Wujudkan Anganmu dlm Bimbingan Ilmu
Wujudkan Anganmu dlm Bimbingan Ilmu
penulisĀ Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran
Sakinah Permata Hati 12 - November - 2004 09:42:45
Suatu ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu melihat dua orang laki-laki. Bertanyalah beliau pada salah seorang dari mereka “Siapa orang ini?” Orang itu menjawab “Dia ayahku.” Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu kemudian berpesan “Jangan engkau panggil dia dgn menyebut nama jangan berjalan di depan dan jangan engkau duduk sebelum dia duduk.” Pesan dari shahabat yg mulia ini berisi anjuran agar seorang anak hormat dan berbakti pada orang tua. Uraian berikut mencoba mengarahkan bagaimana membimbing anak agar bisa memiliki akhlak seperti yg dituntunkan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.
Anak adl tumpuan harapan. Segala impian terbaik tertumpah pada dirinya. Bahkan hampir tiap orang tua menginginkan agar buah hati mereka mendapatkan apa pun yg lbh baik daripada diri tdk peduli harus membanting tulang dan memeras keringat sepanjang siang dan malam.
Namun terkadang impian itu pupus begitu saja. Bagai tanaman siap petik yg habis musnah dimakan hama. Anak yg mereka idamkan membalasi jerih payah orang tua dgn kedurhakaan. tdk jarang si anak berani beradu pandang dan bersuara lantang di hadapan ayah dan ibunya. Permintaan bertubi-tubi dilontarkan menuntut pemenuhan dgn segera. Bahkan lbh dari itu tangan atau kaki begitu ringan menimpa tubuh keduanya. Sungguh hanya kepada Allah semata kita mengadukan semua ini.
Tentu tdk seorang pun ayah atau ibu menginginkan putra-putri mereka “salah asuhan” dan tentu semua itu butuh arahan. Andaikata mereka merujuk kembali lembaran-lembaran Kitabullah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta catatan perjalanan kehidupan para pendahulu yg shalih niscaya mereka akan mendapatinya.
Sesungguh orang tua harus menyadari bahwa kebaikan buah hati mereka datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala yg memberikan petunjuk dan taufik kepada siapa pun yg Dia kehendaki. Oleh krn itu tdk boleh dilupa oleh orang tua utk memohon kebaikan bagi keturunan mereka sebagaimana hal ini pun dilakukan oleh para nabi. Demikian pula dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm doa beliau utk cucu beliau Al-Hasan radhiallahu ‘anhu:
اللّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ وَأَحْبِبْ مَنْ يُحِبُّهُ
“Ya Allah sesungguh aku mencintai mk cintailah dia dan cintailah pula orang yg mencintainya.”
Inilah pula yg dimohon oleh hamba-hamba Ar-Rahman dlm doa mereka:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
“Ya Allah anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang2 yg beriman.”
Begitu pula dlm doa yg lain:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي
“Wahai Rabbku berikanlah taufik bagiku utk bersyukur atas ni’mat-Mu yg Kau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan utk menunaikan amal shalih yg Engkau ridhai dan berikanlah kebaikan pada keturunanku.”
Demikianlah doa-doa kebaikan yg senantiasa menjadi tuturan orang tua yg mengharapkan kebaikan bagi keturunan mereka. Pun hendak orang tua menjaga diri agar tdk terlontar ucapan doa kejelekan bagi anak-anaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dlm sabda beliau yg disampaikan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لَهُنَّ، لاَ شَكَّ فَيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِ
“Ada tiga doa yg pasti dikabulkan dan tdk diragukan lagi: doa orang yg teraniaya doa orang yg bepergian dan doa kejelekan orang tua bagi anaknya.”
Seiring dgn itu ayah dan ibu harus memberikan pengajaran adab kepada putra-putri mereka agar mereka mengerti betapa agung kedudukan ayah dan ibunya. Di satu tempat dlm Kitab-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan tentang adab yg agung terhadap kedua orang tua:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوْا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا. وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Rabbmu memerintahkan agar kalian tdk beribadah kecuali hanya kepada-Nya semata dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau kedua mencapai usia lanjut di sisimu jangan engkau katakan pada kedua ucapan “uff” dan jangan pula menghardik dan ucapkanlah perkataan yg mulia. Dan rendahkanlah sayap kehinaan krn kasih sayang dan ucapkanlah doa: ‘Wahai Rabbku kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku semenjak kecilku’.”
Dalam kalam-Nya ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan utk berbuat baik kepada orang tua dgn segenap bentuk kebaikan baik berupa ucapan maupun perbuatan krn kedua orang tua merupakan sebab ada seorang hamba. Juga kedua memiliki kecintaan kebaikan dan kedekatan dgn sang anak yg semua itu mengokohkan hak mereka dan mewajibkan bakti pada mereka berdua.
Apabila mereka berdua mencapai usia lanjut saat kekuatan mereka telah melemah dan membutuhkan kelembutan dan kebaikan jangan sampai terlontar ucapan uff di hadapan kedua sementara ini adl ucapan menyakitkan yg paling ringan. Terlebih lagi ucapan yg lainnya. Arti jangan engkau sakiti mereka sekalipun dgn suatu gangguan yg paling ringan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang hamba-Nya menghardik kedua orang tua atau pun berbicara dgn mereka dgn perkataan yg kasar serta memerintahkan utk berucap dgn perkataan mulia yg mereka senangi beradab dan berlemah lembut dgn ucapan yg baik dan lembut yg menyenangkan hati dan menenangkan jiwa mereka. Ini tentu berbeda-beda sesuai dgn keadaan kebiasaan dan zaman.
Dalam ayat yg mulia ini pula Allah memerintahkan utk tawadhu’ krn merendahkan diri dan rasa kasih sayang kepada orang tua serta utk mengharapkan pahala bukan semata krn rasa takut terhadap mereka atau mengharap harta kekayaan mereka atau pun maksud-maksud lain yg tdk membuahkan pahala. Kemudian diperintahkan pula seorang hamba utk mendoakan ayah dan ibu agar mendapatkan rahmat semasa mereka hidup maupun setelah mereka tiada sebagai balasan atas pendidikan yg mereka berikan sepanjang masa kecil sang anak.
Inilah tuntunan Allah dlm Kitab-Nya. Sementara itu didapati pula berbilang bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg mesti ditanamkan pada diri si anak. Inilah di antara wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abud Darda’ radhiallahu ‘anhu:
أَطِعْ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ دُنْيَاكَ فَاخْرُجْ لَهُمَا
“Taatilah kedua orang tuamu. Seandai mereka menyuruhmu utk keluar dari dunia mk keluarlah krn perintah mereka berdua.”
Seorang anak diajarkan pula utk menjaga kehormatan dan nama baik ayah ibu dgn menahan lisan dari mencela ayah atau ibu orang lain krn biasa orang yg dicela orang tua tdk akan tinggal diam. Dia akan berbalik mencela sehingga dgn itulah celaan bisa berbalik menimpa kedua orang tuanya. ‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma menuturkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ. قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ
“Termasuk dosa besar yg paling besar seseorang melaknat kedua orang tuanya.” Beliau pun dita “Ya Rasulullah bagaimana bisa seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab “Seseorang mencela ayah orang lain hingga orang lain itu balas mencela ayah dan dia mencela ibu orang lain hingga orang itu balas mencela ibunya.”
Berbagai nasihat pun ditemui di kalangan sahabat yg sarat dgn pendidikan adab bagi seorang anak. Di antara mereka ada kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Beliau melihat dua orang laki2 lalu bertanyalah beliau pada salah seorang dari mereka “Siapa orang ini?” Orang itu menjawab “Dia ayahku.” Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu pun berpesan padanya:
لاَ تُسَمِّ بِاسْمِهِ، وَلاَ تَمْشِ أَمَامَهُ، وَلاَ تَجْلِسْ قَبْلَهُ
“Jangan engkau panggil dia dgn menyebut nama jangan berjalan di depan dan jangan engkau duduk sebelum dia duduk.”
Inilah di antara sekian banyak adab kepada kedua orang tua sepanjang hayat mereka. Namun bakti bukanlah sebatas itu semata bahkan terus berlanjut sampaipun kedua orang tua telah tiada. Saat itu doa anak yg shalih akan senantiasa bermanfaat bagi ayah dan ibunya. Demikian yg disampaikan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seseorang meninggal terputuslah amalan kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah atau ilmu yg diambil manfaat atau anak shalih yg mendoakannya.”
Seorang anak yg tdk shalih tdk akan mendoakan kedua orang tua pun tdk akan berbakti kepada mereka. Namun anak yg shalih itulah yg akan mendoakan ayah ibu setelah mereka tiada. Oleh krn itulah semesti orang tua memiliki kemauan yg teramat besar agar putra-putri mereka memperoleh kebaikan krn kebaikan itu akan kembali kepada anak-anak juga kepada ayah bunda dgn doa yg dimohonkan sang anak bagi mereka.
Permohonan ampun bagi kedua orang tua yg terucap dari lisan sang anak akan meninggikan derajat mereka di akhirat. Demikian dikatakan oleh shahabat yg mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
تُرْفَعُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَتُهُ، فَقِيْلَ: أَيْ رَبِّ! أَيُّ شَيْءٍ هَذِهِ؟ فَقِيْلَ: وَلَدُكَ اسْتَغْفَرَ لَكَ
“Diangkat derajat seseorang setelah matinya. Dia pun berta “Wahai Rabbku apakah ini?” mk dikatakan “Anakmu memohonkan ampun untukmu.”
Tak hanya itu bakti seorang anak dapat terwujud tatkala dia mencintai orang yg dicintai oleh ayah dan ibu beserta keluarganya.
Sebuah teladan yg tdk layak utk dilewatkan dari seorang sahabat mulia ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Apabila beliau bepergian menuju Makkah beliau biasa membawa keledai utk berkendara bila jenuh menunggang untanya. Beliau juga memiliki surban yg biasa beliau pakai utk mengikat kepalanya. Suatu ketika ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhma sedang mengendarai keledainya. Tiba-tiba lewatlah seorang Arab gunung. Beliau berta pada orang itu “Bukankah engkau anak Fulan bin Fulan?” Dia menjawab “Benar.” Serta-merta Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma memberikan keledai sembari berkata “Naiklah!” Beliau juga memberikan surban dan mengatakan “Ikat kepalamu dgn surban ini.” Melihat hal sahabat-sahabat beliau pun berkata “Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau berikan kepada orang Arab gunung itu keledaimu yg biasa engkau kendarai serta surbanmu yg biasa engkau gunakan utk mengikat kepalamu?” Beliau pun menjawab “Sesungguh aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
إِنَّ مِنْ أَبَرِّ البِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ
“Di antara sebaik-baik bakti kepada orang tua adl seseorang menyambung tali kekerabatan dgn keluarga orang yg dicintai ayah sepeninggalnya.”
Sesungguh ayah orang itu adl teman ‘Umar radhiallahu ‘anhu.
Demikianlah seorang Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yg mendulang faidah dari perkataan agung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Beliau muliakan orang Arab gunung itu krn ayah orang itu adl teman ayah ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Bagaimana kira bila beliau bertemu seseorang yg berteman dgn ayahnya? Tentu beliau akan lbh dan lbh memuliakan lagi.
Inilah kisah indah yg berbuah faidah memberikan bimbingan utk memuliakan seseorang yg dicintai oleh ayah atau ibu krn ini termasuk bakti seorang anak kepada mereka berdua. Demikian pula dari kisah ini tampak keluasan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn meluaskan pintu bakti terhadap orang tua tdk hanya terbatas pada ayah ibu saja namun hingga teman-teman mereka berdua. Apabila seorang anak berbuat baik pada mereka berarti juga mereka berbakti kepada kedua serta beroleh pahala seorang yg berbakti kepada ayah bundanya.
Tidakkah ada keinginan dlm sanubari utk menatap anak-anak tumbuh dlm keridhaan Rabb mereka dgn membimbing mereka agar senantiasa berjalan dlm keridhaan ayah ibunya? Tidakkah ada ketakutan tatkala mengingat anak-anak terancam dgn kemurkaan Rabb mereka ketika membiarkan mereka berteman dgn kemurkaan orang tua?
Inilah sekelumit dari sekian banyak tuntunan itu. Tinggallah kesungguhan utk mewujudkan agar harapan mereka bukan menjadi impian semata.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Sumber: www.asysyariah.com
Related Post:Tag : Abu Hurairah, Ala Allah, Alaihi Wa Sallam, Anisah, Arahan, Ayah, Berani, Butuh, Kitabullah, Laki Laki, Lantang, Penulis, Permata Hati, Putri, Sakinah, Semata, Subhanahu Wa, Sunnah Rasulullah, Tulang, Ummu ????????? ??????? amalan untuk bapak agar bayi keluar laki laki anak mencela ibu anak yg teraniaya bimbingan anak ilmu masa depan bimbingan kasih sayang anak kisah indah tentang ibu orang tua yang mencela anaknya di depan orang lain
You can leave a response, or trackback from your own site.
