlm tiga hari setelah ‘Iedul Adha yg barakah. Demikian pula pada hari ‘Ied kaum muslimin menyembelih dan memakan qurban mereka serta meni’mati ni’mat Allah atas mereka. Dan juga pada hari ‘Iedul Fitri tdk mengapa menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan selama tdk melampaui batasan syar’i.
Sedangkan menampakkan kegembiraan pada malam 27 Rajab atau Nishfu Sya’ban atau di hari ‘Asyura mk hal tersebut tdk ada asal dan dilarang . Dan apabila diundang utk merayakan hendak tdk menghadiri berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ
“Hati-hatilah kalian terhadap perkara baru krn sesungguh tiap bid’ah itu sesat dan tiap kesesatan tempat di an-naar.” Adapun malam 27 Rajab orang2 mengatakan sebagai malam Mi’raj yaitu malam di-mi’raj-kan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Allah. Padahal hal ini tdk tsabit dari sisi sejarah. Dan segala sesuatu yg tdk tsabit mk batil dan tiap yg dibangun di atas kebatilan mk batil .
Seandai pun benar bahwa malam Mi’raj pada tanggal 27 Rajab mk kita dilarang utk mengadakan sesuatu yg baru berupa syi’ar-syi’ar ‘Ied ataupun sesuatu dari perkara ibadah krn hal itu tdk tsabit dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tdk pula dari shahabatnya. Apabila tdk tsabit dari orang yg di-mi’raj-kan dan juga tdk tsabit dari shahabat yg mereka lbh utama dlm hal ini dan paling bersemangat terhadap Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat mk bagaimana mungkin kita boleh mengada-adakan sesuatu yg tdk ada di masa Nabi r dlm memuliakan hari-hari tersebut dan tdk pula dlm menghidupkannya? Dan sesungguh sebagian tabi’in menghidupkan dgn shalat dan dzikir bukan dgn makan dan bergembira serta menampakkan syiar-syiar ied.
Adapun hari ‘Asyura mk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dita tentang puasa pada hari itu mk beliau menjawab:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْماَضِيَةَ
“Menghapuskan dosa setahun yg lalu” yakni setahun sebelum hari itu. Dan tdk ada syi’ar-syi’ar ‘Ied sedikit pun pada hari tersebut. Sebagaimana hal pada hari tersebut tdk ada syi’ar-syi’ar ‘Ied mk tdk ada pula syi’ar-syi’ar kesedihan pula sedikit pun. Menampakkan kegembiraan atau kesedihan pada hari tersebut merupakan perbuatan yg menyelisihi As Sunnah. Dan tdk diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari itu kecuali puasa sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita utk berpuasa sehari sebelum atau sesudah utk menyelisihi Yahudi yg berpuasa pada hari itu saja.
.

1 Begitu pula seandai berita ‘Ied datang tiba-tiba dan tdk memungkinkan bagi utk menyerahkan kepada yg berhak sebelum shalat ‘Ied atau krn udzur lainnya. Dan ini dinamakan mengqadha krn udzur.
2 Yaitu sha’ Nabawi. Adapun ukuran Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyatakan berdasarkan ukuran mudd yg dietmukandi reruntuhan di Unaizah yg terbuat dari tembaga dan tertulis padanya: Milik Fulan dari Fulan.. sampai kepada Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu adl senilai 2040 kg gandum yg bagus . Jika dinilaikan dgn beras mk sekitar 2250 kg.
Ada juga yg menyatakan bahwa 1 sha’ Nabawi ukuran sekitar 3 kg sebagaimana fatwa Asy-Syaikh Ibnu Baz dan juga Asy-Syaikh Alu Bassam dlm Taudhihul Ahkam menyatakan bahwa 1 sha’ Nabawi ukuran 3000 gr bila diukur dgn hinthah .Sehingga kebiasaan kaum muslimin di Indonesia yg menunaikan zakat fitrah dgn ukuran 25 kg beras insya Allah sudah mencukupi.

Sumber: www.asysyariah.com


takaran dalam zakat fitrah Takaran zakat fitrah berupa beras