Shalawat-Shalawat Bid’ah

penulis Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi
Syariah Kajian Utama 12 - Agustus - 2004 10:13:45

Sudah bukan rahasia lagi kalau di tengah-tengah kaum muslimin banyak tersebar berbagai jenis shalawat yg sama sekali tdk berdasarkan dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Shalawat-shalawat itu biasa dibuat oleh pemimpin tarekat sufi tertentu yg dianggap baik oleh sebagian umat Islam kemudian disebarkan hingga diamalkan secara turun temurun. Padahal jika shalawat-shalawat semacam itu diperhatikan secara cermat akan nampak berbagai penyimpangan berupa kesyirikan bid’ah ghuluw terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sebagainya.

A. SHALAWAT NARIYAH
Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Bahkan ada yg menuliskan lafadz di sebagian dinding masjid. Mereka berkeyakinan siapa yg membaca 4444 kali hajat akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yg dialaminya. Berikut nash shalawatnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
“Ya Allah berikanlah shalawat yg sempurna dan salam yg sempurna kepada Baginda kami Muhammad yg dengan terlepas dari ikatan dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengan pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yg baik dan memberi siraman kepada orang yg sedih dgn wajah yg mulia dan kepada keluarga para shahabat dgn seluruh ilmu yg engkau miliki.”

Ada beberapa hal yg perlu dijadikan catatan kaitan dgn shalawat ini:
1- Sesungguh aqidah tauhid yg diseru oleh Al Qur’anul Karim dan yg diajarkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu laiahi wasallam mengharuskan tiap muslim utk berkeyakinan bahwa Allah-lah satu-satu yg melepaskan ikatan membebaskan dari kesulitan yg menunaikan hajat dan memberikan manusia apa yg mereka minta. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdo’a kepada selain Allah utk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakit walaupun yg diminta itu seorang malaikat yg dekat ataukah nabi yg diutus. Telah disebutkan dlm berbagai ayat dlm Al Qur’an yg menjelaskan haram meminta pertolongan berdo’a dan semacam dari berbagai jenis ibadah kepada selain Allah Azza wajalla. Firman Allah:
قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُوْنِهِ فَلاَ يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحِْويْلاً
“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yg kamu anggap selain Allah.
Maka mereka tdk akan mempunyai kekuasaan utk menghilangkan bahaya darimu dan tdk pula memindahkannya.”
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dgn segolongan kaum yg berdo’a kepada Al Masih ‘Isa atau malaikat ataukah sosok-sosok yg shalih dari kalangan jin.
2- Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rela dikatakan bahwa diri mampu melepaskan ikatan menghilangkan kesusahan dsb sedangkan Al Qur’an menyuruh beliau utk berkata:

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah: ‘Aku tdk berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tdk menolak kemudharatan kecuali yg dikehendaki Allah. Dan sekira aku mengetahui yg ghaib tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyak dan aku tdk akan ditimpa kemudharatan. Aku tdk lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang2 yg beriman’.”

Seorang laki2 datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu mengatakan “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. mk beliau bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ للهِ نِدًّا؟ قُلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ
“Apakah engkau hendak menjadikan bagi Allah sekutu? Ucapkanlah: Berdasarkan kehendak Allah semata.”

B. SHALAWAT AL-FATIH
Lafadz adl sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أَغْلَقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمَسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارُهُ عَظِيْمٌ

“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yg membuka apa yg tertutup dan yg menutupi apa-apa yg terdahulu penolong kebenaran dgn kebenaran yg memberi petunjuk ke arah jalan yg lurus. Dan kepada keluarga sebenar-benar pengagungan pada dan kedudukan yg agung.”

Berkata At-Tijani tentang shalawat ini –dan dia pendusta dgn perkataannya-:
“.Kemudian memerintah aku utk kembali kepada shalawat Al-Fatih ini. mk ketika beliau memerintahkan aku dgn hal tersebut akupun berta kepada tentang keutamaannya. mk beliau mengabariku pertama kali bahwa satu kali membaca menyamai membaca Al Qur’an enam kali. Kemudian beliau mengabarkan kepadaku utk kedua kali bahwa satu kali membaca menyamai tiap tasbih yg terdapat di alam ini dari tiap dzikir dari tiap do’a yg kecil maupun besar dan dari Al Qur’an 6.000 kali krn ini termasuk dzikir.”

Dan ini merupakan kekafiran yg nyata krn mengganggap perkataan manusia lbh afdhal daripada firman Allah Azza Wajalla. Sungguh merupakan suatu kebodohan apabila seorang yg berakal apalagi dia seorang muslim berkeyakinan seperti perkataan ahli bid’ah yg sangat bodoh ini.
Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adl yg mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”

Dan juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ : حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yg membaca satu huruf dari kitab Allah mk bagi satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal itu. Aku tdk mengatakan: alif lam mim itu satu huruf namun alif satu huruf lam satu huruf dan mim itu satu huruf.”

C. Shalawat yg disebutkan salah seorang sufi dari Libanon dlm kitab yg membahas tentang keutamaan shalawat lafadz sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ اْلأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ
“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga engkau menjadikan dari keesaan dan qoyyumiyyah .”

Padahal sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah kedua termasuk sifat-sifat Allah Azza wajalla. mk bagaimana mungkin kedua sifat Allah ini diberikan kepada salah seorang dari makhluk-Nya padahal Allah Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Tidak ada sesuatupun yg serupa dgn Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

D. Shalawat Sa’adah
Lafadz sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ
“Ya Allah berikanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad sejumlah apa yg ada dlm ilmu Allah shalawat yg kekal seperti kekal kerajaan Allah.”

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkan dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahala seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yg rutin membaca tiap hari Jum’at 1.000 kali mk dia termasuk orang yg berbahagia dunia akhirat.”
Cukuplah keutamaan palsu yg disebutkan yg menunjukkan kedustaan dan kebatilan shalawat ini.

E. Shalawat Al-In’am
Lafadz sebagai berikut:
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ عَدَدَ إِنْعَامِ اللهِ وَإِفْضَالِهِ
“Ya Allah berikanlah shalawat salam dan berkah kepada baginda kami Muhammad dan kepada keluarga sejumlah keni’matan Allah dan keutamaan-Nya.”
Berkata An-Nabhani menukil dari Syaikh Ahmad Ash-Shawi:
“Ini adl shalawat Al-In’am. Dan ini termasuk pintu-pintu keni’matan dunia dan akhirat dan pahala tdk terhitung.”

F. Shalawat Badar
Lafadz shalawat ini sebagai berikut:
shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah
shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah
tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah
wa kulli majahid fillah
bi ahlil badri ya Allah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah
Kami bertawassul dgn nama Allah dan dgn pemberi petunjuk Rasulullah
Dan dgn seluruh orang yg berjihad di jalan Allah serta dgn ahli Badr ya Allah

Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:
1. Penyebutan Nabi dgn habibillah
2. Bertawassul dgn Nabi
3. Bertawassul dgn para mujahidin dan ahli Badr
Point pertama telah diterangkan kesalahan secara jelas pada rubrik Tafsir.
Pada point kedua tdk terdapat satu dalilpun yg shahih yg membolehkannya. Allah Idan Rasul-Nya tdk pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat . Seandai disyariatkan tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits: “Bertawassullah kalian dgn kedudukanku krn sesungguh kedudukan ini besar di hadapan Allah” mk hadits ini termasuk hadits maudhu’ sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
Adapun point ketiga tentu lbh tdk boleh lagi krn bertawassul dgn Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam saja tdk diperbolehkan. Yang dibolehkan adl bertawassul dgn nama Allah di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ

“Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna mk bermohonlah kepada-Nya dgn menyebut asmaul husna itu.”
Demikian pula di antara doa Nabi: “Ya Allah aku mohon kepada-Mu dgn segala nama yg Engkau miliki yg Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu atau Engkau turunkan dlm kitab-Mu atau Engkau simpan di sisi-Mu dlm ilmu yg ghaib.”
Bertawassul dgn nama Allah I seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yg diperbolehkan. Tawassul lain yg juga diperbolehkan adl dgn amal shalih dan dgn doa orang shalih yg masih hidup . Selain itu yg tdk berdasarkan dalil termasuk tawassul terlarang.
Jenis-jenis shalawat di atas banyak dijumpai di kalangan sufiyah. Bahkan dijadikan sebagai materi yg dilombakan di antara para tarekat sufi. Karena tiap tarekat mengklaim bahwa mereka memiliki do’a dzikir dan shalawat-shalawat yg menurut mereka mempunyai sekian pahala. Atau mempunyai keutamaan bagi yg membaca yg akan menjadikan mereka dgn cepat kepada derajat para wali yg shaleh. Atau menyatakan bahwa termasuk keutamaan wirid ini krn syaikh tarekat telah mengambil dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara langsung dlm keadaan sadar atau mimpi. Di mana kata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjanjikan bagi yg membaca kedekatan dari beliau masuk jannah dan yg lain dari sekian propaganda yg tdk bernilai sedikitpun dlm timbangan syariat. Sebab syariat ini tidaklah diambil dari mimpi-mimpi. Dan krn Rasul tdk memerintahkan kita dgn perkara-perkara tersebut sewaktu beliau masih hidup.
Jika sekira ada kebaikan utk kita niscaya beliau telah menganjurkan kepada kita. Apalagi apabila model shalawat tersebut sangat bertentangan dgn apa yg beliau bawa yakni menyimpang dari agama dan sunnahnya. Dan yg semakin menunjukkan kebatilan dgn ada wirid-wirid bid’ah ini menyebabkan terhalang mayoritas kaum muslimin utk mendekatkan diri kepada Allah dgn ibadah-ibadah yg justru disyari’atkan yg telah Allah jadikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh keridhaannya.
Berapa banyak orang yg berpaling dari Al Qur’an dan mentadabburi disebabkan tenggelam dan ‘asyik’ dgn wirid bid’ah ini? Dan berapa banyak dari mereka yg sudah tdk peduli lagi utk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam krn tergiur dgn pahala ‘instant’ yg berlipat ganda. Berapa banyak yg lbh mengutamakan majelis-majelis dzikir bid’ah semacam buatan Arifin Ilham daripada halaqah yg di dlm membahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam? Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Sumber: www.asysyariah.com


harga sony mdx- nc7 makna sholat nariyah