Wasiat : Mulailah Dengan Mempelajari Pokok-Pokok Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
"Wasiat : Mulailah Dengan Mempelajari Pokok-Pokok Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah" ketegori Muslim.
Kategori Nasehat
Sabtu, 2 Oktober 2004 08:08:50 WIB
WASIAT EMAS BAGI PENGIKUT MANHAJ SALAF
Oleh :
Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi -Hafidhahullahu-
Bagian Keempat dari Enam Tulisan [4/6]
WASIAT KETIGA :
MULAILAH DENGAN MEMPELAJARI POKOK-POKOK AJARAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
Ketahuilah –semoga Allah memberimu taufik untuk menta’ati-Nya- bahwa aku tdk memaksudkan dgn pokok disini ha macam-macam tauhid yg tiga saja, akan tetapi tauhid dan selain dari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah yg telah disepakati dan mereka menyelisihi ahli bid’ah dan firqoh dalam hal itu:
Seperti wala’ dan bara’ (mencintai dan membenci), amar ma’ruf dan nahi ‘anil munkar, bersikap terhadap shahabat, menghormati serta membela mereka, bersikap kpd pemimpin, kpd orang yg beruntuk maksiat dan dosa besar, serta bersikap kpd Ahli bid’ah dan membicarakan serta bermuamalah dgn mereka dan lain sebagia dari pokok-pokok ajaran yg telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka memasukkan dalam kandungan kitab-kitab aqidah dalam rangka menampakkan kebenaran dan menyelisihi ahli ahwa’ dan firqoh walaupun semua itu secara asal ialah amal peruntukan bukan aqidah/keyakinan.
Bila kamu sudah menguasai masalah-masalah dan pokok-pokok ini maka –dgn seidzin Allah- kamu akan terjaga dari kebanyakan syubhat yg melanda negara-negara islam.
Ketika kebanyakan dari mereka yg bertaubat meremehkan hal ini, dan tdk memulai dalam taubat dgn mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta metode mereka, mereka menjadi bingung dan terombang-ambing ha krn syubhat yg kecil, kita mohon kpd Allah keselamatan dan ‘afiyah.
Barangsiapa yg memperhatikan keadaan mereka maka dia akan mendptkan gambaran dan contoh yg banyak sekali tentang terombang-ambing mereka, diantara :
[1]. Kamu mendptkan orang yg baru bertaubat itu pada awal mula sangat semangat sekali menjauhi ahli bid’ah dan firqoh beberapa saat lamanya, ketika dia mendengar syubhat dari orang yg mengaku salafi yg berkata : “Sesungguh menjauhi ahli bid’ah dan tdk bermu’amalah dgn mereka tdklah benar, hal ini akan menyia-nyiakan kebaikan yg banyak sekali, tdk ada satu orangpun yg maksum setelah Rasul –shallallahu alaihi wa sallam-, mereka para sahabat –rodhiyallahu ‘anhu- juga pernah salah….â€Â, kamu mendptkan (setelah dia mendengar syubhat itu-pent) telah sakit hati dan dia telah menenggak syubhat itu lebih cepat dari pada dia meminum air, pada waktu itu juga dia telah berkumpul dgn ahli bid’ah, tdk perduli lagi dgn pokok-pokok ajaran salafiyah tapi dia masih menamakan diri salafi.
Sesungguh kebimbangan ini terjadi krn tdk ada keinginan mempelajari Al-qur’an dan sunnah sesuai dgn pemahaman para salaf, serta pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seandai dia mempelajari maka sungguh dia akan mengetahui bahwa syubhat ini batil menyelisihi sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap ahli bid’ah yg dahulu maupun sekarang, dan dia akan mengetahui bahwa perkataan orang yg mengaku salafi itu (tdk ada seorangpun yg maksum setelah Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dan bahwa semua orang itu pernah salah) ialah benar tapi maksud ialah batil, demikian itu krn Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari kalangan shahabat, tabi’in apabila salah seorang dari mereka salah tdklah kesalahan itu bersumber dari hwa nfsu (**) , atau dari ketdk ada mengikuti atsar (hadits), dan tdk juga bersumber dari menyelewengkan nash-nash, serta mengikuti hal-hal yg mutasyabih/samar-samar, seperti yg dilakukan oleh ahli bid’ah, akan tetapi krn ketdk tahuan terhadap dalil atau dia mengetahui tapi menurut dalil tersebut tdk shohih atau lain sebagainya, yg disitu terdpt udzur baginya.
Bagi mereka dan yg mengikuti mereka itulah turun sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- : Apabila seorang hakim berhukum dan dia berijtihad lalu benar maka dia mendpt dua pahala dan apabila salah maka dia mendpt satu pahala [5].
Hal ini berlainan dgn ahli bid’ah dan firqoh yg tdk pernah memperhatikan atsar dan mereka lebih mendahulukan akal dari pada nash al-qur’an ataupun sunnah bahkan mereka memuntuk ajaran sendiri yg menyelisihi ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka ini tdk bisa diberi udzur seperti yg dikatakan oleh pengaku salafi itu, tdklah yg menggolongkan mereka kedalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah melainkan orang jahil atau ahli bid’ah yg angkuh.
[2]. Kamu mendptkan orang yg baru bertaubat itu sangat bersemangat pada awal dalam membantah ahli bid’ah tapi tanpa ketentuan dan tanpa ilmu, hal ini berlangsung beberapa saat lamanya, ketika dia mendengar syubhat dari yg mengaku salafi : “Sesungguh membantah/mengkritik itu bukanlah dari ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah ! hal ini bisa memuntuk hati keras !![6] dahulu ada seorang yg suka mengkritik golongan-golongan yg ada lalu dia berbalik kebelakang dgn sebab itu !!!…â€Â, dia mundur kebelakang, dan mengingkari pokok yg agung yg tegak dgn agama ini (yaitu membantah ahli bid’ah –pent) bahkan kamu mendpti setelah itu berdakwah/menyeru manusia untuk meninggalkan pokok ini dgn alasan hal itu bisa mengeraskan hati.
Yang benar bahwa hal ini ialah pokok yg agung tegak dgn agama yg lurus ini, dan mrpk pintu yg kokoh dalam menjaga manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari penyelewengan, serta mrpk ibadah yg mulia yg mendekatkan kpd Allah sekaligus menambah iman seorang muslim tapi dgn dipenuhi syarat-syarat diantara ialah ikhlas dll, pokok yg satu ini sama dgn ibadah lain yg dpt menambah iman.
Penyimpangan ini bukan berasal dari pokok ajaran/manhaj tapi dari yg mempraktekkan pokok tersebut tanpa ada kaidah/ketentuan, ketika syubhat itu mendptkan tempat didalam hati dia lalu mengingkari pokok yg satu ini, padahal sehrs dialah yg berhak untuk diiingkari krn tdk mempraktekkan pokok ajaran(Ahlus Sunnah wal Jama’ah).
Oleh krn itulah kita tdk mendptkan para Imam petunjuk dari kalangan shahabat, tabi’in dan para pengiktut mereka dgn baik kecuali dalam keadaan bertakwa, zuhud, dan takut kpd Allah, hati mereka sangat lembut padahal mereka sangat sering membantah orang atau kelompok yg menyelisih (Al-qur’an dan sunnah-pent).
Lihatlah Abdullah bin Mubarak, Imam Ahmad bin Hambal, Yahya Bin Ma’in, Ali Bin Madini, Abu Hatim Ar-Rozi dan Bukhari…. Sejarah hidup mereka dipenuhi dgn zuhud, wara’, takut kpd Allah, dan takwa.
Pemutar balikan fakta dan pencampuradukan hal ini sebab ialah ketdk ada keikhlasan dan kejujuran dalam bertaubat kpd Allah, dan ketdk ada keinginan untuk mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada awal mulanya.
Dari sini –wahai orang yg bertaubat- hrs bagimu untuk berhati-hati dari perangkap yg berbahaya ini, dan kamu hrs mengetahui bahwa tdk ada keselamatan bagimu dari syubhat yg menjarar dan dari perangkap yg menjerumuskan ini kecuali apabila Allah memberimu taufik/petunjuk dan kamu mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Maka telusurilah jalan ini dgn semangat membara dan kemauan keras, Peganglah kuat-kuat apa yg kami berikan padamu (Surat Al-Baqarah : 63), serta jujur dan ikhlas, Dan orang-orang yg berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kpd mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yg beruntuk baik [Al-Ankabut : 69]
Yakinlah akan firman Allah Ta’ala : Dan sesungguh jika mereka melaksanakan pelajaran yg diberikan kpd mereka, tentulah hal yg demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti kami berikan kpd mereka pahala yg besar dari sisi kami, dan pasti kami tunjuki kpd jalan yg lurus [An-nisa’ : 66-68]
Berhati-hatilah dari rasa lemah, loyo dan putus asa terhadap apa yg menimpamu dijalan Allah, janganlah kamu lalai dari firman-Nya : (Mereka tdk menjadi lemah krn bencana yg menimpa mereka dijalan Allah dan tdk lesu dan tdk pula menyerah kpd musuh, Allah menyukai orang-orang yg beruntuk kebaikan) [Ali-imron : 146]
[Dialihbahasakan dari : al-Washayya as-Saniyyah lit-Ta`ibi as-Salafiyyah Oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi -Hafidhahullahu-, Alih Bahasa :
Abu Abdirrahman as-Salafy, Lc.]
_________
Foote Note
[5] Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
[6] Ini diantara keajaiban mereka ! keras hati itu sesungguh disebabkan krn menyelisihi perintah Allah dan rasul-Nya –shallallahu alaihi wa sallam- bukan sebaliknya.
Bagaimana bisa hati orang yg mengingkari kemungkaran lebih-lebih bid’ah dan kesesatan itu (dikatakan) keras ? padahal Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : (Fitnah itu dipaparkan kpd hati seperti tikar sehelai demi sehelai, hati mana saja yg menyerap maka dtulis pada titik-titik hitam, dan hati mana saja yg menolak maka akan ditulis titik-titik putih, sehingga terbagi menjadi dua : hati yg putih seperti batu putih yg mengkilap tdk membahayakan fitnah selama ada langit dan bumi, kedua : hati yg hitam kelam seperti cangkir yg miring tdk mengenal yg baik dan tdk mengingkari yg mungkar kecuali yg telah diserap oleh hwa nfsu (**) nya) [Diriwayatkan oleh Muslim 367]
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1060&bagian=0
Sumber Wasiat : Mulailah Dengan Mempelajari Pokok-Pokok Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah : http://alsofwah.or.id
jaran alussunnah wal jamah ajaran ahlussunnah waljamaah
