Buletin Islam Al Ilmu Jember Edisi 50/II/IV/1426Shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bukanlah amalan yg asing bagi seorang muslim.

Hampir-hampir tiap majlis ta’lim ataupun acara ritual tertentu tidak pernah lengang dari dengungan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.Terlebih bagi seorang muslim yg merindukan syafa’atnya ia pun selalu melantunkan shalawat dan salam tersebut tiap kali disebutkan nama beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam. Karena memang shalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam merupakan ibadah mulia yg diperintahkan oleh Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman :إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya”. {Al Ahzab: 56}Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda : “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali saja niscaya Allah akan membalasnya dgn shalawat sepuluh kali lipat.” {H.R. Al Hakim dan Ibnu Sunni dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’}Demikianlah kedudukan shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam agama Islam.

Sehingga di dalam mengamalkannya pun haruslah dgn petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.Sebaik-baik shalawat tentunya yg sesuai dgn petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dan sejelek-jelek shalawat adl yg menyelisihi petunjuknya Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam lbh mengerti shalawat manakah yg paling sesuai untuk diri beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam.Diantara shalawat-shalawat yg telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya yaitu:اللّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ“Ya Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” Dan masih banyak lagi shalawat yg dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam .

Adapun shalawat-shalawat yg menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka cukup banyak juga diantaranya beberapa shalawat yg biasa dilantunkan oleh orang-orang Sufi ataupun orang-orang yg tanpa disadari terpengaruh dgn mereka.Beberapa Shalawat ala Sufi1. Shalawat NariyahShalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Dengan suatu keyakinan siapa yg membacanya 4444 kali hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yg dialaminya. Berikut nash shalawatnya:اللهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تآمًا عَلَى سَيِّدِنَا مًحَمَّدٍ الَّذِي تُنْحَلُ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ عَدَدَ كَلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ“Ya Allah berikanlah shalawat dan salam yg sempurna kepada Baginda kami Nabi Muhammad yg dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan diraih segala keinginan dan kematian yg baik dan dgn wajahnya yg mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yg bersedih. Semoga shalawat ini pun tercurahkan kepada keluarganya dan para sahabatnya sejumlah seluruh ilmu yg Engkau miliki.”Para pembaca bila kita merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah maka kandungan shalawat tersebut sangat bertentangan dgn keduanya. Bukankah hanya Allah semata yg mempunyai kemampuan utk melepaskan semua ikatan kesusahan dan kesulitan yg mampu memenuhi segala kebutuhan dan memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yg bersedih?!Allah Ta’ala berfirman :قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ: “Katakanlah : Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yg dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yg ghaib tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan tertimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira bagi orang-orang yg beriman.” Dan juga firman-Nya :قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً: Katakanlah : Panggillah mereka yg kalian anggap {sebagai tuhan} selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan utk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya. Para ahli tafsir menjelaskan ayat ini turun berkenaan dgn kaum yg berdo’a kepada Al Masih atau malaikat atau sosok orang shalih dari kalangan jin. Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam lalu mengatakan: مَا شَاءَ اللهَُ وَ شِئْتَ Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:أَجَعَلْتَنِيْ لِلَّهِ نِدًّا ؟!“Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah? Ucapkanlah: مَا شَاءَ اللهَُ وَحْدَهُ “Berdasarkan kehendak Allah semata”. {Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah hal. 227-228 Muhammad Jamil Zainu}Maka dari itu jelaslah dari beberapa dalil diatas bahwasanya Shalawat Nariyah terkandung padanya unsur pengkultusan yg berlebihan terhadap diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam hingga menyejajarkannya dgn Allah Ta’ala. Tentunya yg demikian ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yg dimurkai oleh Allah dan Nabi-Nya.2. Shalawat Al Faatih Nash shalawat tersebut adalah:اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ … Ya Allah! berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yg membuka segala yg tertutup ….”Berkata At-Tijani pendiri tarekat Sufi Tijaniyah - secara dusta - : “….Kemudian beliau {Nabi Shallahu ‘alaihi wassalam} mengabarkan kepadaku utk kedua kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai tiap tasbih yg terdapat di alam ini dari tiap dzikir menyamai dari tiap do’a yg kecil maupun besar dan menyamai membaca Al Qur’an 6.000 kali krn ini termasuk dzikir.” Para pembaca demikianlah kedustaan kebodohan dan kekafiran yg nyata dari seorang yg mengaku berjumpa dgn Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam krn ia berkeyakinan bahwa perkataan manusia lbh mulia 6.000 kali lipat daripada firman Allah Ta’ala.Bukankah Allah telah menegaskan dalam firman-Nya :وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلاً: “Dan siapakah yg perkatannya lbh benar dari pada Allah? وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Dan sungguh telah sempurna kalimat Tuhanmusebagai kalimat yg benar dan adil.”Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah menegaskan dalam sabdanya : “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adl perkataan Allah “. “Barangsiapa yg membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal itu. Aku tidak mengatakan: alif laam miim itu satu huruf namun alif satu huruf laam satu huruf dan miim satu huruf.” {HR.Tirmidzi dan yg lainnya dari Abdullah bin Mas’ud yg dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani}Wahai saudaraku dari beberapa dalil di atas cukuplah bagi kita sebagai bukti atas kebatilan shalawat Al Faatih terlebih lagi bila kita telusuri kandungannya yg kental dgn nuansa pengkultusan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yg dilarang dalam agama yg sempurna ini.3. Shalawat Sa’adah Nash adl sebagai berikut:اللهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِيْ عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ …“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa yg ada dalam ilmu Allah shalawat yg kekal seperti kekalnya kerajaan Allah …”.Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yg rutin membacanya tiap hari Jum’at 1.000 kali maka dia termasuk orang yg berbahagia dunia akhirat.” Wahai saudaraku mana mungkin shalat yg merupakan tiang agama dan sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600. 000 di bawah shalawat sa’adah ini?! Cukuplah yg demikian itu sebagai bukti atas kepalsuan dan kebatilan shalawat tersebut.4. Shalawat Burdatul BushiriNashnya adl sebagai berikut:يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ“Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yg telah lalu wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.”Shalawat ini mempunyai beberapa makna. Bila maknanya seperti yg terkandung di atas maka termasuk tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yg beliau telah meninggal dunia.Hal ini termasuk jenis tawasul yg dilarang krn tidak ada seorang pun dari sahabat yg melakukannya disaat ditimpa musibah dan yg sejenisnya. Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’ tidaklah bertawasul dgn Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam krn beliau telah meninggal dunia dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam utk berdo’a. Kalaulah tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia merupakan perbuatan yg disyari’atkan niscaya Umar melakukannya.Adapun bila mengandung makna tawasul dgn jaah Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yg diada-adakan dalam agama krn hadits: تَوَسَّلُوا بِجَاهِي “Bertawasullah dgn kedudukanku” merupakan hadits yg tidak ada asalnya . Bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta’ala butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara dia dgn rakyatnya krn ada unsur menyamakan Allah dgn makhluk-Nya sebagaimana yg dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sedangkan bila maknanya mengandung unsur maka termasuk syirik karena tergolong sumpah dgn selain Allah Ta’ala.Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda : “Barang siapa yg bersumpah dgn selain Allah maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” { HR At Tirmidzi Ahmad dan yg lainnya dengan sanad yg shahih}Para pembaca dari sekian makna di atas maka jelaslah bagi kita kebatilan yg terkandung di dalam shalawat tersebut. Terlebih lagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya tidak pernah mengamalkannya apalagi mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yg dikandung oleh bagian akhir dari Shalawat Badar {bertawasul kepada Nabi Muhammad para mujahidin dan ahli Badar}.5. Nash shalawat seorang sufi Libanon:اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ الأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah . Padahal Allah Ta’ala berfirman : ”Tidak ada sesuatu pun yg serupa dgn Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri pernah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan diriku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba maka katakanlah: “ hamba Allah dan Rasul-Nya.” .Wallahu A’lam Bish ShawabHadits-Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan UmatHadits Anas bin Malik Radiyallahu ‘anhu:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثَمَانِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَ ثَمَانِيْنَ عَامًا“Barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.”Keterangan:Hadits ini palsu krn di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yg bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi berkata: “Dia seorang yg tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” Dikirim oleh Al Akh Hardi Ibnu Harun via Email
sumber : file chm Darus Salaf 2


tuntunan tawasulan#hl=id bacaan sholawat nabi muhammad yang benar