Abu Hurairah r.a. meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda “Demi yg jiwaku berada di tanganNya tidaklah Allah menurunkan satu suratpun yg semisal dgn Surat Al-Fatihah baik itu di Taurat Injil maupun di Al-Qur’an“.

Surah Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat dan termasuk surah Makkiyah menurut pendapat Abdullah bin Abbas Qatadah dan Abul Aliyah.

Dinamakan Al-Fatihah yg berarti ‘Pembuka‘ krn surat ini merupakan pembuka dari Al-Qur’an secara tulisan.

Dinamakan juga dgn Ummul Qur’an krn seluruh Al-Qur’an berkisar pada pokok-pokok yg dikandungnya.

Dinamakan juga dgn Ash-Shalah krn ia merupakan rukun shalat. Shalat tidak sah tanpanya. Dinamakan dgn Asy-Syifaa’ yg berarti obat krn Al-Fatihah bisa dijadikan obat utk dua jenis penyakit dhahir maupun batin dan masih ada lagi beberapa nama lainnya utk surat Al-Fatihah ini.

TAFSIR AYAT Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazaa’iry dalam Aisaru At-Tafaasir-nya menjelaskan makna ayat-ayat dari surat yg mulia ini. Beliau menulis Allah SWT memberitahukan bahwa segala macam pujian baik itu berupa sifat keagungan atau kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Sebab Dia-lah Rabb dari segala sesuatu Pencipta dan Pemiliknya. Kewajiban kita adl memujiNya.

Kemudian Allah SWT mengagungkan diriNya sendiri bahwa Dia-lah yg menguasai segala yg ada di hari kiamat. Pada hari itu tidak seorang pun berkuasa atas orang lain. Dia -lah satu-satunya pemilik dan Penguasa.

Selanjutnya Allah SWT mengajarkan kepada kita suatu cara agar permintaan dan doa kita diterima/dikabulkan. Dengan kata lain Allah SWT berfirman “Pujilah Allah dan agungkanlah Ia serta konsistenlah dgn hanya beribadah dan meminta pertolongan kepadaNya bukan kepada yg lain.”

Lalu dgn pengajaran dari Allah SWT seorang hamba akan meminta kepada Allah SWT utk dirinya dan saudara-saudaranya agar hidayah yg Allah SWT berikan kepada mereka dilanggengkan sehingga tidak terputus. Akhirnya setelah mereka meminta ditunjukkan kepada ‘jalan yg lurus’ Allah SWT menjelaskan yg dimaksud dgn jalan yg lurus adl jalan yg ditempuh oleh orang-orang yg diberi ni’mat yg itu merupakan manhaj yg lurus yg akan mengantarkan seorang hamba kepada keridhaan Allah SWT dan jannahNya. Jalan itu adl Islam yg tegak berdiri di atas pondasi iman ilmu dan amal disertai dgn menjauhi kemusyrikan dan kemaksiatan. Jalan itu bukanlah jalannya orang-orang yg dimurkai oleh Allah SWT dan bukan pula jalan mereka yg sesat.

Ibnu Katsir r.a. menjelaskan bahwa yg dimaksud dgn orang-orang yg diberi ni’mat adl orang-orang yg disebut oleh Allah SWT dalam surat An-Nisaa’ ayat 69. Mereka adl para nabi shiddiqiin syuhada dan shalihiin.

Sedangkan yg dimaksud dgn orang-orang yg mendapatkan murka adl orang-orang Yahudi. Mereka dimurkai krn mereka tahu akan kebenaran tetapi mereka berpaling darinya.

Adapun orang-orang yg sesat adl orang-orang Nasrani. Mereka bodoh dan beribadah menurut kemauan mereka sendiri tanpa ilmu. Sebenarnya baik Yahudi maupun Nasrani semuanya sama-sama mendapat murka dan tersesat. Hanya saja sifat khusus ‘mendapatkan murka’ diperuntukkan bagi Yahudi krn mereka tidak mau beramal dan sifat khusus ‘tersesat’ disandangkan kepada orang-orang Nasrani krn tidak mau berilmu. Maka kalau kita tidak mau berilmu atau beramal berarti sejenis dgn Nasrani atau Yahudi. Na’udzu billah..

KANDUNGAN AYAT Ibnu Qayyim Al-Jauziyah r.a. menyatakan bahwa surat Al-Fatihah ini memuat pokok-pokok dienul Islam secara global tapi sempurna. Ada tiga hal pokok yatiu

    Tauhid Melalui surat ini Allah SWT ‘mengenalkan diri’ kepada makhluk-makhlukNya dgn lima nama yaitu Allah Ar-Rabb Ar-Rahmaan Ar-Rahiim dan Al-Malik.

    Allah Nama ‘Allah’ adl nama yg mewakili seluruh Al-Asmaa’ Al-Husna dan Ash-Shifat Al-Ulya . Nama ini menunjukkan IlahiyahNya. Sifat Ilahiyah adl sifat kesempurnaan yg jauh dari tasybih tamtsil kekurangan dan cacat. Seluruh asmaa’ al-husna adl perincian dari sifat ini. Nama ‘Allah’ menunjukkan bahwa Allah SWT adl Al-Ma’luuh yg diibadahi. Semua beribadah kepadaNya dgn penuh ketundukan dan kecintaan dan pengagungan.

    Ar-Rabb Ar-Rabb artinya penguasa yg mengatur segalanya. Secara khusus semua sifat fi’il dan qudrah dan segala yg berkenaan dgn kepengaturan alam berhubungan eerat dgn nama Ar-Rabb. Allah SWT adl Rabb segala sesuatu. Penciptanya dan yg Maha Mampu utk melakukan apa saja. Tidak ada sesuatu pun yg keluar dari rububiyyah-Nya.

    Ar-Rahmaan Nama ‘Ar-Rahmaan’ adl pecahan kata ‘rahmah’ utk menunjukkan intensitas yg sangat. Selanjutnya nama Ar-Rahmaan menunjukkan bahwa segala sifat ihan kasih sayang lembut derma pemurah dan baik ada pada Allah SWT. Sifat rahmaan Allah SWT yg dikandung oleh nama Ar-Rahmaan ini berlaku utk semua makhluk yg beriman maupun yg kafir. Rahmah di sini meliputi segala hal yg berkenaan dgn penghidupan/kelangsungan hidup.

    Ar-Rahiim Seperti halnya ‘Ar-Rahmaan’ Ar-Rahiim adl pecahan kata ‘rahmah’. Bedanya sifat rahmah Allah SWT yg terkandung dalam nama ini dikhususkan utk mereka yg berima saja di akherat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzaab 43 yg artinya “Dan adl Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yg beriman.”

    Al-Malik Al-Malik artinya raja atau penguasa. Penguasa atas segalanya. Dikhususkannya hari pembalasan sebagai milik atau kekuasaan Allah SWT dalam surat ini bukanlah berarti dunia tidak termasuk milik/kekuasaan Allah SWT. Sebenarnya Allah SWT yg menguasai hari dunia dan hari pembalasan. Adapun pengkhususan di sini krn pada hari pembalasan nanti tidak ada seorang pun yg akan mengaku-aku/mendakwakan diri sebagai pemilik/penguasanya. Juga pada hari itu tidak ada seorang pun yg berbicara kecuali telah mendapat ijin dariNya.

    Seorang yg membaca dan memahami makna surat ini mau tidak mau dia telah mengitsbatkan tiga jenis tauhid rububiyah uluhiyah dan asma’ wa ash-shifat. Ketika ia membaca “Al-Hamdu lillahi rabbil aalamiin” berarti ia telah memuji Allah SWT. Pujian yg mencakup keagungan dan ketinggian sifat-sifat Allah SWT. Pujian yg berkenaan dgn asma’ wa ash-shifat tanpa ta’wil tamtsil dan takyif . Pun surat ini memuat bebarapa asma yg semuanya menunjukkan sifat seperti tersebut di atas.

    Lalu seseorang yg memuji pastilah seseorang yg mencintai dan ridha. Orang yg membaca ‘alhamdu lillah rabbil aalamiin’ secara tidak langsung menyatakan cinta dan keridhaannya kepada Allah SWT. Cinta adl asas dibangunnya tauhid uluhiyyah. Juga ayat ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin‘. Seseorang yg membacanya sama saja telah berikrar selalu akan berkonsisten dalam beribadah kepadaNya dan akan minta pertolongan hanya kepadaNya. Yang tersisa tinggallah perbuatan yg akan membuktikan benar atau tidak pengakuan/ucapannya tersebut. Adapun tauhid rububiyah seseorang yg mengingkarinya tidak akan membaca surat ini kecuali hanya sebatas batang lehernya saja.

      Tentang hari akhir Ayat ‘Maaliki yaumiddin’ menunjukkan bahwa setelah berakhhirnya kehidupan di dunia ini akan ada pembalasan. Di sana hanya Allah-lah yg berkuasa dan akan menghakimi seluruh manusia dgn keputusan yg paling adil. Keputusan berkenaan dgn pembalasan atas segala amal yg telah diperbuat oleh manusia. Amal yg baik akan diabalas dgn kebaikan dan perbuatan dosa akan dibalas dgn siksaan kecuali bagi yg mendapatkan maghfirah dariNya.
        Tentang kenabian Surat Al-Fatihah ini mengitsbatkan kenabian dari berbagai arah diantaranya
        • Eksistensi Allah SWT sebagai Rabbul aalamiin. Maka tidaklah pantas bagi Allah SWT utk membiarkan begitu saja hamba-hambaNya tanpa memberitahu hal-hal yg bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akherat. Jika Allah SWT membiarkan mereka tanpa mengutus nabi tentulah sifat rububiyyah tidak ada padaNya.
            Allah SWT adl Al-Ma’luuh . Hamba-hambaNya tidak akan pernah tahu bagaimana cara beribadah kepadaNya kecuali melalui para rasulNya.
              Disebutkannya keberadaan hari pembalasan atas amal. Tentunya Allah SWT tidak akan mengadzab seseorang pun jika belum menyampaikan hujjah melalui lisan para rasulNya.
                Terklasifikasikannya hamba-hambaNya menjadi orang-orang yg diberi ni’mat dan orang-orang yg sesat. Klasifikasi ini sangatlah berkaitan dgn tersampaikannya kebenaran. Sebagian hambaNya mau mendengar dan mengamalkannya sebagian yg lain mendengar tetapi tidak mau mengamalkannya dan sebagian lagi beramal semaunya tanpa mau mendengar kebenaran. Yang pasti kebenaran telah disampaikan oleh para rasul Allah SWT.

                MEMBACA AMIN Disunnahkan bagi orang yg membaca surat Al-Fatihah -di dalam maupun di luar shalat- utk membaca ‘amiin’ apabila telah menyelesaikannya. Kata ‘amiin’ berarti ‘Ya Allah kabulkanlah.

                Oleh Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

                sumber file al_islam.chm


                cara membaca surat al fatihah terjemahan tafsir surat alfatihah oleh ibnu katsir